|
Kerja lembur |
Nama panggilanku Sari. Aku berusia 25 tahun dan bekerja di sebuah
perusahaan swasta di Surabaya pada posisi yang cukup menyenangkan
baik secara status maupun secara ekonomi. Aku seorang blasteran
Jawa-Jepang, namun secara fisik, banyak orang mengira aku keturunan
Chinese karena warna kulitku putih dan mataku tidak lebar. Rambutku
pendek seleher. Aku tergolong wanita yang kurus dengan tinggi badan
176 cm dan berat 59 kg. Namun aku merasa memiliki bentuk tubuh yang
bagus, dengan kaki yang panjang, dan payudara yang tidak besar namun
padat dan kencang. Sejak remaja, kehidupan seksualku tergolong cukup
'bebas' untuk orang Indonesia. Selama aku cocok dan dia cocok, aku
easy going sajalah. Mungkin sikap ini juga yang membuatku belum
mendapatkan pasangan 'resmi' hingga sekarang, tapi..., peduli amat?
aku toh enjoy aja dengan ini semua.
Waktu itu akhir bulan Juni 99. Karena akhir bulan, seperti biasa aku
sibuk membaca dan mengevaluasi laporan hasil kerja anak buahku, dan
menuliskan laporan untuk atasanku. Karena waktu sudah sangat sempit,
aku memutuskan untuk bekerja overtime sampai selesai. Gedung
perkantoran tempatku bekerja tergolong pelit, mereka mematikan lampu
dan listrik utama setelah lewat pukul enam sore. Karena itu aku
menyewa sebuah ruang khusus yang memang disediakan gedung itu untuk
orang-orang yang ingin lembur. Ruangan itu kecil sekali, sekitar 3x3
meter, tidak berjendela, sehingga terkesan seperti dikurung dalam
sebuah kotak korek api, dan AC-nya tidak begitu dingin. Namun karena
tuntutan karier, ya sudahlah, aku langsung menginput data ke dalam
notebook untuk diemailkan pada kantor pusat. Tak terasa, aku sudah
bekerja hingga pukul delapan malam.
Karena AC yang kurang bagus, aku merasa kegerahan dan haus. Aku
ingat, di luar bilik kecil ini, di dekat lift, ada sebuah dispenser
air minum, aku segera berdiri dan keluar dari ruang itu untuk
mengambil air minum. Ketika aku membuka pintu, aku melihat seorang
pria sedang mengambil air di dispenser itu. Nah, aku lega bahwa
ternyata dispenser itu bekerja. Aku segera menghampiri dispenser itu,
mengambil gelas, dan menuangkan air ke gelasku. Pria yang sedang
minum tadi tersenyum menyapaku, aku tersenyum balik, sekedar ramah
tamah basa-basi. Pria itu berbadan besar, tingginya sekitar 180-an
lebih tinggi dariku yang tergolong jangkung. Ia tidak terlalu kurus
atau gemuk, meskipun tidak juga berbentuk seperti binaragawan.
Tubuhnya terbungkus rapi oleh kemeja Kenzo warna hijau muda dan di
lehernya terikat dasi bercorak ramai khas Gianni Versace. Wajahnya
pun biasa saja, tampang orang pengejar karir di usia pertengahan
duapuluhan.
"Sedang lembur juga, Mbak?", Tanyanya mencoba mencairkan suasana
sepi.
"Iya, biasa, Mas, akhir bulan. Pas hari Jumat lagi."
"Oh, pasti lagi nyelesaikan progress report yah?
"Iya, untung udah selesai barusan."
"Wah, baguslah. Eh, omong-omong, Mbak kantornya di lantai berapa?".
"Di lantai sebelas, di PT (perusahanku). Kalau Mas?".
"Saya di lantai delapan, di PT (perusahaannya).""Oh, wajarlah kalau
kita nggak pernah ketemu".
"Haha, iya, rupanya ada gunanya juga lembur. Kita bisa saling
kenal." Pria itu berkesan begitu sopan dan ramah, matanya sedari
tadi memandang hanya ke mataku, tidak ke arah kemejaku yang dua
kancing atasnya terbuka, sehingga nampak putihnya kulit dadaku
mengintip keluar.
"Oh iya, kita belum kenalan, Namaku Ditto." Katanya sambil
mengulurkan tangannya mengajak berjabatan tangan.
"Aku Sari." Jawabku sambil tersenyum semanis yang aku bisa.
"Sari pulang nanti naik apa?".
"Oh, aku bawa mobil sendiri. Kalau kamu?".
"Aku naik mobil juga..., Eh, Sari keberatan nggak kalau kita makan
malam bareng setelah ini?".
Wah, orang ini 'direct' juga yah? pikirku kegirangan.
"Boleh aja, apa Ditto nggak ada yang nungguin di rumah?".
"Ah, belum kok." Jawabnya sambil mengerdipkan mata kiri dan
tersenyum manis.
"OK, aku akan beres-beres dulu yah!", Kataku sambil melangkah balik
ke bilikku.
Aku segera mengemasi notebook dan kertas-kertas kerjaku secara
terburu-buru. Ada yang aneh di pikiranku. Aku merasakan ada gairah
yang mendorongku untuk berhubungan lebih intim dengan Ditto. Padahal
orangnya biasa saja, kulitnya rada gelap, rambutnya cepak, wajahnya
biasa saja meski ukuran tubuhnya memang cukup besar untuk ukuran
orang sini. Tapi cara dia bicara, cara dia tersenyum, cara dia
memandang mataku, benar-benar hangat, namun tidak nakal atau kurang
ajar. Nyatanya, ia tidak berusaha mencuri pandang ke arah yang
tidak-tidak seperti pria lainnya yang pernah ketemu aku. Hmm...
Kira-kira apakah dia ada keinginan untuk bercumbu denganku atau
tidak yaa?
Selagi aku asyik mengkhayalkannya, terdengar ketukan di pintu.
"Masuk!" Kataku sambil berharap bahwa itu adalah Ditto.
Ternyata benar, Ditto berdiri di pintu itu sambil menenteng tas
notebook di tangan kanannya. Dasinya telah dilepas, dan kancing
bajunya terbuka yang di atasnya, sehingga nampak rambut-rambut halus
di situ.
"Gimana, udah selesai?", Tanyanya.
"Iya, udah, tapi sewa overtime nya sampai jam sepuluh nih, jadi
masih rugi kalau aku tinggalkan sekarang!" Aku mencoba mengajak
bercanda.
"Haha, pelit juga kamu, Sar! Boleh aku masuk?".
"Silakan aja, asalkan kamu nggak keburu pulang".
"Ah, nggak kok, ini kan Jumat, biasanya juga pulang telat".
"Biasanya kemana aja kalau Jumat malam?".
"Paling-paling pergi sama teman-teman main badminton atau basket".
"Oh, seru dong? Apa sekarang nggak ditungguin teman-temannya?".
"Ah, mendingan juga di sini nemenin Reni. Sekali-kali boleh kan
ganti suasana?"Kami kembali tertawa-tawa.
Ia duduk di meja kerja, sementara aku duduk di kursi kerjaku yang
tadi.
"Wah, panas sekali di sini..., AC-nya kurang bagus yah?" Katanya
sambil menggulung lengan bajunya ke atas, dan membuka satu lagi
kancing baju di dadanya. Aku menahan diri untuk tidak melihat ke
arah rambut-rambut di dadanya.
"Sar, kamu nggak panas pakai blazer di ruang kaya gini?" Tanyanya
dengan nada yang terkesan wajar, meski mungkin saja tujuannya nakal.
"Well, sebenarnya iya sih..., boleh nggak aku copot blazernya?"
"Hahaha, kok pakai minta izin segala sih? Memangnya aku Papa mertua
kamu?".
Humornya membuatku tertawa geli, tapi juga sekaligus membuatku ingin
berbuat lebih jauh dengannya. Maka aku berdiri dari kursi, dan
melepaskan blazerku dengan gaya yang aku buat-buat agar nampak
seksi. Aku menunggu apa reaksi dia kalau dia melihat bahwa ternyata
kemeja yang aku kenakan ini tidak berlengan, sehingga kehalusan
bahuku bebas dilihatnya.
"Wah, ternyata nggak ada lengannya toh?, Bisa-bisa nanti orang hanya
menempelkan selembar kain saja di bawah blazer". Candanya
mengomentari.
"Sialan, aku kira kamu akan bilang aku seksi, Dit!", Jawabku
menggoda.
"Hah? wah, kalau itu sih..., apa kamu masih kurang yakin?
sampai-sampai aku perlu meyakinkan diri kamu lagi?"
"Hihihi, ada-ada saja. Tapi thanks lho!", Kataku sambil mengerdipkan
mata.
Lalu dengan gaya yang kocak ia menceritakan bahwa seorang pialang
saham ulung akan lebih merasa tersanjung bila dipuji atas
kepandaiannya memasak daripada atas kepiawaiannya menganalisis
saham. Wow, aku jadi merasa tersanjung juga karena itu berarti dia
mengakui keindahanku.
Tiba-tiba dia berkata lagi, "Kamu nggak minta dipijitin sekalian,
Sar? Kan kalau di film-film semi, adegan cewe buka blazer dilanjut
dengan adegan pijit itu trus berlanjut dengan adegan yang biasanya
disensor?".
Ya ampun..., caranya begitu jantan sekali dan sama sekali nggak
kurang ajar..., Aku jadi luluh juga dibuatnya, dan aku jadi rela
untuk menyerahkan tubuhku padanya..., meski sebenarnya akulah yang
menginginkannya.
Aku segera menjawab, "Terserah deh, tapi nggak usah disensor juga
nggak apa-apa kok".
"OK deh, itu berarti adegan yang disensor itu bisa aja dilakukan
nanti?"Katanya, sambil berdiri di belakang kursiku dan mulai memijit
bahuku.
Kami terdiam sejenak, ia memijit bahuku lewat kemejaku. Rasanya
mantap juga, tapi tali bra yang kukenakan terasa menyakitkan
sedikit. Dan dia bukannya tak tahu itu, ia menyingkapkan kemeja
tanpa lenganku ke bawah, sehingga kini pundakku terpampang di
hadapannya.
"Huh, tali ini menggangguku memamerkan keahlianku memijit!" Katanya
sambil menyingkirkan tali bra ku ke samping, aku jadi merasa begitu
seksi, ditelanjangi perlahan-lahan seperti ini membuat pikiranku
jadi aneh-aneh.
"mm..., nikmat sekali Ditt...", Kataku sambil menikmati pijitannya
yang memang nikmat dan membuatku menggeliat-geliat sedikit.
Tangannya dengan mantap memijiti pundak dan leherku, membuatku
merasa begitu rileks, dan terus terang saja..., terangsang. Tiap
kali jemarinya yang hangat itu menyentuhku, rasanya begitu nikmat
hingga aku mengerang keenakan.
"mm..., mm..., aduuh, enaknyaa..., boleh juga tangan kamu, Dit!"
"Eh, rintihannya jangan dibuat-buat gitu dong! Nanti aku jadi ingin
mijit bagian yang lain!". Ia membuatku jadi makin terangsang dengan
pilihan katanya yang selalu di luar perkiraanku.
"Berarti kalau aku merintih-rintih yang dibuat-buat, kamu pijit
bagian yang lain yah?"
"OK! Setuju!" Candanya dengan nada seperti orang sedang rapat
kampung. "Aahh... mmhh..., Ohh.." Rintihku aku buat-buat sambil
bercanda.
Tiba-tiba tangannya langsung turun meremas kedua payudaraku yang
masih terbungkus bra itu. Tangannya diam di situ, dan dia bilang,
"Tuh kan? apa aku bilang? kalau kamu buat-buat gitu, tanganku jadi
memijit bagian yang lain!" Katanya sambil bercanda..., padahal aku
sudah mabuk kepayang dan ingin tangannya segera meremas kedua
payudaraku.
"Udahlah Dit..., sekarang kita mulai aja deh", Kataku dengan nada
serius.
"Baiklah, Saya juga ingin melakukannya sejak tadi, kalau kamu yang
minta oke lah!", Katanya.
Ia pun langsung menurunkan bra-ku ke bawah, hingga kedua susuku kini
terbuka lebar. Ia memutar kursiku hingga kami kini berhadapan. Ia
berlutut di depanku, matanya menatap mataku yang telah sayu terlanda
birahi. Aku menggerakkan tanganku untuk melepas kacamata minusku,
namun ia menghalanginya.
"Nggak apa-apa, Sar..., Aku senang melihat kamu dengan kaca mata
itu..., seksi sekali!" Katanya sambil mengedipkan mata kiri.
Tanpa banyak kata, ia lalu memajukan kepalanya dan mengulum bibirku,
aku terpejam ketika merasakan lidahnya menerobos mulutku. Aku agak
terkejut ketika ia melepaskan bibirnya dari bibirku. Belum sempat
aku membuka mata, aku sudah merasakan jilatan lidahnya membasahi
leherku yang jenjang, merambat menyusuri bahuku..., hangat sekali
rasanya.
"Nngg...", Aku mulai merintih pelan sambil menengadahkan kepalaku.
Sementara lidahnya melingkar-lingkar mengolesi leherku, turun ke
belahan dadaku..., menari-nari di situ..., uhh..., aku semakin tak
karuan rasanya.
"Augh, cium yang aku mesra...!" Aku meracau tak karuan.
"Wah..., ketahuan nih, udah pengen yaa?", Godanya nakal. Aku sudah
kesetanan, segera kudekap kepalanya dan kutarik mendekati dadaku,
dan kubusungkan kedua dadaku agar ia segera mengulum puting susuku.
Dia malah berkata lagi, "Iya, iya aku tahu maksudnya kok...,
sslurp".
"Uhgkk", Mulutnya menangkap puting susuku yang kanan, lidahnya
menjilat-jilat lembut, aduuh..., rasanya gelii dan nikmaat
sekali..., aku menggelinjang-gelinjang menahan geli yang luar biasa,
lidahnya seperti melingkar-lingkari puting susuku dengan cepat namun
lembut. Begitu gelinya hingga punggungku terlepas dari sandaran
kursi dan melengkung seperti busur panah.
Kini lidahnya berpindah ke puting susuku yang kiri,
mengait-ngaitnya..., Aduuhh aku semakin lupa daratan, Aku nggak tahu
kenapa, tapi jilatan Ditto rasanya begitu berbeda, benar-benar
membuatku seperti melayang-layang kegelian, rasanya seluruh badanku
kehilangan energi..., lemas sekali, tapi terasa nikmaat sekali.
Puting susuku yang kanan kini dipilin-pilinnya.
Uhhfff..., Kedua puting susuku yang sensitif ini menjadi
bulan-bulanan mulut rakus Ditto, aku merintih dan mengerang
sebisaku, keringatku mulai menetes, rasanya sulit sekali untuk
bernafas teratur, tiap kali menarik nafas selalu terhenti oleh rasa
geli yang menyengat puting susuku.
Tiba-tiba ia berhenti. "Sar, naik ke meja dong?", Katanya sambil
mendirikan tubuhku. Karena sudah terangsang tak karuan, aku menurut
saja ketika ia menelentangkan tubuhku di meja kantor, kemejaku telah
terbuka kancingnya, namun ia tidak melepasnya, hanya menyingkirkan
ke kiri kanan. Aku sempat tertegun melihat kemeja Ditto masih tampak
rapi, hanya celananya saja yang terlihat menonjol karena desakan
kejantanannya. Aku tertegun juga ketika melihat kedua pentil susuku
terlihat kemerahan, berdenyut denyut dan mencuat tinggi sekali. Aku
segera kembali terpejam ketika mulut rakusnya kembali menyerang
kedua susuku. Puting-putingku dijilat, dihisap, digigit, dan aku tak
tahu diapakan lagi..., rasanya luar biasa geli dan nikmat. Aku hanya
bisa telentang di meja itu sambil terengah-engah dan menggelinjang
menahan serbuan birahi.
"Ahhkk..., sshh..., mmh...", Aku mendesah dan meracau tak karuan.
Sementara tangan kananku mulai gatal dan menyusup kebalik rok mini
dan celana dalamku, menggosok-gosok bibir kelaminku yang rupanya
telah lembab dan basah sekali dari tadi.
Kini Ditto memilin-milin kedua puting susuku dengan jari-jarinya,
dan lidahnya menyusuri perutku yang langsing, menjilati pusarku.
Lidahnya mendarat di tempat-tempat tak terduga yang memberiku
sensasi yang luar biasa selain pilinan jarinya pada puting susuku.
Paha bagian dalamku tak luput dari jilatan-jilatannya yang mesra dan
buas. Disingkapkannya rok miniku ke atas, lalu jemarinya kembali ke
puting susuku seolah tak membiarkan mereka istirahat. Digigitnya
karet celana dalamku, secara refleks aku merapatkan kaki dan
mengangkat punggungku agar ia mudah melepaskannya. Aku tak tahu
diapakan, tapi celana dalamku segera lepas. Secara sukarela aku
mengangkangkan kedua tungkaiku lebar-lebar agar ia bisa memandangi
kewanitaanku yang telah membanjir karena ulahnya.
Ditto melepaskan kedua putingku, lalu menekan pahaku keluar, agar ia
lebih bebas lagi memandangi kewanitaanku. Aku hanya terengah-engah
memandangi langit-langit dalam keadaan terangsang sekali. Akhirnya
aku mampu menarik nafas panjang, karena kedua putingku tak lagi
menerima sengatan birahi darinya. Tapi tiba-tiba kurasakan hawa
dingin di kewanitaanku, ia meniup-niupnya, memberiku rasa geli yang
aneh..., membuatku semakin tak tahan lagi, ingin ia segera
menancapkan kejantanannya ke tubuhku.
"Ohh..., cepatlahh Dittoo..., ayo..., kamu hebat... deh!".
"Sar..., badan kamu indah sekali..., luar biasa..., cantik sekali".
"Please, lakukan sesuatu..." Aku merintih memintanya segera
menyelesaikannya."Ahhgg...", Aku menjerit dan menggelinjang hebat
ketika lidahnya tiba-tiba menyayat clitorisku dengan cepat dan
tajam. Lalu kewanitaanku seperti diselimuti oleh sesuatu yang basah,
panas, dan lunak, terhisap-hisap, dan clitorisku tersayat-sayat oleh
sesuatu.
Karuan saja aku makin tak tahan, menggeliat-geliat tak karuan,
punggungku terangkat-angkat dari meja itu, mataku tak mampu kubuka,
nafasku kian terasa berat, rasanya gelii sekali..., nikmat tak
terkira, "Oohh..., Dittoo..., uuhh..., enaak sekalii..., sshh...,
kamu apain akuu..., aduuhh".
Rintihanku kian tak terkendali, aku segera memlintir-mlintir kedua
puting susuku untuk menambah kenikmatan, meremas kedua susuku yang
kenyal, sementara Ditto tak henti mengirimkan kehangatan birahi
lewat bibir kewanitaanku. Jilatan dan hisapan mulut Ditto kian buas
menerpa kewanitaanku. Apalagi ketika jarinya ditusukkannya ke dalam
liang kewanitaanku, dan menari-nari di dalamnya..., Aduuh...,
benar-benar tak terperi nikmatnya.
Tusukan jari Ditto menyentuh tempat yang tepat..., berkali-kali...,
Aduhh..., terasa seluruh energiku seperti terhisap ke tempat itu...,
terkumpul di situ..., lalu meledak.
"Aahhgg Dittoo..., uhh..", Aku segera mencapai klimaks. Orgasme yang
luar biasa sekali..., merenggut sebagian kesadaranku..., hingga kini
aku terkulai lemas. Aku mencoba mengatur nafas..., tapi sia-sia...,
kenikmatan ini benar-benar membuatku terbang melayang. Aku terpejam,
merasakan nikmatnya diriku terombang-ambing ke alam tak sadar...,
menggumam.
"mmhh..., Ditto..., nikmat sekali..., hh".
"Sari, mau istirahat dulu?".
"Ngghh..., nggak..., langsung aja, goyang yang cepat! sekarang!",
Aku tak mampu mengontrol pilihan kataku lagi, birahiku telah
menguasai diriku.
"Well, baik kalau begitu..", Itu kata terakhir yang kudengar dari
Ditto, lalu sambil hanya dapat memandangi langit-langit aku merasa
pahaku dikangkangkan, tiba-tiba..., sspp..., Kejantanannya mengisi
tiap rongga di liang kewanitaanku ini.
"Aduuhh..., Ohh..., terusin sayangghh..., deeper...", Aku merintih
tak karuan ketika ia mulai menggerakkan tubuhnya. Ia berdiri
sementara aku telentang di meja, jelas ia sangat leluasa
menggerakkan tubuhnya, kejantanannya terasa menyodok dan
menggerus-gerus seluruh bagian dalam kewanitaanku dengan buas dan
garangnya.
Aku tak mampu bergerak membalas karena masih lemas oleh orgasme yang
pertama tadi..., namun persetubuhan ini rasanya lebih hebat lagi...,
rasa-rasanya seluruh tubuhnya memasuki liang kewanitaanku, aku hanya
memejamkan mata, menggeliat, merintih. "Uhh...". Sodokan-sodokan
kejantanannya terasa kian dalam menerobos dasar kewanitaanku
telapak-telapak tangannya yang kasar tak henti meremas dan memegang
kedua susuku.
Beberapa menit kemudian, Ditto tiba-tiba menarik kejantanannya dari
kewanitaanku, lalu dengan begitu cepat membalikkan tubuhku hingga
kini badanku tengkurap di meja, namum kakiku menjuntai ke lantai,
puting susuku terasa geli merasakan dinginnya meja kantor itu, aku
hanya terengah.
Ditto menikamkan kejantanannya lagi ke lubang kewanitaanku dari
belakang..., "Uffhh...", sensasi yang berbeda lagi..., ia mengocok
tubuhku keras sekali hingga meja itu bergoyang-goyang, saat itu
juga, aku merasakan klimaks menyambar tubuhku..., kewanitaanku
serasa mengejang, menggigit kejantanan Ditto, kedua tanganku
mencengkeram ujung meja kuat-kuat, tubuhku menegang, dan aku
merasakan adanya gelombang kenikmatan yang menyapu jiwaku, merenggut
tenagaku, aku menjerit tertahan "Ahkk!". Lalu aku merasakan nikmat
yang luar biasa dan tubuhku serasa lemas sekali.
"Aduuh..., Ditt..., Enakk sekali.., hh".
"Tahan sebentar, ya Sari..., bisa kan?", Jawabnya sambil mempercepat
gerakannya.
"Ahhkk..., sakit..., pelan-pelan dongg..", Kewanitaanku terasa
ngilu.
"Sebentar saja yang..., sebentaar lagii".
"Ohh..., Uhhg..., Ngg..", Aku mengerang-erang menahan ngilu, namun
rasa sakit itu tak bertahan lama ketika tiba-tiba kehangatan kembali
mengalir lewat kewanitaanku. Aku serasa melambung lagi oleh orgasme
yang ketiga, ketika sperma Ditto menyembur menghangatkan sudut-sudut
liang kewanitaanku. Kali ini, kenikmatan itu mengantarkanku ke alam
tak sadar untuk beberapa saat.
Cukup lama aku tertelungkup di meja itu, terengah-engah, dibanjiri
keringat, lemas sekali seperti setengah pingsan. Yang dapat
kurasakan hanya rasa nikmat dan kepuasan tiada tara, aku sempat
melihat Ditto melemparkan tubuhnya ke kursi kerja, lalu memejamkan
matanya.
Beberapa saat kemudian, aku tersadar. Dengan sisa tenagaku aku
mencoba berdiri dan merapikan kemejaku yang telah kusut tak karuan
karena habis bersetubuh tanpa melepaskan pakaian. Tak kukenakan
kembali celana dalamku karena telah sedikit basah oleh cairan
kenikmatanku ketika foreplay tadi.
Kukenakan kembali blazerku, kulihat Ditto sedang berdiri bersandar
di pintu tanpa ada kusut sedikitpun di kemejanya, namun wajahnya
tampak berseri-seri.
"Sari, udah jam sepuluh seperempat!".
"Iya, sudah waktunya pulang nih".
"Nah, dengan begini kamu nggak rugi kan?".
"Apanya yang nggak rugi?".
"Kan bayar sewa ruang overtimenya sampai jam sepuluh!?".
Kami tertawa-tawa lagi. Lalu berjalan menuju tempat parkir mobil
kami di lantai lima. Di lift, sebenarnya ingin juga sekedar
berpelukan atau berciuman, tapi sayang sekali satpam gedung ikut
berada di lift, senyam senyum memandangi wajah-wajah kami yang kusut
meski berseri-seri. Semenjak itu, aku masih beberapa kali lagi
melakukannya dengan Ditto, sampai ia dipindah tugaskan menjadi
kepala pemasaran di daerah lain. Dan aku?
Well..., Ia memang luar biasa, tapi availability ialah segalanya,
bukan? Aku kembali mengejar karier, sambil bertualang dari satu
pelukan ke pelukan lain para pria (dan kadang-kadang wanita) yang
aku taklukkan dengan tubuhku. |
|
|
|
|
|