|
Gairah kedewasaan |
Tahun 1994 yang lalu adalah saat pertama aku mengenal seks. Mungkin
kalian tidak percaya, tapi begitulah keadaannya. Saat aku duduk di
kelas 3 SMP (di sebuah SMP swasta terkenal di Surabaya), aku
memiliki seorang teman cowok bernama Kevin, sebut saja begitu. Kevin
dan aku selalu bermain bersama sejak kecil, mamaku dan mamanya
berteman saat masih kuliah. Jadi kami sering berekreasi bersama ke
Malang, Klaten, dan banyak tempat lainnya. Kisahku dimulai pada
waktu Kevin dan aku pulang sekolah. Saat itu aku dan dia menunggu
jemputan, karena kami berdua diantar dan dijemput oleh sopir dan
mobil yang sama.
Siang itu matahari bersinar terik. Anak anak sekolah yang lain sudah
mulai dijemput, beberapa dari mereka masih menunggu sambil membeli
jajanan murahan yang banyak terdapat di depan sekolah.
"Kev, kok Pak Di belum datang juga yah?"
Kevin menyeka keringatnya. Memandang sekeliling.
"Iya nih, biasanya sudah datang loh sekarang."
"Awas kalau datang... pasti deh kubilangin Mama." Kevin tertawa.
"Jangan begitu ah." Dengan tertawa aku memukul lengannya.
"Kalau begitu kamu saja yang kumarahin."
Aku bersyukur ada Kevin yang mau menemaniku melewati siang ini.
"Van, setelah ini kita SMA ya?"
"Umm.. iya nih. Mau masuk mana Kev?" Menyebalkan untuk memikirkan
hal ini.
"Nggak tau yah, mungkin ke **** (edited)"
Hhhh... sudah kuduga.
"Yaaa... pisah dong."
"Kamu serius mau masuk negeri?"
"Iya dong."
Sejenak kami terdiam. Aku tak tahu apa yang kurasakan saat itu.
Malam itu aku nyaris tidak bisa tidur. Pikiranku melayang-layang,
mungkin Kevin marah mengetahui aku lebih memilih untuk memasuki SMU
negeri. Dalam statusnya, memang lebih baik sekolah di swasta, tapi
buatku, kebosanan pada teman-temanku yang selalu memamerkan setiap
perjalanan mereka ke luar negeri selalu mendorongku untuk lebih
memilih sekolah negeri.
"Vanka, ditunggu Kevin tuh", teriak mamaku.
"Iya Maa..."
Cepat-cepat kukenakan bajuku. Sejenak kutatap diriku di depan cermin,
dan aku mulai bertanya-tanya, mungkinkah aku sudah bisa disebut
dewasa? Aku tinggi, buah dadaku sudah tumbuh, begitu juga dengan
bulu-bulu kemaluanku. Aku sudah puber, setidaknya 6 bulan yang lalu.
Apakah aku sudah dewasa? Aku pernah merasakan sangat gerah, tepatnya
2 hari yang lalu. Saat itu entah kenapa mendadak memijat-mijat
kemaluanku membuatku merasa sangat tenang dan enak. Aku sering juga
mengintip Papa melihat film-film orang dewasa. Dan aku bukan seorang
anak yang bodoh untuk tidak mengetahui apa yang kulihat. Banyak
majalah dan tabloid remaja sudah kubaca, dan aku merasa sudah cukup
mengetahui apa yang ingin kuketahui. Aku sudah dewasa, demikian aku
memutuskan, sebelum aku tersadar dan segera lari menuruni tangga
menemui Kevin.
Hari ini Kevin mengajakku nonton di Delta, bersama dengan
teman-teman yang lain.
"Vanka... ummm... aku suka kamu."
"Huh?"
"Iya, aku suka kamu. Aku nggak pingin kamu pergi."
"Kamu lucu deh."
Sejenak kulihat ia terdiam, menghela nafas panjang.
"Aku juga", kubisikkan kata itu di telinganya.
Benarkah? Entahlah.
"Aku kan nggak sekolah di Afrika."
Kevin tertawa. Aku juga. Yup, aku juga suka Kevin.
Mungkin kekhawatiranku yang memicu kejadian ini. Entahlah. Tapi
masih terbayang di benakku bagaimana dengan malu-malu Kevin mencium
bibirku sebulan yang lalu, rasanya aku mendadak sangat dewasa. Jadi
aku membiarkan saja dia mengulum bibirku, lagi pula aku sangat ingin
mengetahui rasanya. Ternyata selain getir dan kenyal, enak juga. Aku
juga membiarkan Kevin meletakkan tangannya di dadaku malam itu,
rasanya geli dan sedikit menakutkan, tapi selebihnya, asyik-asyik
saja. Namun kegelisahanku membuyarkan rasa enak di benakku saat
Kevin meraih kancing bajuku dan berusaha membukanya.
"Kev, ngapain sih."
"Ahh... sorry. Maaf..."
Aku melihat wajahnya memerah, dan astaga, dia menangis.
"Vanka, aku cowok yang lemah... maafkan aku."
Kevin bangkit berdiri dan meraih tombol lampu.
"Kev..."
Kevin menghampiriku dan mendadak terduduk dan memeluk lututnya. Ia
menangis lagi.
"Kevin..." kataku.
Kupandangi wajahnya, lalu dia menatapku. Kemudian dia mendekati
wajahnya ke wajahku dan akhirnya bibir kami bertemu. Kami berciuman
lama, dia mencium lembut bibirku dan sambil tangannya memegang buah
dadaku dan meremas-remasnya. Terasa nikmat sekali rasanya. Aku
membiarkan saja Kevin membuka kancing-kancing bajuku. Juga kubiarkan
ia melepaskan bajuku.
Kevin membuka bajunya, dan aku merasakan tubuhku bergetar saat ia
menyentuh jepitan bra-ku dan melepasnya. Sekarang aku dapat
merasakan kehangatan kulitnya di dadaku, kami mendesah berbarengan.
Jantungku terasa berdegub kencang, antara takut dan rasa ingin tahu.
Kevin meletakkan telapak kirinya di dada kiriku, perasaan nyaman dan
hangat kurasakan saat ia menggerak-gerakkan jemarinya memijat dan
menekan. Sejenak pikiranku terbayang kepada film-film yang sering
kulihat dari balik pintu. Apakah begini rasanya? Aku diam saja saat
Kevin mangangkat rok sekolahku. Lalu dia meletakkan tangannya di
kemaluanku. Kemudian dia menyelipkan jarinya ke balik celana dalamku.
Sambil bibirnya diletakkan di buah dadaku. Oh Tuhan, begitu bodohnya
aku untuk menikmati saat itu.
Aku hanya bisa melihat saja saat Kevin membuka kancing celananya.
Selanjutnya aku tak ingin melihat lagi. Mungkin karena saat itu aku
merasa sangat malu. Namun yang kuingat saat itu, Kevin menarik
celana dalamku ke bawah, dan membiarkanku merasakan ketelanjanganku.
Selanjutnya ia membiarkanku sendiri beberapa saat, (aku tak tahu apa
yang dilakukannya hingga beberapa hari kemudian setelah kejadian ini).
Sejenak aku terhenyak saat sesuatu yang keras menusuk kemaluanku.
Aku menjerit kecil dan membuka mataku lebar-lebar, sehingga aku
dapat melihat raut wajah Kevin yang penuh keringat dan tampak merasa
sangat bersalah.
Argumen-argumen yang dikeluarkan Kevin saat itu membuat hatiku kacau
balau, antara norma-norma yang kupelajari dari agama dan kedua
orangtuaku, dengan segala rasa ingin tahu yang kurasakan saat itu.
Namun aku membiarkan saja rasa sakit itu menusuk-nusuk perutku.
Perutku mengejang saat Kevin menekan-nekan barangnya ke kemaluanku,
dan menggesek-gesekkannya, membuatku merasakan perih yang amat
sangat. Kevin menciumi hampir separuh badanku bagian atas, membuatku
menjadi gerah dan merasa basah. Aku tak tahu apa yang harus
kuperbuat, rasa perih di pangkal pahaku membuat rahangku terasa kaku
dan aku berusaha menggapai-gapaikan tanganku ke segala arah, mencari
dan mencengkeram apa yang bisa kucengkeram.
Beberapa saat kemudian aku merasakan sesuatu menyembur ke permukaan
perutku, dan kudengar Kevin menggeram lirih. Aku merasakan
gerakannya berhenti, dan kemudian Kevin menjatuhkan kepalanya di
dadaku, aku tak tahu apa yang terjadi (baru beberapa hari setelahnya
aku tahu, dan sekarang mungkin aku akan tertawa mengingatnya).
Mungkin itu merupakan sebuah pengalaman yang bisa dikatakan
pengalaman pertama buatku dalam mengenal seks. Namun, aku baru sadar
(dan sedikit mensyukuri saat itu), bahwa ternyata aku belum
kehilangan keperawananku. Mungkin karena aku ketakutan, atau mungkin
karena Kevin merasa putus asa. Akhirnya, Kevin dan aku benar-benar
berpisah menjelang kenaikan kelas dari kelas 1 ke kelas 2 SMU, dan
seperti yang diduga sebelumnya, ia memilih memasuki SMU swasta,
sedangkan aku tetap di pilihanku semula, yaitu di SMU negeri. Terus
terang saja aku sekarang telah kehilangan keperawananku, dengan
temanku sekampus. Tapi, satu hal yang masih kuingat dan kujadikan
memori indah, yaitu bahwa Kevin, temanku yang tersayang, merupakan
cowok yang bisa mengajakku melakukan pendidikan seks untuk yang
pertama kali, walaupun belum berhasil 100%. Love you Kevin, dan ia
sekarang sudah di USA bersama keluarganya, semenjak kerusuhan tahun
1998. Seandainya kamu membaca ini. |
|
|
|
|
|