|
Kenangan Pemilu |
Cerita ini adalah kenangan semasa kampanye Pemilu 1999, memori yang
tak dapat kulupakan. Namaku Ray, aku bekerja di sebuah harian
ibukota. Baiklah ceritanya begini...
Malam itu tanggal 2 Juni 1999 sekitar pukul 21.30. Aku di dalam
mobilku sedang keliling-keliling kota Jakarta. Rencananya aku hendak
meliput persiapan kampanye partai-partai yang katanya sudah ada di
seputar HI. Aneh, kampanye resminya besok, tapi sudah banyak yang
bercokol di putaran HI sejak malam ini. Kelihatannya mereka tidak
mau kalah dengan partai-partai lain yang kemarin dan hari ini telah
memanjat patung selamat datang, memasang bendera mereka di sana.
Tercatat pp, PND, PBB, PKB, PAN dan PK telah berhasil. Dengan korban
beberapa orang tentu saja. Entah apa yang dikejar mereka, para
simpatisan itu. Kebanggaan? Atau sebuah ketololan. Kalau ternyata
mereka tewas atau cedera, berartikah pengorbanan mereka? Apakah para
ketua partai itu kenal sama mereka? Apakah pemimpin partai itu
menghargai kenekadan mereka? Lho, kok aku bicara politik. Biarinlah.
Macam-macam saja ulah mereka, maklumlah sudah saat kampanye terakhir
buat partai-partai di Jakarta ini.
Di depan kedutaan Inggris aku parkirkan mobilku, bersama banyak
mobil lainnya. Memang aku lihat ada beberapa kelompok, masing-masing
dengan bendera partai mereka dan atribut yang bermacam-macam. Aku
keluarkan kartu persku, tergantung di leher. Juga Nikon, kawan baik
yang menjadi sumber nafkahku. Aku mendekati kerumunan simpatisan
partai. Bergabung dengan mereka. Berusaha mencari informasi dan
momen-momen penting yang mungkin akan terjadi.
Saat itulah pandanganku bertemu dengan tatap mata seorang gadis yang
bergerombol dengan teman-temannya di atap sebuah mini bus. Wajahnya
yang cantik tersenyum kepadaku. Gadis itu memakai kaos partai yang
mengaku reformis,---aku rahasiakan saja baiknya---yang telah
dipotong sedikit bagian bawahnya, sehinggs seperti model tank top,
sedangkan bawahannya memakai mini skirt berwarna putih. Di antara
teman-temannya, dia yang paling menonjol. Paling lincah, paling
menarik.
"Mas, Mas wartawan ya?" katanya kepadaku.
"Iya".
"Wawancarai kita dong", Salah seorang temannya nyeletuk.
"Emang mau?".
"Tentu dong. Tapi photo kita dulu..."
Mereka beraksi saat kuarahkan kameraku kepada mereka. Dengan lagak
dan gaya masing-masing mereka berpose.
"Kenapa sudah ada di sini, sih? Bukankah ____ (nama partai) baru
besok kampanyenya?".
"Biarin Mas, daripada besok dikuasai partai lain?".
"Memang akan terus di sini? Sampai pagi?".
"Iya, demi ____ (nama partai), kami rela begadang semalaman."
"Hebat."
"Mas di sini aja, Mas. Nanti pasti ada lagi yang ingin manjat tugu
selamat datang." Kata gadis yang menarik perhatianku itu.
Aku pun duduk dekat mereka, berbincang tentang pemilu kali ini.
Harapan-harapan mereka, tanggapan mereka, dan pendapat mereka.
Mereka lumayan loyal terhadap partai mereka itu, walaupun tampak
sedikit kecewa, karena pemimpin partai mereka itu kurang berani
bicara. Padahal diproyeksikan untuk menjadi calon presiden. Aku
maklum, karena tahu latar belakang pemimpin yang mereka maksudkan
itu.
"Eh, nama kalian siapa?" Tanyaku, "Aku Ray."
"Saya Diana." Kata cewek manis itu, lalu teman-temannya yang lain
pun menyebut nama. Kami terus bercakap-cakap, sambil minum teh botol
yang dijual pedagang asongan.
Waktu terus berlalu. Beberapa kali aku meninggalkan mereka untuk
mengejar sumber berita. Malam itu bundaran HI didatangi Kapolri yang
meninjau dan 'menyerah' melihat massa yang telah bergerombol untuk
pawai dan kampanye, karena jadwal resminya adalah pukul 06.00 -
18.00.
Saat aku kembali, gerombolan Diana masih ada di sana.
"Saya ke kantor dulu ya, memberikan kaset rekaman dan hasil photoku.
Sampai ketemu." Pamitku.
"Eh, Mas, Mas Ray! Kantornya "x" (nama koranku), khan. Boleh saya
menumpang?" Diana berteriak kepadaku.
"Kemana?"
"Rumah. Rumah saya di dekat situ juga."
"Boleh saja." Kataku, "Tapi katanya mau tetap di sini? Begadang?"
"Nggak deh. Ngantuk. Boleh ya? Gak ada yang mau ngantarin nih."
Aku pun mengangguk. Tapi dari tempatku berdiri, aku dapat melihat di
dalam mini bus itu ada sepasang remaja berciuman.
Benar-benar kampanye, nih? Sama saja kejadian waktu meliput
demontrasi mahasiswa dulu. Waktu teriak, ikutan teriak. Yang
pacaran, ya pacaran. (Ini cuma sekedar nyentil, lho. Bukan
menghujat. Angkat topi buat gerakan mahasiswa kita! Peace!)
Diana menggandengku. Aku melambai pada rekan-rekannya.
"Diana! Pulang lho! Jangan malah..." Teriak salah seorang temannya.
Diana cuma mengangkat tinjunya, tapi matanya kulihat mengedip.
Lalu kami pun menuju mobilku. Dengan lincah Diana telah duduk di
sampingku. Mulutnya berkicau terus, bertanya-tanya mengenai
profesiku. Aku menjawabnya dengan senang hati. Terkadang pun aku
bertanya padanya. Dari situ aku tahu dia sekolah di sebuah SMA di
daerah Bulungan, kelas 2. Tadi ikut-ikutan teman-temannya saja.
Politik? Pusing ah mikirinnya.
Usianya 17, tapi tidak mendaftar pemilu tahun ini. Kami terus
bercakap-cakap. Dia telah semakin akrab denganku.
"Kamu sudah punya pacar, belum?" Tanyaku.
"Sudah." Nadanya jadi lain, agak-agak sendu.
"Tidak ikut tadi?"
"Nggak."
"Kenapa?"
"Lagi marahan aja."
"Wah.., gawat nih."
"Biarin aja."
"Kenapa emangnya?"
"Dia ketangkap basah selingkuh dengan temanku, tapi tidak mengaku."
"Perang, dong?"
"Aku marah! Eh dia lebih galak."
"Dibalas lagi dong. Jangan didiemin aja."
"Gimana caranya?" Tanyanya polos.
"Kamu selingkuh juga." Jawabku asal-asalan.
"Bener?"
"Iya. Jangan mau dibohongin, cowok tu selalu begitu."
"Lho, Mas sendiri cowok."
"Makanya, aku tak percaya sama cowok. Sumpah, sampai sekarang aku
tak pernah pacaran sama cowok. Hahaha."
Dia ikut tertawa.
Aku mengambil rokok dari saku depan kemejaku, menyalakannya. Diana
meminta satu rokokku. Anak ini badung juga. Sambil merokok, dia
tampak lebih rileks, kakinya tanpa sadar telah nemplok di
dashboardku. Aku merengut, hendak marah, tapi tak jadi, pahanya yang
mulus terpampang di depanku, membuat gondokku hilang.
Setelah itu aku mulai tertarik mencuri-curi pandang. Diana tak
sadar, dia memejamkan mata, menikmati asap rokok yang mengepul dan
keluar melalui jendela yang terbuka. Gadis ini benar-benar cantik.
Rambutnya panjang. Tubuhnya indah. Dari baju kaosnya yang pendek,
dapat kulihat putih mulus perutnya. Dadanya mengembang sempurna,
tegak berisi.
Tanpa sadar penisku bereaksi.
Aku menyalakan tape mobilku. Diana memandangku saat sebuah lagu
romantis terdengar.
"Mas, setelah ini mau kemana?"
"Pulang. Kemana lagi?"
"Kita ke pantai saja yuk. Aku suntuk nih." Katanya menghembuskan
asap putih dari mulutnya.
"Ngapain"
"Lihat laut, ngedengerin ombak, ngapain aja deh. Aku males pulang
jadinya. Selalu ingat Ipet, kalau aku sendirian."
"Ipet?"
"Pacarku."
"Oh. Tapi tadi katanya ngantuk?"
"Udah terbang bersama asap." Katanya, tubuhnya doyong ke arahku,
melingkarkan lengan ke bahuku, dadanya menempel di pangkal tangan
kiriku. Hangat.
"Bolehlah." Kataku, setelah berpikir kalau besok aku tidak harus
pagi-pagi ke kantor. Jadi setelah mengantar materi yang kudapat
kepada rekanku yang akan membuat beritanya, aku dan Diana menuju
arah utara. Ancol! Mana lagi pantai di Jakarta ini.
Aku parkirkan mobil Kijangku di pinggir pantai Ancol. Di sana kami
terdiam, mendengarkan ombak, begitu istilah Diana tadi. Sampai
setengah jam kami hanya berdiam. Namun kami duduk telah semakin
rapat, sehingga dapat kurasakan lembutnya tubuh yang ada di
sampingku.
Tiba-tiba Diana mencium pipiku.
"Terima kasih, Mas Ray."
"Untuk apa?"
"Karena telah mau menemani Diana."
Aku hanya diam. Menatapnya. Dia pun menatapku. Perlahan menunduk.
Kunikmati kecantikan wajahnya. Tanpa sadar aku raih wajahnya, dengan
sangat perlahan-lahan kudekatkan wajahku ke wajahnya, aku cium
bibirnya, lalu aku tarik lagi wajahku agak menjauh. Aku rasakan
hatiku tergetar, bibirku pun kurasakan bergetar, begitu juga dengan
bibirnya. Aku tersenyum, dan ia pun tersenyum. Kami berciuman
kembali. Saat hendak merebahkannya, setir mobil menghalang gerakan
kami. Kami berdua pindah ke bangku tengah Kijangku. Aku cium kening
Diana terlebih dahulu, kemudian kedua matanya, hidungnya, kedua
pipinya, lalu bibirnya. Diana terpejam dan kudengar nafasnya mulai
agak terasa memburu, kami berdua terbenam dalam ciuman yang hangat
membara. Tanganku memegang dadanya, meremasnya dari balik kaos tipis
dan bhnya.
Sesaat kemudian kaos itu telah kubuka. Aku arahkan mulutku ke
lehernya, ke pundaknya, lalu turun ke buah dadanya yang indah,
besar, montok, kencang, dengan puting yang memerah. Tanganku membuka
kaitan BH hitamnya. Aku mainkan lidahku di puting kedua buah dadanya
yang mulai mengeras. Yang kiri lalu yang kanan.
"Mas Ray, kamu tau saja kelemahan saya, saya paling nggak tahan kalo
dijilat susu saya..., aahh...".
Aku pun sudah semakin asyik mencumbu dan menjilati puting buah
dadanya, lalu ke perutnya, pusarnya, sambil tanganku membuka mini
skirtnya.
Terpampanglah jelas tubuh telanjang gadis itu. Celana dalamnya yang
berwarna hitam, menerawangkan bulu-bulu halus yang ada di situ.
Kuciumi daerah hitam itu.
Aku berhenti, lalu aku bertanya kepada Diana
"Diana kamu udah pernah dijilatin itunya?"
"Belum..., kenapa?".
"Mau nyoba nggak?".
Diana mengangguk perlahan.
Takut ia berubah pikiran, tanpa menunggu lebih lama lagi langsung
aku buka celana dalamnya, dan mengarahkan mulutku ke kemaluan Diana
yang bulunya lebat, kelentitnya yang memerah dan baunya yang khas.
Aku keluarkan ujung lidahku yang lancip lalu kujilat dengan lembut
klitorisnyana.
Beberapa detik kemudian kudengar desahan panjang dari Diana
"sstt... Aahh!!!"
Aku terus beroperasi di situ
"aahh..., Mas Ray..., gila nikmat bener..., Gila..., saya baru
ngerasain nih nikmat yang kayak gini..., aahh..., saya nggak tahan
nih..., udah deh..."
Lalu dengan tiba-tiba ia menarik kepalaku dan dengan tersenyum ia
memandangku. Tanpa kuduga ia mendorongku untuk bersandar ke bangku,
dengan sigapnya tangannya membuka sabuk yang kupakai, lalu membuka
zipper jins hitamku. Tangannya menggapai kemaluanku yang sudah
menegang dan membesar dari tadi. Lalu ia memasukkan batang
kemaluanku yang besar dan melengkung kedalam mulutnya.
"aahh..." Lenguhku
Kurasakan kehangatan lidah dalam mulutnya. Namun karena dia mungkin
belum biasa, giginya beberapa kali menyakiti penisku.
"Aduh Diana, jangan kena gigi dong..., Sakit. Nanti lecet..."
Kuperhatikan wajahnya, lidahnya sibuk menjilati kepala kemaluanku
yang keras, ia jilati melingkar, ke kiri, ke kanan, lalu dengan
perlahan ia tekan kepalanya ke arahku berusaha memasukkan kemaluanku
semaksimal mungkin ke dalam mulutnya. Namun hanya seperempat dari
panjang kemaluanku saja kulihat yang berhasil terbenam dalam
mulutnya.
"Ohk!.., aduh Mas Ray, cuma bisa masuk seperempat..."
"Ya udah Diana, udah deh jangan dipaksaain, nanti kamu tersedak."
Kutarik tubuhnya, dan kurebahkan ia di seat Kijangku. Lalu ia
membuka pahanya agak lebar, terlihat samar-samar olehku kemaluannya
sudah mulai lembab dan agak basah. Lalu kupegang batang kemaluanku,
aku arahkan ke lubang kemaluannya. Aku rasakan kepala kemaluanku
mulai masuk perlahan, kutekan lagi agak perlahan, kurasakan sulitnya
kemaluanku menembus lubang kemaluannya.
Kudorong lagi perlahan, kuperhatikan wajah Diana dengan matanya yang
tertutup rapat, ia menggigit bibirnya sendiri, kemudian berdesah.
"sstt..., aahh..., Mas Ray, pelan-pelan ya masukkinnya, udah kerasa
agak perih nih..."
Dan dengan perlahan tapi pasti kudesak terus batang kemaluanku ke
dalam lubang kemaluan Diana, aku berupaya untuk dengan sangat
hati-hati sekali memasukkan batang kemaluanku ke lubang vaginanyana.
Aku sudah tidak sabar, pada suatu saat aku kelepasan, aku dorong
batang kemaluanku agak keras. Terdengar suara aneh. Aku lihat ke
arah batang kemaluanku dan kemaluan Diana, tampak olehku batang
kemaluanku baru setengah terbenam kedalam kemaluannya. Diana
tersentak kaget.
"Aduh Mas Ray, suara apaan tuh?"
"Nggak apa-apa, sakit nggak?"
"Sedikit..."
"Tahan ya.., sebentar lagi masuk kok..."
Dan kurasakan lubang kemaluan Diana sudah mulai basah dan agak
hangat. Ini menandakan bahwa lendir dalam kemaluan Diana sudah mulai
keluar, dan siap untuk penetrasi. Akhirnya aku desakkan batang
kemaluanku dengan cepat dan tiba-tiba agar Diana tidak sempat
merasakan sakit, dan ternyata usahaku berhasil, kulihat wajah Diana
seperti orang yang sedang merasakan kenikmatan yang luar biasa,
matanya setengah terpejam, dan sebentar-sebentar kulihat mulutnya
terbuka dan mengeluarkan suara. "sshh..., sshh..."
Lidahnya terkadang keluar sedikit membasahi bibirnya yang sensual.
Aku pun merasakan nikmat yang luar biasa. Kutekan lagi batang
kemaluanku, kurasakan di ujung kemaluanku ada yang mengganjal,
kuperhatikan batang kemaluanku, ternyata sudah masuk tiga perempat
kedalam lubang kemaluan Diana.
Aku coba untuk menekan lebih jauh lagi, ternyata sudah mentok...,
kesimpulannya, batang kemaluanku hanya dapat masuk tiga perempat
lebih sedikit ke dalam lubang kemaluan Diana. Dan Diana pun
merasakannya.
"Aduh Mas Ray, udah mentok, jangan dipaksain teken lagi, perut saya
udah kerasa agak negg nih, tapi nikmat…., aduh..., barangmu gede
banget sih Mas Ray..."
Aku mulai memundur-majukan pantatku, sebentar kuputar goyanganku ke
kiri, lalu ke kanan, memutar, lalu kembali ke depan ke belakang, ke
atas lalu ke bawah. Kurasakan betapa nikmat rasanya kemaluan Diana,
ternyata lubang kemaluan Diana masih sempit, walaupun bukan lagi
seorang perawan. Ini mungkin karena ukuran batang kemaluanku yang
menurut Diana besar, panjang dan kekar. Lama kelamaan goyanganku
sudah mulai teratur, perlahan tapi pasti, dan Diana pun sudah dapat
mengimbangi goyanganku, kami bergoyang seirama, berlawanan arah,
bila kugoyang ke kiri, Diana goyang ke kanan, bila kutekan pantatku
Diana pun menekan pantatnya.
Semua aku lakukan dengan sedikit hati-hati, karena aku sadar betapa
besar batang kemaluanku untuk Diana, aku tidak mau membuatnya
menderita kesakitan. Dan usahaku ini berjalan dengan mulus. Sesekali
kurasakan jari jemari Diana merenggut rambutku, sesekali kurasakan
tangannya mendekapku dengan erat.
Tubuh kami berkeringat dengan sedemikian rupa dalam ruangan mobil
yang mulai panas, namun kami tidak peduli, kami sedang merasakan
nikmat yang tiada tara pada saat itu. Aku terus menggoyang pantatku
ke depan ke belakang, keatas kebawah dengan teratur sampai pada
suatu saat.
"Aahh Mas Ray..., agak cepet lagi sedikit goyangnya..., saya
kayaknya udah mau keluar nih..."
Diana mengangkat kakinya tinggi, melingkar di pinggangku, menekan
pantatku dengan erat dan beberapa menit kemudian semakin erat...,
semakin erat..., tangannya sebelah menjambak rambutku, sebelah lagi
mencakar punggungku, mulutnya menggigit kecil telingaku sebelah
kanan, lalu terdengar jeritan dan lenguhan panjang dari mulutnya
memanggil namaku.
"Mas Ray..., aahh..., mmhhaahh..., Aahh..." Dia kelojotan. Kurasakan
lubang kemaluannya hangat, menegang dan mengejut-ngejut menjepit
batang kemaluanku.
"aahh..., gila..., Ini nikmat sekali..." Teriakku.
Baru kurasakan sekali ini lubang kemaluan bisa seperti ini. Tak lama
kemudian aku tak tahan lagi, kugoyang pantatku lebih cepat lagi
keatas kebawah dan, Tubuhku mengejang.
"Mas Ray..., cabut..., keluarin di luar..."
Dengan cepat kucabut batang kemaluanku lalu sedetik kemudian
kurasakan kenikmatan luar biasa, aku menjerit tertahan
"aahh..., ahh..." Aku mengerang.
"Ngghh..., ngghh.."
Aku pegang batang kemaluanku sebelah tangan dan kemudian kurasakan
muncratnya air maniku dengan kencang dan banyak sekali keluar dari
batang kemaluanku.
Chrootth..., chrootthh..., crothh..., craatthh..., sebagian
menyemprot wajah Diana, sebagian lagi ke payudaranya, ke dadanya,
terakhir ke perut dan pusarnya.
Kami terkulai lemas berdua, sambil berpelukan.
"Mas Ray..., nikmat banget main sama kamu, rasanya beda sama kalo
saya gituan sama Ipet. Enakan sama kamu. Kalau sama Ipet, saya tidak
pernah orgasme, tapi baru sekali disetubuhi kamu, saya bisa sampai,
barang kali karena barang kamu yang gede banget ya?" Katanya sambil
membelai batangku yang masih tegang, namun tidak sekeras tadi.
"Saya nggak bakal lupa deh sama malam ini, saya akan inget terus
malem ini, jadi kenangan manis saya"
Aku hanya tersenyum dengan lelah dan berkata "Iya Diana, saya juga,
saya nggak bakal lupa".
Kami pun setelah itu menuju kostku, kembali memadu cinta. Setelah
pagi, baru aku mengantarnya pulang. Dan berjanji untuk bertemu lagi
lain waktu. |
|
|
|
|
|