|
Herlinku yang kusayang |
Pertama-tama aku ingin mengenalkan diriku pada semua netters, namaku
Vito(samaran), WNI keturunan Cina-Jawa-Manado, usia 29 tahun,
tinggal di Kota S di Jawa Tengah. Aku sudah menikah dan mempunyai
seorang anak berusia 1 tahun. Aku bekerja di pengelolaan gedung mall
yang cukup besar di kota ini. Di tempat ini, aku tidak hanya dikenal
sebagai salah satu staf perusahaan, tapi juga orang mengenal aku
sebagai “dokter”, walaupun aku tidak pernah merasakan bangku kuliah
di kedokteran, tapi karena kemampuanku untuk mengobati berbagai
penyakit baik penyakit medis maupun nonmedis, mereka sering datang
ke kantorku untuk berkonsultasi.
Suatu hari telepon di kantorku berbunyi. Saat kuucapkan “halo”,
terdengar suara merdu dari seberang sana. “Siang, bisa bicara dengan
Pak Vito?” “Ya, saya sendiri, dengan siapa saya bicara?” “Oh, ini
Pak Vito? Pak, ini Herlin dari toko *** ” Aku hanya mengiyakan, aku
tahu itu adalah sebuah toko handphone di mall ini. Aku mengira dia
pasti akan membicarakan masalah operasional, atau komplain tentang
pengelolaan gedung ini. Ternyata dugaanku meleset. “Ada yang bisa
saya bantu Bu Herlin?” Aku biasa memanggil semua orang dengan
sebutan Bu, baik masih muda ataupun sudah berumur, sekedar untuk
formalitas. “Saya dengar-dengar cerita tentang Bapak, saya ingin
bertemu dengan Bapak, kapan Bapak ada waktu?” “Saya selalu ada waktu
Bu, silakan datang kapan saja Anda suka.”
10 menit kemudian, gadis muda berusia 22 tahun ini telah ada
didepanku dan menceritakan segala keluhannya. Dia merasa tidak PD
dan minder dengan penampilannya, padahal menurutku dia sudah dalam
segala hal, dari wajahnya yang cantik, ukuran tubuhnya sangat
proporsional, kulitnya yang kuning langsat tanpa noda, hanya saja
dadanya kecil, tapi paling tidak nilai totalnya 8 (menurutku). “Apa
yang membuat Ibu berpikir demikian? Saya rasa Ibu sudah memiliki
segalanya. Saya yang gemuk gini aja PD kok” Dia tersipu sambil
berbisik, “Maaf Pak, tolong jangan panggil saya Ibu, saya masih
single, panggil saya Herlin.” Aku mengangguk.”Dan jangan panggil aku
Pak, panggil aja Vito.” Dia mengangguk. “Dan…, kamu bisa menyimpan
rahasia ngga Vito?” Aku memastikan hal itu kepadanya. Kemudian dia
menceritakan, bahwa dia minder dengan dadanya yang berukuran hanya
34A.
Aku cukup kaget, karena sebelumnya aku tidak pernah menjumpai
“pasien” yang mempunyai keluhan seperti ini. “Herlin, jujur saja aku
baru pertama kali menghadapi keluhan seperti ini. Kamu pasti tahu
kan, kalau selama ini aku hanya menangani pasien pasien dengan
keluhan yang `lumrah’, Aku ngga tau bisa berhasil atau tidak.
Lagipula aku punya istri, gimana aku harus menjelaskan ke istriku?”
Herlin mengangguk dan tersenyum, “Aku tidak akan menceritakannya
kepada siapapun, aku juga malu kalau sampai orang tahu. Dan aku
harap kamu mau mencobanya dulu, kita ngga tau hasilnya kalau belum
mencoba dulu kan?” Aku berpikir keras sebelum aku menyanggupinya.
Herlin tersenyum dan memberikan kartunamanya kepadaku. “Aku tunggu
kamu di rumahku malam ini jam delapan.”
Jam delapan lewat lima menit aku sudah berada di rumah Herlin.
Rumahnya tidak begitu besar tapi terasa nyaman dan sejuk.
“Kamu tinggal sendiri di sini?” tanyaku. “Ngga, sama temen-temen,
tapi pada punya acara sendiri-sendiri ama pacarnya. Makanya aku
nyuruh kamu datangnya hari ini, biar dirumah ngga ada orang. Yuk
cepetan, nanti keburu temen-temen pulang” Aku mengangguk dan
mengikuti Herlin yang melangkah ke kamarnya.
Kamarnya didominasi warna pink muda, dingin hembusan angin dari AC
terasa di kulitku, membuatku merinding. Dengan malu-malu Herlin
membuka kaos dan branya, dan aku menyuruhnya tidur terlentang.
Sejenak aku agak grogi karena baru pertama kali melihat tubuh wanita
selain istiku setengah telanjang, tapi bagaimanapun aku harus
melaksanakan kewajibanku. Aku mulai terapi dengan memijit
titik-titik darah yang berada di pundak dan dada atasnya. Setelah
kurasa darahnya telah mengalir lancar, aku mulai memijit payudaranya
dengan pijitan yang lembut.
Payudaranya kecil tetapi terasa kencang. Herlin memejamkan matanya
dan sesekali mengeluarkan lenguhan dan erangan saat tanganku
menyentuh putingnya yang berwarna coklat muda itu. Tak kusadari,
adikku mulai berdiri. Bagaimanapun juga, aku sebagai manusia normal
tetap bisa terangsang, apalagi berada dalam satu ruangan dengan
wanita muda yang cantik setengah telanjang dan aku sedang memijit
payudaranya. “Vito…, jangan disitu terus dong mijitnya, geli…” Aku
terkejut, tanpa kusadari pijitanku lebih sering berada di daerah
sekitar putingnya. “Ha?... ehm… iya… maaf.” Herlin mungkin melihat
wajahku yang memerah, dia tertawa dan berkata, “hi…hi…hi…, kenapa?
Kamu terangsang ya…? Ngga pa pa deh, aku juga suka kok… Cuma agak
geli aja…” kata-katanya membuatku semakin gugup. “eh… kayaknya hari
ini cukup dulu deh Lin, mungkin besok bisa diterusin…” jawabku.
Herlin semakin ngakak, “Vito… kamu kok lugu banget sih? Nggak pa pa…
terusin aja… Kenapa? takut ketahuan istri kamu ya?”
Herlin merengkuhku dalam pelukannya dan mencium bibirku dengan
lembut. Aku terhenyak, tapi dia kembali menarikku dan memagut
bibirku dengan penuh nafsu. Dalam kebingunganku dia berbisik,
“Vito…, sudah lama aku menantikan hal ini…, begitu lama aku
memendamnya…, aku sayang kamu Vito… Bercintalah denganku Vito….” Aku
cuma bisa duduk diam kayak orang bego. “Aku pikir kamu salah orang
Lin… Kalau kamu pikir aku bisa membuat kamu bahagia, kamu
bener-bener salah… Aku gemuk, eemm… barangku kecil… terus… ekonomiku
pas-pasan, dan yang terutama, aku sudah punya istri dan anak… Kamu
becanda… Kamu pasti becanda kan?” tanyaku tak percaya. Herlin
tersenyum manis dan berkata, “Vit, biar kujelaskan dulu…, dari dulu
aku memang suka dengan pria yang bertubuh gemuk. Aku ngga peduli
barangmu kecil atau apa… kamu lihat juga dong, susuku kan kecil
juga. Aku rela jadi istrimu yang kedua, dan lagian aku kan kerja
juga, jadi kamu ngga usah bingung masalah perekonomian…” Jelasnya
panjang lebar. Herlin menatap mataku dalam-dalam, seakan ingin
menunjukkan ketulusan hatinya. Kupeluk dia erat-erat, Herlin
menciumi seluruh wajahku, dan kubalas ciumannya dengan tak kalah
bernafsu.
Herlin membuka satu persatu kancing kemejaku lalu tangannya membelai
dada dan perutku dengan lembut. Kurasakan bulu –bulu halus di
sekujur tubuhku berdiri. Sentuhan tangannya begitu lembut. Herlin
tidak berhenti, dia memelorotkan celana panjang dan celana dalamku,
lalu dengan sigap dia memegang adikku yang sudah berdiri tegak.
Barangku memang tidak panjang, bahkan bisa dikatakan ukuran mini.
Herlin mulai mengelus-elus adikku dan mengocoknya dengan lembut.
Jari-jarinya yang lentik terasa dingin saat menyentuh batang
kemaluanku. Aku tak mau kalah, kulepaskan celana pendek yang dia
kenakan, dan terlihat dia memakai CD semi transparant sehingga
terbayang rerimbunan bulu-bulu yang tidak begitu lebat. Kuelus bukit
kemaluannya dari luar CD yang ia kenakan, Herlin melenguh,
“ooouuuuuhhh…. Vito…., aku milikmu…” Aku hisap puting susunya yang
telah mengeras, lalu aku mainkan dengan lidahku, kupuntir-puntir
dengan bibirku sementara tangan kiriku meremas-remas payudaranya
yang satu lagi, dan tangan kananku menyelusup masuk di balik CDnya
dan membelai bukit kemaluannya. Perlahan kubuka belahan vaginanya,
terasa sekali vaginanya telah basah oleh cairan yang keluar terus
menerus dari vaginanya.
Kumainkan kelentitnya dengan jari tengahku, Herlin mengerang dengan
sangat keras, merasakan kenikmatan yang dia terima saat ini.
“aaaauuuhhhh…aaaahhh… ooohhh teruuusss Viit, teruuussss…. Aaaahhh…”
Aku terus memainkan kelentitnya sambil terus menyusu padanya,
sementara tangannya masih terus mengocok-ngocok kemaluanku dengan
lembut, dan sesekali pegangannya agak mengencang, apabila dia
merasakan kenikmatan. Aku tak sabar lagi, jari tengahku aku masukkan
sedikit demi sedikit ke dalam lubang vaginanya, spontan dia
berteriak dan menarik tubuhnya, “jangan…”
Aku memandangnya dengan perasaan heran, kemudian dia berbisik di
telingaku, “I’m still virgin…, aku ngga mau perawanku hilang oleh
jari, aku ingin dengan ini,” katanya sambil mengelus kemaluanku.”
Lagi-lagi aku terkejut. Aku tidak menyangka masih ada gadis sekarang
yang bisa menjaga keperawanannya sampai usia yang cukup matang. Dan
lagi-lagi kebimbangan hadir dalam pikiranku, masa aku harus
memerawaninya? “Lin, kamu masih perawan?” tanyaku tak percaya. Dia
mengangguk. “Aku ingin memberikan mahkotaku ini kepada orang yang ku
cintai. Aku sudah bilang, aku rela menjadi istri kedua. Toh nanti
pada akhirnya aku akan memberikannya padamu juga, jadi untuk apa
kita tunggu lama-lama?” Herlin mengatakan hal ini dengan mantap.
Sejenak kemudian dia merebahkan dirinya diatas kasur sambil
mengangkangkan kakinya lebar-lebar. “Aku siap untuk menerimamu
sayang…” Setelah ia mengatakan ini, aku langsung berlutut di
depannya dan kupeluk dia erat-erat. Dia menciumi wajahku dan aku
memulai mneggesek-gesekkan batang kemaluanku di lipatan vaginanya.
Terasa sekali banyaknya cairan yang keluar dari liang kewanitaannya.
Perlahan-lahan kutusukkan penisku ke vaginanya, Herlin memejamkan
mata sambil menggigit bibir bawahnya. Sedikit-sedikit kudorong
penisku, dan kurasakan ada yang sedikit mengganjal, lalu kudorong
sekuat tenaga, bleeeessss….. “hhheeeegggghhh….aauuuuuuuhhh….” Herlin
menjerit tertahan, dan terasa ada cairan hangat yang membasahi
penisku, mengalir keluar ke pangkal pahaku. Lalu aku perlahan mulai
menggoyangkan pantatku maju mundur dan terasa jepitan vagina Herlin
di penisku. Herlin mulai merasakan nikmat, terlihat dari nafasnya
yang memburu dan desahan-desahannya yang membuat suasana bertambah
merangsang. “mmmhhh….mmmmhhhh…aaauuuhhh…oooohhh… Vitooo… teruuusss…
auuuhhh…
Aduh…. Pelan dikit Vito…. “
“Herlin… ooohhh… enak banget sayang… ooouuuh… goyangin pantatnya
Lin…”
“Ooouuuhhh… aku ngga tahan Vito… enak banget… terus… aaahhh… uuuhhh…
aku… aku… ngga tahan lagi… aaahhh…Vito….”
“Jangan ditahan Lin…, keluarin aja…. “
“Vitoooo… Auuuhhh… aku sayang kamu Vitooo…”
seeeeerrr…seeerrr…serrrr… terasa hangat di penisku saat Herlin
mengalami orgasme.
Aku tetap menggoyangkan pantatku maju mundur semakin cepat sehingga
mengeluarkan bunyi-bunyian akibat gesekan penisku dengan vagina
Herlin.
Creeep…creeeep…creeeek….clopp… creeeek…
Herlin terkulai lamas merasakan kenikmatan yang baru saja dia
dapatkan, aku pun merasa akan mencapai klimaks, “Lin, aku… mau…
keluaarr…”
“iyaaa…. Keluarin aja… di daleeem…” beberapa detik kemudian, aku
memuncratkan seluruh energiku di dalam vaginanya
creeeett…creeettt… cruuuttt… creeeeetttt…. Beberapa kali spermaku
menyemprot di dalam vagina Herlin.
Aku merebahkan diri di samping Herlin, dan selintas kulihat spermaku
bercampur darah perawan Herlin mengalir keluar dari vagina Herlin.
Kulihat wajah Herlin begitu damai dengan nafas yang masih agak
memburu. Beberapa saat kemudian Herlin membuka matanya dan tersenyum
kepadaku, sambil memelukku ia berkata, “Vito, jangan tinggalkan aku
yah… Aku sayang banget sama kamu….” Aku hanya mengangguk pelan,
walau di hatiku masih terdapat kebimbangan. Sampai aku menulis
cerita ini hubunganku dengan Herlin masih tetap berjalan tanpa ada
orang yang mengetahuinya.
Istriku sempat curiga denganku, tetapi setelah kujelaskan bahwa
Herlin adalah rekan kerja, dia percaya dan tidak pernah lagi
menanyakan hal ini lagi. Untuk para netters yang ingin berbagi
pengalaman dengan saya, silakan kirim imel. Begitu juga bagi para
netters yang ingin berkonsultasi mengenai pengobatan alternatif,
juga dapat menghubungi saya via imel atau telepon langsung. Terima
kasih.
|
|
|
|
|
|