|
Gadis pemijat |
Cerita ini fiksi, nama dan tempat hanya bayangan penulis.
Sabtu awal bulan, di pagi menjelang siang hari tepatnya jam 10:30
yang cerah, aku sudah duduk di rumah makan cepat saji yang cukup
populer di Jakarta. Setelah memesan makanan, kupilih tempat duduk
dekat kaca, agar dapat melihat situasi di luar. Dari pantulan cermin
aku melihat di belakangku ada pria dan wanita. Yang pria sedang
membaca surat kabar dengan posisi mengahadap kaca di sampingnya
sedangkan wanitanya melahap makanan yang tersaji di hadapannya
sehingga tidak ada suara, hanya suara musik yang terdengar
sayup-sayup.
Karena aku nggak biasa sarapan pagi, jadi sarapannya tidak bisa
cepat, sedikit-sedikit yang penting masuk. Nampak di belakangku
mulai ada pembicaraan, semakin lama semakin keras. Oh, ternyata lagi
ada pertengkaran, namun suaranya tidak terlalu keras. Bagus juga
idenya kalau bertengkar cari tempat di luar rumah. Si wanita cemburu
terhadap pasangannya, namum disanggah oleh si pria. Dia tak mungkin
berseligkuh dikarenakan semua penghasilannya sudah diberikan padanya.
Tiba-tiba kulihat di luar ada seorang wanita berjalan dengan cepat
sambil membawa tas plastik merah. Sepertinya kenal. Aku ingat-ingat.
Oh iya, itukan Mbak Indah. Kulihat jam menunjukkan jam 11:30,
berarti mulai berdatangan WP di depan rumah makan ini, tetapi ini
masih yang juniornya alias yang baru lulus training. Aku sudah tidak
memfokuskan ke pembicaraan orang di belakangku. Tak lama sepeda
motor berpenumpang melintas dan menurunkan penumpangnya tepat di
belakang kendaraanku yang kuparkir di seberang rumah makan dan hanya
tiga blok dari sebuah panti pijat tradisional (Papitra). Dia turun
dan memberikan uang. Oh ternyata naik ojek, itu kan Mbak Anita. Saat
Mbak Anna masuk, sebuah bajaj berhenti lagi di belakang kendaraanku.
Setelah bajaj berlalu tampak Mbak Ayu, dengan cepat melangkah masuk.
Lama kelamaan parkir mulai penuh di sekitar Papitra, dan banyak
pengemudi masuk ke situ. Nampak roda kehidupan Papitra mulai
berputar.
Tanpa terasa suasana rumah makan mulai ramai. Pengunjung sudah
bergantian keluar-masuk. Makananku pun sudah mulai habis. Aku pesan
makanan penutup, sambil tidak sedikitpun membuang pandanganku ke
arah sekitar mobilku. Bukannya takut kehilangan mobilku, tetapi di
situlah rata-rata para WP turun dari kendaraan yang mengangkut
mereka - mungkin malu dengan "pengantar"nya bahwa mereka bekerja di
Papitra, sedangkan yang naik bis pasti berjalan kaki untuk mencapai
tempat bekerjanya.
Hari semakin siang, sudah menunjukkan jam 13:00. Wp masih
berdatangan. Ada yang muda dan kecil, rata-rata mereka menggunakan
pakaian serba ketat atau hanya bawahannya saja yang ketat, nanti
setelah masuk mereka akan menggunakan pakaian dinasnya yang setiap
hari berganti warna tetapi dengan model yang sama, mempunyai
bordiran nama di dada kanan sedangkan rok mininya ditulis nama WP
dengan spidol di bagian dalam lipatan pinggang. Nah jam segini yang
datang biasanya para senior-senior. Ada yang keluar dari taksi
sambil bicara dengan HP-nya. Begitu taksi yang menutupi pandanganku
jalan, baru aku tahu kalau itu Mbak Febby. Ada yang jalan kaki
tetapi sambil bicara juga dengan HP-nya, kalau nggak salah ini Mbak
Anna, dari penampilan mereka rata-rata HP yang digunakan keluaran
terbaru.
Tidak berapa lama ada seorang wanita berpakaian ungu muda keluar
dari taksi. Begitu taksi pergi, dia jalan menuju ke Papitra. Siapa
yah? orang barukah? kataku dalam hati sambil menyentuh daerah antara
hidung dan bibir atas dengan telunjuk kiriku - rasa penasaran dan
petualanganku mulai tumbuh - dari penglihatanku umurnya kurang lebih
sekitar 30 tahun. Yang menarik adalah pinggulnya cukup besar. Bila
berjalan seperti bebek, megal megol, seperti orang hamil (???), apa
mungkin orang hamil bekerja di Papitra?.
Didorong rasa ingin tahu, aku menelpon ke Papitra di depan rumah
makan itu.
"Hallo selamat siang," suara resepsionis.
"Siang Mbak Ani," jawabku.
"Mau pesan, Pak Budi?" katanya, masih ingat namaku. Mana mungkin
lupa, khan setiap datang selalu diberi uang tip. (Hati-hati ada
pengganti Mbak Ani, yang setiap mengembalikan uang jasa pijat selalu
mengatakan kembaliannya kurang karena nggak ada uang kecil. Dia
hanya menyediakan uang terkecil 10.000,- jadi di bawah nilai ini
tidak akan dikembalikan - "pemerasan terselubung" alias tip maksa.
Aku kalau bertemu dengan orang ini, selalu aku membayar lewat WP,
agar kembaliannya tidak jatuh ke tangannya. Lebih baik jatuh ke
tangan WP - khan dia yang "memeras").
"Mbak Ani, yang barusan baru masuk menggunakan baju ungu siapa sih?"
tanyaku.
"Oh itu Mbak Desi," jawabnya.
"Sepertinya kok lagi hamil, Mbak?" tanyaku sambil menebak.
"Emang bener, Pak," jawabnya.
"Mbak Ani, sorry aku nanyanya agak-agak nih, kalau lagi hamil tugas,
berarti hanya mijat dong?" tanyaku mendesak.
"Dalam kamar siapa yang tahu Pak?" jawabnya diplomatis, benar juga.
"Sudah ada yang pesan?" tanyaku, jadi ingin coba, karena rasa
keingintahuanku.
"Belum, Pak Budi mau pesan?"
"Iya deh."
"Untuk jam berapa?"
"Hmmm," mikir dikit, dia baru sampai, butuh istirahat, waktu makan
siang sudah lewat, yah 30 menit cukup lah.
"Setengah jam lagi deh Mbak," jawabku.
Empat puluh lima menit kemudian aku sudah tanpa baju hanya
menggunakan CD dengan isi sudah pada posisi. Tidur telungkup
menghadap tembok di kamar lantai tiga ukuran 2x3 dengan penyejuk
ruangan. Tak lama tirai dibuka dan ditutup kembali.
"Selamat siang Pak," sapanya.
"Siang," jawabku sambil menolehkan muka ke arah atas, tetapi tetap
tidur telungkup.
"Mau minum apa?" tanyanya, sambil meletakkan barang bawaannya,
handuk, sabun, sprei, dan cairan pelicin untuk pijat di atas
satu-satunya sofa yang ada di ruang itu.
"Air mineral nggak dingin," jawabku. Dia keluar dan nggak lama
membawa yang kuminta. Dia tidak menanyakan pijat berapa jam, karena
aku berada di ruang VIP yang mempunyai waktu minimal satu setengah
jam.
Terdengar dia melepaskan seragam dinasnya (padahal suhu ruang cukup
dingin). Menutupkan selembar handuk ke punggungku mulai leher hingga
pantat dan mulai memijit telapak kakiku. Selanjutnya aku tidak
menjelaskan tahapan-tahapan pijat.
"Sebentar ya Pak, mau ke toilet," ijinnya.
"Ya," jawabku singkat.
Saat kembali dia mulai memijat kembali, mungkin terlalu lama berdiri
saat memijat tadi, sehingga dia naik ke tempat tidur dan memijat
kaki sebelahku yang belum disentuhnya dari tadi. Selanjutnya dengan
mengangkang dia memijat punggungku. Terasa pahanya dibungkus dengan
celana ketat, saat bersentuhan dengan pahaku.
"Kamu nggak pernah diisengin sama tamu, Mbak?" tanyaku.
"Itu sih sering Pak, santapan setiap hari!" katanya.
"Yang paling nyebelin seperti apa Mbak?" tanyaku.
"Belum lama ini ada tamu, saat lagi nafsu dia bilang, Mbak ngentot
yuk? aku jawab aja, sama siapa Pak? dia jawab ya sama kamu, kirain
sama kambing kataku, ngomongnya kasar banget," jawabnya.
Mungkin ada benarnya kata tukang gado-gado langgananku di blok M.
Dia mengatakan bahwa kelemahan wanita ada di telinga. Artinya kalau
dia disanjung, diajak bicara yang indah-indah, pasti akan tunduk.
Jadi bicaralah yang baik dengan wanita siapapun dia, pasti kalau
kamu minta sesuatu dengannya akan diberikan.
"Maaf Pak, saya tinggal ke toilet lagi," ijinnya.
"Ya," jawabku singkat, membuyarkan lamunanku.
Nggak lama dia meneruskan pijatan yang belum selesai. Setelah
menyelesaikan pijatan tadi, dia berkata.
"Pakai krim nggak, Pak?" tanyanya.
"He em," kataku.
"Maaf Pak," katanya sambil melipat CD-ku, menjepitnya ke celah-celah
pantat, dan akan menutup sisi CD dengan handuk, tetapi.. "Tolong
dilepas aja Mbak," kataku. Dia menarik handuk dan melepaskan CD-ku.
Nah telanjang deh aku sekarang. Dia mulai meratakan krim di seluruh
permukaan kulit kakiku, dan mulai memijit, dan beberapa menit
kemudian...
"Sebentar ya Pak, mau ke toilet lagi," ijinnya untuk ke tiga
kalinya.
"Ya" jawabku singkat, tanpa protes, karena aku memaklumi, karena
saat hamil kandung kemih tertekan oleh kandungan, atau ada yang lain
yang aku nggak tahu.
"Yah beginlah Pak kalau kondisinya seperti ini," katanya saat masuk
ke kamar.
"Aku maklum kok, Mbak," jawabku.
Dia mulai memijat kaki satunya lagi. Setelah selesai dia
mengeringkan krim dengan handuk, karena kakiku cukup banyak bulunya
dia menaburi bedak bayi di seluruh permukaan ke dua kaki (kalau
dilihat nggak ubahnya seperti bayi yang habis mandi terus dibedaki),
sehingga minyaknya bergabung dengan bedak, kemudian di gosok dengan
handuk satunya lagi, hasilnya lumayan kering.
Kemudian dia naik ke tempat tidur (biasanya WP bisa melakukannya
dengan berdiri, mungkin karena beratnya menahan perut sehingga lebih
baik sambil duduk di tempat tidur guna mengistirahatkan kedua
kakinya). Wanita lagi hamil mana ada yang memakai rok mini, biasanya
selalu serba longgar kan, kecuali wanita yang saat ini ada di atas
pantatku.
Karena nggak ada tempat lagi untuk duduk, akhirnya dia
mengangkangiku sehingga dia menduduki pantatku (asli lho, duduk
plek, soalnya berat banget) dengan berlapiskan handuk dan mulai
mengolesi krim. Saat sebelah kakinya diangkat untuk mengangkang
terasa pahaku bergesekan dengan paha bagian dalamnya yang licin dan
dingin. Tetapi anehnya kok sudah tidak memakai celana ketatnya lagi.
Setelah punggung rata dengan krim dia mulai memijat. Posisi memijat
adalah maju mundur, mulai dari pinggangku ke arah pundak. Karena
gaya pijat dan tumpuan duduknya pada tempat yang tidak rata walaupun
dilapisi oleh handuk, lama kelamaan dia bergeser tepatnya terpeleset
ke arah pangkal paha, kan ada sedikit bekas krim serta berat
tubuhnya yang lumayan berat.
Dia mengembalikan posisi duduknya ke pantatku lagi. Akan tetapi
tanpa handuk hanya beralaskan roknya. Sewaktu gaya maju - saat
mengurut dari pinggang ke arah pundak - dia terpeleset lagi. Sewaktu
mengembalikan pantatnya ke pantatku sudah tanpa handuk, sebab irama
pijatannya sudah agak cepat, jadi kalau sebentar-sebentar ngurusin
handuk nggak selesai-selesai mijatnya.
Semakin cepat pijatannya, yang kurasakan bukan punggungku lagi, akan
tetapi di pantatku ada sesuatu yang sangat kasar. Ternyata roknya
sudah tidak menjadi alas untuk duduk. Iseng, aku menoleh ke belakang
bawah.
"Sudah, nggak usah lihat-lihat," kata Mbak Desi, tetapi sekilas aku
dapat melihat dia jongkok dengan roknya sudah di pinggang sementara
di atas pantatku ada daging yang cukup tebal tanpa bulu (dicukur)
nggak seperti bagasi mobilku, lebih tepatnya nonong. Pantes pahanya
kok licin, nggak pakai celana!.
Aku ikutin perintahnya, prajurit muda lebih mengandalkan tenaga,
berhadapan langsung, dan menekan sebaliknya prajurit tua lebih
mengandalkan pikiran, menghindari kontak langsung, cenderung
mengikuti (bukan mengalah), hasilnya tak jauh beda dengan yang muda
hebatnya lagi tanpa keluar tenaga.
"Kenapa kok nggak pakai CD sih? Kamu khan lagi hamil," tanyaku.
"Habis capek tiap kencing harus melorotin celana ketat. Tadi sewaktu
keluar yang ke tiga udah kebelet banget jadi pas masuk nggak ketahan
keluar. Yah sudah basah, mau pakai cadangan ada di lemari bawah,
naik turun kan capek Mas. Tadi kencing pertama aja udah nggak bisa
jongkok," jawabnya panjang lebar. Perhatikan, panggilan sudah
berubah. Artinya dia sudah mulai mengenal. Pantes saat kontak dengan
pahanya terasa dingin kemungkinan dari air saat membasuh setelah
kencing.
"Memangnya kenapa? Khan ada toliet jongkok," kataku.
"Toliet khan jorok Mas bekas orang banyak, jadi kencingnya sambil
berdiri tetapi kakinya dibuka lebar biar nggak kena," jawabnya.
"Kamu nggak takut kerja tanpa CD?" kataku.
"Aku tadi diberi tahu sama Mbak Anita, kalau Mas orangnya nggak
reseh," katanya.
Ha ha, belum tahu dia, jawabku dalam hati. Mungkin pergantian
panggilan tadi berubah setelah ada sekilas info dari Mbak Anita.
Setelah selesai memijat punggung, dia mulai mengeringkan krim dengan
cara seperti tadi.
"Mas balik," katanya.
Aku segera membalikkan badanku, sambil kulihat wajahnya, dia tidak
melihatku, tetapi melihat kemaluanku yang masih "bobo siang" sambil
menutupnya dengan handuk kecil.
"kok dicukur Mas?" tanyanya setelah melihat burung yang tanpa bulu.
"Kamu sendiri kenapa kok dicukur?" tanyaku.
"Kalau ditanya dijawab dulu dong Mas!" katanya.
"Yah biar bersih aja," jawabku.
"Apa nggak geli Mas dicukur gitu?" tanyanya.
"Eh, kamu nanya terus kapan jawabnya?" tanyaku. Dianya tersenyum.
Bibir bagian bawahnya (yang di wajah yah) lumayan tebal ada belahan
di bagian tengahnya. Bibirnya dibalut pewarna berwarna pink, kontras
dengan kulit putihnya. Matanya bulat sekali.
"Yah biar bersih juga. Nanti kalau sewaktu-waktu melahirkan, nggak
buru-buru mencukurnya. Mas aku ke toilet dulu yah?" jawabnya sembari
ijin yang ke empat kalinya.
Kalau melihat posisi kandungannya sih udah di bawah, nampak sudah
waktunya. Dia masuk ke kamar, dan naik ke atas tempat tidur,
meminggirkan ke dua kakiku, sehingga bisa duduk di pinggi tempat
tidur.
"Berapa usia kandunganmu?" tanyaku.
"Tujuh bulan lewat, Mas," jawabnya.
"Suamimu kok tega, udah seperti ini kok masih disuruh kerja,"
tanyaku.
"Lebih tega lagi Mas, dia tidak mengakui ini hasilnya, dan pergi
begitu saja," jawabnya sambil menunduk dan terus memijat.
"kok nggak di batalin aja?" tanyaku lagi.
"Biarin deh Mas, umurku sudah semakin tua, nanti nggak ada yang
ngurus aku. Biarin deh aku usahakan sendiri," jawabnya kalem
bersamaan dengan selesainya mengeringkan salah satu kaki. Setelah
kering dia menggosok betisku yang berbulu dengan handuk, kemudian
mengangkangi kakiku tadi dan menggosok pahaku dengan handuk, dan
terasa bulu betisku terasa beradu dengan sesuatu yang kasar. Aku
pura-pura tidak tahu dan kuperhatikan wajahnya tidak berubah
sedikitpun. Perubahan terjadi di balik handuk yang menutupi
kemaluanku, seperti ada yang sedang mendirikan tenda.
Dia memijat kakiku yang sebelah. Perlakuan yang sama dengan kakiku
yang sebelah tadi. Juga acara gesek-menggesek, sehingga makin
sempurnalah rubuhnya tenda. Yah, dalam posisi terlentang kalau lagi
"konak" nggak mungkin tegak sembilan puluh derajat, yang ada juga
posisi jam sepuluh kurang sepuluh menit. Setelah selesai dengan
kaki, diturunkan handuk kecil hingga menutupi kemaluanku saja dan...
"Perutnya dipijat Mas?" tanyanya.
"Terserah," jawabku. Repot juga dia akan memijatnya, kalau sambil
berdiri dia akan capek kalau dari samping membutuhkan tenaga yang
lumayan banyak untuk menekan badanku. Yah terpaksa dia mengangkangi
kemaluanku yang hanya dilapisi handuk kecil. Mulai memijat dari arah
perut ke atas melebar ke sekitar pundak. Perlahan-lahan, semakin
lama irama agak dipercepat.
Aku tidak tahu apakah percepatannya disebabkan prosedur pijatnya,
ataukah ganjalan di kemaluannya yang semakin keras dan
berdenyut-denyut. Disengaja atau tidak posisi batang kemaluanku
berada di sela-sela bibir kemaluannya, hanya dipisahkan oleh handuk.
"Mas, kata Mbak Anita sama Mbak Anna, kalau ke sini nggak pernah
main, kenapa sih?" tanyanya.
"Yang pentingkan puas Mbak, nggak main aja puas kok," jawabku.
"Kalau sekarang aku ingin main sama Mas, gimana?" tanyanya.
Sewaktu berkata demikian, handuk sudah hilang sebagai pembatas.
Hilangnya bukan ditarik tetapi terdorong oleh goyangan pantatnya.
Jadi antara batangku dan bibirnya melekat.
"Berapa tips-nya?" tanyaku. Dia sudah menggoyangkan pinggulnya,
kesepakatan belum terjadi pekerjaan sudah dimulai. Sebagai gambaran,
bibir bawahnya lumayan tebal dan sudah cukup basah untuk penetrasi,
maklum hamil (orang hamil lebih cepat basahnya karena kelenjar yang
memproduksi lendir tertekan oleh kandungan).
"Seperti yang Mas berikan dengan Mbak Anita atau Mbak Anna,"
katanya. Wah dilarang dumping harga rupanya di sini.
"Ya, sudah," kataku. Begitu selesai aku bicara, bersamaan dengan
mulai masuknya kemaluanku ke dalam kemaluannya. Ups, licin sekali
(jadi ingat main bola saat kecil di tanah lapang dari tanah liat,
nggak pernah membawa bola jauh, selalu terpeleset apalagi bila
bertemu lawan pasti jatuh) tapi agak longgar, mungkin karena tekanan
kandungan, dan ada sesuatu yang menyentuh di ujung kemaluan seperti
ada benjolan di bagian dalam kemaluannya. Ternyata mulut rahimnya
juga sudah turun.
Dia tidak melakukan gerakan naik turun, mungkin sudah terlalu lelah,
jadi hanya bergoyang-goyang, tetapi goyangannya semakin lama semakin
merunduk, bak padi yang semakin berisi, di kepalanya semakin berat,
terdongak ke belakang, sementara pahanya terbuka sangat lebar
mengingat perut besarnya. Dia berusaha agar klitorisnya bergesekan
dengan bulu kemaluanku yang tumbuh kasar di atas batang kemaluanku.
Beberapa menit kemudian dia membalikkan badannya tanpa melepas
batangku yang tertanam. Sekarang dia menghadap ke kakiku. Gerakan
yang sama dia lakukan, tanpa naik turun, tetapi menekan serta
menggesek lubang anusnya yang agak keluar, bukan ambein lho, tetapi
itu tekanan kandungan, sehingga lapisan bagian dalam anus yang
lembut tergesek oleh bulu kemaluanku. Dia tidak mengeluarkan suara,
tepatnya menahan lenguhannya, agar tak terdengar di luar kamar.
Hanya deru nafasnya yang berfrekuensi tinggi, isap buang isap buang,
semua dilakukan melalui hidung. Mungkin mulutnya dikunci dengan
menggigit bibir bawahnya takut tak sengaja keluar suara.
Akhirnya tangannya meremas pergelangan kakiku dan mengedan. Terasa
sekali denyutan lubang anusnya. Tidak berapa lama aku pun keluar
juga. Dia diam sejenak menikmati semburan spermaku. Setelah selesai,
sudah tidak ada semburan dia mengangkat pantatnya, dan saat batangku
telepas dari lubangnya, dia berusaha menjepit labia minoranya dengan
jarinya tetapi tetap aja ada yang berjatuhan spermaku yang agak
kental di kemaluanku.
"Banyak banget sih Mas?" tanyanya, sambil membersihkan vaginanya
yang tembem banget dan nonong, tetapi masih mengangkang di atas
kemaluanku.
"Iya udah lama nih nggak dikeluarin," jawabku, sambil membersihkan
spermaku yang berjatuhan.
"Kamu suka nyabu?" tanyanya, sambil turun dari tempat tidur dengan
sangat hati-hati.
"Suka nyapu rumah, nyapu halaman," jawabku. Dia tersenyum.
"Maksudku narkoba," katanya.
"Nggak, kenapa sih?" kataku.
"Pantes. Udah keluar kok nggak mengecil, masih besar dan keras,"
katanya.
"Sok tahu" kataku.
"Eh iya lho Mas, aku punya tamu dia habis nyabu (sekarang sudah jadi
trend memakai narkoba di kamar Papitra, kadang bersama WP-nya) aduh
setengah mati aku ngeluarin pejunya," katanya polos. Wah habis "O"
ngomongnya udah nggak terkontrol nih sih Mbak. Saat aku bangun
memang sih kemaluanku masih keras dan berdiri hanya sembilan puluh
derajat ditunjang dengan beberapa urat yang menonjol.
"Terima kasih yah, Mbak. Kamu lagi hamil gini, semua tamu kamu
perlakukan seperti ini semua?" tanyaku.
"Yah nggak Mas, kebetulan aku udah lama nggak ngewe, terus lihat
punya Mas keras banget, udah gitu aku dapat info dari Mbak-Mbak
kalau kamu kalau ke sini nggak pernah main, tetapi bayar penuh,
artinya khan Mas orang bersih."
"Oh, jadi di kamar tunggu WP, banyak saling tukar informasi yah?"
"Harus itu, biar kita nggak salah, yang lebih penting lagi ini,"
katanya sambil menunjukkan leleran sperma yang meleleh keluar dari
vaginanya.
"Maksudmu?" kataku nggak mudeng.
"Aku taruhan sama Mbak-Mbak yang pernah sama Mas, lumayan sepuluh
ribuan sepuluh orang, ini sebagai bukti bahwa kamu main sama aku,"
katanya.
Ha, kaget aku. Wah gila aku dijadikan obyek judi, dasar.
"Sebentar Mas, aku ke toilet," katanya. Aduh bukan tamunya yang
didulukan, malah dia yang duluan.
Nggak lama dia masuk, dan...
"Nih aku bawain handuk yang baru," katanya dengan wajah yang
kelihatan seneng banget.
"Katanya nggak kuat naik turun, kok sudah bawa handuk bersih dari
bawah?" tanyaku.
"Khan minta tolong sama room boy," katanya.
"Nah tadi ngambil CD minta tolong aja sama dia," kataku.
"Nggak enak lagi Mas nanti dikira macam-macam, lagian khan tadi
belum ada modal buat nyuruh room boy," katanya.
"Maksudnya?" tanyaku lagi.
"Khan menang taruhan, yah bagi-bagi rejeki. Aku kasih uang room
boy-nya untuk ambil handuk, mereka kalau nggak ada uangnya nggak
gerak Mas!" katanya. Aku geleng-geleng.
"Iya setali tiga uang sama kamu, kalau nggak ada uang juga nggak
goyang," kataku tapi dalam hati.
"Mbak Desi, kok kamu duluan sih ke kamar mandi?" tanyaku sambil
memakai kimono dan membawa handuk serta sabun.
"Aku tadi buru-buru ke sebelah ngasih tahu sama Mbak Anita, kalau
dia kalah taruhan dengan menunjukan sperma Mas yang ngucur dari
memekku," katanya. Waduh udah kotor nih mulut Mbak Desi, mungkin
terlalu gembira dengan kemenangannya dan "O"-nya.
Setelah mandi, berpakaian dan memberikan tips, aku bilang, "Kamu
dapat tiga aku Cuma satu lho, Mbak!" kataku.
"Iya deh, lain kali aku kasih bonus," katanya, tahu maksudku kalau
dia dapat tips, menang taruhan dan "O"-nya.
"Janji yah, makasih Mbak," kataku, sambil aku cium pipi kiri dan
kanannya.
Saat turun ke depan resepsionis Mbak Desi mengikuti di sampingku,
guna memberi tahu ke resepsionis berapa jam dan minum apa.
Aku bayar tagihanku dan tak lupa kuberikan lebihan buat Mbak Ani.
"Terima Kasih Pak," katanya. Saat aku membalikkan badan untuk menuju
pintu keluar, sekilas aku melihat beberapa pasang mata di ruang tamu
memandang bergantian antara aku dan Mbak Desi. Apa ada yang aneh? Oh
mungkin lihat perutnya Mbak Desi yang nonong sementara tamunya
terlihat "segar" sekali. |
|
|
|
|
|