Triastuti bekerja sebagai sekretaris pada suatu group perusahaan
besar di Jakarta. Kantornya terletak di bilangan daerah kelas satu,
yaitu di jalan Jenderal Sudirman, di sebuah gedung bertingkat.
Perusahaan tempat Tri bekerja, memakai 3 lantai penuh yaitu lantai
24, 25 dan 26 dari gedung tersebut. Ketiga lantai tersebut dihubungi
dengan tangga khusus yang sengaja dibuat di bagian dalam dari
perkantoran tersebut, untuk memudahkan hubungan antar perusahaan di
group tersebut, tanpa mempergunakan lift. Kantor Tri terletak di
lantai 25, dan ruangan tempat Tri bekerja terletak agak berdekatan
dengan tangga penghubung ke lantai 24 dan 26.
Di tempat perusahaan-perusahaan lain dalam satu group, terdapat
beberapa orang asing yang bekerja sebagai tenaga ahli dan kebanyakan
mereka berkantor di lantai 26. Mereka ada yang berasal dari
Philipina dan ada juga dari India serta Pakistan.
Sudah menjadi kebiasaan di kantor Tri di lantai 25, apabila setiap
jam istirahat, yaitu dari jam 12 sampai jam 2 siang, maka para
karyawan termasuk para pimpinan perusahaan keluar makan siang
sehingga suasana di lantai 25 sangat sepi, hanya ditunggui oleh
satpam yang duduk di depan pintu luar dekat lift, sambil juga
bertindak sebagai operator sementara setiap jam istirahat. Akan
tetapi sudah menjadi kebiasaan sejak Tri mulai bekerja di kantor
tersebut 4 bulan lalu, Tri lebih sering istirahat sambil makan
makanan yang dibawa dari rumahnya, di ruang kerjanya sendirian. Hal
ini rupanya sudah sejak lama diperhatikan oleh Mr. Gulam Singh,
salah seorang tenaga ahli berasal dari India, yang bekerja di lantai
26. Mr. Gulam sering turun melalui tangga apabila dia pergi ke
bagian pemasaran yang terletak di ruangan sebelah barat di lantai
25, sedangkan ruangan tempat Tri bekerja dan tangga penghubung
terletak di ujung sebelah Timur lantai 25. Mr. Gulam sangat tertarik
melihat Tri, karena Tri yang berumur 28 tahun, adalah seorang gadis
Jawa, yang sangat cantik.
Dapat digambarkan sosok Triastuti adalah gadis bertampang Jawa, yang
sangat cantik dan manis, dengan kulit agak kuning langsat, tinggi
badan sekitar 165 cm, potongan muka manis, agak memanjang dengan
rambut hitam bergelombang terurai sampai bahu. Badannya tinggi
semampai dapat dikatakan kurus dengan berat badan sekitar 47 kg,
dadanya agak rata hanya terlihat tonjolan buah dadanya yang kecil,
sedangkan pinggangnya amat langsing dengan perut yang rata,
pinggulnya serasi dengan pantatnya yang kecil tapi padat. Tungkai
pahanya dan kakinya terlihat panjang serasi dengan bentuk badannya.
Apabila berjalan badannya terlihat sangat gemulai dan pembawaan Tri
terlihat sangat kalem malah dapat dikatakan malu-malu. Mr. Gulam
sendiri adalah seorang pria berumur mendekati 40 tahun, bekulit
gelap dengan badan tinggi 178 cm dan besar, sedangkan kedua
tangannya kekar terlihat berbulu lebat, apalagi pada bagian dada dan
kakinya. Kedua pahanya terlihat sangat gempal.
Tri memang agak risih juga terhadap Mr. Gulam, karena setiap kali
Mr. Gulam lewat depan ruangannya, Mr. Gulam selalu melirik dan
melempar senyum kepada Tri dan kalau kebetulan Tri tidak melihat
keluar, maka Mr. Gulam akan mendehem atau membuat gerakan-gerakan
yang menimbulkan suara, sehingga Tri akan terpancing untuk melihat
keluar. Tri agak ngeri juga melihat tampang Mr. Gulam yang berewokan
itu dengan badannya yang gelap dan tinggi besar. Tri telah mempunyai
pacar, yang orang Jawa juga dan badan pacarnya agak ceking dan tidak
terlalu tinggi, kurang lebih sama tingginya dengan Tri.
Sampai pada suatu hari, pada hari itu Tri ke kantor mengenakan baju
terusan mini berwarna coklat muda yang memakai kancing depan dari
atas sampai batas perut. Seperti biasa tepat jam 12 siang, para
karyawan dan boss di lantai 25 sudah pada keluar kantor, sehingga di
lantai 25 hanya tinggal Tri sendiri yang sedang makan siang di
ruangannya. Tiba-tiba Mr. Gulam melintas di depan ruangan Tri dan
terus menuju ke bagian ruangan sebelah barat. Tapi seluruh lantai 25
ternyata kosong, semua karyawan telah keluar makan siang. Begitu
melintas di pintu keluar satu-satunya yang menuju lift, Mr. Gulam
memutar kunci pada pintu keluar yang tertutup. Setelah itu Mr. Gulam
kembali menuju ke ruangan Tri yang terletak di ujung Timur itu.
Secara perlahan-lahan Mr. Gulam mendekati ruangan Tri dan mengintip
ke dalam, Tri sedang duduk membelakangi pintu menghadap ke jendela
kaca sambil makan.
Secara perlahan-lahan Mr. Gulam masuk ke dalam ruangan kerja Tri dan
langsung mengunci pintunya dari dalam. Mendengar suara pintu
terkunci Tri menoleh ke belakang dan, tiba-tiba mukanya menjadi
pucat. Dia segera berdiri dari tempat duduknya sambil berkata, "Sir,
apa-apaan ini, kenapa anda masuk ke ruangan saya dan mengunci
pintunya?", tapi Mr. Gulam hanya memandang Tri dengan tersenyum
tanpa berkata apa-apa. Tri semakin panik dan berkata, "Harap anda
segera keluar atau saya akan berteriak!". Tapi dengan kalem Mr.
Gulam berkata, "silakan saja nona manis.., apabila anda mau
menimbulkan skandal dan setiap orang di gedung ini akan
mempergunjingkan kamu selama-lamanya". Mendengar itu Tri yang pada
dasarnya agak pemalu menjadi ngeri juga akan akibatnya apabila ia
berteriak. Bagaimana dia akan menaruh mukanya di hadapan
teman-temannya sekantor apabila terjadi skandal.
Sementara Tri berada dalam keadaan ragu-ragu, dengan cepat Mr. Gulam
berjalan medekat ke arah Tri dan karena ruangan kerja Tri yang
sempit itu, begitu Tri akan mundur untuk menghindar, dia langsung
kepepet pada meja kerja yang berada di belakangnya. Dengan cepat
kedua tangan Mr. Gulam yang penuh dengan bulu tersebut memeluk badan
Tri yang ramping dan mendekap Tri ke tubuhnya. Karena badan Tri yang
sangat langsing dan dapat dikatakan tinggi kurus itu, lelaki
tersebut merasakan seakan-akan memeluk kapas dan sangat ringkih
sehingga harus diperlakukan dengan sangat lembut dan hati-hati.
Mr. Gulam memegang kedua lengan bagian atas Tri dekat bahu, sambil
mendorong badan Tri hingga tersandar pada meja kerja, kemudian Mr.
Gulam mengangkat badan Tri dengan gampang dan sangat hati-hati dan
mendudukkannya di atas meja kerja Tri, kemudian kedua tangan Tri
diletakan di belakang badan Tri dan dipegang dengan tangan kirinya.
Badan Mr. Gulam dirapatkan diantara kedua kaki Tri yang tergantung
di tepi meja dan paha Mr. Gulam yang sebelah kiri menekan rapat pada
tepi meja sehingga kedua paha Tri terbuka. Tangan kiri Mr. Gulam
yang memegang kedua tangan Tri di belakang badan Tri ditekan pada
bagian pantat Tri ke depan, sehingga badan Tri yang sedang duduk di
tepi meja, terdorong dan kemaluan Tri melekat rapat pada paha
sebelah kiri Mr. Gulam yang berdiri menyamping di depan Tri.
Tangan kanan Mr. Gulam yang bebas dengan cepat mulai membuka
kancing-kancing depan baju terusan yang dikenakan Tri. Badan Tri
hanya bisa menggeliat-geliat, "Jangan..., jangan lakukan itu!,
stoooppp..., stoopppp", akan tetapi Mr. Gulam tetap melanjutkan
aksinya itu. Sebentar saja baju bagian depan Tri telah terbuka,
sehingga kelihatan dadanya yang kecil mungil itu ditutupi dengan BH
yang berwarna putih bergerak naik turun mengikuti irama nafasnya.
Perutnya yang rata dan mulus itu terlihat sangat mulus dan
merangsang. Tangan kanan Mr. Gulam bergerak ke belakang badan Tri
dan membuka pengait BH Tri. Kemudian Mr. Gulam menarik ke atas BH
Tri dan..., sekarang terpampang kedua buah dada Tri yang kecil
mungil sangat mulus dengan putingnya yang coklat muda agak tegang
naik turun dengan cepat karena nafas Tri yang tidak teratur.
"Oooohh..., ooohh..., jaanggaannn..., jaannnggaann!". Erangan Tri
tidak dipedulikan oleh pria tersebut, malah mulut Mr. Gulam mulai
mencium belakang telinga Tri dan lidahnya bermain-main di dalam
kuping Tri. Hal ini menimbulkan perasaan yang sangat geli, yang
menyebabkan badan Tri menggeliat-geliat dan tak terasa Tri mulai
terangsang juga oleh permainan Mr. Gulam ini.
Mulut Mr. Gulam berpindah dan melumat bibir Tri dengan ganas,
lidahnya bergerak-gerak menerobos ke dalam mulut Tri dan
menggelitik-gelitik lidah Tri. "aahh..., hmm..., hhmm", terdengar
suara mengguman dari mulut Tri yang tersumbat oleh mulut Mr. Gulam.
Badan Tri yang tadinya tegang mulai agak melemas, mulut Mr. Gulam
sekarang berpindah dan mulai menjilat-jilat dari dagu Tri turun ke
leher, kepala Tri tertengadah ke atas dan badan bagian atasnya yang
terlanjang melengkung ke depan, ke arah Mr. Gulam, payudaranya yang
kecil mungil tapi bulat kencang itu, seakan-akan menantang ke arah
lelaki India tersebut.
Mr. Gulam langsung bereaksi, tangan kanannya memegangi bagian bawah
payudara Tri, mulutnya menciumi dan mengisap-isap kedua puting itu
secara bergantian. Mulanya buah dada Tri yang sebelah kanan menjadi
sasaran mulut Mr. Gulam. Buah dada Tri yang kecil mungil itu hampir
masuk semuanya ke dalam mulut Mr. Gulam yang mulai mengisap-isapnya
dengan lahap. Lidahnya bermain-main pada puting buah dada Tri yang
segera bereaksi menjadi keras. Terasa sesak napas Tri menerima
permainan Mr. Gulam yang lihai itu. Badan Tri terasa makin lemas dan
dari mulutnya terus terdengar erangan, "Sssshh..., ssssshh...,
aahh..., aahh..., ssshh..., sssshh..., jangaann...,
diiteeruussiinn", mulut Mr. Gulam terus berpindah-pindah dari buah
dada yang kiri, ke yang kanan, mengisap-isap dan mejilat-jilat kedua
puting buah dada Tri secara bergantian selama kurang lebih lima
menit.
Badan Tri benar-benar telah lemas menerima perlakuan ini. Matanya
terpejam pasrah dan kedua putingnya telah benar-benar mengeras.
Dalam keadaan terlena itu tiba-tiba badan Tri tersentak, karena dia
merasakan tangan Mr. Gulam mulai mengelus-elus pahanya yang terbuka
karena baju mininya telah terangkat sampai pangkal pahanya. Tri
mencoba menggeliat, badan dan kedua kakinya digerak-gerakkan untuk
mencoba menghindari tangan lelaki tersebut beroperasi di pahanya,
akan tetapi karena badan dan kedua tangannya terkunci oleh Mr.
Gulam, maka dia tidak bisa berbuat apa-apa, yang hanya dapat
dilakukan oleh Tri adalah hanya mengerang, "Jaanngaannnn...,
jaannngggannn..., diitteeerruusiin", akan tetapi suaranya semakin
lemah saja.
Melihat kondisi Tri seperti itu, Mr. Gulam yang telah berpengalaman,
yakin bahwa gadis ayu ini telah berada dalam genggamannya. Aktivitas
tangan Mr. Gulam makin ditingkatkan, terus bermain-main di paha Tri
yang mulus itu dan secara perlahan-lahan merambat ke atas dan,
tiba-tiba jarinya menyentuh bibir kemaluan Tri. Segera badan Tri
tersentak dan, "aahh..., jaannggaan!", mula-mula hanya ujung jari
telunjuk Mr. Gulam yang mengelus-elus bibir kemaluan Tri yang
tertutup CD, akan tetapi tak lama kemudian tangan kanan Mr. Gulam
menarik CD Tri dan memaksanya lepas dari pantatnya dan meluncur
keluar di antara kedua kaki Tri. Tri tidak dapat berbuat apa-apa
untuk menghindari perbuatan Mr. Gulam ini. Sekarang Tri dalam posisi
duduk di atas meja dengan tidak memakai CD dan kedua buah dadanya
terbuka karena BH-nya telah terangkat ke atas. Muka Tri yang ayu
terlihat merah merona dengan matanya yang terpejam sayu, sedangkan
giginya terlihat menggigit bibir bawahnya yang bergetar.
Kelihatan perasaan putus asa dan pasrah sedang melanda Tri, disertai
dorongan birahinya yang tak terbendung melandanya. Melihat ekspresi
muka Tri yang tak berdaya seperti itu, makin membangkitkan nafsu
birahi lelaki tersebut. Mr. Gulam melihat ke arah jam yang berada di
dinding, pada saat itu baru menunjukan pukul 12.30, berarti dia
masih punya waktu kurang lebih satu setengan jam untuk menuntaskan
nafsunya itu. Pada saat itu Mr. Gulam sudah yakin bahwa dia telah
menguasai situasi, tinggal melakukan tembakan terakhir saja.
Tampa menyia-nyiakan waktu yang ada, Mr. Gulam, dengan tetap
mengunci kedua tangan Tri, tangan kanannya mulai membuka kancing dan
retsliting celananya, setelah itu dia melepaskan celana yang
dikenakannya sekalian dengan CD-nya. Pada saat CD-nya terlepas, maka
senjata Mr. Gulam yang telah tegang sejak tadi itu seakan-akan
terlonjak bebas mengangguk-angguk dengan perkasa. Mr. Gulam agak
merenggangkan badannya, maka terlihat oleh Tri benda yang sedang
mengangguk-angguk itu, badan Tri tiba-tiba menjadi tegang dan
mukanya menjadi pucat, kedua matanya terbelalak melihat benda yang
terletak diantara kedua paha lelaki India itu. Benda tersebut hitam
besar kelihatan gemuk dengan urat yang melingkar, sangat panjang,
sampai di atas pusar lelaki tersebut, dengan besarnya kurang lebih 6
cm dan kepalanya berbentuk bulat lonjong seperti pohon jamur. Tak
terasa dari mulut Tri terdengar jeritan tertahan, "Iiihh", disertai
badannya yang merinding. Tri belum pernah melihat alat vital lelaki
sebesar itu. Tri merasa ngeri. "Bisa jebol milikku dimasuki benda
itu", gumannya dalam hati. Namun Tri tak dapat menyembunyikan
kekagumannya. Seolah-olah ada pesona tersendiri hingga pandangan
matanya seakan-akan terhipnotis, terus tertuju ke benda itu. Mr.
Gulam menatap muka Tri yang sedang terpesona dengan mata terbelalak
dan mulut setengah terbuka itu, "Kau Cantik sekali Tri...", gumam
Mr. Gulam mengagumi kecantikan Tri.
Kemudian dengan lembut Mr. Gulam menarik tubuh Tri yang lembut itu,
sampai terduduk di pinggir meja dan sekarang Mr. Gulam berdiri
menghadap langsung ke arah Tri dan karena yakin bahwa Tri telah
dapat ditaklukkannya, tangan kirinya yang memegang kedua tangan Tri,
dilepaskannya dan langsung kedua tangannya memegang kedua kaki Tri,
bahkan dengan gemas ia mementangkan kedua belah paha Tri
lebar-lebar. Matanya benar-benar nanar memandang daerah di sekitar
selangkangan Tri yang telah terbuka itu. Nafas laki-laki itu
terdengar mendengus-dengus memburu. Biarpun kedua tangannya telah
bebas, tapi Tri tidak bisa berbuat apa-apa karena di samping badan
Mr. Gulam yang besar, Tri sendiri merasakan badannya amat lemas
serta panas dan perasaannya sendiri mulai diliputi oleh suatu
sensasi yang mengila, apalagi melihat tubuh Mr. Gulam yang besar
berbulu dengan kemaluannya yang hitam, besar yang pada ujung
kepalanya membulat mengkilat dengan pangkalnya yang ditumbuhi rambut
yang hitam lebat terletak diantara kedua paha yang hitam gempal itu.
Sambil memegang kedua paha Tri dan merentangkannya lebar-lebar, Mr.
Gulam membenamkan kepalanya di antara kedua paha Tri. Mulut dan
lidahnya menjilat-jilat penuh nafsu di sekitar kemaluan Tri yang
yang masih rapat, tertutup rambut halus itu. Tri hanya bisa
memejamkan mata, "Ooohh..., nikmatnya..., ooohh!", Tri menguman
dalam hati, mulai bisa menikmatinya, sampai-sampai tubuhnya bergerak
menggelinjang-gelinjang kegelian. "Ooooohh..., hhmm!", terdengar
rintihan halus, memelas keluar dari mulutnya. "Paakkk..., aku tak
tahan lagi...!", Tri memelas sambil menggigit bibir.
Sungguh Tri tidak bisa menahan lagi, dia telah diliputi nafsu
birahi, perasaannya yang halus, terasa tersiksa antara rasa malu
karena telah ditaklukan oleh orang India yang kasar itu dengan
gampang dan perasaan nikmat yang melanda di sekujur tubuhnya akibat
serangan-serangan mematikan yang dilancarkan Mr. Gulam yang telah
bepengalaman itu. Namun rupanya lelaki India itu tidak peduli,
bahkan amat senang melihat Tri sudah mulai merespon atas cumbuannya
itu. Tangannya yang melingkari kedua pantat Tri, kini dijulurkan ke
atas, menjalar melalui perut ke arah dada dan mengelus-elus serta
meremas-remas kedua payudara Tri dengan sangat bernafsu.
Menghadapi serangan bertubi-tubi yang dilancarkan Mr. Gulam ini, Tri
benar-benar sangat kewalahan dan kemaluannya telah sangat basah
kuyup. "Paakkk..., aakkhh..., aakkkhh!", Tri mengerang halus, kedua
pahanya yang jenjang mulus menjepit kepala Mr. Gulam untuk
melampiaskan derita birahi yang menyerangnya, dijambaknya rambut Mr.
Gulam keras-keras. Kini Tri tak peduli lagi akan bayangan pacarnya
dan kenyataan bahwa lelaki India itu sebenarnya sedang
memperkosanya, perasaan dan pikirannya telah diliputi olen nafsu
birahi yang menuntut untuk dituntaskan. Wanita ayu yang lemah lembut
ini benar-benar telah ditaklukan oleh permainan laki-laki India yang
dapat membangkitkan gairahnya.
Tiba-tiba Mr. Gulam melepaskan diri, kemudian bangkit berdiri di
depan Tri yang masih terduduk di tepi meja, ditariknya Tri dari atas
meja dan kemudian Mr. Gulam gantian bersandar pada tepi meja dan
kedua tangannya menekan bahu Tri ke bawah, sehingga sekarang posisi
Tri berjongkok di antara kedua kaki berbulu Mr. Gulam dan kepalanya
tepat sejajar dengan bagian bawah perutnya. Tri sudah tahu apa yang
diinginkan Mr. Gulam, namun tanpa sempat berpikir lagi, tangan Mr.
Gulam telah meraih belakang kepala Tri dan dibawa mendekati
kejantanan Mr. Gulam, yang sungguh luar biasa itu.
Tanpa mendapat perlawanan yang berarti dari Tri, kepala penis Mr.
Gulam telah terjepit di antara kedua bibir mungil Tri, yang dengan
terpaksa dicobanya membuka mulut selebar-lebarnya, Lalu Tri mulai
mengulum alat vital Mr. Gulam ke dalam mulutnya, hingga membuat
lelaki India itu melek merem keenakan. Benda itu hanya masuk bagian
kepala dan sedikit batangnya saja ke dalam mulut Tri yang kecil,
itupun sudah terasa penuh benar. Tri hampir sesak nafas dibuatnya.
Kelihatan Tri bekerja keras, menghisap, mengulum serta mempermainkan
batang itu keluar masuk ke dalam mulutnya. Terasa benar kepala itu
bergetar hebat setiap kali lidah Tri menyapu kepalanya.
Beberapa saat kemudian Mr. Gulam melepaskan diri, ia mengangkat
badan Tri yang terasa sangat ringan itu dan membaringkan di atas
meja dengan pantat Tri terletak di tepi meja, kaki kiri Tri
diangkatnya agak melebar ke samping, di pinggir pinggang lelaki
tersebut. Kemudian Mr. Gulam mulai berusaha memasuki tubuh Tri.
Tangan kanan Mr. Gulam menggenggam batang penisnya yang besar itu
dan kepala penisnya yang membulat itu digesek-gesekkannya pada
clitoris dan bibir kemaluan Tri, hingga Tri merintih-rintih
kenikmatan dan badannya tersentak-sentak. Mr. Gulam terus berusaha
menekan senjatanya ke dalam kemaluan Tri yang memang sudah sangat
basah itu, akan tetapi sangat sempit untuk ukuran penis Mr. Gulam
yang besar itu.
Pelahan-lahan kepala penis Mr. Gulam itu menerobos masuk membelah
bibir kemaluan Tri. Ketika kepala penis lelaki India itu menempel
pada bibir kemaluannya, Tri merasa kaget ketika menyadari saluran
vaginanya ternyata panas dan basah. Ia berusaha memahami kondisi
itu, namun semua pikirannya segera lenyap, ketika lelaki itu
memainkan kepala penisnya pada bibir kemaluannya yang menimbulkan
suatu perasaan geli yang segera menjalar ke seluruh tubuhnya. Dalam
keadaan Tri yang sedang gamang dan gelisah itu, dengan kasar Mr.
Gulam tiba-tiba menekan pantatnya kuat-kuat ke depan sehingga
pinggulnya menempel ketat pada pinggul Tri, rambut lebat pada
pangkal penis lelaki tersebut mengesek pada kedua paha bagian atas
dan bibir kemaluan Tri yang makin membuatnya kegelian, sedangkan
seluruh batang penisnya amblas ke dalam liang vagina Tri. Dengan tak
kuasa menahan diri, dari mulut Tri terdengar jeritan halus tertahan,
"Aduuuh!.., ooooooohh.., aahh", disertai badannya yang tertekuk ke
atas dan kedua tangan Tri mencengkeram dengan kuat pinggang Mr.
Gulam. Perasaan sensasi luar biasa bercampur sedikit pedih menguasai
diri Tri, hingga badannya mengejang beberapa detik.
Mr. Gulam cukup mengerti keadaan Tri, ketika dia selesai memasukkan
seluruh batang penisnya, dia memberi kesempatan kemaluan Tri untuk
bisa menyesuaikan dengan penisnya yang besar itu. Tri mulai bisa
menguasai diri. Beberapa saat kemudian Mr. Gulam mulai menggoyangkan
pinggulnya, mula-mula perlahan, kemudian makin lama semakin cepat.
Seterusnya pinggul lelaki India itu bergerak dengan kecepatan tinggi
diantara kedua paha halus gadis ayu tersebut. Tri berusaha memegang
lengan pria itu, sementara tubuhnya bergetar dan terlonjak dengan
hebat akibat dorongan dan tarikan penis lelaki tersebut pada
kemaluannya, giginya bergemeletuk dan kepalanya menggeleng-geleng ke
kiri kanan di atas meja. Tri mencoba memaksa kelopak matanya yang
terasa berat untuk membukanya sebentar dan melihat wajah gelap
lelaki India yang sedang menatapnya, dengan takjub. Tri berusaha
bernafas dan …:" "Paak..., aahh..., ooohh..., ssshh", sementara pria
tersebut terus menyetubuhinya dengan ganas.
Tri sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap kali Mr. Gulam
menggerakkan tubuhnya, gesekan demi gesekan di dinding liang
vaginanya, sungguh membuat Tri melayang-layang dalam sensasi
kenikmatan yang belum pernah dia alami. Setiap kali Mr. Gulam
menarik penisnya keluar, Tri merasa seakan-akan sebagian dari
badannya turut terbawa keluar dari tubuhnya dan pada gilirannya Mr.
Gulam menekan masuk penisnya ke dalam vagina Tri, maka klitoris Tri
terjepit pada batang penis Mr. Gulam dan terdorong masuk kemudian
tergesek-gesek dengan batang penis Mr. Gulam yang berurat itu. Hal
ini menimbulkan suatu perasaan geli yang dahsyat, yang mengakibatkan
seluruh badan Tri menggeliat dan terlonjak, sampai badannya tertekuk
ke atas menahan sensasi kenikmatan yang tidak dapat dilukiskan
dengan kata-kata.
Lelaki tersebut terus menyetubuhi Tri dengan cara itu. Sementara
tangannya yang lain tidak dibiarkan menganggur, dengan terus
bermain-main pada bagian dada Tri dan meremas-remas kedua payudara
Tri secara bergantian. Tri dapat merasakan puting susunya sudah
sangat mengeras, runcing dan kaku. Tri bisa melihat bagaimana batang
penis yang hitam besar dari lelaki India itu keluar masuk ke dalam
liang kemaluannya yang sempit. Tri selalu menahan nafas ketika benda
itu menusuk ke dalamnya. Kemaluannya hampir tidak dapat menampung
ukuran penis Mr. Gulam yang super besar itu. Tri menghitung-hitung
detik-detik yang berlalu, ia berharap lelaki India itu segera
mencapai klimaksnya, namun harapannya itu tak kunjung terjadi. Ia
berusaha menggerakkan pinggulnya, akan tetapi paha, bokong dan
kakinya mati rasa. Tapi ia mencoba berusaha membuat lelaki itu
segera mencapai klimaks dengan memutar bokongnya, menjepitkan
pahanya, akan tetapi Mr. Gulam terus menyetubuhinya dan tidak juga
mencapai klimaks.
Lalu tiba-tiba Tri merasakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya,
sesuatu yang tidak pernah dia rasakan ketika bersetubuh dengan
pacarnya, rasanya seperti ada kekuatan dahsyat pelan-pelan bangkit
di dalamnya, perasaan yang tidak diingininya, tidak dikenalnya,
keinginan untuk membuat dirinya meledak dalam kenikmatan. Tri merasa
dirinya seperti mulai tenggelam dalam genangan air, dengan gleiser
di dalam vaginanya yang siap untuk membuncah setinggi-tingginya.
Saat itu dia tahu dengan pasti, ia akan kehilangan kontrol, ia akan
mengalami orgasme yang luar biasa dahsyatnya. Ia ingin menangis
karena tidak ingin itu terjadi dalam suatu persetubuhan yang
sebenarnya ia tidak rela, yang merupakan suatu perkosaan itu. Ia
yakin sebentar lagi ia akan ditaklukan secara total oleh monster
India itu. Jari-jarinya dengan keras mencengkeram tepi meja, ia
menggigit bibirnya, memohon akal sehatnya yang sudah kacau balau
untuk mengambil alih dan tidak membiarkan vaginanya menyerah dalam
suatu penyerahan total.
Tri berusaha untuk tidak menanggapi lagi. Ia memiringkan kepalanya,
berjuang untuk tidak memikirkan percumbuan lelaki tersebut yang luar
biasa. Akan tetapi..., tidak bisa, ini terlalu nikmat..., proses
menuju klimaks rasanya tidak dapat terbendung lagi. Orgasmenya
tinggal beberapa detik lagi, dengan sisa-sisa kesadaran yang ada Tri
masih mencoba mengingatkan dirinya bahwa ini adalah suatu
pemerkosaan yang brutal yang sedang dialaminya dan tak pantas kalau
dia turut menikmatinya, akan tetapi bagian dalam vaginanya
menghianatinya dengan mengirimkan signal-signal yang sama sekali
berlawanan dengan keinginannya itu, Tri merasa sangat tersiksa
karena harus menahan diri.
Akhirnya sesuatu melintas pada pikirannya, buat apa menahan diri?,
Supaya membuat laki-laki ini puas atau menang?, persetan, akhirnya
Tri membiarkan diri terbuai dan larut dalam tuntutan badannya dan
terdengar erangan panjang keluar dari mulutnya yang mungil,
"Ooooh..., ooooooh..., aahhmm..., ssstthh!". Gadis ayu itu
melengkungkan punggungnya, kedua pahanya mengejang serta menjepit
dengan kencang, menekuk ibu jari kakinya, membiarkan bokongnya
naik-turun berkali-kali, keseluruhan badannya berkelonjotan,
menjerit serak dan..., akhirnya larut dalam orgasme total yang
dengan dahsyat melandanya, diikuti dengan suatu kekosongan melanda
dirinya dan keseluruhan tubuhnya merasakan lemas seakan-akan seluruh
tulangnya copot berantakan. Tri terkulai lemas tak berdaya di atas
meja dengan kedua tangannya terentang dan pahanya terkangkang
lebar-lebar dimana penis hitam besar Mr. Gulam tetap terjepit di
dalam liang vaginanya.
Selama proses orgasme yang dialami Tri ini berlangsung, memberikan
suatu kenikmatan yang hebat yang dirasakan oleh Mr. Gulam, dimana
penisnya yang masih terbenam dan terjepit di dalam liang vagina Tri
dan merasakan suatu sensasi luar biasa, batang penisnya serasa
terbungkus dengan keras oleh sesuatu yang lembut licin yang terasa
mengurut-urut seluruha penisnya, terlebih-lebih pada bagian kepala
penisnya setiap terjadi kontraksi pada dinding vagina Tri, yang
diakhiri dengan siraman cairan panas. Perasaan Mr. Gulam seakan-akan
menggila melihat Tri yang begitu cantik dan ayu itu tergelatak
pasrah tak berdaya di hadapannya dengan kedua paha yang halus mulus
terkangkang dan bibir kemaluan yang kuning langsat mungil itu
menjepit dengan ketat batang penisnya yang hitam besar itu.
Tidak sampai di situ, beberapa menit kemudian Mr. Gulam membalik
tubuh Tri yang telah lemas itu hingga sekarang Tri setengah berdiri
tertelungkup di meja dengan kaki terjurai ke lantai, sehingga posisi
pantatnya menungging ke arah Mr. Gulam. Mr. Gulam ingin melakukan
doggy style rupanya. Tangan lelaki India itu kini lebih leluasa
meremas-remas kedua buah payudara Tri yang kini menggantung ke
bawah. Dengan kedua kaki setengah tertekuk, secara perlahan-lahan
lelaki tersebut menggosok-gosok kepala penisnya yang telah licin
oleh cairan pelumas yang keluar dari dalam vagina Tri pada permukaan
lubang anus Tri yang menimbulkan suatu sentakan kejutan pada seluruh
badan Tri, kemudian menempatkan kepala penisnya pada bibir kemaluan
Tri dari belakang.
Dengan sedikit dorongan, kepala penis tersebut membelah dan terjepit
dengan kuat oleh bibir-bibir kemaluan Tri. Kedua tangan Mr. Gulam
memegang pinggul Tri dan mengangkatnya sedikit ke atas sehingga
posisi bagian bawah badan Tri tidak terletak pada meja lagi, hanya
kedua tangannya yang masih bertumpu pada meja. Kedua kaki Tri
dikaitkan pada paha laki-laki tersebut. Laki-laki tersebut menarik
pinggul Tri ke arahnya, berbarengan dengan mendorong pantatnya ke
depan, sehingga disertai keluhan panjang yang keluar dari mulut Tri,
"Oooooooh!", penis laki-laki tersebut menerobos masuk ke dalam liang
vaginanya dan Mr. Gulam terus menekan pantatnya sehingga perutnya
yang bebulu lebat itu menempel ketat pada pantat Tri yang setengah
terangkat. Selanjutnya dengan ganasnya Mr. Gulam memainkan
pinggulnya maju mundur dengan cepat sambil mulutnya mendesis-desis
keenakan merasakan penisnya terjepit dan tergesek-gesek di dalam
lubang vagina Tri yang ketat itu. Sebagai seorang wanita Jawa yang
setiap hari minum jamu, Tri memiliki daya tahan alami dalam
bersetubuh. Tapi bahkan kini Tri kewalahan menghadapi Mr. Gulam yang
ganas dan kuat itu. Laki-laki itu benar-benar luar biasa tenaganya.
Sudah hampir setengah jam ia melakukan aktivitasnya dengan tempo
permainan yang masih tetap tinggi dan semangat tetap menggebu-gebu.
Kemudian Mr. Gulam merubah posisi permainan, dengan duduk di kursi
yang tidak berlengan dan Tri ditariknya duduk menghadap sambil
mengangkang pada pangkuan Mr. Gulam. Mr. Gulam menempatkan penisnya
pada bibir kemaluan Tri dan mendorongnya sehingga kepala penisnya
masuk terjepit dalam liang kewanitaan Tri, sedangkan tangan kiri Mr.
Gulam memeluk pinggul Tri dan menariknya merapat pada badannya,
sehingga secara perlahan-lahan tapi pasti penis Mr. Gulam menerobos
masuk ke dalam kemaluan Tri. Tangan kanan Mr. Gulam memeluk punggung
Tri dan menekannya rapat-rapat hingga kini badan Tri melekat pada
badan Mr. Gulam. Kedua buah dada Tri terjepit pada dada Mr. Gulam
yang berambut lebat itu dan menimbulkan perasaan geli yang amat
sangat pada kedua puting susunya setiap kali bergesekan dengan
rambut dada Mr. Gulam. Kepala Tri tertengadah ke atas, pasrah dengan
matanya setengah terkatup menahan kenikmatan yang melandanya
sehingga dengan bebasnya mulut Mr. Gulam bisa melumat bibir Tri yang
agak basah terbuka itu.
Tri mulai memacu dan terus menggoyang pinggulnya, memutar-mutar ke
kiri dan ke kanan serta melingkar, sehingga penis yang besar itu
seakan mengaduk-aduk dalam vaginanya sampai terasa di perutnya. Tak
berselang kemudian, Tri merasaka sesuatu yang sebentar lagi akan
kembali melandanya. Terus..., terus..., Tri tak peduli lagi dengan
gerakannya yang agak brutal ataupun suaranya yang kadang-kadang
memekik lirih menahan rasa yang luar biasa itu. Dan ketika klimaks
itu datang lagi, Tri tak peduli lagi, "Aaduuuh..., eeeehm", Tri
memekik lirih sambil menjambak rambut laki-laki yang memeluknya
dengan kencang itu. Dunia serasa berputar. Sekujur tubuhnya
mengejang, terhentak-hentak di atas pangkuan Mr. Gulam. Sungguh
hebat rasa kenikmatan orgasme kedua yang melanda dirinya. Sungguh
ironi memang, gadis ayu yang lemah gemulai itu mendapatkan
kenikmatan seperti ini bukan dengan kekasihnya, akan tetapi dengan
orang asing yang sedang memperkosanya.
Kemudian kembali laki-laki itu menggendong dan meletakkan Tri di
atas meja dengan pantat Tri terletak pada tepi meja dan kedua
kakinya terjulur ke lantai. Mr. Gulam mengambil posisi diantara
kedua paha Tri yang ditariknya mengangkang, dan dengan tangan
kanannya menuntun penisnya ke dalam lubang vagina Tri yang telah
siap di depannya. Laki-laki itu mendorong penisnya masuk ke dalam
dan menekan badannya setengah menindih tubuh Tri yang telah pasrah
oleh kenikmatan-kenikmatan yang diberikan oleh lelaki tersebut. Mr.
Gulam memacu keras untuk mencapai klimaks. Desah nafasnya
mendengus-dengus seperti kuda liar, sementara goyangan pinggulnya
pun semakin cepat dan kasar. Peluhnya sudah penuh membasahi sekujur
tubuhnya dan tubuh Tri yang terkapar lemas di atas meja.
Sementara lelaki India itu terus berpacu diantara kedua paha Tri,
badan gadis itu terlonjak-lonjak mengikuti tekanan dan tarikan penis
lelaki tersebut. Tri benar-benar telah KO dan dibuat permainan
sesukanya oleh si India yang perkasa itu. Tri kini benar-benar tidak
berdaya, hanya erangan-erangan halus yang keluar dari mulutnya
disertai pandangan memelas sayu, kedua tangannya mencengkeram tepi
meja untuk menjaga keseimbangannya. Lelaki itu melihat ke arah jam
yang terletak di dinding ruangan kerja tersebut, jam telah
menunjukan pukul 13.40, berarti telah 1 jam 40 menit dia menggarap
gadis ayu tersebut dan sekarang dia merasa sesuatu dorongan yang
keras seakan-akan mendesak dari dalam penisnya yang menimbulkan
perasaan geli pada ujung penisnya.
Lelaki tersebut mengeram panjang dengan suara tertahan, "Agh...,
terus", dan disertai dengan suatu dorongan kuat, pinggulnya menekan
habis pada pinggul gadis yang telah tidak berdaya itu, sehingga buah
pelirnya menempel ketat pada lubang anus Tri dan batang penisnya
yang besar dan panjang itu terbenam seluruhnya di dalam liang vagina
Tri. Dengan suatu lenguhan panjang, "Sssh..., ooooh!", sambil
membuat gerakan-gerakan memutar pantatnya, lelaki India tersebut
merasakan denyutan-denyutan kenikmatan yang diakibatkan oleh
semprotan air maninya ke dalam vagina Tri. Ada kurang lebih lima
detik lelaki tersebut tertelungkup di atas badan gadis ayu tersebut,
dengan seluruh tubuhnya bergetar hebat dilanda kenikmatan orgasme
yang dahsyat itu. Dan pada saat yang bersamaan Tri yang telah
terkapar lemas tak berdaya itu merasakan suatu semprotan hangat dari
pancaran cairan kental hangat lelaki tersebut yang menyiram ke
seluruh rongga vaginanya. Tubuh lelaki India itu bergetar hebat di
atas tubuh gadis ayu itu.
Setelah kurang lebih 3 menit keduanya memasuki masa tenang dengan
posisi tersebut, secara perlahan-lahan Mr. Gulam bangun dari atas
badan Tri, mengambil tissue yang berada di samping meja kerja dan
mulai membersihkan ceceran air maninya yang mengalir keluar dari
bibir kemaluan Tri. Setelah bersih Mr. Gulam menarik tubuh Tri yang
masih terkapar lemas di atas meja untuk berdiri dan memasang kembali
kancing-kancing bajunya yang terbuka. Setelah merapikan baju dan
celananya, Mr. Gulam menarik badan Tri dengan lembut ke arahnya dan
memeluk dengan mesra sambil berbisk ke telinga Tri, "Maafkan saya
manis..., terima kasih atas apa yang telah kau berikan tadi, biarpun
kudapat itu dengan sedikit paksaan!", kemudian dengan cepat Mr.
Gulam Singh keluar dari ruangan kerja Tri dan membuka pintu keluar
yang tadinya dikunci, setelah itu cepat-cepat kembali ke lantai 26.
Jam menunjukan 13.55.
Sepeninggalan Mr. Gulam, Tri terduduk lemas di kursinya, seakan-akan
tidak percaya atas kejadian yang baru saja dialaminya. Seluruh
badannya terasa lemas tak bertenaga, terbesit perasaan malu dalam
dirinya, karena dalam hati kecilnya dia mengakui turut merasakan
suatu kenikmatan yang belum pernah dialami serta dibayangkannya.
Kini hal yang diimpikannya benar-benar menjadi kenyataan. Dalam
pikirannya timbul pertanyaan apakah bisa? sepuas tadi bila dia
berhubungan dengan pacarnya, setelah mengalami persetubuhan yang
sensasional itu.
Setelah kejadian pada hari yang tidak terlupakan itu, Tri menjadi
trauma untuk tinggal sendirian di ruang kerjanya pada jam istirahat,
Tri selalu berusaha untuk pergi keluar bersama dengan teman-teman
sekantor lainnya. Selama itu Mr. Gulam tetap saja berlaku seperti
biasa, seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa, demikian juga
dengan Tri, masing-masing berusaha menjaga kerahasiaan kejadian
tersebut hanya di antara mereka dengan alasan sendiri-sendiri.
Tidak terasa waktu berjalan demikian cepat, 3 (tiga) bulan telah
berlalu sejak kejadian tersebut. Buat Tri kejadian tersebut
merupakan mimpi buruk yang tidak begitu saja dapat dihilangkan.
Sampai saat itu seakan-akan masih terasa tangan besar berbulu dari
lelaki India tersebut yang merangkulnya dengan erat badannya yang
langsing itu, disamping perasaan tidak berdaya menelungkupinya
ketika tangan tersebut mengelus-elus seluruh badannya dan
bermain-main pada kedua buah dadanya dan yang lebih
menggelisahkannya lagi adalah perasaan yang masih membekas pada
pangkal pahanya sampai saat ini.
Terlebih-lebih ketika Tri sedang tidur telentang di tempat tidurnya,
terbayang dan terasa penis besar hitam lelaki tersebut mengaduk-aduk
lubang kemaluannya yang menimbulkan perasaan sensasi dan membuat
seluruh badan Tri panas dingin diliputi kenikmatan yang tidak
terbayangkannya. Kadang-kadang ada perasaan yang mendesaknya untuk
mau lagi mengalami peristiwa itu, tapi di lain pihak perasaan
halusnya dan harga diri sebagai seorang wanita yang bermartabat
tinggi, mengingatkan bahwa peristiwa yang dialami itu adalah
merupakan suatu perkosaan yang brutal yang tidak pantas untuk
diingat-ingat kembali.
Hari demi hari berlalu dengan cepat tanpa ada kejadian istimewa,
pekerjaan-pekerjaan di kantornya semakin sibuk menyita waktu Tri,
sehingga kejadian tersebut mulai dapat dilupakannya. Sampai pada
suatu hari, tiba-tiba terjadi demonstrasi para mahasiswa di sekitar
Bundaran Semanggi tidak jauh dari kantor tempat Tri bekerja. Karena
situasi pada saat itu sangat memanas, maka pimpinan kantor
memutuskan untuk memulangkan para karyawannya lebih awal untuk
mencegah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Saat itu baru menunjukan pukul 14.30 siang, setiap karyawan
buru-buru mengemasi barang-barangnya di atas meja, mengunci laci dan
lemari-lemari pada ruang kerja masing-masing dan cepat-cepat turun
dari gedung kantor untuk buru-buru pulang. Demikian juga dengan Tri,
dengan cepat dia membereskan surat-surat yang bertebaran di atas
meja kerjanya dan segera dimasukkan ke dalam laci meja kerjanya.
Setelah menguncinya dengan rapi Tri segera keluar ruang kerjanya dan
cepat-cepat menuju lift untuk turun ke bawah.
Di lantai 25 tempat Tri bekerja itu telah kosong, seluruh karyawan
telah turun terlebih dahulu, hanya Tri sendirian yang menunggu lift
untuk turun ke bawah. Setelah lift yang turun dari atas terbuka, Tri
dengan cepat segera masuk ke dalamnya dan segera lift itu menutup
kembali dan bergerak turun. Tiba-tiba Tri menyadari, dia hanya
berdua dengan seseorang di dalam lift tersebut dan saat bersamaan
orang tersebut menyapa Tri dengan halus, "Tri, mau pulang juga ya!"
dengan kaget Tri segera mengangkat mukanya dan melihat ke belakang,
ke arah suara tersebut berasal. Mukanya mendadak menjadi merah
setelah menyadari bahwa orang tersebut yang hanya berdua saja dengan
dia adalah Mr. Gulam yang bejad itu. Tri hanya diam tidak menyambut
sapaan Mr. Gulam tersebut. Mr. Gulam mencoba menawarkan jasanya
untuk mengantar Tri pulang dengan alasan pada saat itu kendaraan
umum tidak ada yang beroperasi akibat demonstrasi para mahasiswa di
sepanjang jalan Sudirman. Akan tetapi tawaran Mr. Gulam itu ditolak
secara halus oleh Tri.
Sesampai di bawah, begitu lift terbuka, Tri buru-buru keluar dan
berjalan ke depan gedung untuk mencari taksi, sementara Mr. Gulam
menuju tempat parkir untuk mengambil mobilnya yang kebetulan hari
itu dibawa sendiri olehnya tanpa supir. Dengan gelisah Tri menunggu
taksi di depan kantor, akan tetapi tidak terlihat satupun taksi dan
kendaraan umum lainnya melintas di depan gedung tersebut, sementara
aksi mahasiswa yang sedang berdemonstrasi di sepanjang jalan
tersebut semakin panas saja. Sementara dalam kegelisahan itu,
tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya dan ketika kaca jendela
mobil tersebut terbuka, kepala Mr. Gulam menongol keluar, "Ayolah,
jangan takut, mari kuantar anda pulang, keadaan semakin berbahaya
kalau anda terjebak di sini!" Melihat situasi sekelilingnya yang
semakin gawat itu, dengan terpaksa Tri menerima ajakan Mr. Gulam
tersebut. Dengan cepat Tri masuk ke dalam mobil Mr. Gulam dan mobil
tersebut segera meninggalkan tepat tersebut.
Di dalam mobil, Mr. Gulam menanyakan Tri arah tempat rumah tinggal
Tri. Segera Tri menjelaskan bahwa dia tinggal di daerah Kebayoran
Baru. Karena arah ke Kebayoran Baru melalui Jl. Sudirman tertutup
oleh para mahasiswa yang sedang berdemonstrasi tersebut, maka Mr.
Gulam mengambil arah Jl. Gatot Subroto untuk memutar melalui Jl.
Buncit Raya masuk ke daerah Kebayoran Baru. Akan tetapi sepanjang
jalan Gatot Subroto ternyata macet total, akhirnya Mr. Gulam
mengusulkan untuk mampir dulu ke apartement temannya yang terletak
di dekat situ sambil menunggu lalu lintas lancar kembali. Karena
tidak ada pilihan lain, maka akhirnya Tri menyetujui usul tersebut.
Mendapat persetujuan Tri, segera Mr. Gulam mengambil jalur kiri dari
jalan dan kemudian membelok pada sebuah jalan kecil yang menuju ke
sebuah bangunan apartement yang tidak jauh letaknya.
Setelah memarkir mobilnya, keduanya masuk ke lobby dan menuju lift.
Apartment teman Mr. Gulam terletak di lantai 9, setelah lift
berhenti mereka menuju ke apartement bernomor 916. Mr. Gulam segera
memencet bel yang terletak depan pintu dan tak lama kemudian
pintunya terbuka dan terlihat seorang pria India yang berumur kurang
lebih 35 tahun, berwajah tampan dengan tubuh yang tinggi tegap dan
berkulit gelap dengan kedua tangannya dan dadanya yang bidang
ditumbuhi rambut hitam lebat. Mr. Gulam segera memperkenalkan Tri
kepada temannya yang ternyata bernama Raj Kumar yang adalah seorang
tenaga ahli pada sebuah pabrik tekstil yang terletak di Jakarta
Selatan.
Kedua lelaki tersebut terlibat sebentar dalam percakapan dalam
bahasa mereka, yang tidak dimengerti oleh Tri, yang hanya bisa
memandang mereka dengan pandangan mata curiga. Setelah mengambil
tempat duduk pada sebuah sofa panjang yang terletak di ruangan tamu,
Tri memperhatikan keadaan apartement tersebut. Apartement itu hanya
terdiri dari satu kamar, beserta ruang duduk yang menyambung menjadi
satu dengan ruang makan dan dapur yang terletak paling ujung dari
ruangan tersebut. Terlihat apartement tersebut adalah apartement
yang dihuni oleh bujangan, dimana pada tempat cuci piring terlihat
piring dan gelas kotor masih menggeletak belum dicuci. Setelah
berbincang-bincang sejenak, Raj meminta diri sebentar untuk keluar,
karena akan membeli minuman dingin dan makanan kecil di toko makanan
yang terletak di ground floor.
Sepergian Raj, suasana di antara Tri dan Mr. Gulam menjadi agak
kikuk, kepala Tri hanya tertunduk ke bawah tanpa berani memandang ke
arah Mr. Gulam. Terlihat bibir bawah Tri agak bergetar dan kedua
jari-jari tangannya saling menggenggam dengan erat. Tri agak grogi,
sambil membayangkan apa yang telah terjadi beberapa bulan lalu,
ketika lelaki di hadapannya itu memperkosanya dengan brutal.
Terlintas dengan jelas bagaimana lelaki tersebut menekan badannya ke
atas meja dan mengangkangi kedua pahanya, serta menyetubuhinya
dengan ganas. Seakan-akan masih terasa ngilu kemaluannya
dikocok-kocok oleh senjata lelaki tersebut, akan tetapi perasaan
nikmat tiba-tiba melandanya ketika membayangkan kedua puting susunya
tergesek-gesek pada dada bidang berambut tebal dari Mr. Gulam,
ketika dia terduduk dan terlonjak-lonjak di atas pangkuan Mr. Gulam
karena senjata Mr. Gulam menyodok-nyodok lubang kemaluannya.
Membayangkan hal tersebut, tiba-tiba kemaluannya dirasakan basah.
Melihat muka Tri yang berubah-ubah dan matanya yang semakin sayu
saja, Mr. Gulam yang telah berpengalaman itu, tidak mau melewatkan
momentum yang menguntungkannya. Segera dia berpindah duduk di
samping Tri pada sofa panjang dan sebelum Tri menyadari apa yang
terjadi, kedua tangan Mr. Gulam dengan cepat telah merangkul bahu
Tri dan segera menarik badan Tri menempel ke badannya. Dagu Tri
diangkatnya menengadah ke arahnya sehingga kedua mata mereka saling
menatap. Mata Mr. Gulam berkilat-kilat menatap muka Tri yang ayu itu
dan akhirnya terpaku pada kedua bibir Tri yang merah merekah yang
sedang bergetar dengan halus.
Perlahan-lahan Mr. Gulam menundukkan kepalanya dan bibirnya yang
kasar yang ditumbuhi kumis lebat menyentuh kedua bibir Tri yang
mungil dan perlahan-lahan mulai melumat bibir-bibir yang indah yang
telah pasrah itu. Menjelang beberapa saat, ketika Mr. Gulam mulai
merasakan badan Tri tidak tegang lagi dan bibirnya mulai melemas,
maka lidahnya segera ditekan masuk menerobos ke dalam mulut Tri dan
menyapu langit-langit dan mempermainkan lidah Tri. Hal ini membuat
badan Tri bergetar dan kepalanya serasa melayang-layang dan tanpa
terasa terdengar keluhan halus keluar dari mulut mungil tersebut,
"Ooohh... eeehhmm...!" Merasakan Tri mulai merespon aksinya itu, Mr.
Gulam segera meningkatkan serangannya. Secara perlahan-lahan
tangannya segera membuka kancing-kancing blouse yang dikenakan Tri
dan segera mencopotnya dari badan Tri.
Segera terlihat BH Tri yang putih menutupi kedua buah dadanya yang
kecil mungil itu. BH tersebut tidak dapat bertahan lama melindungi
kedua gundukan daging kenyal tersebut, karena segera tercampakkan
oleh tangan-tangan lelaki tersebut. Dengan cepat kedua bukit kenyal
mungil itu menjadi sasaran mulut dari Mr. Gulam, yang segera mencium
dan mengisap-hisap puting yang telah tegang itu. Badan Tri hanya
bisa menggeliat-geliat dan dari mulutnya keluar suara seperti orang
kepedasan. Melihat keadaan Tri yang telah pasrah itu, Mr. Gulam
tidak mau menyia-nyiakan momentum yang ada, dengan tangkas kedua
tangannya segera melucuti rok dan sekalian CD Tri, sehingga sekarang
Tri terbaring telentang di sofa dengan tubuh yang mulus yang tidak
ditutupi selembar benang pun.
Lelaki India tersebut menindihkan tubuhnya pada Tri yang sudah
terbaring pasrah di sofa, sambil dia memperbaiki posisi tubuhnya
agar senyaman mungkin, lelaki tersebut dengan kedua tangannya
membuka kaki Tri dan segera menempatkan badannya tepat berada di
tengah, di antara kedua paha Tri yang telah terkangkang itu. Dengan
tangan kirinya memegang batang penisnya yang besar itu, lelaki
tersebut mulai mengarahkan penisnya, ke arah sasarannya yang telah
pasrah terbuka di bawahnya. Begitu kepala penis bertemu dengan
belahan bibir vagina luarnya, badan Tri terlihat bergetar dan kedua
tangannya mencengkeram dengan kuat pada sofa, pandangan matanya
menjadi sayu, wajahnya keringatan. Dengan perlahan-lahan Mr. Gulam
mulai mendorong penisnya memasuki relung tubuh Tri yang paling
rahasia itu. Seirama dengan masuknya penis Mr. Gulam yang besar itu,
mata Tri terlihat membalik ke atas dan rintihan nikmatnya terdengar
jelas keluar dari mulut mungilnya, "Aahh... eeehhmm..." pada mulanya
agak susah juga masuknya, sedikit-sedikit, terlihat Mr. Gulam
menggerakkan pantatnya maju mundur dengan perlahan-lahan, sambil
mulutnya mencium bibir ranum Tri.
Tak berselang kemudian tiba-tiba dengan suatu sentakan keras,
lelaki tersebut menekan pinggulnya dan terus mendorong penisnya,
sehingga terbenam seluruhnya ke dalam liang vagina Tri. Pas ketika
mentok tidak bisa masuk lagi Tri menggigit bibirnya, dan... "Aahddduhh..."
terdengar jeritan halus kesakitan ataupun mungkin kenikmatan keluar
dari mulutnya. Selanjutnya pelan-pelan Mr. Gulam mulai menggerakkan
keluar masuk penisnya, sofa itu berderit-derit menahan gerakan dan
tekanan tubuh Mr. Gulam yang besar itu pada tubuh mungil Tri,
kembali rintihan, desahan, dan lenguhan khas kenikmatan terdengar
memenuhi ruangan, semakin lama semakin keras, tubuh Tri menggeliat
dalam pelukan ketat Mr. Gulam yang besar, kadang-kadang terlihat Tri
mengangkat kepalanya, giginya menggigit bibir bawahnya menahan
kenikmatan yang melanda seluruh pori-pori badannya, kadang-kadang
dia menjerit kecil kalau lelaki India tersebut menekan terlampau
dalam.
Beberapa saat kemudian, rintihan Tri semakin keras, dan cairan
tubuhnya terasa semakin banyak, tubuhnya melenting kaku dan dari
mulutnya keluar suara seperti orang sekarat, Tri tengah dibuai
perasaannya yang sedang menuju puncak kenikmatan. Wajahnya
benar-benar cantik pada saat itu, setelah didera depresi sekian
lama, sepertinya ini semacam pelepasan buat dia. Bagian dalam
dinding vaginanya menjepit keras dan berdenyut-denyut, badannya
terhentak-hentak, Tri mengalami orgasme yang dahsyat, yang membuat
perasaannya melayang-layang dan setelah masa kenikmatan itu mereda,
badannya terhempas lemas di atas sofa. Dadanya terlihat naik turun
dengan nafas memburu seakan-akan orang yang baru menyelesaikan lari
cepat 100 m dan kedua matanya terkatup rapat. Bintik-bintik keringat
menghias pelipisnya menandakan satu ronde dari suatu pergulatan seru
yang banyak memakan tenaga, yang baru saja diselesaikannya.
Akan tetapi bagi Mr. Gulam pertarungan ini belum selesai, bahkan
baginya ini baru babak permulaan ataupun babak pemanasan saja.
Melihat Tri yang ayu itu sudah terkapar lemas itu dengan kedua
matanya yang tertutup dan badannya yang langsing itu tergolek pasrah,
menimbulkan suatu perasaan sensasi pada Mr. Gulam. Lelaki India
tersebut sangat bersyukur bisa menguasai dan menikmati tubuh gadis
ayu tersebut yang langsing dan mulus itu. Dengan penisnya yang besar
masih terbenam dalam kemaluan gadis tersebut, Mr. Gulam memeluk
badan Tri dan mengangkatnya dari sofa.
Sekarang badan yang langsing dari gadis tersebut digendong oleh
lelaki tersebut, kedua bukit kecil dengan putingnya yang menonjol
keras dari buah dada Tri tertekan rapat dan tergesek-gesek pada
rambut-rambut lebat pada dada Mr. Gulam. Kepala Tri terkulai lemas
bersandar pada pundak lelaki tersebut, kedua tangan Mr. Gulam
memegang kedua bongkahan pantat Tri dan kedua kaki Tri melingkar
pada pinggang Mr. Gulam. Dari belakang kelihatan belahan pantat Tri
merekah dan penis hitam besar lelaki India tersebut masih bersarang
di dalam liang kemaluan gadis tersebut yang menjepit rapat batang
penis tersebut. Mr. Gulam membawa badan gadis tersebut merapat ke
tembok ruangan tersebut, menekannya di tembok dan mulai menggerakan
pantatnya sendiri maju mundur menekan pantat Tri ke tembok,
akibatnya penisku yang hitam besar itu menerobos keluar masuk
kemaluan Tri yang telah basah oleh cairan kenikmatan yang keluar
pada waktu gadis itu mengalami orgasme. Gerakan pantat lelaki itu
semakin lama semakin cepat dan tekanannya semakin dalam saja. Badan
Tri menggeliat-geliat, "Oooohh... oooohh... eeehhmm...!" suara lirih
terdengar keluar dari mulut Tri setiap kali lelaki tersebut menekan
pantatnya dengan kuat.
Sementara sedang asyik-asyiknya Mr. Gulam mengerjai Tri yang telah
lemas itu, tiba-tiba pintu apartement itu terbuka dari luar dan Raj
Kumar yang katanya hendak membeli minuman masuk, kedua tangannya
membawa minuman Fanta merah 2 botol besar. Dia melihat sejenak pada
aksi Mr. Gulam yang sedang mengerjai Tri itu dengan senyum-senyum.
Sementara itu Tri yang terkejut dengan kedatangan Raj tersebut,
merasa sangat malu dan mencoba melepaskan diri dari Mr. Gulam, akan
tetapi Mr. Gulam dengan ketat tetap memeluk Tri dan melanjutkan
kegiatannya itu. Kemudian Mr. Gulam dengan tetap menancapkan
penisnya ke dalam kemaluan Tri mengambil posisi duduk di sofa dengan
kedua kakinya terjulur mengangkang di lantai dan Tri berada dalam
posisi duduk di atas pinggul Mr. Gulam dengan kedua kakinya
terkangkang di samping kiri kanan pinggul Mr. Gulam. Penis Mr. Gulam
tetap berada dalam kemaluan Tri dan sekarang kedua tangan Mr. Gulam
memegang pinggul Tri dan mengangkat ke atas dan menekan kembali ke
bawah berulang-ulang sehingga kemaluan Tri sekarang yang terlihat
aktif menelan dan mengeluarkan penis hitam besar itu.
Sementara itu Raj Kumar yang telah meletakkan minuman yang dibawanya
ke atas meja, dengan cepat segera melepaskan baju yang dikenakannya
beserta sekalian CD-nya, sehingga telanjang bulat. Terlihat
senjatanya yang tidak kalah besarnya dengan Mr. Gulam telah tegang
siap tempur. Badannya tegap berbulu dengan kedua pahanya yang gempal
juga ditutupi rambut tebal. Kemudian Raj mendekati kedua orang yang
sedang bergelut di sofa itu dan berjongkok di antara kedua kaki Mr.
Gulam yang terbuka, sehingga posisinya tepat berada di belakang
pantat Tri.
Melihat itu Tri segera menyadari akan bahaya yang bakal menimpanya
dan mencoba memberontak, akan tetapi dengan cepat kedua tangan Mr.
Gulam segera membekap badan Tri ke arah badannya, sehingga Tri
tertelungkup di atas badan Mr. Gulam yang bersandar setengah tidur
pada sofa. Rupanya dalam hal mengerjai wanita secara bersama-sama,
ini bukan merupakan yang pertama kali mereka lakukan, pada 2 minggu
yang lalu, mereka juga menggarap Kim Lan, cewek manis yang bertubuh
putih langsing yang bekerja pada perusahaan tempat Raj Kumar bekerja.
Masih terbayang-bayang di benak Raj bagaimana tubuh putih mulus Kim
Lan menggeliat-geliat dan jeritan-jeritan tertahan yang keluar dari
mulutnya, ketika penisnya mulai menerobos belahan pantat Kim Lan
dalam posisi yang sama seperti saat ini. Raj bertekad untuk
merasakan lagi pengalaman yang mengasyikan itu.
Raj yang telah berada tepat di posisi belakang pantat Tri,
menundukan kepalanya dan menjilat-jilat pantat Tri. Lidahnya
bermain-main pada lubang anus Tri, sehingga menimbulkan perasaan
yang sangat geli pada Tri yang tidak bisa dilukiskan, akibatnya
badan Tri menggeliat-geliat dengan kuat dan... "Aagghh...
jaanggaan... jaanggaan... lakukan itu!" Tri berusaha melepaskan
diri, akan tetapi bekapan tangan Mr. Gulam pada tubuhnya terlalu
kuat, sehingga Tri hanya bisa menggerak-gerakan pantatnya ke kiri
kanan, tetapi juga tidak bisa bergeser terlalu jauh, karena penis
besar Mr. Gulam masih tertancap di dalam kemaluan Tri.
Raj melanjutkan kegiatannya itu dan sekarang dia membasahi pantat
dan bagian anus Tri dengan ludahnya, sementara dengan ibu jarinya
yang telah basah dengan ludah, mulai ditekan masuk ke dalam lubang
anus Tri dan diputar-putar di sana. Tri terus menggeliat-geliat dan
mendesah, "Jaannnggaann jaannggaan... aaddduuhh... aadduuhh...
saakiitt... saakiitt...!" akan tetapi Raj tidak menanggapinya dan
terus melanjutkan kegiatannya. Selang sesaat setelah merasa cukup
membasahinya, Raj sambil memegang dengan tangan kiri penisnya yang
telah tegang itu, menempatkan kepala penisnya tepat di tengah liang
masuk anus Tri yang telah basah dan licin itu.
Kemudian Raj membuka belahan pantat Tri lebar-lebar. "aaduhh,
janggaann! Sakkiiit! aammpuuunnn, aammppuunn! Aagkkh" Raj mulai
mendorong masuk, terus masuk. Sementara Tri menjerit-jerit dan
menggelepar-gelepar kesakitan. Tri meronta-ronta tak berdaya, hanya
semakin menambah gairah Raj untuk terus mendorong masuk. Tri terus
menjerit, ketika perlahan seluruh penis hitam besar Raj masuk ke
anusnya. "aauuugghh...! Saakkiiit! jerit Tri ketika Raj mulai
bergerak pelan-pelan keluar masuk anus Tri. Akhirnya dengan tubuh
berkeringat menahan sakit, Tri terkulai lemas tertelungkup di atas
badan Mr. Gulam kelelahan dan tidak berdaya.
Secara berirama Raj menekan dan menarik penisnya dari lubang anus
Tri, dimana setiap kali Raj menekan ke bawah, bukan saja penisnya
yang terbenam ke dalam lubang anus Tri, tetapi penis Mr. Gulam juga
tertekan masuk lebih dalam ke dalam lubang kemaluan Tri. Benar-benar
sangat menyesakkan melihat kedua penis besar hitam itu berada di
kedua lubang bawah Tri. Terlihat kedua kaki Tri yang terkangkang itu
bergetar-getar lemah setiap kali Raj menekan masuk penisnya ke dalam
lubang anusnya. Dalam kesakitan dan ketidakberdayaan itu, Tri telah
pasrah menerima perlakuan kedua lelaki tersebut.
Tak lama kemudian mereka bertukar posisi, sekarang Raj duduk
melonjor di sofa dengan penisnya tetap berada dalam lubang anus Tri,
sehingga badan Tri tertidur telentang di atas badan Raj dengan kedua
kakinya terpentang lebar ditarik melebar oleh kedua kaki Raj dari
bawah dan Mr. Gulam mengambil posisi di atas Tri. Mr. Gulam mulai
memompa penisnya keluar masuk kemaluan Tri, yang sekarang semakin
basah saja, cairan pelumas yang keluar dari dalam kemaluan Tri
mengalir ke bawah, sehingga membasahi dan melicinkan lubang anusnya,
hal ini membuat penis Raj yang sedang bekerja pada lubang anusnya
menjadi licin dan lancar, sehingga dengan perlahan-lahan perasaan
sakit yang dirasakan Tri berangsur-angsur hilang diganti dengan
perasaan nikmat yang merambat ke seluruh badannya.
Tri mulai dapat menikmati kedua penis besar laki-laki tersebut yang
sedang menggarap kemaluan dan lubang anusnya. Perlahan-lahan
perasaan nikmat yang dirasakannya melingkupi segenap kesadarannya,
menjalar dengan deras tak terbendung seperti air terjun yang tumpah
deras ke dalam danau penampungan, menimbulkan getaran hebat pada
seluruh bagian tubuhnya, tak terkendali dan meletup menjadi suatu
orgasme yang spektakuler melandanya. Setelah itu badannya terkulai
lemas, Tri telentang pasrah seakan-akan pingsan dengan kedua matanya
terkatup.
Melihat keadaan Tri itu semakin membangkitkan nafsu Mr. Gulam,
lelaki tersebut menjadi sangat kasar dan kedua tangan Mr. Gulam
memegang pinggul Tri dan lelaki tersebut menekan pinggulnya
keras-keras ke depan dan "Aduuuh... aauuggghh...!" keluh Tri
merasakan seakan-akan vaginanya terbelah dua diterobos penis Mr.
Gulam yang besar itu. Kedua mata Tri terbelalak, kakinya
menggelepar-gelepar dengan kuatnya diikuti badannya yang meliuk-liuk
menahan gempuran penis Mr. Gulam pada vaginanya.
Dengan buasnya Mr. Gulam menggerakkan pinggulnya maju mundur dengan
cepat dan keras, sehingga penisnya keluar masuk pada vagina Tri yang
sempit itu. Mr. Gulam merasa penisnya seperti dijepit dan
dipijit-pijit sedangkan Tri merasakan penis lelaki tersebut
seakan-akan sampai pada dadanya, mengaduk-aduk di dalamnya, di
samping itu suatu perasaan yang sangat aneh mulai terasa menjalar
dari bagian bawah tubuhnya bersumber dari vaginanya, terus ke
seluruh badannya terasa sampai pada ujung-ujung jari-jarinya.
Tri tidak bisa menggambarkan perasaan yang sedang menyelimutinya,
akan tetapi badannya kembali serasa mulai melayang-layang dan suatu
perasaan nikmat yang tidak dapat dilukiskan terasa menyelimuti
seluruh badannya. Hal yang dapat dilakukannya pada saat itu hanya
mengerang-erang, "aahh... ssshh ooouusshh!" sampai suatu saat
perasaan nikmatnya itu tidak dapat dikendalikan lagi serasa menjalar
dan menguasai seluruh tubuhnya dan tiba-tiba meledak membajiri
keluar berupa suatu orgasme yang dahsyat yang mengakibatkan seluruh
tubuhnya bergetar tak terkendali disertai tangannya yang
menggapai-gapai seakan-akan orang yang mau tenggelam mencari
pegangan. Kedua kakinya berkelejotan. Dari mulut Tri keluar suatu
erangan, "aaduhh... laagii... laagiii... oohh... ooohh..." Hal ini
berlangsung kurang lebih 20 detik terus menerus. Sementara itu kedua
lelaki itu terus melakukan aktivitasnya, dengan memompa penis-penis
mereka keluar masuk vagina dan anus. Mr. Gulam menjadi sangat
terangsang melihat ekspresi muka Tri dan tiba-tiba Mr. Gulam
merasakan bagian dalam vagina Tri mulai bergerak-gerak melakukan
pijitan-pijitan kuat pada keseluruhan batang penisnya. Gerakan kaki
Tri disertai goyangan pinggulnya mendatangkan suatu kenikmatan pada
penis kedua lelaki tersebut, terasa seperti diurut-urut dan
diputar-putar.
Tiba-tiba secara bersamaan Mr. Gulam dan Raj merasakan sesuatu
gelombang yang melanda dari di dalam tubuh mereka, mencari jalan
keluar melalui penis masing-masing, terasa suatu ledakan yang
tiba-tiba mendorong keluar, sehingga secara besamaan penis mereka
terasa membengkak seakan-akan mau pecah dan... "Aaduuuh!" secara
bersamaan tangan-tangan mereka memeluk erat-erat badan Tri dan
pinggul mereka dengan kekuatan penuh yang satu menekan ke bawah
dalam-dalam pada pinggul Tri yang mengakibatkan keseluruhan penisnya
terbenam ke dalam vagina Tri, disertai suatu semburan sperma yang
keluar dan menyemprot secara deras ke dalam vagina Tri, sedang Raj
mengangkat ke atas pinggulnya mendorong masuk penis terbenam habis
ke dalam lubang anus Tri, sambil menyemburkan cairan kental panas ke
dalam lubang anus Tri. Menerima semburan cairan kental panas pada
lubang kemaluan dan lubang anusnya Tri merasakan suatu sensasi yang
tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, hanya reaksi badannya yang
bergetar-getar dan ekspresi mukanya yang seakan-akan merasakan suatu
kengiluan yang tak terbayangkan, diikuti badannya yang tergolek
lemas, tanpa dapat bergerak. Tri terlena oleh kedahsyatan orgasme
yang dialaminya dan diterima dari kedua lelaki tersebut.
Setelah beristirahat sejenak, Raj dengan cepat segera pulih kembali
dan penisnya telah tegak dengan perkasa siap tempur. Tri yang masih
telentang lemas di atas sofa tidak diberi kesempatan oleh Raj,
segera ditindihnya. Dengan cepat penisnya dibenamkan ke dalam
kemaluan Tri dan Raj Kumar terus mengerjai Tri yang kelihatan sudah
sangat lemas dan hanya bisa menuruti saja apa yang diinginkan oleh
Raj. Berkali-kali kelihatan Tri mengalami orgasme yang dahsyat, itu
kelihatan tiap kali dari getaran tubuhnya yang diikuti oleh kedua
kakinya yang berkelejotan. Kedua matanya terlihat sayu, seakan-akan
orang yang sudah sangat mengantuk.
Mr. Gulam dan Raj Kumar terus mengerjai gadis ayu tersebut secara
bergantian terus-menerus sampai menjelang sore hari. Tri mengalami
orgasme berulang-ulang sepanjang waktu itu. Menjelang jam 5 sore
mereka menghentikan kegiatannya, meninggalkan Tri yang telentang
lemas di atas sofa dengan kaki yang terkangkang dan dari vaginanya
masih mengalir sisa-sisa sperma dari kedua lelaki tersebut. Sejam
kemudian setelah tenaganya pulih, Tri dengan tertatih-tatih bangkit
dari sofa dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Setelah itu bersama Mr. Gulam yang setengah memapahnya mereka
pamitan dan Mr. Gulam mengantar Tri ke rumahnya. Sepanjang jalan
pulang, Tri hanya bisa berdiam diri merenung akan apa yang baru saja
dialaminya. Ada perasaan bingung yang melanda dirinya yaitu antara
perasaan puas atas kenikmatan yang dirasakannya dan perasaan benci
pada kedua lelaki tersebut atas perlakuan mereka terhadap dirinya.
Kejadian ini merupakan pengalaman buruk yang terakhir yang dialami
Tri, karena tak lama kemudian Mr. Gulam dan para tenaga asing di
group perusahaan tempat Tri bekerja memutuskan untuk tidak lagi
memperpanjang kontrak kerja mereka berhubung dengan krisis ekonomi
yang terjadi yang berdampak juga pada usaha group perusahaan
tersebut. Setahun kemudian Tri bertemu dengan seorang pria yang
berasal dari pulau seberang yang sangat mempesonanya dan juga sangat
mencintainya dan setelah berpacaran beberapa bulan, mereka
melanjutkan dengan pernikahan. Tri sekarang masih tetap bekerja pada
perusahaan itu dan dalam kehidupan keluarganya hidupnya sangat
berbahagia dengan suaminya yang penuh pengertian, sehingga secara
perlahan-lahan ia dapat melupakan segala kejadian buruk yang pernah
dialaminya itu, serta dapat menikmati tumpahan cinta kasih suaminya
padanya. |