|
Jay, sahabat terbaikku |
Aku mengenalnya sejak pertama kali kuliah. Saat itu aku sedang
melakukan pendekatan dengan Chie. Perkenalan kami sangat singkat,
namun dari tatapan mata masing-masing aku dan dia langsung menyelami
arti sebuah keakraban. Karena seperti kata pepatah kuno, hanya setan
yang mengerti setan. Waktu itu Jay juga sedang mengejar Chie. Jadi
kami memutuskan untuk fair-play. Ah, memang teman lebih berharga
daripada pacar. Akhirnya kami bersepakat untuk mengabaikan Chie yang
kemudian mengamuk dan memutuskan untuk mengikrarkan tali
persahabatan antara kami bertiga.
Jay, kembaranku.
Jay, sahabat terbaikku.
Chie adalah gadis penuh pesona. Gadis yang satu ini sangat unik.
Jarang mungkin kita melihat seorang gadis indo dengan kulit putih,
hidung mancung dan rambut kemerahan duduk menghabiskan waktu bersama
teman-temannya di warung sate di pinggir jalan, dengan celana jeans
sobek di lutut dan tangan yang melambai-lambai ke segala arah,
setiap kata-kata riang keluar dari bibirnya. Itulah Chie. Gadis kaya
yang lebih suka naik becak daripada Mercedes. Yang lebih suka minum
es dengan murahan daripada minuman-minuman mahal yang tersedia di
kafe-kafe. Itulah sahabatku, gadis cerewet yang berbicara seperti
kereta api, yang kukenal sejak penataran mahasiswa baru. Chie,
sederhana di balik gemerlap kehidupannya. Chie, gadis penuh pesona.
Januari 1999
"Raaayy! Selamat ulang tahun..!" Jay memukul kepalaku dengan sisi
organizernya.
"Ach," erangku.
"Sial lu, Jay."
Jay tertawa, mengambil tempat di kursi di depanku, menatapku lekat
dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.
"Ray, tambah tua aja lu."
Aku tertawa dan menghisap Marlboro di jepitan bibirku dalam-dalam,
tersedak saat sesuatu menutupi mataku.
"Raay! Siapa coba?"
Kudengar tawa Jay beriring tawaku sendiri. Kuangkat telapak tangan
di mataku, menariknya ke depan sehingga pipi gadis itu menyentuh
pipiku.
"Hadiah ulang tahun yang indah..." tawaku.
"Hei! Hei!" Jay berteriak gaduh.
Sementara kurasakan cubitan jari-jari mungil itu di pipiku.
Malang, pukul 01:15 WIB
Aku menikmati udara malam pegunungan ini, seakan-akan aku sendirilah
yang memegang peranan hantu dalam kegelapan ini.
"Ray!" Sebuah suara lirih berbisik di telingaku.
"Chie sudah tidur."
Kupalingkan wajahku, menatap Jay yang sudah duduk di sebelahku. Jay
menatap kerlipan lampu kota di bawah kaki kami. Aku dapat melihat
alis matanya yang berkerut.
"Untukmu?" senyumku sambil menatapnya.
Jay berpaling, menatap pandanganku. Bibirnya sedikit terbuka. Jay
menolehkan kepalanya ke arah mobil. Tertawa kecil.
"Ah.. terima kasih," suaranya terdengar sendu, "Kamu?"
"Aku sudah menimbang-nimbang," jawabku.
"Kamu lebih serius, kan?" Jay menatap lekat pandangan mataku. Aku
hanya tertawa saat kepalannya menyentuh lenganku.
"Thanks, but no thanks."
Kami tertawa berbarengan. Dan kubiarkan Jay larut dalam lamunannya.
Ah, Jay. Masih banyak gadis untukku. Dan hanya satu gadis untukmu.
Seandainya hal ini benar, mungkin pelabuhanmu sudah dekat di depan
mata.
Sementara aku pun akan tetap tenggelam dalam tarian jemariku di atas
tuts-tuts mesin tik tua kesayanganku, dan gadis-gadisku tentu saja.
Dari sudut mataku, kulihat gadis itu meringkuk di jok belakang.
Wajahnya melukiskan kebahagiaan dan ketenangan. Di sebelahku, Jay
menikmati kepulan asap rokoknya yang membuyar di balik dedaunan
pohon yang mengelilingi kami.
Surabaya, pertengahan Mei 1999
Kupeluk tubuh itu erat-erat. Merasakan kehangatan air matanya yang
membasahi dadaku.
"Ray..." kudengar gadis itu meratap terisak dalam dekapanku.
"Chie, sudahlah."
"Ray, Papa udah nggak ada."
Kuusap belakang kepalanya, menekan tengkuknya, berusaha
melegakannya.
"Ray tahu."
Chie menangis dalam pelukanku, membuatku sejenak mengingat ayahku
sendiri yang selalu berkutat dalam pertempurannya dengan idealisme
yang kumiliki. Terkadang aku membayangkan bagaimana rasanya
kehilangan seorang ayah. Mungkin aku takkan sesedih Chie, mungkin
juga.
"Ray! Di dalam saja!" Mama Chie memanggilku masuk.
Kupeluk pundak Chie dan menggandengnya, merasakan tubuh itu
menggigil di lenganku.
Saat itu aku sangat ingin memarahi Jay. Sebagai seorang kekasih dan
seorang teman, tidak seharusnya ia meninggalkan Chie seperti ini,
dan sekedar meneleponku untuk menyampaikan, "Ray, maaf aku tidak
bisa ke rumah Chie. Aduh. Aku benar-benar ada masalah dengan Papa,
jadi aku nggak bisa keluar." Ah, hanya segitu saja? Jay. Terkadang
aku menyesal menyerahkan Chie kepadanya. Seandainya aku...
Surabaya, awal Juni 1999
Persiapan ujian benar-benar membuat kami sibuk. Aku mulai
berkeliling kota mengumpulkan foto copy makalah dan paper yang
dibutuhkan. Aku memang malas kuliah, aku harus mengakuinya. Yah, aku
sudah merasa cukup senang dengan kehidupanku sekarang tanpa harus
terbebani kuliah seperti orang-orang kebanyakan yang lebih memuja
akademik daripada skill.
"Halo?"
"Ray?"
"Oh, Chie. Ada apa? Kok malam-malam?"
Sejenak keheningan terdengar dari seberang, membuatku
bertanya-tanya.
"Aku... aku kangen Papa," suara gadis itu terdengar gemetar.
Ah, Chie. Masih tetap larut dalam kesedihannya.
"Aku besok ujian, Chie."
Kulihat jam dinding yang menunjukkan pukul 23.30 malam.
"Ray..."
Ah! Selalu seperti ini.
Rumah Chie terlihat sedikit gelap. Kuparkir mobilku di depan
pekarangan rumahnya. Chie melambaikan tangannya dari atas balkon.
Wajahnya terlihat berseri-seri, membuatku sedikit mendongkol karena
masuk dalam jebakannya. "Hihihi, ada Ray." Chie mencondongkan
kepalanya ke depan dari balik pagar dengan sikap manja. "Pulang
dulu, ya?" ucapku, membuatnya menarik kepalanya dan meruncingkan
bibirnya. Kuulurkan tanganku ke sela jeruji pagar, menarik pipinya,
membuatnya mengerang, membuka pagar dan memukuli pundakku.
"Ray, bagaimana menurutmu tentang keperawanan?" Ahk. Nyaris saja
kopi susu itu keluar dari mulutku dan membasahi foto copy makalah di
atas meja.
"Hah? Kenapa dengan itu?"
Chie terdiam sesaat, menghentikan gerakan ballpoint di tangannya.
"Chie?" tanyaku.
"Nih, rokok."
Chie menyambar bungkus Marlboro di tanganku dan membuangnya ke sudut
ruangan. Menjentikkan jemarinya memanggil saat aku tergopoh-gopoh
memungut rokok mahalku sambil menggerutu.
"Dasar! Siapa suruh diam," kataku setelah mendudukkan diriku di
sampingnya, dan menyimpan bungkus rokok itu di tempat yang aman.
"Ah, Ray," Chie mendesah.
"Aku hanya bertanya," kata Chie.
"Masalah apa?" tanya Ray.
"Yang tadi itu," kata Chie.
"Chie, bagiku keperawanan itu sama saja bagi semua orang.
Keperawanan itu datang dari hati, bukan dari sekedar selaput dara
ataupun yang biasa disebut orang-orang darah malam pengantin."
Kunyalakan batang rokok di sudut bibirku.
"Seandainya saja pikiran kita sudah lebih terbuka, mungkin Indonesia
sudah kehabisan perawan. Hahahaha..."
Tapi Chie hanya terdiam, memeluk kedua lututnya. Membuatku salah
tingkah dengan kegelianku sendiri. Sial benar.
"Ray..."
"Ya?"
"Kukira aku sudah tidak perawan lagi..."
Surabaya, Keesokan Harinya
Kucengkeram kerah baju Jay dalam genggamanku, dan mengangkat
kepalanya mendekatiku,
"Maksudmu apa?" desisku berang.
Jay memandang mataku, dan melengos ke arah lain.
"Maaf, Ray."
"Hanya maaf?" Gertakku sambil mengguncang kerah bajunya.
"Cukup segitu?"
Jay terdiam. Kulepaskan kerah bajunya.
"Kenapa tidak terus, Ray?"
"Aku... aku akan membiarkanmu dalam dosa-dosamu."
Kulangkahkan kakiku meninggalkannya. Meninggalkan Jay.
Meninggalkan...
"Ray," Jay berseru di belakangku, "Ingat, sobat. Inilah kita."
Aku tak mau menoleh. Aku tak ingin mendengarnya. Ucapan itu sangat
pahit dan mengena. Dan karena itu pulalah aku tidak menghajarnya,
walaupun itu adalah tujuanku sejak semula. Aku juga seperti dia.
Seperti Jay. Sibuk mendoktrin gadis-gadis tentang kenikmatan
free-sex. Sibuk memburu keperawanan bidadari-bidadari lugu. Tapi
bukan Chie. Karena Chie adalah seorang sahabat. Bukan gadis yang
berhak masuk dalam katalogku. Setan, umpatku dalam hati. Dan itulah
Jay, kembaranku, sobat terbaikku.
Surabaya, awal Agustus 1999
"Chie..."
Kurasakan nafas Chie yang memburu saat mulutnya melumat bibirku dan
jemarinya membuka kancing-kancing bajuku.
"Chie, jangan!"
Chie mendesah. Menghentikan lumatan bibirnya, menjatuhkan kepalanya
di dadaku. Air mata mulai membasahi dadaku yang terbuka.
"Chie..." desahku, mengusap ubun-ubun kepalanya.
"Ray..."
"Hmm..."
"Kamu pikir akan ada yang mau menikahiku kelak?"
Ah, Chie. Pertanyaan yang sangat sukat untuk kujawab. Apalagi di
saat-saat seperti ini. Di saat aku pun berjuang melawan desisan hawa
nafsu yang bergejolak dalam diriku.
"Ray..."
"Ada, pasti ada suatu saat nanti," desahku.
"Seorang cowok keren dengan pikiran terbuka?"
"Minimal bule, deh."
Kurasakan Chie meremas lenganku, memberikan respon atas guyonanku
yang nyaris tidak pada tempatnya.
"Bule? Kalau kamu?" Chie menghela nafasnya.
Aku, aku? Ah.
"Iya."
"Sungguh, Ray?" Chie mengangkat kepalanya, senyumnya mengembang di
sela air mata yang mengaliri pipinya.
"Tentu, seandainya Enni sudah menikah dengan orang lain dan aku
masih belum bisa menemukan pelabuhanku."
Chie meruncingkan bibirnya, dan menjatuhkan kepalanya kembali di
dadaku. Menggerakkan telunjuknya menelusuri garis-garis dadaku,
membiarkanku tertawa kecil.
"Kamu sama saja dengan mereka, Ray. Egois."
Tuduhan itu membuatku terdiam. Benarkah?
"Ray, kamu tahu?"
"Apa?"
"Masalah Jay. Waktu itu... aku yang memintanya."
"Ah?"
Surabaya, Keesokan Harinya
"Ray, si pemburu. Menemuiku dan meminta maaf?"
Kutatap mata Jay, mencoba menyelami perasaannya, sama seperti dulu.
Namun yang kutemukan bukanlah pancaran liar dan haus yang biasa
kurasakan saat-saat kami masih bersama. Ini pancaran yang jauh lebih
dewasa, yang membuatku merasa demikian kecil di hadapannya.
"Jay, Chie menyuruhku ke sini. Aku butuh penjelasan."
"Sayang, emosimu membuyarkan penjelasanku waktu itu."
"Maaf," desahku, bahkan kini aku pun tak mampu memandangnya.
"Hanya maaf?" Jay tertawa.
"Cukup segitu?" tanya Jayu lagi.
Ironis. Namun aku tak tahu harus tertawa ataukah menangis mendengar
sindiran itu.
"Entahlah.." sahutku lirih.
Jay bangkit berdiri, menuju ke sudut ruangan dan mengangkat gagang
telepon. "Hallo?"
Hening sesaat merasuki suasana.
"Ray? Oh dia ada di sini, ke sini saja. Sepi kok!" Jay tertawa
kecil.
Huh?
"Kalian berdua. Aku menyayangi kalian."
Chie mengangkat kedua lengannya, meraih dan memeluk kami berdua
dalam dekapannya. Aku sedikit terguncang. Chie. Beginikah perasaanmu
sesungguhnya?
"Aku merindukan saat-saat ini."
Kulihat Jay tersenyum dan memejamkan matanya. Aku merasa bingung,
terlalu banyak rahasia yang masih tidak kupahami selama dua bulan
ini.
"Aku akan berangkat ke Australia akhir Oktober."
Aku terenyak, mengangkat tubuhku dan menatap matanya bertanya-tanya.
Jay terlihat diam, matanya masih terpejam.
"Chie akan menikah enam bulan lagi."
Ah? Bahkan aku pun tidak tahu?
"Bisnis," Chie mendesah.
"Ah.. ah...?"
Chie merasakan kebingunganku.
"Jay, pinjam kamarnya."
Jay hanya tersenyum, matanya masih terpejam. Jay, kenapa dia bisa
setenang itu, kenapa seakan ia tidak mau melihat apa yang sedang
terjadi?
"Ray, aku sayang kamu," Chie memelukku dengan kedua lengannya.
"Aku juga, Chie. Tapi..."
"Sshhh... mohon jangan menolakku sekarang."
Chie mengecup bibirku, meraih tombol lampu, membiarkan kegelapan
menyelimuti kami berdua.
"Chie.." desahku.
Chie mendekap mulutku dengan bibirnya, menjatuhkanku di samping
tempat tidur.
"Aku ingin bercinta denganmu, Ray."
"Jangan, Chie!"
Kupegangi kedua pundaknya, menjauhkan kepalanya.
"Sebelum aku menjadi milik bule. Ingat?" Senyumnya mengembang.
Bule? Ah, Chie. Itukah sebabnya kamu diam saja mendengar selorohanku
tempo hari? Dan aku tak bisa menolak ketika Chie mulai menciumi
leherku dan membuka retsleting celanaku, menelanjangiku,
membiarkanku mendesah saat jemarinya menyentuh batang kemaluanku.
"Sentuh aku, Ray!" desahnya di dadaku.
Kusentuh tubuh indahnya, membantunya melepas baju dan branya. Nafsu
sudah memenuhi rongga-rongga kepalaku, membuatku terengah dan
mendesah saat rabaanku menemukan kemaluannya di balik roknya yang
tersingkap.
"Chie.."
"Aku sayang kamu, Ray."
Kuterlentangkan tubuhnya, kuciumi buah dadanya yang telanjang,
menikmati gesekan kemaluan kami yang beradu.
"Ray..."
Chie mengerang lirih saat batang kemaluanku menusuk liang
kemaluannya. Kunikmati setiap bagian kemaluanku yang mendesak masuk.
Sempit, hangat. Kaki-kaki Chie mulai melingkari pinggulku yang
bergerak-gerak menekan. Erangan dan desahan nafas kami terdengar
memenuhi ruangan. Kunikmati kehangatan liang kemaluannya saat batang
kemaluanku menyesakinya, menggerak-gerakkan pinggulku, meresapi
segala rasa yang dihadirkannya dalam sanubariku. Kugigit bibirnya,
merasakan kepalanya yang terangkat dan cengkeraman kuku-kukunya di
kulit punggungku.
"Chie.. aku mau keluar.."
"Di dalam, Ray.."
"Jangan!"
Chie mempererat rangkulan kaki-kakinya di pinggulku, mengangkat
pinggulnya dan menekannya kuat-kuat, batang kemaluanku sekejap nyeri
merasakan tekanan itu, dan tanpa bisa kutahan lagi, kepalaku
terangkat dan spermaku tersembur keluar.
"Chie..." erangku tertahan, mataku terpejam.
Kurasakan otot-ototku menegang dalam kenikmatan yang kurasakan. Demi
Tuhan. Baru kali ini aku menyemburkan spermaku di dalam liang
kemaluan seorang gadis. Betapa aku menikmati ketakjuban perasaan
yang dibawanya. Perasaan yang hilang saat aku terpaksa menarik
keluar batang kemaluanku dan menyemburkannya di atas perut
gadis-gadis itu.
"Ray.." Chie mendesah lirih saat bibirnya menyentuh bibirku.
Kukecup bibirnya dengan lembut. Betapa aku sangat menyayangi gadis
ini.
"Ray, masih ingat kamu pernah berkata bahwa kamu hanya mau
berhubungan seksual dengan gadis yang bukan perawan," Chie tertawa
kecil.
"Ray, Aku masih perawan."
Ah! Aku tertawa kecil. Sudah kuduga. Aku bukanlah seorang bodoh yang
tak bisa membedakan perawan dengan tante-tante. Kini semua rangkaian
cerita sudah lengkap.
Akulah Ray. Si pemburu gadis-gadis perawan. Mengembangkan otakku
untuk memperawani mereka. Tanpa mereka sadari. Aku yang pantang
bercinta dengan perek dan pelacur. Akulah Ray.
Kuusapkan keringat di wajahku ke kulit dada gadis di bawahku,
sebelum aku bangkit berdiri dan memunguti pakaianku, mengenakannya,
dan meninggalkan ruangan gelap itu, sesaat setelah Chie merangkulku
dari belakang.
"Ray, aku menyayangimu."
Ah, Chie. Aku pun juga. Jangan katakan lagi. Itu menyakitkan.
Jay menunggu di ruang tamu. Matanya menatapku saat aku keluar dari
kamar. Jay bangkit berdiri dan menghampiriku. Kutunggu saat-saat
kepalannya menghajarku. Namun sebuah tepukan di pundakku membuka
mataku. "Ray, kapan aku bisa mengalahkanmu?" Jay tersenyum pahit.
Kurangkul dia dan kubiarkan air mataku membasahi bahunya.
Penutup
Jay menyukai Chie. Ia serius. Aku dapat merasakannya dari setiap
pertemuan kami, dan aku menghargainya. Karena bagiku Chie tak lebih
dari sekedar bunga mawar yang jingga di antara kumpulan bunga-bunga
mawar merah di kebunku. Chie menerima Jay menjadi kekasihnya, dan
itu membuatnya menipu perasaannya sendiri. Karena Chie lebih
memilihku. Sayang. Seharusnya aku sudah bisa menduga
ketidak-harmonisan hubungan mereka ketika ayah Chie meninggal dunia.
Tepat siang itu mereka berdua sudah memutuskan untuk mengakhiri
kemunafikan itu. Tapi Jay dan Chie tidak bercerita padaku, mungkin
takut mendapatkan respon negatif dariku. Chie lalu bercerita pada
Jay mengenai acara pernikahannya dengan anak rekan bisnis ayahnya
dari Australia untuk menyambung eksistensi bisnis peninggalan
ayahnya. Chie juga bercerita padanya (aku tak tahu bagaimana
perasaan Jay saat itu) bahwa ia ingin menyerahkan keperawanannya
padaku, sebelum menjadi milik orang yang sama sekali asing baginya.
Oh God.
Jay memang harus diakui memiliki hati dan jiwa yang sungguh luar
biasa. Jay malah menawarkan pada Chie untuk membantunya, karena Jay
sadar, untuk mendapatkanku adalah hal yang sangat susah untuk
dilakukan, apalagi oleh Chie seorang diri. Jadi mereka mulai
menyusun rencana. Chie memanfaatkan salah satu prinsipku, yaitu
bahwa aku takkan berhubungan seksual terang-terangan dengan gadis
yang masih perawan, sehingga ia mencoba membuatku percaya bahwa ia
sudah tidak perawan lagi. Dan untuk itu Jay bersedia berkorban,
karena hanya dialah yang terdekat dengan Chie, selain aku. Ah, Jay.
Dua bulan lamanya Chie berusaha merayuku untuk melakukan hubungan
seksual, namun yang didapatinya hanyalah keteguhan hatiku dan
penolakanku, aku mengakui, bahwa aku sering tergoda dan nyaris tak
berdaya, namun kenangan atas persahabatan itulah yang mungkin kurang
diperhitungkan oleh Chie dan Jay. Aku mengasihi mereka.
Malam itu, saat Chie mengakui bahwa ialah yang meminta Jay
memperawaninya, Chie rupanya sudah berputus asa merayuku, dan
akhirnya mencoba membangkitkan emosiku. Bukan emosi terhadap Jay,
melainkan terhadap dirinya. Sehingga aku, entah bagaimana,
terpancing untuk datang ke rumah Jay demi menuntut penjelasan. Dan
entah kenapa pula aku mau melakukan hubungan seks itu dengan Chie.
Aku tahu ia masih perawan. Aku tahu itu, aku bukan seorang bodoh.
Namun kata-kata "bule" itu menambah emosi yang memang sudah
terpancing sebelumnya. Dan perbincangan dengan Chie sebelumnya akan
makna keperawanan membuatku semakin hanyut dalam percintaan itu.
Akhirnya Chie berhasil mendapatkanku. Sesaat setelah percintaan itu,
aku mulai bisa menebak berkas-berkas fakta yang sebelumnya terasa
begitu gamang. Dan itulah yang membuatku tertawa. Tertawa paling
pahit yang pernah kudengar dari mulutku.
Chie, sekarang sudah menjadi istri pengusaha kaya raya, dan bule.
Aku sendiri juga heran, kenapa setelah saat itu Chie tidak
mengandung anakku. Entahlah, itu urusan wanita. Dan aku masih sering
menghubunginya. Aku bangga, karena suaminya adalah seorang bule yang
benar-benar bule, yang "open minded". Chie memiliki seorang anak dan
anak itu bernama depan Ray. Pahit dan menyenangkan. Chie tak pernah
masuk ke alam daftar gadis-gadisku. Karena ia adalah temanku,
sahabatku, orang yang kukasihi.
Jay? Jay sekarang ada di sebelahku, dengan rokok Dji Sam Soe kretek
di bibirnya. Berteriak-teriak protes di sisi kupingku, karena
menurutnya, seandainya saja saat itu tidak ada rencana yang sudah
terbentuk, ia pasti sudah melayangkan bogem mentahnya ke rahangku.
Kami masih sering berkelana di dunia fana, menemani hantu-hantu
malam yang berkeliaran di naungan kepak-kepak sayap cinta dan kasih
sayang, mengembangkan layar mencari pelabuhan perhentian kami.
Kami bertiga masih berteman. Sampai sekarang.
Ray, pemuja kasih dan seorang pecinta.
Jay, kembarannya, dan sahabat terbaiknya.
Chie, sederhana dalam gemerlap, gadis penuh pesona.
RAY, dan JAY.
Chie... We love you.
Kasih, pengorbanan dan kesabaran cinta, keinginan dan ego manusia
cinta sejati, cinta dan kasih yang berpelukan. |
|
|
|
|
|