|
Kencan kilat |
Pembaca yang budiman, mungkin ini merupakan salah satu cara untuk
bagi cerita kepada pembaca yang lain. Memang terkadang kita agak
risih untuk menceritakan pengalaman pribadi masing masing. Cerita
ini merupakan cerita yang nyata dan tidak dibuat buat atau
ditambahkan dengan cerita lain.
Namaku INdra, kala peristiwa ini terjadi aku masih berkantor di
wilayah Jl. Kramat Raya, biasanya aku pulang dengan membawa motor
tapi kali ini aku agak malas pulang dengan membawa motor sehingga
menitipkannya di halaman parkir kantor. Malam itu aku pulang pukul
7.30 malam, iseng aku mampir ke sebuah restoran fast food di Atrium
Senen yang kala itu sudah agak sepi, maklum mungkin sudah agak
malam. Aku mengambil tempat duduk yang kebetulan agak jauh di depan
duduk seorang gadis yang kelihatannya sedang menunggu seseorang. Aku
perhatikan terus, tiba–tiba dia memberi lambaian tangan agar aku
mendekati tempat duduknya. Aku bergegas mendekati tempat duduknya.
“Hai“, sapaku.
Dia hanya tersenyum ketika aku menyapanya.
”Kenapa kamu perhatikan aku terus?”, tanyanya.
“Eh nggak, iseng aja, habis kamu kayanya lagi nunggu orang, ya?”,
tanyaku.
”Iya nih aku lagi nunggu temenku, tapi kok nggak datang-datang ya?”.
“Oh ya aku INdra, kamu?”, tanyaku.
”Rani”, jawabnya.
Tidak lama kami mengobrol, kemudian datang teman Rani yang telah
ditunggu–tunggunya. Kupikir teman Rani itu pria, tapi ternyata
wanita juga. Setelah agak lama kemudian Rani kembali lagi ke meja
dimana kami mengobrol.
“Oke Ndra, kita jalan yuk”, ajak Rani.
”Kemana Ran?”, tanyaku.
“Lho katanya kamu ingin dengar ceritaku”, jawab Rani.
Kemudian Rani mengajakku check in di salah satu hotel di bilangan
Kramat. Pertama aku pikir Rani mengajakku mengantarnya pulang,
ternyata dia malas pulang ke rumahnya karena pikirannya sedang
suntuk. Setelah masuk kamar hotel, aku langsung ke kamar mandi.
”Ndra kamu sedang mandi ya?’, tanya Rani.
Aku tidak langsung menjawabnya dan sepuluh menit kemudian baru aku
keluar dari kamar mandi dengan memakai kaos dalam dan celana pendek.
“Aku mandi dulu ya Ndra, nggak enak rasanya badanku sudah seharian“,
kata Rani sambil menuju ke kamar mandi.
Sepuluh menit kemudian Rani keluar dari kamar mandi dengan hanya
memakai CD dan BH. Terlihatlah payudaranya yang berukuran 34B
menonjol menantang.
”Sorry ya, habis gerah kalau pakai baju lagi”, kata Rani sambil
merebahkan tubuhnya yang sintal ke ranjang di sebelahku.
Tiba tiba Rani langsung memeluk dan mencium pipi kananku. Aku hanya
terdiam dan pura pura acuh. Dan kemudian ia melumat bibirku dengan
liar dan aku akhirnya membalas lumatannya dengan liar juga. Lama
juga kami saling melumat bibir satu sama lain. Kemudian Rani membuka
kaos dalam yang masih kukenakan dan melepas celana pendekku. Dan
langsung memegang kontolku yang masih setengah tegak. Aku tidak
menyia–nyiakan kesempatan ini. Langsung saja kubuka tali BH-nya dan
membuangnya ke lantai. Kuhisap puting susunya serta kuremas–remas
payudara yang satunya.
“Ooohhh, Ndra terusss Ndra aaahhh”, rintih Rani yang merasa
kenikmatan karena kuhisap dan kuremas payudaranya.
Secara bergantian kuhisap dan kuremas sepasang payudara kenyal itu
sampai puas. Setelah puas, aku langsung memasukkan jariku di lubang
kenikmatannya. Kuelus–elus klitorisnya yang sudah basah oleh cairan
vaginanya.
Tiba-tiba Rani menarik kepalaku ke depan.
“Ndra Rani sudah nggak tahan lagi. Entot Rani ya, Ndra please...
memek Rani sudah nggak tahan pengen di entot... please..“, rintih
Rani mengiba kepadaku.
Segera kubuka CD-nya dan Rani kuminta menghisap penisku yang sudah
tegang berdiri bagaikan tugu monas.
“Ran, hisap kontolku Ran”, pintaku.
Rani kemudian dengan liar menghisap dan memainkan kontolku di dalam
mulutnya.
“Terus Ran, enak Ran... yaa... terusss... aaahhh".
Rani kemudian memintaku untuk berposisi 69. Aku turuti kemauan Rani.
Dengan posisiku berada di bawah dan Rani di atas, memek Rani berada
tepat di depan mulutku. Bau harum khas vagina sudah tercium, tanpa
permisi lagi aku langsung melumat bibir vagina Rani yang sudah basah
oleh cairan vaginanya. Rani pun tak mau kalah, ia asyik dengan
kontolku, menghisap dan mengocok di mulutnya, dijilat dan terkadang
dikocok oleh mulutnya sehingga membuat kontolku langsung berdiri
dengan tegak dan keras.
Puas dengan gaya 69, Rani langsung berdiri di atasku dan mengarahkan
memeknya ke arah kontolku.
”Ndra, Rani udah nggak tahan lagi, biar Rani yang entot kontol kamu
dulu, ya“, pinta Rani.
Tidak lama kemudian kontolku sudah masuk ke liang kenikmatan yang
sudah licin oleh cairan memeknya. Dengan posisi Rani yang berjongkok
memegang bahuku, gerakan turun naik pantatnya menambah kenikmatan
kocokan memeknya.
“Aahhh... Ndra kontol kamu enak Ndra, ssshhh... aduh Ndra enak
sekali...”, rintih Rani yang menikmati permainannya sendiri.
Aku pun mengimbanginya dengan sesekali menekan ke atas dan Rani
menghentakkan pantatnya dengan lebih cepat. Selang lima menit
kemudian Rani memegang bahuku kuat sekali dan langsung melumat
bibirku. Ternyata Rani sudah mencapai klimaks dan cairan vaginanya
terasa hangat membasahi kontolku yang masih menancap di dalam
memeknya. Kugulingkan tubuh Rani ke samping, sekarang giliranku.
Kutarik kontolku dari memeknya dan langsung menyerbu kearah lubang
kenikmatan itu. Kumainkan klitoris Rani yang berwarna merah muda
kecoklat coklatan dengan ujung lidahku, kulumat bibir vaginanya yang
masih basah dengan cairan yang baru saja keluar dari vaginanya.
Tidak ada pikiran jijik lagi dalam otakku, yang penting adalah
merasakan kenikmatan.
”Terusss... Ndra... aaahhh enak Ndra ayo terusss...“, erang Rani
yang ternyata dia sudah siap untuk dientot lagi.
“Ayo Ndra, sekarang kamu yang entot aku, Rani udah nggak tahan
pengen dientot lagi”, pinta Rani.
Sekarang kuarahkan mulutku ke arah puting susunya yang sudah
mengeras. Kuhisap dan kugigit sesekali.
“Aahhh Ndra ayo entot Rani... Aku sudah nggak tahan... ayo dong
pleasee... aaahhh.”
Kuturuti kemauan Rani untuk mengentot memeknya. Segera saja
kuarahkan kontolku tepat di vaginanya dan 'blesss...', masuk sudah
semua kontolku ke dalam memeknya.
”Aahhh Ndra enak sekalii... ayo Ndra terusss... aaahhh”, erangan
Rani menikmati kontolku yang masuk ke liang memeknya.
Aku gerakkan pantatku turun naik secara berkala. Kadang cepat kadang
lambat. Kulihat Rani menikmati permainanku sampai ia memelukku erat
sekali.
“Ndra terusss... sebentar lagi aku keluar ayo terus entot... aaahhh
enak Ndra...”
Rani lemas dan terasa kontolku tersiram cairan hangat memeknya.
Gerakan pantatku masih turun naik, kupacu terus, kulihat Rani sudah
telentang lemas.
Kuminta Rina untuk ber-”dodgy style”. Rani segera mengubah posisinya
hingga dapat kulihat gelambir bibir vaginanya yang basah oleh cairan
memeknya. Segera kuarahkan kontolku ke arah memeknya dan blesss...
”Oohhh Ndra masukin semuanya, terusss... aaahhh”.
”Gimana Ran, masih kuat?”, tanyaku.
”Terserah kamu Ndra, mau diapain aja memek Rani, yang penting memek
Rani puas kamu entot”, jawab Rani sambil tersenyum puas.
Segera kumainkan perananku lagi. Kugerakkan maju mundur pantatku.
”Aahhh Ndra terusss...”, Rani mengerang halus.
”Gimana Ran, enak nggak kontolku?” tanyaku.
”Aduhhh Ndra enak sekali kontol kamu, memek Rani puas sekali”,
jawabnya.
Kuminta Rani mengangkat kakinya sebelah, seperti anjing sedang
kencing. Kutahan kakinya dengan lenganku dan sambil meremas
payudaranya yang basah oleh keringatnya.
“Ayo Ran sekarang nikmati permainanku“.
Kupacu gerakan pantatku maju mundur.
”Ayo Ndra terus... terus... terus... enak sekali Ndra, terus...”.
Dan Rina mengimbangi dengan menggoyang pantatnya.
”Ayo Ran sedikit lagi aku keluar”, sambil kupercepat gerakan
pantatku.
”Ran, mau dikeluarin di dalam apa di luar?”, tanyaku.
“Terserah kamu Ndra... aaahhh... ayo Ndra kita keluar bareng...
aaahhh”, erangan Rani mengejang kenikmatan.
”Ran aaahhh... enak Ran, aaahhh”, kupercepat gerakan pantatku.
“Ndra terusss... kontol kamu enak sekaliii... aaahhh enak Ndra...
entot terus memek Rani sampai jebol... aaahkk...“, itulah teriakan
Rani seiring spermaku yang akhirnya keluar membanjiri memeknya.
Dengan kontol yang masih menancap di memeknya, kupeluk Rani dengan
erat.
”Terima kasih ya Ndra, kamu sudah memberi kepuasan ke memek Rani",
kata Rani sambil tersenyum kepadaku.
Setelah itu kami bergegas ke kamar mandi. Di kamar mandi Rani
mencuci kontolku. Pertama ia hisap kontolku dan dijilatinya sisa
sperma yang kemudian ia siramkan dengan air hangat yang ada di ‘bath
tub’. Tiba tiba kontolku berdiri kembali. Kubalikkan tubuh Rani dan
kuminta ia menungging dengan tangan memegang dinding kamar mandi.
”Ayo Ran, aku entot lagi kamu”, kataku.
Rani pun menuruti kemauanku. Segera kuarahkan kontolku ke memek
Rani. Dan blesss... masuk sudah semua kontolku ke memek Rani.
”Aahhh... enak sekali Ndra... ayo dong Ndra dikocok lagi yang
keras”, pinta Rani.
Kukocok kontolku di memek Rani.
“Aduh Ran... kok enak sekali memek kamu... diapain Ran“, gumamku.
”Di entot kontol kamu sayang... Please fuck me longer honey...”,
jawab rani sambil menggoyang pinggulnya.
Aku pun tambah keenakan digoyang seperti itu. Kupercepat ayunan
pinggulku menghantam pantat Rani yang sintal.
”Aahhh... ooohhh yes honey fuck me fuck me harder ooohhh... yes enak
sekali Ndra...”, rintih Rani.
Aku pun tak tahan lagi.
”Ran aku mau keluar.. aaahhh Ran... yes... yes.. memek kamu enak
sekali... Ran... ooohhh yess...”, eranganku bersamaan dengan
spermaku muncrat di dalam memek Rani.
Rani pun segera berbalik menghadapku dan langsung menghisap sisa
sperma yang masih ada di kepala kontolku dan menelannya.
”Sperma kamu enak Ndra.. enak sekali”, kata Rani sambil terus
menguras sisa spermaku yang masih ada di kepala kontolku.
Kulihat senyuman puas di bibir Rani. Kami pun mandi berdua di bath
tub dan melanjutkan permainan itu sampai pukul 3 pagi, sampai–sampai
kami tidak sempat untuk ke tempat tidur lagi, saking asyiknya
menikmati surga dunia. Esoknya kami langsung check out dari hotel
dan aku mengantar Rani sampai ke depan rumahnya tanpa aku turun dari
taksi yang mengantar kami.
Itulah ceritaku tentang “kencan kilat” kami yang membekas, tanpa
paksaan apapun. Untuk Rina, terima kasih atas kepuasan yang kamu
berikan sepanjang malam itu, semoga kita bisa berbagi lagi...
=============
Pijatan Mbak Tun
sorry neeh cerita punya orang, gw tampangin disini aja ya, mayan
dari pada sepi.
sorry buat yg udah pernah baca ini..
hak cipta / copyright pada : surgadunia.com
Kurasa hampir semua orang pasti pernah merasakan dipijat, apa lagi
para
laki-laki hidung belang seperti sebagian besar pembaca
surgadunia.com.
Kurasa sebagian besar dari mereka pasti punya langganan pemijat di
panti-panti pijat yang menjamur di mana-mana.
Itulah enaknya jadi kaum laki-laki, ibaratnya seperti iklan minuman
ringan, bisa di mana saja, kapan saja dan dengan siapa saja. Ini
berbeda
sekali dengan kaumku, kalau badan pegal harus susah payah cari mbok
pemijat yang belum tentu ada di setiap tempat, apa lagi di kota
besar
seperti Surabaya ini.
Biasanya kalau badanku terasa pegal-pegal, kuminta bantuan adikku
untuk
memijatnya. Kadang kami bergantian saling pijat. Tetapi hari ini
rumahku
sedang kosong. Adikku masih kuliah sedangkan orang tuaku belum
pulang dari
tugas rutinnya mencari nafkah.
Hari ini aku agak sedikit kurang enak badan. Terasa sekali badanku
pegal-pegal, namun di rumah sedang tidak ada siapa-siapa. Kucoba
bertanya
kepada tetangga kanan kiri barangkali ada yang tahu kalau-kalau ada
tetangga sekitar yang bisa memijat. Sebenarnya aku tahu bahwa di
ujung
gang sana ada seorang tukang pijat yang terkenal di sekitar rumahku,
tapi
laki-laki, namanya Pak Mat. Tidak bisa kubayangkan bahwa tubuh
molekku ini
bakal dipijat oleh seorang tukang pijat laki-laki, bisa-bisa yang
dipijat
nanti hanya di daerah-daerah tertentu saja.
Akhirnya aku dapatkan juga seorang tukang pijat wanita. Namanya Mbak
Tun
yang rumahnya juga tidak begitu jauh dari rumahku. Kucoba untuk
mendatangi
rumah Mbak Tun yang jaraknya hanya sekitar dua ratus meter dari
rumahku.
Kebetulan Mbak Tun ada di rumah dan bersedia datang ke rumah untuk
memijatku. setelah berganti pakaian dan membawa sedikit
perlengkapannya,
Mbak Tun mengikutiku pulang.
Mbak Tun usianya masih relatif muda, hanya sedikit lebih tua dariku.
Perkiraanku Mbak Tun saat ini berusia sekitar 35 tahun. Namun di
usianya
yang relatif masih muda itu Mbak Tun sudah menjanda. Ia hidup
bersama
ibunya, satu-satunya orang tuanya yang masih tersisa.
Mbak Tun sudah 6 tahun bercerai dengan suaminya yang telah kimpoi
lagi
dengan wanita lain karena perkimpoiannya dengan Mbak Tun tidak
dikaruniai
anak. Cerita tentang Mbak Tun ini kuperoleh dari Mbak Tun sendiri
saat
memijat tubuhku. Sambil memijat Mbak Tun bertutur tentang
kehidupannya
padaku.
Walau tinggal di Surabaya, Mbak Tun tetap seperti layaknya orang
udik,
pengalamannya masih sedikit sekali soal dunia modern, namun untuk
urusan
sex sepertinya Mbak Tun punya cerita tersendiri. Semuanya akan
kukisahkan
pada ceritaku kali ini.
Sesampai di rumahku, Mbak Tun kuajak langsung masuk ke kamarku yang
sejuk
ber-AC. Suhu udara di luar sana bukan main panasnya, beberapa bulan
terakhir ini kota Surabaya memang sedang dilanda cuaca panas yang
luar
biasa, konon panasnya mencapai 37 derajat celcius.
Kubuka kancing hemku dan kutanggalkan hingga bagian atas tubuhku
yang
mulus terpampang dengan jelas sekali. Payudaraku tampak segar dan
ranum
dengan ujung puting susuku yang bersih berwarna merah muda sedikit
kecoklatan. Rok miniku juga kutanggalkan.
Kini tubuhku sudah hampir telanjang bulat, hanya tersisa CD yang
kukenakan. Mata Mbak Tun tampak terkagum-kagum pada bentuk tubuhku
yang
ramping dan sexy, terlebih saat melihat bentuk CD-ku yang mini itu.
Aku
saat itu memakai G String berenda yang ukuran rendanya tak lebih
dari
seukuran satu jari melingkari pinggangku, selebihnya sepotong rendah
yang
tersambung di belakang pinggangku, turun ke bawah melewati belahan
pantatku, melingkari selangkanganku hingga ke depan. Tepat di bagian
vaginaku, terdapat secarik kain berbentuk hati kecil yang
keberadaannya
hanya mampu menutupi bagian depan liang vaginaku.
Lalu aku tengkurap di tempat tidur dengan hanya memakan CD. Mbak Tun
mulai
memijat telapak kaki, mata kaki, betis, naik lagi ke pahaku. Awalnya
aku
biasa-biasa saja, pijatan tangannya juga terasa pas menurutku, tidak
terlalu lemah dan juga tidak terlalu keras yang dapat menyebabkan
terasa
lebih sakit setelah dipijat. Menurutku, cara memijat Mbak Tun cukup
baik.
Setelah memijat kaki kanan, kini Mbak Tun berpindah memijat kaki
kiriku,
urutannya seperti tadi. Kini giliran pahaku bagian atas yang dipijat
juga
kedua belahan pantatku.
"Mbak! CD-nya kok modelnya lucu ya?" tanya Mbak Tun lugu
mengomentari
bentuk CD-ku.
"Emangnya kenapa Mbak Tun?" tanyaku padanya.
"Oh enggak Mbak! Kalau dipakai kok seperti tidak pakai CD aja ya?
Bokong
(pantat) Mbak tetap kelihatan, dan bagian depannya, jembut (bulu
kemaluan)
Mbak juga kelihatan, Hii.. Hii.. Hii..! Kalau aku sih tidak berani
pakai
CD yang model begitu", oceh Mbak Tun masih mengomentari bentuk CD
yang
kupakai saat itu.
Sambil mengngoceh dan bercerita, tangan Mbak Tun tetap memijat
pahaku.
Yang kini dapat giliran adalah pahaku bagian atas, tepatnya di
daerah
pangkal paha dan belahan pantatku. Aku sengaja tidak menjawab
ocehannya
karena aku ingin menikmati pijatannya. Sambil sedikit tiduran,
mataku
kupejamkan saat dipijat Mbak Tun.
Letak kedua kakiku dibentangkan terpisah agak lebar sehingga posisi
pahaku
terbuka. Mbak Tun memijat bagian dalam pahaku yang bagian atas dekat
selangkanganku hingga aku merasakan sedikit geli, tapi enak sekali.
Selain
pegalku di bagian kaki dan paha mulai sedikit berkurang, aku juga
mulai
merasakan horny, apa lagi saat jari-jari Mbak Tun memijat bagian
pangkal
pahaku. Jarinya sempat menyentuh gundukan vaginaku hingga rasanya
ujung
CD-ku mulai lembab. Untungnya Mbak Tun sudah mulai pindah posisi
memijat
punggungku, naik ke leher dan berakhir di kepalaku.
Selesai memijat bagian belakang tubuhku, Mbak Tun mengambil body
lotion
dan dioleskannya ke kaki dan pahaku. Rasanya sedikit dingin saat
mengenai
kulitku. Kalau tadi memijat, kini Mbak Tun ganti mengurut tubuhku
mulai
dari telapak kaki, betis hingga pahaku. Kembali saat mulai mengurut
pahaku
bagian atas aku merasa geli, terlebih saat paha bagian dalamku yang
diurut
olehnya.
"Mbak! CD-nya dilepas aja ya, toh percuma pakai CD cuma sepotong
begitu,
lagian kita kan sama-sama wanita dan tidak ada orang lain di kamar
ini,
soalnya nanti kena hand body nyucinya susah", pinta Mbak Tun padaku.
Tanpa menjawab, kumiringkan sedikit tubuhku sambil sedikit
membungkuk.
Kubuka CD-ku dan kulepas dengan bantuan ujung kakiku. Kini aku telah
telanjang bulat tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhku. Posisiku
kembali tengkurap menunggu tangan Mbak Tun kembali mengurut tubuhku.
Mbak Tun kembali ke tugasnya mengurut bagian bawah tubuhku yang
sudah
dilumuri body lotion tadi. Jarinya kembali bersarang di pangkal
pahaku
bagian dalam, sambil sekali-sekali mengurut kedua gundukan pantatku.
Aku
tidak hanya merasakan pegalku mulai berkurang, namun aku juga
merasakan
seperti ada suatu rangsangan tersendiri menyerang tubuhku bagian
bawah.
Mulutku menggigit bantal yang kupakai untuk menopang daguku saat
tengkurap
karena menahan rasa geli di selangkanganku, manakala jari tangan
Mbak Tun
menyentuh bibir vaginaku. Terkada sentuhannya masuk lebih dalam lagi
hingga menyentuh celah belahan bibir vaginaku.
Terus terang liang vaginaku mulai bawah hingga cairan bening tak
terbendung mulai membasahi liang dan dinding dalam vaginaku. Saat
mengurut
gundukan pantatku, seakan dengan sengaja jari Mbak Tun
disentuhkannya ke
vaginaku kembali hingga ujung jarinya sempat menyenggol ujung
klitorisku.
Aku jadi tersiksa sekali karena menahan hasrat birahi yang timbul
akibat
sentuhan tangan dan jari Mbak Tun saat memijat dan mengurut bagian
bawah
tubuhku. Untungnya urutan Mbak Tun segera pindah ke punggungku,
terus naik
ke leher dan kembali berakhir di kepalaku.
Kalau di bagian atas tubuhku, aku masih tidak merasakan suatu
rangsangan
seperti tadi. Namun rupanya setelah selesai memijat kepalaku, Mbak
Tun
kembali memijat dan mengurut kedua bongkahan pantatku, yang tentunya
pangkal pahaku kembali menjadi sasarannya pula.
Aku tak kuasa menolak, karena selain kupikir Mbak Tun toh juga
seorang
wanita, dan juga normal karena pernah bersuami walau sudah lama
bercerai.
Aku toh akhirnya juga menikmati semua sentuhan tidak disengaja
maupun
mungkin disengaja saat jari-jari tangannya mengusap bagian luar
vaginaku.
Sampai akhirnya aku benar-benar tidak tahan lagi.
"Sudah! Cukup! Terima kasih ya Mbak", ujarku akhirnya.
"Kok sudah toh Mbak?", Tanya Mbak Tun padaku.
"Bagian depannya belum diurut lho! Ayo telentang Mbak, kuurut
sebentar
perutnya supaya ususnya tidak turun", tambah Mbak Tun dengan sedikit
memerintah.
Herannya aku menurut juga. Dan lalu aku pun telentang di hadapan
Mbak Tun.
Mbak Tun mulai kembali mengolesi body lotion ke bagian dada dan
perutku.
Mbak Tun langsung mengelus bagian atas dadaku dekat leher sedang
jarinya
mengurut ke bawah ke arah payudaraku. Kemudian area sekitar
payudaraku
juga diurut lembut mirip elusan. Aku yang sudah horny sejak tadi
jadi
lebih blingsatan lagi hingga akhirnya aku tidak tahan untuk tidah
mengaduh.
"Aduuh! Geli Mbak!" protesku, tapi Mbak Tun diam saja sambil terus
mengurut pinggiran payudaraku.
Kemudian perutku diurut dari setiap penjuru mengarah ke pusar. Kini
giliran pahaku diurut oleh Mbak Tun. Cara mengurutnya naik ke atas
menuju
pangkal paha, letak kakiku dipisahkan agak lebar sehingga posisiku
lebih
terkangkang lagi. Mbak Tun terus mengurut pahaku. Saat mengurut
bagian
dalam pahaku, aku menggeliat tak karuan.
Kemudian Mbak Tun mengurut mulai tepat di atas vagina menuju
pusarku.
Katanya ini adalah untuk menaikkan usus dalam perutku agar supaya
tidak
turun ke bawah. Aku diam saja tidak mampu mengeluarkan sepatah kata
pun,
terus terang pijatannya memang enak hingga pegal yang ada di tubuhku
sedah
tidak terasa lagi. Namun selain itu aku juga mendapatkan rangsangan
seksual dari cara Mbak Tun mengurutku.
"Sudah, sekarang yang terakhir" kata Mbak Tun sambil membuka lebar
pahaku.
Mbak Tun berpindah posisi duduknya. Kini dia berjongkok tepat di
hadapan
selangkanganku yang terkangkang lebar. Kedua tangannya secara
bersamaan
mengurut kedua pahaku, dari arah lutut menuju selangkangan hingga
aku jadi
menggeliat tidak karuan menahan geli.
Kemudian kedua ibu jarinya mengurut-urut celah lipatan selangkangan
dekat
vaginaku dengan cara mengurutnya dari bawah ke atas terus
berulang-ulang.
Bibir vaginaku menjadi saling gesek karenanya hingga rangsangan
dahsyat
melanda bagian bawah tubuhku dan akhirnya aku tak kuasa lagi
mengendalikan
nafsu birahiku sendiri hingga tanpa perlu merasa malu lagi pada Mbak
Tun,
jariku kuarahkan ke klitorisku dan terus kugosok-gosokkan sambil
mengangkat dan menggoyang-goyang pantatku.
Aku akhirnya orgasme di hadapan Mbak Tun. Persetan kalau mau dia
tertawa,
bathinku. Namun ternyata Mbak Tun tetap cuek saja sampai aku selesai
melepaskan orgasme. Lalu kubayar ongkos Mbak Tun memijatku dan
kuminta dia
untuk pulang sendiri. |
|
|
|