|
Ita, teman baikku |
Sebenarnya aku rada risih buat menceritakan pengalamanku ini, bukan
apa-apa soalnya aku bukan tergolong manusia yang jago cerita dan
jago main seks. Tapi tidak apa, masa aku harus terima terus,
sedangkan aku tidak pernah kasih.
Cerita ini terjadi pas sekali di hari ulang tahunku yang ke-24,
Januari 2000. Aku punya teman perempuan namanya Ita, dia itu temanku
dari semenjak kuliah, teman dekat tapi bukan pacar. Sebenarnya sih
aku suka sekali sama dia, habis dia itu sudah banyak mewarnai
hidupku, begitu juga aku. Tapi lantaran agama kita beda, ya apa
boleh buat, akhirnya kita berteman saja (meskipun banyak teman-teman
yang menyarankan supaya di coba dulu).
Hari Jum'at HP-ku berdering, pas kuangkat tidak tahunya Ita di
seberang.
"Kamu dimana nih?" tanyanya.
"Aku di Kupang, baru besok balik ke Jakarta", balas aku.
"Ok deh, jam berapa kamu besok sampai di bandara?"
"Kira-kira jam 2 siang, ya kamu tahu lah, aku naik Merpati alias
merana sampai mati, jadi tidak tentu datangnya", kataku."Ya sudah
call aku kalau sudah sampai!""OK."
Besoknya pas aku sampai aku call dia, dia bilang besok dia ingin
sekali bertemu sama aku, ingin merayakan HUT-ku. Ya sudah akhirnya
kita janjian di BMGM, PI Mall jam setengah 7 malam. Kalau tidak
salah pas hari Minggu. Pas ketemu Ita kasih ucapan selamat ulang
tahun buat aku, "Met ulang tahun ya! Mudah-mudahan tidak lupa sama
aku", katanya sambil mencium pipiku, biasa sun pipi doang. Memang
cuma sebatas itu yang biasa kami lakukan. Terus kami makan sambil
ngobrol ngalor-ngidul.
"Wan, aku ada unek-unek yang pengen banget aku obrolin sama kamu",
katanya.
"Masalah apa sih Ta, kalau buat kamu aku pasti bantu", jawab aku.
"Iya aku tahu, tapi jangan di sini dong tidak enak buat ngobrol,
entar kalau aku nangis gimana?" benar juga, dalam hatiku.
Sehabis makan kami pergi ke kafe, tapi karena suasana ramai sekali,
akhirnya Ita mengajakku mencari tempat yang lebih nikmat buat
ngobrol. Karena waktu itu kami berada di kawasan Blok M, maka kami
pilih Hotel Am. Singkat cerita dia mengajak chek-in, "Enakan
begini", kata Ita. O iya, waktu itu Ita pakai T-shirt ketat lengan
panjang, warna gelap plus jeans ketat warna gelap juga. Jadi kontras
deh sama warna kulitnya yang kuning langsat. Wajahnya biasa-biasa
saja, tapi nafsuin banget, apa lagi bibirnya, wow sensual banget!
Buah dadanya tidak besar-besar amat, hanya 34 B. Cuma karena dia
rajin senam jadi itu body bikin horny.
Kira-kira sudah 1 i/2 jam ngobrol, ditengah-tengah suasana yang oke
banget gitu, obrolan sedihnya semakin menjadi. Akhirnya dia
sandarkan kepalanya di atas dadaku. Terus terang aku jadi ngembang,
apa lagi kalau bukan kemaluanku. Dia rupanya merasa, karena siku
tangannya sesekali menyentuh permukaan zipperku. Mulanya aku
beranikan diri buat mengusap rambut dia pakai tangan kiri, sementara
tangan kananku, aku pakai buat mengusap tangan kanannya. Lama-lama
yang ada bukannya usapan, aku malah meremas tangannya. Dia malah
balik meremas tanganku, "Wah lampu ijo nih", pikirku. Benar saja
tidak lama mukanya yang tadinya menghadap depan jadi tengadah,
kontan bibirnya yang sensual jadi rada merekah, aku tidak
sia-siakan. Kukecup kecil sekali, setelah itu kulihat matanya masih
merem, langsung saja kulumat habis, dalam banget, sampai dia rada
gelagapan. 7 menit berselang tangan kananku beraksi di atas
permukaan dadanya. Kuusap lembut buah dadanya. "Eenghh", dia mulai
kedengeran erangannya. Dari apa yang pernah kubaca (memang aku rada
kuno) kalau perempuan sudah kedengeran begitu tandanya dia sudah ON.
Mendengar erangannya, usapanku berubah jadi remasan. Aku remas dari
mulai pelan sampai keras dan seterusnya bervariasi. Bibirku masih
menempel ketat di bibirnya, dia yang duluan memainkan lidahnya di
rongga mulutku, ya aku jabanin. Kuangkat bagian bawah T-shirtnya,
dia kasih jalan. Begitu lepas terpampang di depan mataku gundukan
buah dadanya yang di bungkus bra berenda warna hitam dan membuat aku
semakin horny. Lumatan kami berlanjut lagi, semakin "Panas". Tidak
puas cuma meremas dari luar kupeluk dia sambil kucari pengait bra
dia dibelakang. Kulepas, dan remesanku sekarang semakin gila.
Lumatanku mulai menjalar ke seluruh mukanya, turun ke daerah sekitar
kuping, aku gigit pelan daun kupingnya dan "Enghh..." kedengeran
lagi dia mengerang. Jariku mulai "tunning" di pentilnya. Bibir dan
lidahku terus turun, aku "hisap" seluruh bagian leher dan pundaknya,
turun ke ketiaknya. Kugigit dan kutarik bulu ketiaknya yang memang
lebat. "Uhh, Wannn... geliii", aku tidak peduli, terus dan terus.
"Wan, angkat aku ke tempat tidur", pintanya. Lalu kuangkat.
Aku besarkan voltage dimmer. Hal ini menambah fantasiku karena aku
bisa lebih jelas melihat lekuk tubuhnya. Aku naiki dia, kuserbu buah
dadanya, "Kamu baru potong cambang ya, Ita geli bangeet... ah",
erangya. Kujilat seluruh permukaan buah dadanya. "Putingnya dong!"
dia protes. Sengaja aku tidak melumat putingnya, nunggu dia
penasaran pikirku. Aku lumat, gigit-gigit kecil, dan kusedot dengan
keras puting runcingnya yang berwarna pink dan sudah keras sekali.
Dia angkat dadanya sampai membusung. "Aduh... kok nikmat banget
sihh..." Lama aku main di situ, sesekali dia tekan dan jambak
rambutku. Aku tetap main di situ sampai dia tekan kepalaku turun,
aku ikuti, aku jilat dan kusedot pusernya, dia menggelinjang sambil
tidak berhenti-henti mengerang. Kulepas ikat pinggangnya, aku
turunkan zippernya. Tapi tidak langsung, kutarik turun jeansnya, aku
balikan tubuhnya tengkurap, aku jilat habis bagian pundak sampai
punggung. Dekat bagian ban celananya, baru aku turuni jeansnya
sedikit demi sedikit sampai bagian pinggul dan CD berenda warna
hitam yang sejenis sama branya kelihatan jelas. Aku remas pinggulnya
sambil sesekali kugelitik pinggangnya. CD-nya kuturuni sedikit demi
sedikit, jilatan dan lumatanku yang turun sampai ke telapak kakinya,
"mmhh..."
Setelah jeans dan CD-nya lepas aku balikan tubuhnya. Aku emut
jari-jari kakinya semua, dari mulai jempol sampai kelingking, terus
naik, sampai akhirnya mukaku berhadapan sama tumpukan bulu yang...
wah... pokoknya hutan pedalaman Kalimantan sama Irian LEWAT!
Merumputlah aku di situ. Aku buka pahanya lebar-lebar, aku sibakan
bulu kemaluannya. Terus kukecup bibir vaginanya. Pink warnanya, dan
masih sempit, soal aroma jangan ditanya Ok banget. Kukeluarkan
lidahku, kujilat seluruh permukaan bibir vaginanya luar dalam. Pas
sampai clitoris, erangannya mulai berubah jadi teriakan, sambil
menekan belakang kepalaku dan dia jepit kepalaku. Beberapa saat
kemudian dia angkat pantatnya sambil menggoyang. "Ahh... mmhh...
uhh... terusssinn wannn..." kemudian dia melenguh keras sambil
menekan belakang kepalaku, dia jepit kepalaku, semenit kemudian dia
terkulai. "Kamu hebat Wan... sabar dan telaten, thank's ya..."
katanya. "Ah nggak juga, mungkin bakat kali Ta, sumpah baru pertama
kali!" jawabku.
Lalu kami istirahat sebentar, aku mengambil rokok dan minum,
sementara kemaluanku terus meronta, aku berusaha sabar. Ternyata
yang tidak sabar justru Ita. "Sudah matiin rokoknya, kasian tuh anak
kamu sudah pecah ketubannya pengen keluar", katanya bercanda. Dia
yang bugil menyerbuku seperti Saddam Husein nyerbu Kuwait. Dia
preteli kemejaku, jeansku, dan akhirnya CD-ku. Kontan kemaluanku
yang memang dari tadi sudah meronta jadi lompat. Dia nafsu banget.
Kemaluanku memang sedangan saja sih panjang 13 cm, tapi memang
keras. Dia kocok, di tempeli ke ujung hidung, pipi dan akhirnya dia
cium. Terus dia jilati dari kepala sampai ke bijiku. Tidak lama
kepala penisku sudah ada di dalam mulutnya, dia hisap dalam sekali.
"Aduhh Ta...!"
"Kenapa?" tanyanya.
"Ennnakkh..." jawabku. Ita semakin bersemangat, dia maju mundurkan
mulutnya, kupegang kepalanya. 8 menit kemudian aku tahan kepalanya
dan "Itttaa... aku kkeee... aahh..." aku tidak sanggup meneruskan
omonganku, aku muncrat 5 kali di dalam mulutnya. Dia telan semua
sampai tetes sperma penghabisan.
Sesudah itu kami ngobrol, agak lama sekitar 20-an menit dan sesudah
badan kami segar, kami bertempur lagi. Setelah segalanya siap,
kunaiki dia, dia pegang penisku, dia gesek-gesekan di atas permukaan
vaginanya, geli banget! Habis bulu kemaluannya rimbun banget sih.
"Ya teken Wan pelan-pelan..." aku ikutin, seret!
"Ayo coba terus, pelan pelan", aku ikutin. Pas kepala penisku sudah
kejepit, aku diam dulu, aku kiss bibirnya sambil tanganku terus
beraksi di atas buah dadanya. Setelah kupikir ok, aku konsentrasi,
aku tekan habis dan "Wannn... sakkith..." aku kaget. Aku berhenti
dulu, terus kulumat lagi bibirnya. Setelah tenang 1/4 penisku aku
masukan lagi, dia teriak lagi, kali ini aku sudah kesetanan. Aku
masukan semua sisa penisku, Ita mengangkat kepalanya dan menggigit
pundakku. "Enggghh", dia mengeluh. Aku istirahat dulu. Kuserbu buah
dadanya, kulumat habis, kusedot, kucupang kencang sekali, sampai
meninggalkan bekas. Pas aku mau kulum bibirnya dia taruh telunjuknya
di bibirku. "Wan, Ita bahagia malam ini, ini kali pertama Ita
bersetubuh, dan Ita bangga bisa ngasih keperawanan Ita sama orang
yang Ita kagumi." Hancur hatiku mendengar si Ita ngomong kayak gitu,
aku bengong!
"Sudah, ngapain bengong ayo terusin!" karena aku tidak bereaksi si
Ita yang ambil inisiatif. Dia angkat pantat dan berhula-hula,
lama-lama aku jadi mengikuti.
"Nnnaahh gitu donghh", aku maju-mundurin pantatku, selang sepuluh
menit,
"Ithhaa mmaauuu nyampppee..."
"Tungguiiinn aku sebentarrr lagiii." Kami terus bertempur, tiga
menit kemudian Ita jepit pinggangku sambil memelukku erat sekali.
Dan aku pun menyodok dia tidak kalah kencangnya,
"Tttaa... aahh..."
"Wannnhh... ouuggghh", kami sampai bareng dan terkulai sesudahnya.
Itu adalah true story-ku, itu yang pertama dan mungkin yang terakhir
aku main sama Ita, karena aku tidak mau merusak dia, aku sama dia
memang bukan jenis manusia rusak. |
|
|
|
|
|