|
Bi Asih |
Waktu itu itu umur saya masih relatif muda kira-kira 14 tahun masih
duduk di SMP kelas 3. Sejak SD saya sudah sering baca buku-buku
porno yang stensilan pinjam dari teman-teman saya. Saya juga sering
melihat foto-foto porno orang lagi begituan, kalau sudah baca buku
porno penis saya keras dan tegang sekali rasanya.
Saya adalah anak ketiga kakak saya dua-duanya adalah cewek, waktu
itu kakak saya dua-duanya sudah menikah karena umur mereka dengan
umur saya cukup jauh sekitar beda 10 tahun dari kakak saya yang
paling bungsu. Dan mereka sekarang tinggal bersama suaminya
masing-masing. Jadi saya di rumah tinggal bersama ibu dan ayah. Saya
termasuk anak yang bongsor karena untuk ukuran kelas 3 SMP badan
saya sudah lebih tinggi dari ayah saya, terus juga tulang-tulang
saya termasuk kekar dan besar.
Tapi yang paling saya tidak tahan adalah bentuk penis saya kalau
lagi tegang. Besar sekali. Pernah saya ukur bersama teman saya waktu
itu kita sama-sama telanjang di kamar mandi kolam renang dan waktu
di bandingkan dengan penis teman-teman saya, penis saya paling
panjang dan besar dan pernah saya ukur waktu itu kira-kira
panjangnya 17 Cm.
Yang paling saya tidak tahan adalah kalau sedang di kelas saya suka
memperhatikan Ibu Ina guru Bahasa Inggris. Kadang-kadang tanpa sadar
kalau saya lihat itu ibu guru lagi duduk dan pahanya yang putih agak
sedikit tersingkap penisku langsung mengeras dan menonjol ke depan
kalau sudah begitu saya berdoa moga-moga jangan di suruh maju ke
depan kelas.
Saya punya teman dekat sekelas namanya Joko, kita punya hobi dan
khayalan yang sama. Sering cerita tentang buku porno yang kita baca,
dan kita juga sama-sama tergila-gila pada ibu guru Ina yang berasal
dari tanah minang. Kalau ibu guru Ina sedsang menulis di papan, kita
berdua tertawa cekikikan memperhatikan betis Ibu Ina yang indah,
putih dan berisi dan pinggulnya juga cukup besar dan padat. Gilanya
kita berdua suka menghayal menjadi kekasih Ibu Ina dan melakukan
hubungan seks seperti yang di buku-buku porno dengan Ibu Ina. Wah,
kalau lagi menghayal berdua penis kita sampai keras sekali.
Teman saya si joko pernah menyarankan saya. "Eh Bram, lu kalau mau
tahu rasanya hubungan seks sama Ibu Ina gampang.., caranya lu di
kamar mandi bayangin Ibu Ina..., terus lu kocok penis lu pakai
sabun".
Karena ingin tahu waktu itu saya coba. Wah memang nikmat mula-mula,
penis saya makin lama makin besar dan keras seperti batu, tapi sudah
saya kocok-kocok sampai sejam lebih kok tidak keluar-keluar.
Akhirnya saya bosan sendiri dan capek sendiri lalu esok harinya saya
cerita pada joko, dia bilang, "Wah tidak normal loe...", sejak itu
beberapa kali saya coba pakai sabun tapi tidak pernah berhasil.
Akhirnya saya jadi malas sendiri ngocok pakai sabun.
Nah, ini awal mula cerita saya. waktu itu pembantu rumah tangga saya
keluar, terus ibu dapat lagi pembantu baru berasal dari Tasikmalaya,
orang sunda, umurnya kira-kira 27 tahun. Orangnya memiliki kulit
kuning langsat wajahnya cukup cantik apalagi kalau lagi tersenyum
giginya putih terawat baik. Waktu baru mulai kerja aku nguping
wawancaranya sama ibu saya, bahwa dia adalah janda tapi belum punya
anak dia cerai dengan suaminya 3 tahun yang lalu, suaminya adalah
orang kaya di kampungnya tapi umurnya pada waktu kawin dengan Bi
Asih sudah berusia 60 tahun dan dia menikah kira-kira 4 tahun,
sekarang cerai karena suaminya balik lagi pada istrinya yang tua.
Aku memanggil dia bibi Asih, dia pintar masak masakan kesukaanku
seperti sop buntut wah nikmat sekali masakannya. Orangnya sopan dan
ramah sekali. Hampir tidak pernah marah kalau digoda, tidak seperti
mbok Laksmi pembantu saya yang sebelumnya, sudah tua tapi cerewetnya
minta ampun.
Bibi Asih sudah 3 bulan kerja di rumahku, nampaknya dia cukup betah
karena pekerjaannya juga tidak terlalu banyak cuma melayani saya,
ibu dan ayah saya.
Nah waktu itu adalah hari Jum'at, ingat betul saya, ibu saya dapat
telepon dari Jakarta bahwa kakak saya yang nomor dua sudah masuk
rumah sakit bersalin mau melahirkan anak yang pertama.
Mereka pergi dengan Sopir kantor ayah saya ke Jjakarta jum'at sore.
Aku tidak ikut soalnya sabtu besok aku ada pertandingan bola basket
di sekolah. Jum'at malam aku sendirian di kamar kubaca buku porno
sendirian di kamar. Wah cerita bagus sekali sambil membaca aku
memegang penisku..., wah keras sekali.
Kira-kira jam 9.00 malam, badanku terasa gerah habis baca buku
begituan. Aku keluar kamar untuk mendinginkan otakku, kebetulan
kamarku dan kamar Bi Asih tidak terlalu jauh dan aku melihat
pintunya agak sedikit terbuka.
Tiba-tiba timbul pikiran kotorku. Ah pingin tahu, gimana Bi Asih
tidurnya. Kemudian aku berjingkat-jingkat mendatangi kamar tidur Bi
Asih. Pelan-pelan aku dorong pintunya dan mengintip ke dalam,
ternyata Bi Asih sedang tertidur dengan pulasnya. Lalu aku masuk ke
dalam kamarnya. Kulihat Bi Asih tidur telentang, kakinya yang
sebelah kiri agak ditekuk lututnya ke atas. Dia tidur menggunakan
jarik kebaya tapi tidak terlalu ketat sehingga betisnya agak
tersingkap sedikit. Aku perhatikan betisnya, kuning bersih dan
lembut sekali. Kemudian aku coba mengintip ke dalam kebayanya, wah
agak gelap hanya terlihat samar-samar celana dalam berwarna putih.
Aku menarik napas dan menelan ludah, kuperhatikan wajah Bi Asih
kalau-kalau dia bangun tapi dia masih tidur dengan lelap. Lalu aku
memberanikan diri memegang ujung kain kebayanya yang dekat betisnya
tersebut. Sambil menahan napas aku angkat pelan-pelan kain kebaya
tersebut ke atas lalu kusibak ke samping dan akhirnya terbukalah
kain kebaya yang sebelah kiri dan tersingkap paha Bi Asih yang padat
dan putih kekuning-kuningan. Aku kagum sekali melihat pahanya Bi
Asih padat, putih dan berisi tidak ada bekas cacat sedikitpun. lalu
aku pandang lagi wajah Bi Asih. Ah, dia masih lelap, aku
memberanikan diri lagi membuka kain kebaya yang sebelah kanannya.
Pelan-pelan aku tarik ke samping kanan dan akhirnya terbuka lagi.
Kini di hadapanku tampak kedua paha Bi Asih yang padat dan kuning
langsat. Aku semakin berani dan pelan-pelan kain kebaya yang di ikat
di perut Bi Asih aku buka perlahan-lahan, keringat dinginku keluar
menahan ketegangan ini dan penisku semakin keras sekali. Akhirnya
aku berhasil membuka ikatan itu, lalu kubuka ke kiri dan ke kanan.
Kini terlihat Bi Asih tidur telentang dengan hanya di tutupi celana
dalam saja. Aku benar-benar bernafsu sekali saat itu. Kulihat perut
Bi Asih turun naik napasnya teratur. kulihat pusarnya bagus sekali,
perutnya kecil kencang tidak ada lemaknya sedikitpun, agak sedikit
berotot kali memang tapi pinggulnya agak melebar terutama yang di
bagian pantatnya agak sedikit besar.
Bi Asih memakai celana nilon warna putih dan celana itu sepertinya
agak sempit, mungkin ketarik ke belakang oleh pantatnya yang agak
besar. Terlihat di bagian kemaluannya yang begitu ketat sehingga
terbayang warna bulu-bulu vaginanya yang halus tidak terlalu banyak
dan bentuk kemaluan Bi Asih yang agak sedikit menggunung seperti
bukit kecil.
Pelan-pelan aku sentuh vagina bagian atasnya, terasa empuk dan
hangat, lalu pelan-pelan kucium tapi belum sampai menempel kira-kira
1 milimeter di depan vagina tersebut. Wah tidak bau apa-apa, cuma
agak terasa hangat saja hawanya. Kupandangi lagi vagina yang
menggunung indah itu, ingin rasanya aku remas tapi aku takut dia
bangun. Kulihat dia masih tidur nyenyak sekali dan kulihat dadanya
membusung naik turun. Ah, aku ingin tahu gimana sich bentuk payudara
dari Bi Asih. Pelan-pelan kubuka baju Bi Asih, tidak terlalu sulit
karena dia hanya memakai peniti saja tiga biji dan satu persatu
kubuka peniti tersebut lalu kugeser ke samping bajunya. Wah,
terlihat dada sebelah kiri dan kubuka baju yang sebelah lagi. Kini
Bi Asih betul-betul hampir telanjang tidur telentang di hadapanku.
Baru pertama kali dalam hidupku menyaksikan hal seperti ini. BH Bi
Asih nampak sempit sekali menutupi buah dadanya yang padat dan
berisi. Aku perhatikan buah dadanya, naik turun dan kulihat ternyata
BH tersebut mempunyai kancing cantel dua buah di depannya tepat di
tengah-tengah, di depan belahan dadanya, dengan agak gemetar aku
buka pelan-pelan cantelannya satu lepas, dan ketika hendak membuka
yang satunya lagi Bi Asih bergerak. Aku kaget sekali tapi dia tidak
bangun kerena tidurnya yang begitu pulas,lalu aku memberanikan diri
membuka cantelan yang satu lagi dan akhirnya terbuka.
Aduh, susunya indah sekali, besarnya hampir satu setengah kali bola
tenis dengan warna putingnya agak merah muda. Bentuk susunya
betul-betul bulat, menonjol ke depan. Aku pandangi terus kedua buah
dada tersebut, indah sekali, apalagi Bi Asih memakai kalung tipis
warna kunig emas dan liontinnya warna ungu itu tepat berada dekat
buah dadanya. Serasi sekali.
Aku semakin bernafsu, jantungku bedegup kencang sekali. Ingin
rasanya meremas buah dadanya tapi takut Bi Asih terbangun dan apa
yang harus kulakukan bila dia bangun. Aku mulai takut saat itu, akan
tetapi hawa nafsuku sudah memuncak saat itu. hingga lupa akan rasa
maluku. Kini Bi Asih sudah setengah telanjang tinggal celana
dalamnya saja. Aku ingin tahu juga seperti apa sih vagina perempuan.
Terus terang aku seumur itu belum pernah melihat vagina asli kecuali
di foto.
Aku cari akal bagaimana caranya msupaya bisa melihat vagina Bi Asih,
tiba-tiba aku lihat di meja Bi Asih ada gunting kecil. Lalu kuambil
gunting tesebut dan pelan-pelan aku masukan jari telunjukku ke
samping celana Bi Asih di dekat selangkangannya, aku tarik
pelan-pelan agar dia tidak terbangun. Terlihat selangkangannya
berwarna putih bersih. Setelah agak tinggi aku tarik celana nilonnya
aku masukan gunting dan pelan-pelan aku gunting celana dalamnya.
Kira-kira 10 menit aku lakukan hal tersebut, akhirnya segitiga yang
tepat di depan vagina Bi Asih putus juga kugunting dan kusingkap
calana dalamnya ke atas.
Kini aku betul-betul melihat kemaluan Bi Asih tanpa sehelai
benangpun. Vaginanya mempunyai bentuk yang rapat sekali sepertinya
tidak ada lubangnya, bulunya halus tipis dan di bagian samping bibir
kemaluannya putih bersih agak sedikit gelembung tapi belahannya
betul-betul rapat. Wah, aku betul-betul sudah sangat bernafsu saat
itu. Aku bingung ingin rasanya memegang vaginanya tapi takut dia
bangun. Ah, aku nekat karena sudah tidak tahan kemudian kubuka
celana pendekku dan celana dalamku. Penisku sudah berdiri tegak,
besar seperti batu panjang dan keras. Lalu aku gosok-gosokkan
penisku dengan tanganku sendiri sambil melihat payudara dan vagina
Bi asih. Aku merasakan kenikmatan yang mulai menjalari seluruh
tubuhku. Kugosok lagi dengan keras sambil membayangkan penisku sudah
berada di dalam vagina Bi Asih, tapi tidak bisa juga keluar. hingga
saat ini sudah 15 menit aku gosok-gosok penisku, akhirnya aku sudah
tidak tahan dan nekat. Pelan-pelan aku naik ke tempat tidur Bi Asih.
Aku ingat seminggu yang lalu Bi Asih pernah dibangunkan oleh ibu
saya jam sepuluh malam waktu itu ibu saya mau minta tolong di
kerokin. Nah, Bi Asih ini ketika di ketok-ketok pintunya sampai
setengah jam baru bangun dan dia minta maaf, katanya dia kalau sudah
tidur susah untuk di banguninya.
Ingat itu aku jadi agak berani mudah-mudahan malam ini dia susah
bangun. Lalu dengan sedikit agak nekat kuangkat dan geser paha Bi
Asih yang sebelah kanan agak melebar. Untung dia tidak bangun,
benar-benar nich Bi Asih dalam hatiku punya penyakit tidur yang
gawat. Kugeser terus sampai maksimal sehingga kini dia benar-benar
mengangkang posisinya. Aku berlutut tepat di tengah-tengah
selangkangannya. Pelan-pelan kutempelkan penisku di vagina Bi Asih
tapi lubangnya kok tidak ada, aku agak bingung, pelan-pelan belahan
dagingnya kubuka dengan jariku. Terlihat daging berwarna merah jambu
lembut dan agak sedikit basah, tapi tidak kelihatan lubangnya, hanya
daging berwarna merah muda dan ada yang agak sedikit menonjol
seperti kacang merah bentuknya. Aku berpikir mungkin ini yang
dinamakan clitoris oleh kawan-kawanku. Aku buka terus sampai agak ke
bawah dan mentok tidak ada belahan lagi. Ternyata memang tidak ada
lubangnya. Aku bingung, tapi aku sudah nafsu sekali. Lalu
pelan-pelan kutempelkan kepala penisku ke vagina Bi Asih, ternyata
ukuran penisku itu sepertinya terlalu besar sehingga jangankan bisa
masuk baru di bagian luarnya saja rasanya belahan vagina Bi Asih
sudah tidak muat.
Tapi apa yang kulakukan sudah kepalang basah, aku tempelkan kepala
penisku ke vagina Bi Asih. Wah, tidak bisa masuk hanya menempel saja
tapi aku bisa merasakan kelembutan daging bagian dalam vaginanya,
aku gosok pelan-pelan dan vagina Bi Asih agak terbuka sedikit tapi
tetap saja kepala penisku tidak bisa masuk. Aku benar-benar sudah
lupa daratan dan gosokanku semakin kencang dan agak sedikit menekan
ke dalam. Aku tidak sadar kalau Bi Asih bisa bangun. Akhirnya benar
juga ketika aku agak menekan sedikit Bi Asih bangun dan dia
sepertinya masih belum sadar betul, tapi beberapa detik kemudian dia
baru sadar akan keadaan ini. Dia menjerit, "Den Bram ngapain...,
aduh den tidak boleh den..", pamali dia bilang, Lalu dia mendorong
tubuhku ke samping dan cepat-cepat dia menutup buah dada dan
kemaluannya.
Aku seperti di sambar petir saat itu, mukaku merah dan malu sekali
saat itu, lalu kuambil celanaku dan lari terbirit-birit keluar dan
langsung masuk ke dalam kamarku. Rasanya seperti mau kiamat saat
itu, bagaimana ntar kalau Bi Asih mengadu ke orang tua saya. Wah
mati saya.
Besok paginya aku bangun pagi-pagi lalu mandi dan langsung berangkat
ke sekolah tanpa sarapan. Di sekolah saya lebih banyak diam dan
melamun, bahkan ada teman saya yang mennggoda saya dengan mengolok
saya, saya tarik kerah bajunya dan hampir saya pukul untung keburu
di pisahkan oleh teman yang lain dan waktu pertandingan basket saya
di keluarkan soalnya saya memukul salah satu pemain yang mendorong
saya. Wah, benar-benar kacau pikiran saya saat itu. Biasanya saya
pulang sekolah jam 12.30 tapi saya tidak langsung pulang, saya main
dulu ke rumah teman saya sampai jam 5 sore baru saya pulang.
Sampai di rumah, Bi Asih sudah menunggu di depan rumah. Dia
menyambutku, "Kok lama sekali pulangnya den..., Bi Asih sampe
khawatir..., tadi ibu telepon dari Jakarta bilang bahwa mungkin
pulang ke Bandungnya hari senin sore..., soalnya Mbak Rini (kakakku)
masih belum melahirkan, diperkirakan mungkin hari minggu besok baru
lahir". Aku hanya tersenyum kecut, dalam hatiku Bi Asih tidak marah
padaku..., baik sekali dia. Aku langsung masuk kamar dan mandi sore
lalu tiduran di kamar.
Jam 7.00 malam Bi Asih mengetuk kamarku, "Den..., Den..., makan
malamnya sudah siap..". Aku keluar dan santap malam, lalu setelah
selesai aku nonton TV. Bi Asih membereskan meja makan.
Selama dia membereskan meja, aku mencuri-curi pandang ke Bi Asih.
Ah, dia ternyata cukup cantik juga, badannya sedang tidak tinggi dan
bisa di bilang langsing hanya ukuran dada dan pinggul bisa dibilang
cukup besar, benar-benar seperti gitar. Setelah selesai aku panggil
dia, Bibi..., bi..., tolong dong aku di bikinin roti bakar.., aku
masih laper nich".
"Baik den", lalu dia membuatkan aku roti bakar dua tangkap dan
menghidangkannya di depanku dan langsung mau pergi, tapi aku segera
memanggilnya, "Bi Asih jangan pergi dulu dong...".
Dia jawab "Ada apa den...".
"Ehmm, itu bi..., emm Bi Asih tadi cerita tidak sama ibu soal
semalam".
Dia tersenyum, "Wah mana berani bibi cerita..., kan kasian den
Bram..., lagian kali Bi Asih juga bisa kena marah", wah lega hatiku.
"Bi Asih makasih ya.., dan maaf ya yang tadi malam itu..., maaf
celana bibi Asih rusak.., soalnya..., emm soalnya...", aku tidak
tahu harus ngomong apa. Tapi kelihatannya Bi Asih ini cukup
bijaksana dia langsung menjawab, "Iya dech den Bi Asih ngerti kok
itu namanya aden lagi puber..., ya khan..", aku tertawa.
"Ah Bi Asih ini sok tahu ah..", dia juga tersenyum terus bilang,
"Den hati-hati kalau lagi puber..., jangan sampai terjerumus...",
Kembali aku tertawa..., "Terjerumus ke mana..., kalau ke tempat yang
asyik sich aku tidak nolak...".
Bi Asih melotot, "Eh jangan den..., tidak baik...", Terus Bi Asih
langsung menasehatiku
Dia bilang, "Maaf ya den Bram menurut bibi..., den Bram ini orangnya
cukup ganteng..., pasti banyak teman-teman cewek den Bram yang
naksir..., Bi Asih juga kalau masih sebaya den mungkin naksir juga
sama den Bram hi.., hi.., hi.., nah, den Bram harus hati-hati..,
jangan sampai terjebak..., terus di suruh kawin..., hayo mau ngasih
makan apa".
Tiba-tiba ada semacam perasaan aneh dalam diriku aku tidak tahu apa
itu, lalu aku jadi agak sedikit berani dan kurang ajar sama Bi Asih.
Aku pandangi dia lalu aku bertanya, "Bi..., Bi Asih khan sudah
pernah kawin khan..., gimana sich bi rasanya orang begituan..". Bi
Asih nampak terbelalak matanya dan mukanya agak besemu merah lalu
aku sambung lagi, "Jangan marah ya bi.., soalnya aku benar-benar
pingin tahu katanya teman-temanku rasanya seperti di sorga betul
tidak".
Bi Asih diam sebentar, "Ah tidak den selama Bi Asih kawin 4
tahun..., bibi tidak ngerasa apa-apa..".
"Maksudnya gimana bi..., masa bibi tidak begituan sama suami Bi
Asih..".
"Eh maksud bibi..., iya begituan tapi.., tidak sampai 1 menit sudah
selesai..".
Aku semakin penasaran, "Ah masa bi..., terus itunya suami bibi
sampai masuk ke dalam tidak.."
"Ehh ngaco kamu...", dia tertawa tersipu-sipu.
"Ehmm, tidak kali ya..., soalnya baru di depan pintu sudah loyo...,
hi hi..., eh sudah ah jangan ngomong begituan lagi..", pamali dia
bilang, "Lagian Bi Asih khan sudah cerai 3 tahun jadi sudah lupa
rasanya..", sambil tersenyum dia mau beranjak bangun dan pergi.
"Ehh bi.., bi.., bi tunggu dong..., temenin aku dulu dong..", terus
dia bilang, "Eh sudah besar kok masih di temenin, bibi sudah cape
nich", tapi setelah kubujuk-bujuk akhirnya dia mau menamiku nonton
TV dan ngobrol ngalor-ngidul. Tidak terasa sudah jam 9.00 malam.
Diluar mulai hujan deras sekali, dingin juga rasanya. Bi Asih pandai
juga bercerita, cerita masa remajanya. Rupanya dia sempat juga
mengeyam pendidikan sampai kelas 2 SMP.
Aku duduk di sofa panjang sedangkan Bi Asih duduk di karpet bawah
lalu kupanggil dia, "Bi sini dech..., tolong liatin dong bagian
pinggang belakangku kok agak nyeri..".
Bi Asih datang dan pindah ke sofaku, "Mana den".
"Ini nich", aku tarik tangannya ke pinggang belakangku lalu dia dia
bilang, "Tidak ada apa-apa kok.
Saat itu tiba-tiba timbul lagi pikiran kotorku mengingat kejadian
malam kemarin dan Bi Asih tidak marah, kalau sekarang saya agak
nakal sedikit pasti Bi Asih tidak akan marah. Lalu aku bilang, "Ini
Bi Asih, tapi Bi Asih matanya merem ya..., soalnya aku malu keliatan
bodongku", dia tersenyum dan mengangguk, lalu memeramkan matanya.
Nah, ini aku pikir kesempatanku. Aku pegang kecang-kencang
pergelangan tangan Bi Asih, lalu kubuka ritsluiting celanaku dan aku
tarik ke bawah celana dalamku penisku masih setengah besar belum
terlalu tegang.
Lalu kutarik tangan Bi Asih dan meletakkan di atas penisku..., dia
bilang, "Eh apa ini..", terus aku bilang, "Eh awas jangan buka
matanya ya..", dia mengangguk dan bertanya lagi, "Apa sich ini kok
hangat".
Begitu tersentuh tangan Bi Asih, menaraku mulai berdiri dengan
gagahnya dan mulai membesar cepat sekali. Rupanya Bi Asih curiga dan
membuka mata. Eh, pamali dia bilang..., tapi aku tahan terus
tangannya dan aku pandangi mata Bi Asih..., dia tersenyum malu dan
tersipu. Dengan lirih dia bilang, "Jangan den tidak sopan..", tapi
aku bilang, "Tolong dong bi..., pingin banget dech.."
Kayaknya Bi Asih kasihan padaku..., dia mengangguk dan bilang,
"Cepetan ya Den, sebentar saja jangan lama-lama dan tidak boleh
macam-macam..., ntar kalau orang tua aden tahu Bi Asih kena
marah..", dan dia bilang, "Eeeh ih kok besar banget sich Den".
"Iya", jawabku singkat. Lalu tangan Bi Asih menggenggam penisku
dengan lembut dia menggosoknya dari ujung kepala sampai ke pangkal
penisku. Kira-kira 10 menit..., dengan agak serak dia bilang, "Sudah
belum den.."
. Saat itu aku merasa melayang dan entah bagaimana tiba-tiba
keberanianku timbul, kupegang lengan Bi Asih terus naik ke bahu..,
leher.., pelan-pelan turun ke dadanya. Dia bilang, "Eh den mau
apa...", tapi aku pura-pura tidak mendengar tanganku terus turun dan
sampai ke dadanya yang agak membusung ke depan. Bi Asih agak sedikit
bergetar badannya, dia bilang dengan halus, "Jangan den..., jangan",
tapi dia tidak menepis tanganku. Aku semakin berani, pelan-pelan
kuremas dadanya kiri kanan bergantian. Nampak napas Bi Asih agak
memburu. Aku semakin berani lagi..., teringat akan bentuk buah
dadanya yang indah tadi malam..., maka dengan sedikit nekat tanganku
mulai masuk ke BH-nya. Ah, payudaranya terasa lembut sekali. Bi Asih
bilang lagi dengan lirih, "Den jangan..", aku tidak peduli.
Lalu kubuka baju atas Bi Asih dan kubuka juga BH-nya. Mula-mula Bi
Asih menolak untuk di buka tapi dengan agak sedikit memaksa akhirnya
dia pasrah dan terbukalah bagian atas badan Bi Asih. Payudaranya
munjung membusung ke depan, besar, putih dan bundar. Lalu mulai
kuremas-remas, Bi Asih agak sedikit menggeliat, napasnya memburu.
Aku ingat akan buku porno yang kubaca, lalu aku coba
mempraktekkan..., aku mencoba mencium puting payudaranya lalu aku
emut-emut seperti mengemut permen. Wah, sepertinya Bi Asih sangat
menikmati permainanku, napasnya memburu dan agak sedikit
terengah-engah. Ketika kuhisap lagi putingnya, dia pegang kepalaku
dan bilang, "Den.., sudah Den..., sudah.., ah Bi Asih tidak
tahan..", katanya. Aku malah makin bersemangat, seluruh payudaranya
kujilati, aku kulum-kulum, aku emut-emut.
Bi Asih semakin gelisah dan tangannya yang tadi mengocok-ngocok
penisku kiri terhenti bergerak dan hanya meremas penisku dengan
kencang sekali, agak sakit juga rasanya tapi aku biarkan saja.
Supaya lebih nikmat akhirnya aku buka baju atas Bi Asih, kucium
lehernya, bahunya yang putih dan kubuka seluruh celanaku sehingga Bi
Asih bebas memegang penisku dan telurku bergantian. Adegan ini cukup
lama, berlangsung hampir sejam..., saat kulihat jam dinding sudah
jam 10.30.
Lalu aku rebahkan Bi Asih di sofa panjangku.., mula-mula dia agak
sedikit menolak tapi kudorong dengan tegas dan lembut, dia akhirnya
menurutiku, kini aku lebih leluasa lagi menciumi buah dadanya,
pelan-pelan agak turun aku ciumm perut Bi Asih, Dia tampak agak
kegelian, aku semakin terangsang, aku ingat-ingat apa lagi yang
harus dilakukan seperti di buku-buku porno.
Akhirnya pelan-pelan kubuka kain kebaya Bi Asih.
Dia bilang, "Eh den jangan mau apa..".
"Tidak bi tenang saja dech", aku bilang. Akhirnya kain yamg
dikenakan Bi Asih terlepas dan aku buang jauh-jauh. Dia hanya
memakai celana dalam saja. Eh.., biarpun dia ini orang desa tapi
ternyata badannya bagus sekali seperti gitar dan sangat mulus.
Betisnya indah, pahanya kencang sekali..., mungkin sering minum jamu
kampung sehingga badannya terawat baik.
Aku cium perut Bi Asih lalu turun ke bawah dan turun ke bagian
kemaluannya. Dia tampak mendorong kepalaku, "Jangan den..", tapi
lagi-lagi aku paksa akhirnya dia diam. Setelah dia agak tenang aku
mulai beraksi lagi. Celana dalamnya kutarik turun. Wah, ini dia
betul-betul melawan dan tidak kuberi kesempatan, dia pegangi
celananya itu..., tapi aku terus berusaha..., adu tarik dan akhirnya
setelah cukup lama dia menyerah juga, tapi tangannya tetap menutupi
kemaluannya. Pelan-pelan aku cium tangannya sampai akhirnya mau
minggir juga dan kucium kemaluannya. Bi Asih tampak mengelinjang dan
dia bilang, "Jangan Den..., jangan Den..", tapi aku menciumnya
terus, akhirnya suaranya hilang, yang terdengar hanya napasnya saja
yang terengah-engah. Di bagian tengah vaginanya agak ke atas vagina
Bi Asih ada daging agak keras seperti kacang mungkin clitoris. Nah,
clitorisnya ini aku jilat-jilat dan kadang-kadang aku emut-emut
dengan bibirku.
Aku cium terus vagina Bi Asih dan tahu-tahu aku merasakan sesuatu
yang agak basah dan bau yang khas. Bi Asih tampak
menggoyang-goyangkan kepalanya dan pantatnya mulai goyang-goyang
juga. Cairan yang keluar dari vagina Bi Asih makin banyak dan makin
licin. Ah, aku sudah tidak tahan lagi rasanya..., lalu kubuka kaos
bajuku dan aku sekarang sama-sama bugil dengan Bi Asih. Aku periksa
lagi vagina Bi Asih. Yah masih seperti tadi malam tidak keliatan
lubang apa-apa cuma daging-daging merah jambu mengkilat karena
basah. Aku coba tusuk pakai jari tanganku dan ternyata ada juga
lubangnya tapi kecil sekali ketika kuraba dengan jari tanganku,
rupanya lubang itu tertutup oleh lapisan daging. Aku pikir apa cukup
ya lubang ini kalau di masukin penisku. Aku penasaran lalu aku
bangun dan belutut di pinggir sofa dan penisku aku arahkan ke vagina
Bi Asi
Bi Asih nampak terkejut melihat aku telanjang bulat dan dia hendak
mau bangun dan bilang, "Den jangan sampai ketelanjuran..., ya tidak
boleh..".
Aku bilang, "Iya bi tenang saja..., aku cuma mau ngukur saja kok..",
dan dia percaya lalu rebahan lagi sambil bilang, "Janji ya den
jangan di masukin punya aden ke liangnya Bi Asih".
"Iya", jawabku singkat.
Lalu aku ukur-ukur lagi lubang vagina Bi Asih dengan penisku
ternyata memang penisku ini tidak normal kali karena jangankan
lubang yang di dalam vaginanya yang seukuran jari telunjukku
besarnya, bibir bagian luarnya saja tidak muat, aku mulai berpikir,
"Wah, benar kata joko aku ini tidak normal". Lalus aku bilang ke Bi
Asih, "Bi kok kayaknya lubangnya Bi Asih mampet ya..., tidak ada
lubangnya..", Bi Asih mengangkat kepala.
"Tahu ya.., dulu juga penis suami bibi rasanya tidak pernah masuk
sampai ke dalam".
Aku pikir yang normal aku atau Bi Asih nich..., tapi dasar sudah
nafsu sekali..., tidak ada lubang..., lubang apapun jadi deh aku
pikir. Vagina Bi Asih semakin basah aku pegang-pegang terus. Lalu
kutarik Bi Asih bangun dan kuajak ke kamar orang tuaku.
Dia menolak, "Ech jangan den".
"Tidak apa-apa", aku bilang, aku paksa dia ke kamar orang tuaku dan
aku rebahkan dia di tempat tidur spring bed, kebetulan tempat tidur
itu menghadap ke kaca jadi aku bisa melihat di kaca, lalu aku naik
di atas tubuh Bi Asih, dan Bi Asih agak sedikit meronta, "Den kan
janji ya tidak sampai di gituin..."
."Iya dech", aku bilang.
Aku lalu turun dari tubuh Bi Asih dan berlutut di samping tempat
tidur lalu kutarik kedua kaki Bi Asih sampai pantat Bi Asih tepat di
pinggiran tempat tidur lalu aku ciumi lagi vagina Bi Asih, dia
kelihatannya senang diciumi lalu kupraktekkan apa yang aku baca di
buku porno. Aku masukkan lidahku di sela-sela vagina Bi Asih. Terasa
hangat dan basah, lalu aku mainkan lidahku. Aku jilat-jilat seluruh
daging berwarna merah muda yang ada di dalam vagina Bi Asih. Aku
jilat terus dan kadang-kadang aku sedikit hisap-hisap bagian
clitorisnya. Bi Asih tampak kegelian dan menggoyang-goyangkan
pantatnya ke atas seolah-olah hendak mengejar lidahku. Terasa
semakin basah vagina Bi Asih dan mungkin sudah banjir kali dan
semakin banyak cairannya, semakin licin aku lalu bangun dan kudorong
lagi Bi Asih ke tengah tempat tidur dan aku timpah lagi tubuhnya.
Aku ciumi lagi payudara Bi Asih yang keras dan kenyal. Dia nampak
mulai menikmati lagi dan agak sedikit mengerang-erang dan
mengelus-elus rambut kepalaku. Pelan-pelan aku kangkangin paha Bi
Asih, mula-mula dia agak melawan tapi akhirnya pasrah dan kutaruh
penisku tepat di tengah-tengah vagina Bi Asih. Pelan-pelan aku
dorong penisku ke vagina Bi Asih yang sudah mulai banjir dan licin.
Aku merasa bahwa sekarang kepala penisku sudah mulai terjepit oleh
bibir vagina Bi Asih tapi tetap belum bisa masuk. Pelan-pelan aku
tekan agak keras Bi Asih tampak agak menggelinjang dan bilang, "Aduh
den jangan di toblos den...", aku tidak peduli aku tekan lagi tapi
susah juga rasanya untuk sampai ke dalam vagina Bi Asih, tapi belum
mau tembus juga. Aku tarik lagi sedikit ke belakang dan kudorong
lagi tetap seperti tadi, tapi aku tidak menyerah kutarik dorong,
tarik dorong sekitar 10 menit, dan waktu aku tarik-dorong itu
terdengar bunyi, "Ceprak.., ceprok.., ceprak..", rupanya vagina Bi
Asih benar-benar banjir dan tiba-tiba aku mulai merasakan ada celah
yang terbuka, aku makin semangat tarik dorong, tarik dorong.
Bi Asih nampak mulai merem-melek matanya, dan terlihat matanya
membalik-balik ke belakang mulutnya mendesis-desis. Aku jadi semakin
bernafsu, lalu aku kulum bibir Bi Asih. Dia menyambut ciumku dengan
hot sekali. Baru pertama kali ini aku berciuman jadi tidak tahu
caranya, tapi aku pakai naluri saja aku hisap-hisap lidah Bi Asih.
Wah, dia makin membinal dan celah di vagina Bi Asih makin terasa
agak melebar dan aku merasa kalau kutekan agak keras pasti kepala
penisku ini bisa masuk ke dalam vagina Bi Asih, lalu aku mengambil
ancang-ancang kebetulan kedua jari jempol kakiku bisa masuk di
sela-sela tempat tidur sehingga aku punya pijakan untuk mendorong ke
depan.
Pelan-pelan aku hitung dalam hati sambil tarik dorong, tarik dorong
satu..., dua tiga..., empat..., liiima. Aku tekan yang keras penisku
ke vagina Bi Asih. Bibir Bi Asih yang masih ada di dalam mulutku
tiba-tiba bersuara, "Huhh..., ehmmh hu", dan Bi Asih memundurkan
pantatnya ke belakang..., dia memandang ke padaku dan menggelengkan
kepala, "Jangan..., sakit..", dia bilang. Akupun mengangguk. Lalu
aku mulai kerja lagi.., tarik dorong.., belum masuk-masuk juga
kepala penisku..., tapi akibat dorongan tadi kayaknya agak sedikit
terbuka. Aku cari akal, lalu kedua tanganku turun ke bawah dan
kumasukkan ke belakang pinggang Bi Asih lalu turun sedikit
kuremas-remas pantat Bi Asih yang besar, sepertinya dia tambah
semakin terangsang dan aku pikir ini lah saatnya. Aku pegang pantat
Bi Asih keras-keras dan kutahan sekuat tenaga dan kuhitung lagi,
"satu, dua, tiga..., tekaannn...".
Bi Asih tampak meronta-ronta tapi aku tidak peduli terus kutekan dan
"Bless", penisku masuk kira-kira sepertiganya. Bi Asih meronta lagi,
mungkin merasa sakit pada vaginanya karena penisku ukurannya besar
sekali sehingga aku juga merasa bahwa sepertinya lubang vagina Bi
Asih kecil sekali sampai-sampai penisku tidak bisa bergerak terjepit
seperti mau dipress, rasanya kurang nikmat juga sehingga Bi Asih
berusaha mendorong pinggulku ke atas tapi aku lebih cepat lagi.
kutarik tanganku dari pantat Bi Asih dan kupegang ke dua tangan Bi
Asih dan kutarik ke atas kepalanya dan kutahan..., dia berusaha
meronta..., dengan mengeser pantat ke kiri dan ke kanan tapi aku
tidak mau lepas, aku ikuti arah pergerakan pantat Bi Asih.., dia ke
kanan aku ke kanan Bi Asih ke kiri aku ke kiri dia mundur aku maju.
Bi Asih agak merintih-rintih dan seperti orang makan cabai pedas,
dia memang kuat pinggangnya, terus goyang kiri dan kanan. Aku terus
tancap penisku yang sudah masuk sepertiga ke vagina Bi Asih, akibat
gerakan bibi asih ini mula-mula penisku yang tidak bisa bergerak
akibat terjepit vagina Bi Asih mulai bisa bergerak dan aku aku malah
semakin terangsang karena dengan gerakan kiri-kanan begitu penisku
terasa tergesek-gesek oleh vagina Bi Asih. Lalu aku diamkan penisku
di dalam vagina Bi Asih dan memang saat itu rasanya lubang Bi Asih
sempit sekali dan penisku terasa di sedot oleh vagina Bi Asih.
Lama-lama gerakan Bi Asih agak melemah dan nafas agak terengah-engah
dan agaknya dia mulai bisa menerima kehadiran penisku di dalam
vaginanya dan sakitnya mulai hilang. Pelan-pelan aku mulai beraksi
lagi kutarik sedikit penisku keluar tapi buru-buru kutekan lagi ke
dalam agar tidak lepas. Terasa agak sempit tapi nikmat karena vagina
Bi Asih sudah basah sekali jadi agak licin dan lancar pergerakkan
penisku. Aku tarik sedikit dan tekan ke dalam.
Kira-kira 5 menit, aku melakukan hal itu aku benar-benar merasa
nikmat sekali yang tak terhingga lalu dengan sangat bernafsu aku
mulai menekan lagi penisku agak masuk lebih dalam lagi. Aku tarik
dulu keluar sedikit lalu aku tekan keras-keras ke dalam, Bi Asih
menggelinjang dan bersuara, "Aduh.., huhh.., hmm", tapi suara
desahan itu malah makin merangsangku dan kutekan dengan keras lagi
dan, "Blesss", masuk lagi penisku lebih dalam Bi Asih agak sedikit
meronta mungkin agak sedikit nyeri, tapi aku tidak peduli kutekan
lagi lebih keras lagi, cabut sedikit tekan lagi. Bi Asih agak
meronta-ronta, aku semakin nikmat sekali rasanya agak seperti mau
pipis, aku semakin bersemangat dan dengan sekuat tanaga aku tekan
tiba-tiba pantatku ke depan dan, "Bleesss", penisku amblas ke dalam
vagina Bi Asih. Bi Asih agak sedikit menjerit dan berusaha
mencabutnya dengan menggeser pantatnya ke kiri dan ke kanan lagi
tapi aku sudah samakin pintar, aku tekan terus dan kuikuti
pergerakannya.
Setelah Bi Asih tidak melawan lagi mulai aku cabut setengah dan
kumasukkan lagi. begitu berulang-ulang, nampaknya Bi Asih mulai
menikmati dan dia kelihatan mengejang dan lalu memelukku keras-keras
dan mulutnya mendesis-desis. Aku semakin bersemangat dan genjotanku
semakin keras dan kencang dengan kedua kakiku kukangkangkan paha Bi
Asih lalu aku genjot lagi penisku keluar masuk.
Kira-kira 10 menit Bi Asih mengejang lagi dan memelukku lebih
kencang lagi sepertinya dia orgasme lagi dan setelah itu dia
kelihatan agak loyo, tapi aku merasa ada sesuatu yang akan keluar
dari penisku. Aku semakin keras mengocok penisku di dalam vagina Bi
Asih dan kulihat dari kaca bagaimana penisku keluar masuk vagina Bi
Asih, bila aku tekan tampak vagina Bi Asih masuk ke dalam dan bila
aku tarik keluar kelihatan bibir vaginanya ikut keluar ke depan.
Kira-kira 15 menit aku merasa kepala peniskuku agak panas dan
sret-sret, ada sesuatu keluar dari penisku. Aku merasa nikmat
sekali, aku tekan keras-keras penisku di dalam vagina Bi Asih dan Bi
Asih yang tadi sudah lemas tampak bersemangat lagi dan dia
menggoyangkan pantatnya ke kiri ke kanan, aku semakin kenikmatan dan
tiba-tiba terasa lagi ada cairan keluar dari penisku dan Bi Asih
juga kelihatannya merasa nikmat juga, dia seperti mencari-cari
sesuatu, pantatnya naik ke atas dan tiba-tiba dia mengejang dan
memelukku keras sekali dan kedua pahanya melilit keras di pinggangku
seperti orang main gulat. Aku tidak berkutik tidak bisa bergerak dan
terasa cairan dari dalam penisku semakin banyak keluar. Bi Asih
semakin menggila dia mengigit-gigit bahuku dan menjerit lirih,
"Den.., nikmat sekali den...", aku peluk Bi Asih keras-keras dan
kita berpelukan kurang lebih lima menit. Penisku yang tadi keras
seperti batu sudah mulai melembek dan Bi Asih nampak tergelak
lunglai di sebelahku. Aku lalu bangun dan kucabut penisku dari
vagina Bi Asih dan kulihat vagina Bi Asih. Aku pegang dan aku buka
belahannya kini nampak ada lubangnya dan aku melihat di sprei dekat
vagina Bi Asih banyak sekali cairan dan agak berwarna sedikit merah
jambu aku agak kaget dan bilang sama Bi Asih, "Bi..., bibi masih
perawan ya...", Bi Asih tersenyum manis dan menjawab, "Iya den
soalnya selama bibi nikah..., bibi belum pernah kemasukan..., karena
mantan suami bibi dulu orangnya loyo..., baru nempel sudah banjir
dan lemas..". Aku menggumam, "Pantas susah banget masuknya..", terus
si Bi Asih menimpali, "Bukan susah..., tapi emang penisnya den bram
yang kegedean..., bibi sampai hampir semaput rasanya..".
Malam itu aku tidur berdua dengan Bi Asih di kamar ortu saya. Kita
tidur telanjang bulat cuma di tutup pakai selimut.
Pagi-pagi jam 5 pagi sudah terbangun dan penisku tiba-tiba mengeras
lagi, tanpa permisi aku langsung naik lagi ke badan Bi Asih yang
masih setengah tidur dan dia terbangun. Aku kangkangin lagi pahanya
ke kiri dan ke kanan. Bi Asih diam saja pasrah hanya memandangi
perbuatanku dengan sedikit senyum. Lalu penisku yang sudah mulai
mengeras kutempelkan lagi di depan vagina Bi Asih dan aku
tekan-tekan, tapi tidak bisa masuk-masuk. Bi Asih tersenyum dan dia
bilang sini Bi Asih bantu. Lalu tangannya ke bawah memegang penisku
dan membimbing penisku tepat di muka lubang vagina Bi Asih.., terasa
hangat..., lubang itu dan mulai basah. Ternyata kali ini tidak
sesulit tadi malam. Kepala penisku dengan beberapa kali tusukan
maju-mundur mulai bisa masuk ke dalam tapi tetap saja terasa sempit
walaupun vagina Bi Asih mulai basah dan licin dan kelihatanya Bi
Asih juga merasa bahwa penisku luar biasa ukuranya. Beberapa kali
dia sedikit mengaduh, tapi setelah vaginanya betul-betul banjir dan
penisku bisa masuk seluruhnya dia mulai bisa menikmati dan pagi itu
aku bersenggama dengan Bi Asih sampai jam 7.00 pagi. Bi Asih orgasme
sampai 3 kali dan aku muncrat juga tapi tidak sebanyak tadi malam.
Seharian kita malas-malasan di tempat tidur dan sore hari kita
bersenggama lagi sampai jam 10 malam. Senin pagi aku bangun dan
bolos sekolah, karena pagi itu sehabis mandi pagi dan sarapan aku
rencananya mau berangkat sekolah tapi tiba-tiba aku menjadi nafsu
lagi melihat Bi Asih baru keluar dari kamar mandi yang cuma memakai
handuk saja. Lalu kutarik Bi Asih ke kamarnya, kubuka handuknya,
kuciumi payudara, kuhisap-hisap puting, dan kurebahkan dia di tempat
tidurnya lalu kusetubuhi lagi. Wah, nikmat rasanya menyetubuhi Bi
Asih yang baru mandi karena bau badannya segar bau sabun dan aku
bersetubuh dengan Bi Asih di kamarnya senin pagi itu sampai jam 9.00
pagi dan aku terpaksa membolos sekolah. Sorenya orang tuaku pulang
dari jakarta dan sejak saat itu aku kalau malam sering ke kamar Bi
Asih dan melakukan hal itu lagi dan kelihatannya Bi Asih juga mulai
ketagihan sepertiku. Ibuku aktif organisasi dharma wanita sehingga
kami sering punya kesempatan berdua bersama Bi Asih dan selalu tidak
pernah menyia-nyiakan kesempatan itu.
Hubungan ini berlangsung kurang lebih 3 bulan, lama-lama ibuku
mencium gelagat yang tidak beres antara aku dan Bi Asih. Hari itu
kira-kira sebulan lagi sebelum aku ujian akhir kelas 3 SMP aku lihat
pagi-pagi ibuku ada di kamar Bi Asih dan Bi Asih nampak tertunduk,
sepertinya agak sedikit menangis. Aku tidak berani campur tangan dan
waktu aku pulang sekolah Bi Asih sudah tidak di rumahku lagi. Dia
sudah pulang kampung di antar oleh sopir ayahku. Aku sedih sekali
saat itu.
Selamat tinggal Bi Asih, hanya itu yang bisa kuucapkan dalam hati. |
|
|
|
|
|