|
Hilang Perjakaku |
Kurang lebih tiga belas tahun yang lalu saat aku jadi pengangguran
setelah gagal mengikuti UMPTN, aku merantau ke Jakarta untuk mencari
kerja sambil menunggu kesempatan untuk ikut UMPTN berikutnya. Selama
di Jakarta aku menumpang ditempat kontrakan kakakku yang juga masih
bujangan, yang saat itu sudah bekerja. Sekian lama di Jakarta
rupanya keberuntungan belum berpihak kepadaku, sehingga akhirnya aku
memutuskan untuk pulang kampung. Soalnya kupikir mending jadi
pengangguran di kampung sendiri daripada lontang-lantung di kota
orang.
Akhirnya kakakku tidak bisa berbuat banyak dan membiarkan aku pulang.
Akhirnya aku memperoleh bus yang lumayan longgar, karena memang
penumpangnya sedikit. Aku memilih bangku yang dibelakang dekat pintu
belakang. Karena kebetulan tempat itulah yang masih kosong. Bus
berangkat dari Pulo Gadung dengan banyak bangku yang masih kosong.
Begitu sampai Cakung, bus berhenti lagi dan banyak sekali penumpang
yang ikut naik. Salah satu yang kebetulan memilih duduk dikursi
sebelahku adalah seorang perempuan yang kalau kutaksir mungkin
umurnya sekitar 29 tahun-an. Saat itu aku masih baru 19 tahunan.
Tubuhnya cukup tinggi untuk ukuran wanita Indonesia yaitu sekitar
160 Cm dengan bobot yang cukup proporsional. Tidak gemuk dan tidak
pula terlalu kurus. Kulitnya putih bersih dengan potongan rambut
pendek ala Demi Moore. Wajahnya tidak begitu cantik tapi cukup
menarik untuk dipandang.
"Masih kosong dik??" tanyanya yang sempat mengagetkanku
"Oh iya mbak masih kosong kok!!"
Akhirnya perempuan itu duduk di sebelahku. Yach, walaupun tidak
begitu cantik namun orangnya putih bersih. Dalam hati aku sempat
bersorak juga, aku pikir ini mungkin rejeki juga soalnya masih
banyak kursi kosong eh, kok perempuan ini malah memilih duduk di
kursi paling belakang. Dan dasar aku yang sulit bergaul, aku jadi
cuma berani mencuri-curi pandang kearahnya tanpa berani memulai
percakapan. Hatiku dag-dig-dug tak karuan soalnya gugup kalau
berdekatan dengan perempuan yang belum kukenal.
Rupanya lama-lama perempuan itu tahu juga kalau aku selalu
mencuri-curi pandang kearahnya. Karena pas aku lagi melirik
kearahnya, tiba-tiba ia menengok kearahku sambil tersenyum. Plos!
Aku tak sanggup berkata apa-apa saking gugupnya karena ketahuan
telah mencuri-curi pandang.
"Kenapa dik? Ada yang salah dengan diriku?"
"Eh..oh.. enggak apa-apa kok mbak," jawabku gugup.
"Lho dari tadi Mbak amati kamu selalu mencuri-curi pandang padaku
memangnya kenapa?" ia masih tersenyum.
"Ah, eng..enggak kok mbak. Saya memang suka grogi kalau berdekatan
dengan wanita yang belum kenal kok mbak."
"Ooo.. begitu ya. Eh, ngomong-ngomong adik ini mau kemana?"
"Saya mau pulang ke Kota Pati, mbak! Nah kalau mbak sendiri mau
kemana?" tanyaku agak berani setelah percakapan mulai terbuka.
"Sama dik! Saya juga mau ke Kota Pati. Adik Pati-nya di mana?"
"Sa.. saya di kotanya mbak!"
Setelah melalui percakapan yang panjang akhirnya aku tahu namanya
adalah mbak Yeni dan bekerja di Instansi Keuangan di bilangan
Kalibata Jakarta Selatan. Ia kebetulan pada saat itu mau pulang
untuk cuti selama dua minggu. Dari percakapan itulah aku juga tahu
bahwa ia sudah menjadi janda karena suaminya kawin lagi dan ia
memilih cerai daripada dimadu. Ia berumur 29 tahun saat itu dan
sudah memiliki seorang anak perempuan yang baru berumur 5 tahun yang
tinggal dengan Bapak Ibunya.
Kami berdua semakin akrab, karena mbak Yeni memang orangnya supel
dan pintar bicara. Pada saat ia mengeluarkan kue kering untuk
dibagikan padaku, tanpa sengaja tanganku dipegangnya. Badanku mulai
gemetar tak tahu apa yang harus kulakukan, sehingga aku tetap
memegang tangannya yang halus walaupun kue-nya telah kupegang dengan
tangan yang satunya. Tanpa sadar kami masih berpegangan tangan untuk
beberapa saat dalam kegelapan bus malam yang melaju kencang menembus
kegelapan malam.
Tanpa kata-kata kami saling meremas jemari masing-masing dalam
kegelapan, karena memang lampu bus telah dimatikan. Hatiku semakin
berdebar tak karuan. Apalagi saat kulirik ia juga menengok ke arahku
sambil tersenyum. Aku malu sekali, ingin kulepaskan tangannya,
tetapi justru ia semakin erat menggenggam jemariku. Bahkan ia
menyenderkan tubuhnya ke badanku. Aku semakin gemetar dan panas
dingin dibuatnya.
"Dik Santo kenapa? Kok gemeteran sih?"
"Eh.. oh.. enggak kenapa-kenapa kok mbak!"
"Memang dik Santo belum pernah punya pacar?"
"Sudah pernah sich mbak.. cuman cinta monyet. Biasa, cuman
surat-suratan waktu SMA dulu," gemeteranku semakin kelihatan dalam
suaraku.
"Ooh, makanya gemeteran begini. Mbak ngantuk boleh tidur nyandar
bahu dik Santo khan?"
Tanpa menunggu jawaban dariku, mbak Yeni telah menyandarkan
kepalanya ke tubuhku. Aku yang duduk di dekat jendela jadi semakin
terpojok. Entah disengaja atau tidak pada saat ia menyandarkan
tubuhnya ketubuhku bagian dadanya yang empuk ketat menekan lenganku.
Hal ini membuat aku yang belum pernah berdekatan dengan wanita
menjadi sangat terangsang. Batang kemaluanku mulai menggeliat bangun
dan mengeras yang menimbulkan rasa sakit karena terjepit celana
jeans-ku yang ketat. Kemudian tanganku dilingkarkan kepundaknya dan
sekarang ia menyandar di dadaku dengan tangan yang bebas memelukku.
Udara malam yang dingin semakin membuat kami terlena dalam
kehangatan saling berpelukan. Apalagi suasana bus yang gelap sangat
berpihak pada kami. Tangan mbak Yeni bergerak perlahan menyusur
tulang iga-ku dan bergerak terus ke atas ke bawah. Aku yang merasa
kegelian dan terangsang bercampur aduk jadi satu menjadi sesak
napasku. Ia terus menggerakkan tangannya sampai akhirnya ia pun
memegang tanganku yang satunya dan dibimbingnya ke arah dadanya.
Dengan rasa penasaran dan takut kubiarkan saja apa yang
dilakukannya. Aku membiarkan saja tanganku dibimbing kearah dadanya
yang kalau kulihat dari kaus yang dikenakannya besarnya sedang.
Begitu menyentuh tonjolan bukit yang membusung di balik kaos mbak
Yeni, tanganku ditekannya. Aku mengikuti saja apa yang dilakukan
oleh mbak Yeni. Karena belum tahu apa yang musti dilakukan dalam
menghadapi situasi semacam ini, tanganku hanya bergerak
menekan-nekan seperti apa yang dibimbing mbak Yeni tadi.
Sementara itu tangan mbak Yeni sudah mulai berpindah. Sekarang
tangannya mengelus lututku kearah atas dan balik lagi ke bawah
sehingga membuat batang kemaluanku yang kencang menjadi semakin
sakit karena terjepit celanaku yang ketat. Aku menggeser kakiku
untuk memperbaiki posisi batang kemaluanku yang terjepit celana
dangan merenggangkan kedua kakiku agak terbuka. Hal ini membuat
tangan mbak Yeni semakin leluasa bergerak menyusur paha ku di bagian
dalam hingga keselangkanganku dan menekannya dengan lembut begitu
tangannya berada di atas bagian celanaku yang menonjol. Napasku
semakin sesak mendapat perlakuan yang seumur hidupku baru kurasakan
ini. Apalagi kemudian tangan mbak Yeni seolah-olah memijat dan
meremas batang kemaluanku yang sudah sangat kencang dari luar celana
jeans-ku. Sementara tanganku tanpa sadar sudah mulai meremas-remas
kedua bukit payudara mbak Yeni bergantian dengan gemasnya.
"Sekarang sabuk dik Santo dilonggarkan," bisik mbak Yeni.
"Ken.. kenapa mbak??" bisikku kaget.
"Kalau kencang begini kan ini-nya bisa kesakitan," kata mbak Yeni
sambil menekan batang kemaluanku dari luar.
Seperti kerbau dicucuk hidungnya aku nurut saja apa yang dikatakan
mbak Yeni. Kulonggarkan sabukku dan duduk dengan posisi seperti
semula. Aku yang semula penakut sekarang menjadi lebih berani.
Dengan tabah kutelusupkan tanganku kedalam kaos mbak Yeni lewat
bawah, kemudian merayap mengelus perutnya yang halus ke atas dan
terus keatas hingga berhenti di atas bra mbak Yeni yang lembut.
Tangan mbak Yeni bergerak ke balik punggungnya dan tiba-tiba
kurasakan kain penutup bukit payudara mbak Yeni jadi longgar.
Rupanya tadi mbak Yeni membuka kait bra-nya yang ada di belakang.
Aku jadi leluasa bergerak meremas dan mengelus kedua bukit
payudaranya yang kenyal dan halus silih berganti. Serasa mendapat
mainan baru aku dengan gemas dan antusias meremas, mengelus dan
meraba-raba kedua tonjolan bukit payudara mbak Yeni yang kenyal dan
halus itu.
"Mmhhh," napas mbak Yeni kudengar mulai memburu saat dengan gemas
putting payudaranya yang mulai mengeras itu kupelintir dengan
jepitan telunjuk dan ibu jariku. Lalu aku sendiri merasakan sekarang
tangan mbak Yeni mulai menarik ritsluiting celana jeans-ku dan
menyusupkan tangannya kebalik CD-ku. Napasku tertahan dan badanku
semakin panas dingin saat tangan mbak Yeni yang lembut mulai
menyelusup ke dalam CD-ku dan mengusap rambut yang tumbuh di sekitar
kemaluanku. Tanganku semakin liar meremas dan meraba kedua bukit
kembar di dada mbak Yeni, ketika kurasakan ada sesuatu yang
meledak-ledak dan mendorong di bawah pusarku karena tangan mbak Yeni
yang hangat dan lembut kini sudah mulai mengusap dan meremas batang
kemaluanku dengan lembut.
Mungkin mbak Yeni yang sudah berpengalaman mengetahui keadaanku
hingga semakin kencang meremas dan mengurut batang kemaluanku yang
sudah sangat kencang. Napasku seolah terhenti, dan mataku erat
terpejam saat kurasakan sesuatu yang mendesak di perut bagian
bawahku tidak dapat kutahan lagi dan meledak. Badanku serasa
mengawang dan kurasakan suatu kenikmatan yang belum pernah kurasakan
saat rasa ingin kencing yang tidak dapat kutahan lagi keluar dan
membasahi tangan lembut mbak Yeni. Crrrtt! Cratt!
"Ahhh!", tanpa sadar aku melenguh. Aku jadi malu sekali pada mbak
Yeni.
"Enak dik??" bisik mbak Yeni mesra.
"Ah, mbak Yeni. Saya jadi malu karena mengotori tangan mbak."
"Enggak apa-apa kok. Memang dik Santo belum pernah keluar itu-nya?"
"Kalau onani sendiri sich pernah mbak, tapi kalau yang begini, be..
belum mbak..."
"Terus kalau tidur sama cewek sudah pernah belum?"
"Be.. belum mbak. Saya enggak berani."
"Nah kalau belum pernah dan ingin merasakan tidur dengan cewek,
nanti kita bisa nginap dulu sebelum pulang. Dik Santo mau enggak?"
"Ah, sa.. saya takut mbak!"
"Lho, takut sama siapa? Kan mbak enggak nggigit, malah bikin kamu
keenakan iya kan?"
Aku terdiam karena tidak tahu musti menjawab apa. Di sisi lain aku
ingin dan penasaran sekali merasakan bagaimana rasanya tidur dengan
cewek. Kediamanku ternyata dianggap sebagai persetujuanku.
Bus kami sampai ke Kota Pati dini hari. Pukul 03.00 bus kami sudah
masuk terminal. Sementara untuk pulang harus berganti bus lagi dan
belum ada bus yang ke kotaku yang berangkat. Apalagi mbak Yeni yang
dari kotaku masih harus naik angkutan pedesaan lagi, jadi cukup
beralasan kalau kami akhirnya memutuskan untuk menginap. Kami pun
akhirnya mencari penginapan yang banyak bertebaran di sekitar
terminal.
Singkat cerita kami pun check-in satu kamar. Kemudian aku langsung
masuk kamar mandi dan mandi karena risi CD-ku basah sekali oleh air
maniku sendiri setelah di bus tadi aku sempat mengalami orgasme
karena dikerjain mbak Yeni. Selagi mandi tiba-tiba mbak Yeni masuk
ke kamar mandi dengan tanpa sehelai kain pun menutupi tubuhnya yang
putih. Aku terkesiap. Mataku melotot menyaksikan pemandangan luar
biasa yang baru seumur-umur kulihat ini. Tubuhnya yang polos berdiri
di depan mataku tanpa ada rasa sungkan sama sekali. Kulitnya putih
bersih, perutnya yang cukup rata tanpa guratan bekas melahirkan
kelihatan serasi dengan tonjolan bukit payudara-nya yang sedang
besarnya yang masih kencang menggantung di dada mbak Yeni. Putingnya
kulihat besar dan berwarna agak kecoklatan. Sementara di bagian
bawah perutnya tampak tonjolan bukit yang lebat ditumbuhi bulu-bulu
hitam yang sangat lebat. Sehingga kulihat sangat kontras sekali
perpaduan antara kulitnya yang putih bersih tanpa cacat berpadu
dengan sebentuk warna hitam yang terpusat di bawah perutnya.
Aku masih melongo saat ia memencet hidungku sambil tersenyum dan
mengatakan ingin ikut mandi sekalian.
"Aku mandi sekalian aja. Soalnya udah keburu ngantuk, biar tidurnya
enak!" demikian ia berkilah.
"Ak.. aku malu mbak," dalam hatiku sebenarnya senang soalnya ini
adalah pertama kali aku dapat melihat tubuh wanita telanjang.
"Alaah.. pakai malu segala," desisnya, "Ayo sini mbak mandiin."
Aku diam saja karena tak mampu berkata-kata lagi. Kemudian mbak Yeni
mengambil sabun dan mulai menggosok tubuhku yang sudah basah dengan
tangannya yang penuh sabun. Perlahan rasa nikmat itu menyerangku
lagi saat tangan mbak Yeni menggosok punggungku dengan sabun dan
sebentar-sebentar tonjolan lembut dan hangat di dadanya menekan
punggungku dari belakang saat ia menyabun dadaku dari arah belakang.
"Akhhh," aku mendesah panjang saat mbak Yeni dengan memelukku ketat
dari belakang menyabun tubuhku bagian bawah, aku begitu terangsang.
Di punggungku menempel ketat tonjolan bukit payudara yang lembut dan
hangat, sedangkan selangkanganku digosok-gosok dan diurut tangan
mbak Yeni yang lembut. Kupejamkan mataku untuk menikmati sensasi
yang luar biasa bagiku. Aku merasakan betapa batang kemaluanku yang
sudah tegang berdenyut-denyut dalam genggaman tangan mbak Yeni yang
licin karena busa sabun. Ia terus mengurut-urut batang kemaluanku ke
atas dan ke bawah dengan lembut dengan sesekali diselingi remasan di
kantung buah zakarku. Napasku kian memburu dan desahanku kian
kencang.
"Ouchh, shhhh, mbaaakkk.. ouchhhhh!"
Aku hampir saja merasakan adanya sesuatu yang mendesak hendak keluar
dari bawah perutku. Dan mbak Yeni yang rupanya sudah cukup
berpengalaman tahu keadaanku hingga ia menghentikan aksinya.
"Sekarang gantian mbak yang dimandiin dong," pinta mbak Yeni tak
berapa lama kemudian.
Aku pun mengguyur tubuh telanjang mbak Yeni dengan air dan kemudian
tanganku dengan canggung mulai menyabuni punggungnya.
"Pelan-pelan dik, jangan takut," bisiknya yang membuat keberanian
dan rasa pede-ku mulai bangkit.
Aku pun mulai meraba (menyabuni) punggung mbak Yeni kemudian
tanganku mulai berani nakal mulai turun ke pinggulnya, terus turun
dan akhirnya dengan gemas tanganku mulai meremas sambil menyabuni
buah pantat mbak Yeni yang besar dan indah. Lalu setelah puas
bermain-main dengan pantat mbak Yeni, aku pun mengikuti gaya
menyabun mbak Yeni tadi. Tanganku merayap ke depan dan mulai
menyabuni kedua buah gumpalan yang menggantung indah di dada mbak
Yeni. Dengan gemas kuurut bukit kembar itu sehingga putingnya mulai
mengeras.
"Oohhhh, enaakkk diiik. Terusshhhh, shhhh!" mbak Yeni
mendesis-desis.
Aku pun tak lupa menempelkan batang kemaluanku yang sudah mengencang
sejak tadi ke tengah-tengah belahan buah pantat mbak Yeni yang
membuatku merasa sangat nikmat. Apalagi mbak Yeni kemudian
menggoyangkan pinggulnya menggeser dan semakin erat menekankan
batang kemaluanku ditengah belahan kedua belah buah pantatnya yang
licin karena sabun.
"Ouchh, ter.. ter.. ushh dik,"
Mbak Yeni mendesis desis ketika tanganku mulai bergerak-gerak
menyabuni gundukan bukit kecil yang lebat ditumbuhi rambut di
selangkangan mbak Yeni. Tubuhnya semakin liar bergerak menggeser
batang kemaluanku yang terjepit di sela-sela bongkahan buah
pantatnya. Tubuh kami yang licin sangat membantu pergerakan dan
gesekan-gesekan tubuh kami. Hal ini membuat sensasi yang luar biasa
bagi kami berdua. Batang kemaluanku yang terjepit diantara belahan
buah pantat mbak Yeni dan tubuhku sendiri semakin berdenyut denyut.
Aku sudah tidak tahan lagi.
"Oochh.. mbaakkk aku su.. sudah tak ku.. aatthh mbaaak!" bisikku di
telinganya.
Mbak Yeni pun menghentikan gerakannya dan memintaku untuk segera
membersihkan tubuh kami dari sabun.
Beberapa siraman air dingin ternyata cukup untuk menolongku untuk
tidak sampai mengeluarkan air maniku yang sudah mendesak-desak ingin
disalurkan. Aku merasa agak cool walau pun batang kemaluanku masih
tegak berdiri. Dan setelah selesai mengeringkan tubuh kami dengan
handuk, mbak Yeni segera menuntunku untuk menuju ke tempat tidur.
Dengan masih bertelanjang bulat kami bergandengan tangan dan
melemparkan tubuh kami ke tempat tidur double-bed yang empuk.
Kami berbaring saling bersebelahan. Mbak Yeni yang sudah
berpengalaman rupanya tahu bahwa aku masih sangat hijau dalam hal
seperti ini. Dengan serta merta tanganku dibimbingnya ke arah
dadanya, sementara tangannya sendiri juga mulai mengelus dadaku.
Kembali kami saling raba dan saling pencet. Tanganku segera meremas
bukit payudaranya dengan gemas bergantian kanan dan kiri.
"Oohhh, terushhh diiik," Mbak Yeni terus mendesah.
"Aahhh!", aku pun ikutan mendesah tatkala tangan mbak Yeni kembali
mengurut-urut batang kemaluanku dengan lembut.
Tubuhku menggigil menahan kenikmatan yang luar biasa ketika tangan
mbak Yeni mengocok-ngocok batang kemaluanku.
"Mbaak, oohhhh!"
"Sek.. sekarang kamu naik.. diiik.. oochhh" mbak Yeni pun rupanya
sudah tak tahan lagi. Kemudian dipentangkannya kedua pahanya
lebar-lebar dan disuruhnya aku untuk naik keatas perutnya.
Aku pun dengan arahan mbak Yeni segera menempatkan diri di
tengah-tengah pentangan pahanya dan mulai menindih tubuhnya. Tangan
mbak Yeni segera memandu batang kemaluanku dan diarahkannya ke
tengah-tengah gundukan daging di bawah perutnya yang lebat ditumbuhi
rambut.
"Akhhhh!, aku mengerang saat ujung kepala kemaluanku mulai
digesek-gesekkan oleh mbak Yeni ke celah-celah yang begitu hangat
dan sudah basah.
"Dorong.. pelan-pelannh diik. Ouchhh!!"
"Hkk. Ouchhh," napasku seolah terhenti seketika ketika ujung kepala
kemaluanku mulai menerobos celah yang sempit, hangat dan licin di
sela-sela paha mbak Yeni. Mbak Yeni pun kudengar napasnya tertahan
"Achhh, oochh, terushh.. doronghhhh!"
Aku terus mengikuti aba-aba mbak Yeni. Kutarik pantatku ke atas
begitu kurasakan kira-kira hampir separuh batang kemaluanku terbenam
dalam celah kemaluan mbak Yeni, dan kemudian kudorong lagi ke bawah.
Setelah beberapa kali kulakukan hal itu aku disuruh untuk menekan
dan membenamkan seluruh batang kemaluanku ke dalam liang kemaluannya
"Sekkaranghhh, ma.. masukkanhh.. Ouchhh!",
Mbak Yeni menjerit tertahan saat kutekan pantatku kuat kuat hingga
seluruh batang kemaluanku terbenam kedalam liang kemaluannya yang
masih cukup sempit dan sangat hangat. Mbak Yeni pun segera
menggerakkan pinggulnya memutar.
Baru beberapa putaran dilakukan mbak Yeni. Tiba-tiba aku merasakan
seolah-olah batang kemaluanku seperti diremas-remas oleh jepitan
daging yang licin dan hangat sehingga mataku sampai terpejam
erat-erat menahan nikmat yang amat sangat. Aku merasakan seolah olah
ada desakan yang maha dahsyat yang mendesak dari bawah pusarku.
Desakan itu terlalu kuat untuk dapat kutahan
"Ouuchh.. mbakkk, akk sudahhh oochhhhhh",
Dengan erangan yang panjang aku merasakan seolah-olah tubuhku
tersentak oleh aliran listrik ribuan volt, jiwaku seolah melayang
dan kepalaku terdongak ke atas. Mbak Yeni yang sudah tahu kondisiku
semakin gila memutar pantatnya diangkatnya pantatnya tinggi-tinggi
untuk menyongsong sodokanku.
"Terr.. russh. Terushhh.. ohhh.. terussshhhh", desisnya tak
henti-henti.
Sementara aku sudah tidak mampu lagi menahan ledakan yang sedari
tadi kucoba untuk menahannya. Dan crrrt, cratttt! Jebolah
pertahananku. Air mani keperjakaanku menyembur di dalam liang
kemaluan mbak Yeni yang hangat dan memenuhi semua celah yang ada di
dalamnya. Badanku masih terkejat-kejat untuk beberapa saat lamanya
seolah-olah menuntaskan sisa-sisa kenikmatan yang ada.
"Terr.. ushhh.. diiikkk, terusshhhh!", desisnya berulang-ulang.
Namun aku sudah tak mampu bergerak lagi.
Dengan gemas mbak Yeni yang rupanya sedang dalam pendakian segera
membalik tubuhku dan kini posisinya menindihku. Walau pun sudah
terkuras air maniku, namun batang kemaluanku belum begitu mengendur.
Sekarang giliran mbak Yeni yang bergerak di atas perutku. Tubuhnya
bergerak liar seperti seorang joki yang sedang menaiki kuda balap.
Payudaranya bergoyang-goyang indah.
"Ayo, putar pinggulmu diikkkh.. ouchhh."
Aku pun mengikuti komandonya. Kugerakkan pinggulku memutar seperti
yang diinginkan mbak Yeni.
"Ya, ya.. beg..ituuu. Ouchhhh! Terushhhh!" akhirnya kurasakan
jepitan liang kemaluan mbak Yeni semakin erat menjepit batang
kemaluanku. Tubuh mbak Yeni tersentak dan matanya membeliak.
"Ouchhhh, terrushhhh," dan akhirnya tubuhnya ambruk di atas perutku.
"Shh.. kamu.. sudah cukup hebbathhh dikk!", napasnya mulai teratur.
"Tapi saya kalah mbak, saya sudah keluar duluan!"
"Enggak apa apa. Mbak juga bisa orgasme kok! Memang kamu baru kali
ini merasakan bersetubuh ya dik?"
"Iya mbak. Terima kasih ya mbak telah memberikan pengalaman yang
berharga bagi saya."
"Saya justru yang terima kasih, kamu telah memberikan kehangatan
pada mbak yang sudah cukup lama tidak merasakan seperti ini sejak
bercerai dulu."
Begitulah kami pun lalu beristirahat sambil tetap berpelukan dengan
tubuh mbak Yeni masih tetap menindihku dan batang kemaluanku masih
tetap menancap di dalam kehangatan liang kemaluan mbak Yeni. |
|
|
|
|
|