|
Ita, sahabat kantorku |
Cerita ini dimulai ketika aku bersama 2 orang teman sekantorku
mendapat training ke Singapura untuk mempelajari produk software
baru. Kami bekerja di Bank Swasta terkenal di bagian Information
Technology.
Aku, Edwin dan Ita menginap di Hotel Orchard di Orchard Road, Aku
dan Edwin satu kamar sharing di Lantai 10. Sedangkan Ita di Lantai
6. Setibanya di Hotel kami beristirahat sejenak, kemudian kami
bertiga melakukan survey tempat lokasi training untuk hari senin
esoknya. Ternyata tempat training kami tidak terlalu jauh dari
tempat kami menginap, dari Hotel kami jalan ke station MRT Orchard
dan berhenti di station MRT Bugis..., kemudian dapat melanjutkan
dengan berjalan kaki.
Selesai meninjau tempat training kami kembali ke Orchard, di tengah
perjalanan Ita bertanya kepadaku.
Ita: "Ricky kamu tahu gak..., tempat jual kondom yang aneh-aneh di
Singapore".
Aku: "Oh tahu gue..., itu dekat Lucky Plaza..., lu mau ke sana?"
Ita: "Iya donk ke sana yuk kita lihat-lihat", Kata Ita antusias
sekali.
Edwin: "Ngapain ke sana..., jauh-jauh di Jakarta juga banyak."
Ita: "Yang disini lain..., banyak yang aneh-aneh".
Aku: "Iya..., deh Win..., kita lihat saja kesana..., lagian lu
ngapain bengong di hotel".
Akhirnya kami bertiga ke condo di Lucky Plaza. Ita membeli kondom
yang bisa menyala kalau malam. Sedangkan Edwin acuh tak acuh...,
karena dia memang type aliran lurus tidak suka yang aneh-aneh,
sedangkan Ita aku perhatikan, sepertinya sangat senang melihat
barang-barang di sana. Matanya tampak mengawasi boneka berbentuk
alat kelamin pria, dia sepertinya ingin beli, tapi malu sama Edwin.
Setelah itu kami bertiga menelusuri mall-mall sepanjang Orchard
Road, Isetan, Takasimaya dll. Tak terasa kami bertiga sudah
mengelilingi pertokoan hampir 3 jam, dan hari sudah sore.
Ita: "Aduh kaki gue, pegal banget deh..., ngaso dulu yuk".
Kami bertiga berhenti dulu sambil duduk dan merokok di taman. Wah,
pemandangan di Orchard asyik-asyik. cewek di sana memakai bajunya
berani..., paha dan tonjolan buah dada rasanya sudah hal biasa di
sana.
Sedang asyik-asyiknya melihat tonjolan 'kismis' di baju cewek yang
lewat, mendadak Edwin mengajak pulang, "Yuk Rick kita balik ke
Hotel".
Ita tersenyum mengejekku, "Elu ganggu si Ricky aje..., Win..., orang
lagi nikmat-nikmat ngeliat pemandangan".
Waduh ketahuan saya lagi ngeker oleh Ita.., ternyata dia
memperhatikanku dari tadi.
Edwin: "Habis gue bosan..., dari tadi cuma duduk-duduk doang...,
mendingan balik ke Hotel..., bisa tidur bisa ngaso".
Ita: "Sebentar lagi deh Win..., gue kagak kuat jalan..., kalau
dipijitan nikmat kali yach?".
Aku: "Boleh entar gue pijitin deh, tapi bayarnya berapa?".
Ita: "Sambil tersenyum menggoda..., tapi pijitinnya nikmat kagak?".
Aku: "Dijamin merem-melek deh..., saking asyiknya".
Ita: "Huh..., Gombal".
Aku: "Tidak percaya boleh coba".
Ketika Jam sudah menunjukkan pukul 19:30 perutku terasa lapar
sekali, aku ajak Edwin keluar untuk mencari makan di luar. Dia
menolak alasannya capek. Lebih baik pesan di restauran hotel aja aku
bel Ita, dia mau tapi kakinya pegal-pegal. Aku rayu dan kubilangi
nanti dipijitin deh.
Ita: "Benar yach..., awas kalau bohong".
Kami bertemu di Lobby, Ita memakai baju kaos yang lehernya rendah
sekali sehingga tampak buah dadanya yang putih dan kenyal. Di tengah
perjalanan aku coba menggandeng tangan Ita waktu menyeberang jalan,
dia tidak menolak. Permulaan yang baik kataku dalam hati. Sewaktu
perjalanan pulang ke hotel Ita menempelkan tubuhnya ke badanku,
sambil berkata: "Rick..., gue sudah kagak kuat jalan nich.
Aku: "Mau gue gendong".
Ita mencubit perutku, "Dasar laki-laki cari kesempatan aje", sewot
Ita
Aku: "Bukan cari kesempatan, tapi gue mau tolongin kamu".
Akhirnya kami berdua jalan sambil berpelukan. Tangan Ita memeluk
pinggangku dan tanganku memeluk pinggang Ita
Wangi parfum dari tubuh Ita membangkitkan naluri kelaki-lakianku.
Tanpa kusadari penisku mulai bereaksi bangkit berdiri. Tanganku
mulai jahil dan turun perlahan-lahan ke pantat Ita, yang padat dan
bulat. Aku lihat respon Ita apakah dia marah?, ternyata diam saja.
Wah, sepertinya dia mau juga pikirku sehingga aku makin berani saja.
Saat kami berdua di lift, tanganku merayap lagi dan menelusuri
pantat Ita dan mengikuti alur celana dalamnya. Dia diam saja. Aku
makin berani saja dan kucoba bergerak ke pangkal pahanya. Tiba-tiba
dia bereaksi mencegah perjalananku menuju sasaran sambil berkata,
"Eit..., Jangan nakal yach", tapi tanpa ada ekpresi marah dari
wajahnya. Akhirnya Ita berhenti di lantai 6, kembali ke kamarnya
sedangkan aku ke Lantai 10
Setiba di kamar kulihat Edwin sedang tiduran sambil membaca buku.
Aku menonton TV sambil berbaring dan melamun bagaimana caranya untuk
mendekati Ita. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 22:00,
kulihat Edwin mulai mengantuk. Aku mencoba tidur tapi tidak bisa
karena pikiranku sudah dipenuhi fantasi-fantasi aroma parfum Ita,
yah bukit kembarnya yang bulat terawat walupun dia sudah mempunyai
anak 3 orang. Juga pantatnya yang wow kalau dipegang sepertinya bisa
mem-ball. Wow, pokoknya nikmat di coba.
Dari pada pusing-pusing akhirnya aku keluar kamar mau merokok,
karena Edwin tidak merokok. Sehingga tidak enak kalau aku merokok di
kamar. Sambil menghisap asap rokok aku memutar akal bagaimana
caranya agar bisa kencan dengan Ita yang jinak-jinak merpati,
sepertinya nurut, tapi bikin panasaran. Akhirnya aku mendapatkan
ide.
Aku naik ke lantai 6 dan aku tekan bel kamar 606...,
ting-tung-ting-tung tidak lama kemudian pintu dibuka setengah dan
Ita melongok dari dalam. Waduh..., Ita sudah memakai baju daster
yang tipis, dimana di bawah cahaya lampu tampak lekuk tubuhnya yang
aduhai seolah-olah hanya mengenakan BH dan celana dalam saja, makin
membuat dadaku sesak napasnya.
Ita: "Ada apa Rick?".
Aku: "Gue sakit perut nich..., lu ada obat gak?".
Ita: "Elu sich makannya rakus", kemudian dia mempersilakan aku masuk
Sewaktu dia hendak mengambil obat dia membelakangiku. Tampak
punggungnya yang putih mulus, ingin rasanya aku mencium punngung
tsb.
"Nich Rick minum ini", dia memberi obat Pao Chee Pill..., aku
sebenarnya tidak sakit perut, tapi demi misi dan tujuan aku tenggak
saja obat tsb.
Ita: "Elu belon tidur Rick?"
Aku: "Belum Ta..., susah nich tidurnya".
Ita: "Edwin sudah tidur?"
Aku: "Udeh kali..., dia tadi gue lagi keluar aje..., sudah mau
molor.
Ita: "Gue juga kagak bisa tidur..., kaki sama badan pegal semua...,
kaya habis kerja bakti.
Ita kayanya mancing soal pijit-memijit lagi.
Aku: "Udeh sini gue pijitin..., bayarnya makan siang besok aje..,
oke setuju?
Ita: "Jangan ah nanti ketahuan Edwin.
Aku: "Edwin kan di kamarnya..., lagian..., kita memang ngapain?
orang pijitin doang.
Ita tersenyum malu...
Ita: "Ya deh boleh juga, tapi yang nikmat yach..., sambil tengkurap
di ranjang.
Aku: "Pokoknya sip deh..., tapi ada body lotion gak?"
Ita: "Ada tuh di meja".
Aku mulai memijat Ita dari jari kaki ke betis dan Ita tampaknya
menghayati pijatanku sampai di pantat Ita.
Aku: "Ta, buka bajunya nanti kotor.., kena lotion.
Ita: "Gak usah deh Rick.., cukup kaki saja".
Aku: "Kalau dipijit tuh tidak boleh tanggung-tanggung nanti malah
kagak nikmat".
Ita menuruti juga permintaanku. Aku memijat dari betis ke pantat,
kadang-kadang jari-jariku nakal menyentuh lembah bukit rayanya yang
masih dibalut oleh celana dalamnya. Dia tampak kegelian dengan
terlihat pantatnya yang menggerinjal dan keras.
Kemudian tanganku menjelajahi punggungnya yang halus seperti sutra,
sesampainya di tali BH-nya dengan cepat tanganku melucuti kancing
BH-nya. Ita mendadak hendak bangun dan berucap, "Jangan Rick..!
Aku tahan punggung Ita, " Jangan takut Ta gue kagak
ngapa-ngapain..., lu bisa teriak kalau gue macem-macem dan gue bisa
dihukum mati di sini, percaya deh sama gue". Ita akhirnya menurut
juga. Tampak di mataku sosok tubuh yang indah serta leher yng
jenjang. Ingin rasanya kedua tanganku menyusup ke bawah punggung dan
memegang kedua gunung kembar yang mancung lembut dan kenyal. Tanpa
terasa ular nagaku mengeras kencang sekali, sekan-akan hendak
berontak dari celanaku.
Pijatanku beralih lagi ke jari kaki dan terus menggelosor menuju
punggung. Tapi terhalang oleh celana dalam.
Perlahan-lahan kugigit celana dalam yang berwarna cream tsb dengan
gigiku dan kutarik ke bawah
"Jangan Rick..., jangan...".
Ita mencoba menahan laju celana dalamnya, tetapi yang tersentuh
tangannya adalah rambutku.
"Rick jangan dong..., ah...".
Aku: "Tenang Ta tidak apa-apa nanti pijitinnya bisa meluncur dari
atas ke bawah,kalau kagak celanamu kotor tuh...", rayuku. Ita
tampaknya juga sudah mulai terangsang dengan pijatan-pijatanku,
akhirnya dia pasrah.
Kutarik CD-nya dengan gigiku sampai ke bawah dan tercium olehku
aroma lembah bukit raya Ita..., dan kulihat CD Ita ada bercak pulau,
rupanya Ita sudah sangat terangsang. Tampak olehku semak belukar Ita
yang tertata rapi bagai rumput peking dan belahan goanya yang
berwarna merah muda dan lembab oleh cairan. Otakku sudah tidak
terkontrol lagi. Kusergap Goa Ita dengan kedua bibirku..., terasa di
pipiku sentuhan semak belukar Ita yang halus dan aroma vaginanya
yang menyengat.
Ita: "Rick jangan..., jangan..., jangan...", sambil tangannya
memegang rambut di kepalaku. Aku tidak peduli, kumasuki liang
surgawinya dengan ujung lidahku. Terasa cairan aneh di ujung lidahku
dan aroma yang menyengat. Tubuh Ita menggigil hebat dan pantatnya
menegang karena menahan geli yang tidak tertahankan. Tangannya yang
tadinya mencoba menahan laju serangan mulutku sekarang berbalik
menekan kepalaku agar terbenam ke dalam vaginanya. Aku makin
bersemangat memainkan ujung lidahku menyapu dinding vagina Ita dan
kadang-kadang kugigit perlahan gumpalan 2 butir daging di vagina
Ita.
Ita hanya bisa berseru lirih, "Rickk..., jangan..., jangan...,
Rickk..., ohh jangan".
Tapi gerakan tangan dia dengan apa yang dikeluarkan dari mulutnya
sangat berlawanan. Karena sudah tidak kuat menahan serangan lidahku
yang bertubi-tubi. Akhirnya Ita membalikkan tubuhnya sehingga
sekarang dia dalam posisi telentang dimana tadinya dalam posisi
tengkurap dan kedua kakinya melingkar di leherku sambil kedua
tangannya menjambak rambutku dan menekan keras kepalaku ke arah
daerah terlarangnya yang sudah basah sekali. Dia menekan kepalaku
dan menaik-turunkan pinggulnya ke wajahku seakan-akan wajahku hendak
dibenamkan ke vaginanya.
"Rick..., ss ohh Riick.., Ohss..., Ricckk!
Tiba-tiba terasa olehku cairan hangat mebanjiri vaginanya sampai
mukaku ikut lengket terkena cairan tsb, rupanya Ita sudah mencapai
klimaksnya. Tubuhnya mendadak kaku dan kepalaku ditekan keras sekali
ke arah vaginanya sampai-sampai aku tidak bisa bernapas. Setelah itu
pegangan Ita mengendor sehingga aku bisa mengangkat kepalaku dari
jepitan kedua belah pahanya yang sintal dan kenyal. Momentum tsb
tidak kusia-siakan aku cepat-cepat melepas bajuku dan celanaku.
Sekarang aku telanjang dengan penis yang menantang ke arah Ita. Aku
naik ke ranjang dan kudekatkan penisku yang besar dan kekar ke arah
wajah Ita. Ita tampak tersenyum puas masih dalam posisi telentang.
Dengan sigap digenggamnya batang penisku ke dalam genggaman
tangannya yang halus dan di kulumnya kedua biji penisku ke dalam
mulutnya, "Slop..., slop.., slop...", terdengar bunyi air liur dari
mulut Ita. Tubuhku menggigil dengan hebatnya dan tampak kepala
penisku semakin membesar dan mengkilap.
Kemudian lidah Ita menyapu perlahan-lahan dari kedua buah salak
sampai kepala penisku. Lalu mengulum kepala penisku yang besar dan
mengkilap ke dalam mulutnya sampai mulutnya seperti penuh sesak oleh
kepala penisku. Dia memaju-mundurkan mulutnya diikuti oleh gerakan
pinggulku maju-mundur ke arah muka Ita, "Slop..., slop..., slop...,
ckk..., ahh Taa..., Ahh Taa..., Taa..., aa..., Oouhh".
Tiba-tiba terasa olehku kegelian yang sangat-sangat luar biasa,
dimana terasa kepala penisku seolah-olah membengkak dan bersamaan
dengan itu keluarlah lahar yang panas dari lubang kepala penisku,
"Cret..., crett, cerst, ccrest..., crestt..., cretss", tidak
terhitung olehku berapa kali aku menyemprotkan lahar panas ke mulut
Ita. Terlihat cairan putih kental meleleh dari mulut Ita membanjiri
wajahnya, lalu tubuhku ambruk di samping Ita. |
|
|
|
|
|