|
Grace Jadi Piala Bergilir |
Susanty dan Grace adalah dua orang karyawati perusahaan futures trading
yang sama-sama punya pekerjaan sampingan sebagai call girl di kelompok
Bram. Mereka selalu bersaing dalam segala hal, entah di kantor entah di
pekerjaan sampingannya. Susanty tingginya 164 cm dengan berat 56 kg,
pinggulnya lebih besar dari Grace, begitu pula ukuran payudaranya yang
34B, sedangkan Grace yang tingginya 165 cm memang lebih kurus karena
beratnya hanya 48 kg. Payudaranya pun lebih mungil, ukuran 32B.
Sudah lama Susanty yang memang agak licik itu berniat mengerjai Grace. Dia
memikirkan suatu rencana sampai akhirnya dia menghadap Bram dan
mengutarakan maksudnya itu.
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu itu tiba……. Suatu pagi Grace, Susanty
dan Bram berkumpul di sebuah café hotel, di situ Susanty menyampaikan
tantangannya.
“Grace, bosen nih seks kita cuma gini-gini aja……. gimana kalo kita bikin
pertandingan? Yang kalah dikasih hukuman. Biar seru gitu lho!” kata
Susanty
“Pertandingan apa nih?” tanya Grace.
“Gini……kita bertanding banyak-banyakan nyepong anak buahnya Bram. Kita
batesin waktunya satu jam aja. Nah dalam satu jam itu kita liat siapa yang
paling banyak bisa nyepong. Inget lho…..nyepong, bukan sekedar ngisep;
jadi kita mem-blow job penis-penis mereka ampe keluar spermanya, yang gak
boleh dibuang sedikit pun, harus ditelen semuanya. Yang spermanya ampe
netes ke lantai dinyatakan gugur and langsung kalah. Biar seru, tangan
kita diikat ke belakang, jadi murni nyepong pake mulut gak dibantu kocokan
tangan. Pakaian kudu lengkap and gak boleh ampe ngerangsang mereka, gak
boleh pake yang ketat apalagi ampe pake yang transparan. Pokoknya murni
kita adu siapa mulut yang paling hot di antara kita. Setelah satu jam,
yang paling banyak nyepong dia yang menang”
“Boleh juga tuh…….. trus yang kalah hukumannya apa?”
“Nah…… yang kalah kudu ngelayanin cowok-cowok yang jumlahnya ditentuin ama
Bram. Yang menang sih boleh kencan ama Bram, hi hi hi……”
“Boleh juga…….boleh juga………..” Grace terlihat tertarik.
“Gimana, Bram?” tanya Susanty.
“Gua bisa sediain 20 cowok buat pertandingan ini. Gimana kalo yang kalah
jadi bintang pesta seks? Usai pertandingan dia diwajibkan melayani 20
orang, trus seminggu berikutnya kudu siap digilir atau di-gangbang setiap
malamnya. Dan dia gak boleh nolak berapa dan siapa pun juga yang minta
dilayani, termasuk macam-macam dan variasi gayanya.”
“Ih……geuleuh……..” kata Grace sambil tersipu.
“Eh, Bram, kalo yang kalah belon seminggu itu udah kecapekan gimana? Boleh
dong minta istirahat? Capek kan kalo di-gangbang?” tanya Grace lagi.
“Gua yang tentuin istirahatnya kapan. Tapi jangan kuatir, gua tau
kemampuan seks kalian, jadi ntar gua aturin supaya gak setiap saat ada
gangbang, bisa juga suatu waktu bergiliran sampe beberapa orang, baru
berikutnya gangbang. Pokoknya kalo pas jam “tugas”, ya gak boleh nolak!”
tegas Bram.
“Kalo nekat nolak juga………” pancing Susanty.
“Pokoknya harus mau! Terserah, mau melayani dengan sukarela atau mau
diperkosa” jawab Bram sambil tersenyum.
“Gua sih hayu aja……..berani gak Grace? Atau elu takut?” tantang Susanty
“Ih! Siapa takut? Paling juga elu yang kalah”
“Jangan yakin dulu…..kita liat nanti” jawab Susanty sambil senyum-senyum.
Akhirnya hari pertandingan yang ditunggu-tunggu tiba. Mereka semua
berkumpul di ruang tengah sebuah villa besar dengan banyak kamar milik
Bram. Ada 20 orang pria yang sudah telanjang dengan penis yang ukurannya
rata-rata besar, dengan diameter sekitar 3 cm dan panjang sekitar 18 cm,
meski tentu tidak sebesar Bram yang turunan Arab, yang memiliki ukuran
penis “alamak”, dengan diameter sekitar 5 cm dan panjang sekitar 25 cm.
Grace memakai kemeja putih dan celana panjang kain warna hitam. Susanty
mengenakan rok dan blazer biru tua yang dipadu dengan kemeja biru
bergaris-garis. Bram yang masih mengenakan pakaian lengkap juga ikut
hadir. Di ruangan itu terdapat dua sofa yang ditaruh bersebelahan dengan
jarak sekitar 2 meter, dengan demikian baik Grace maupun Susanty dapat
ikut menghitung hasil dari lawannya. Pengundian pun sudah dilakukan
sehingga baik Grace maupun Susanty mendapat jatah pria secara acak.
Namun di luar sepengetahuan Grace, Susanty sudah mengatur rencana licik
untuk mengalahkan Grace. Bersama dengan Bram dan anak buahnya ia sudah
mengatur rencana. Mereka sepakat mengerjai Grace, para pria yang disepong
oleh Grace akan berusaha menahan-nahan nafsu selama mungkin sebelum sperma
mereka akhirnya keluar, sedangkan pria yang disepong oleh Susanty akan
mengusahakan agar mereka secepatnya berejakulasi. Dengan demikian jumlah
yang disepong Susanty bisa lebih banyak dari yang disepong Grace. Rencana
licik “di balik layar” ini harus dibayar Susanty dengan seksnya. Ia bukan
hanya harus membayarnya dengan melayani kedua puluh pria itu kelak, tapi
juga harus melayani Bram berikut tamu-tamunya. Kalau dihitung-hitung ia
malah harus melayani lebih banyak pria dibandingkan Grace, tapi memang
harga sebuah gengsi untuk “menjatuhkan” Grace bagi Susanty adalah harga
yang tak bisa ditawar lagi.
Pukul delapan pagi pertandingan itu dimulai. Grace mulai menyepong Rud
sedangkan Susanty menyepong Fay. Bram yang jadi juri menyaksikan di antara
kedua sofa. Masing-masing gadis itu menyepong segiat mungkin. Susanty yang
mengandalkan gaya hisap dari pangkal sampai ujung dengan gerakan cepat
memaju mundurkan kepalanya. Grace tak mau kalah, dengan keahliannya
ber-“deep throat” ia juga memaju mundurkan kepalanya. Kedua tangan mereka
diikat ke belakang punggung sementara mereka menyepong partnernya dengan
posisi berlutut. Pria yang penisnya sedang disepong diperkenankan memegang
kepala penyepongnya ataupun meremas-remas payudaranya. Tapi mereka tidak
diperkenankan melucuti pakaian kedua gadis itu.
Setelah 7 menit Fay melenguh dengan keras ketika spermanya menyembur dalam
mulut Susanty. Tanpa ragu Susanty menghisap sperma Fay sampai habis, tak
lupa menjilati penisnya agar bersih kembali. Sementara itu Grace masih
sibuk mem-blow job Rud yang kelihatannya sangat kuat menahan agar ia tak
cepat-cepat berejakulasi. Baru setelah 9 menit berusaha keras, mulut Grace
mendapat semprotan sperma Rud. Sebetulnya Grace kurang suka rasa sperma
yang agak amis, tapi demi gengsi ia mau saja mengikuti pertandingan ini.
Grace kelihatan agak kewalahan menelan sperma Rud. Peraturan pertandingan
ini memang mengharuskan tiap gadis membersihkan penis partnernya dari
seluruh sisa sperma sebelum mem-blow job pria giliran berikutnya.
Lima puluh menit sudah berlalu, Susanty sudah menyepong tujuh ketika mulut
Grace diisi oleh semburan sperma Lei yang mendapat giliran kelima disepong
Grace. Grace tampak panik. Ia hendak cepat-cepat menyudahi sepongannya
terhadap Lei dan segera beralih ke giliran keenam, tapi sperma Lei yang
begitu banyak membuatnya sibuk menelan semuanya. Dengan susah payah sperma
yang kental itu bisa dihabiskannya, tetapi sementara Grace mulai menyepong
partnernya yang keenam, Susanty sudah asyik menyepong prianya yang
kedelapan. Grace yang menyadari bahwa ia semakin dekat pada kekalahan
semakin panik. Selama sepuluh menit berikutnya ia memaju mundurkan
kepalanya dengan lebih giat sementara hisapannya makin kuat. Deep
throat-nya makin menjadi-jadi. Tapi tidak meleset dari rencana Susanty,
pada akhirnya Grace kalah juga. Dalam satu jam ia hanya bisa menyepong
enam pria sedangkan Susanty sembilan.
Grace yang tampak be te terpaksa mengakui kekalahannya sementara para pria
itu bersorak girang membayangkan seminggu ini setiap malam mereka boleh
meminta pelayanan seks apa saja ke Grace. Dalam hatinya Grace sangat
jengkel dan bertanya-tanya apakah ia memang kalah jago dari Susanty dalam
hal blow job. Belum sempat dia memikirkannya lama-lama, sepasang tangan
kekar kembali merengkuh kepala Grace ke arah selangkangannya, rupanya Ron
yang belon kena giliran minta disepong juga. Lima orang pria sisanya yang
belum sempat kena giliran disepong akhirnya disepong oleh Grace dengan
disuiti dan disoraki oleh yang lainnya.
Setelah dibuka ikatan tangannya, Grace dituntun ke ruangan lain untuk
mulai dikerjai, sedangkan Susanty ditinggal sendiri.
Grace dibawa ke sebuah kamar dengan ranjang besar di dalamnya. Dalam
hatinya ia terus mengutuki nasib sialnya, kalah secara memalukan dari
saingannya.
“Nah Grace, hari pertama ini elu boleh milih, mau jadi bintang pesta seks
kaya apa, mau digilir satu-satu atau mau dikeroyok?” tanya Bram sambil
tersenyum.
“Emang gimana?” tanya Grace lesu.
“Kalo satu-satu ya ngelayaninnya giliran. Elu ngelayanin satu orang sampe
dia puas baru yang berikutnya masuk. Kalo dikeroyok ya di-gangbang,
posisinya terserah mereka” kata Bram.
“Aduh……gimana ya …..?”
“Gini aja deh, di hari pertama ini gua yang tentuin, hari berikutnya
terserah tamu-tamu elu. Sekarang elu digilir aja dulu, baru gangbang. Ayo
teman-teman….. undi lagi! Kita batasin aja, yang boleh ngegilir Grace 8
orang, sisanya ntar ngeroyok dia!” kata Bram.
Grace dengan sebal hanya bisa menatap mereka mengantri dirinya, tanpa
berkata apa-apa.
“Nah Grace, gua tinggal ya….. selamat bersenang-senang!” kata Bram sambil
ngeloyor pergi.
Setelah acara pengundian selesai, keluarlah para pria itu, meninggalkan
Grace bersama Rud yang mendapat giliran pertama. Tanpa buang waktu Rud
duduk di tepi ranjang lalu merengkuh kepala Grace ke arah selangkangannya.
Tanpa disuruh pun Grace tau tugasnya. Ia menghisap penis Rud dengan gaya
yang merupakan keahliannya, deep throat. Grace yang dikenal jago dengan
gaya ini dalam waktu tidak terlalu lama membuat Rud merem melek keenakan.
Setelah dirasanya cukup, Rud menarik kepala Grace dan memberi isyarat agar
Grace berbaring di ranjang. Rud mulai melucuti celana panjang dan selana
dalam Grace. Grace yang kaget tidak sempat mencegah kepala Rud yang
mengarah ke selangkangan Grace, utnuk kemudian menciumi dan menjilati
vaginanya. Grace hanya bisa mengerang nikmat. Rud terus menggarap vagina
Grace sampai ketika Grace hendak mencapai klimaks, tiba-tiba ia berhenti.
Belum sempat Grace bereaksi Rud sudah menindihnya dan mulai memasukkan
penisnya yang besar ke vagina Grace. Rupanya Rud menganut seks yang cepat
dan liar. Tanpa buang waktu ia segera memompa Grace sementara kedua
tangannya merentangkan tangan Grace lebar-lebar ke samping. Gayanya mirip
seorang pemerkosa yang haus akan seks korbannya. Sebagai seorang pelacur
high class, Grace berusaha untuk tidak secara seksual tergantung pada
tamu-tamunya. Ia selalu berusaha untuk tidak orgasme saat melayani
tamu-tamunya. Tujuannya jelas, agar ia tidak kecapekan. Kalau kecapekan,
ia hanya akan jadi bulan-bulanan para pria itu.
Namun dengan kelompok Bram rupanya hal itu sulit ia terapkan. Dengan Rud
ini saja ia tidak tahan. Grace harus mengakui kalo Rud jago bercinta. Pria
itu tau di mana titik-titik di tubuh Grace yang bisa membangkitkan
birahinya, belum lagi gaya bercintanya yang liar menantang. Grace yang
mulanya berusaha agar tidak terhanyut dalam hubungan seksnya dengan Rud
sedikit demi sedikit toh terhanyut juga. Nafsunya perlahan tapi pasti kian
membara, gejolak gairahnya semakin naik.
Tapi selain ganas dan liar Rud juga pintar mengatur irama, begitu
dirasakannya Grace hendak mencapai orgasme, ia segera menghentikan
gerakannya. Penisnya dibiarkan terbenam dalam vagina Grace. Ini membuat
Grace semakin penasaran dan menggeliat-geliat sambil merintih minta
dipuaskan. Sambil tersenyum Rud yang sedari tadi menciumi payudara Grace
dari balik baju yang belum terlepas, meminta Grace membuka bajunya dengan
erotis. Ia melepaskan tangan Grace yang sedari tadi direntangkannya,
mempersilahkan gadis itu memulai aksinya. Grace yang sudah tidak tahan
ingin mencapai klimaks menuruti permintaan pria itu. Dibukanya kancing
kemejanya satu demi satu dengan gaya yang erotis. Kemudian ia menaikkan
punggungnya sedikit, membusungkan dadanya dengan gaya yang mengundang
sambil kedua tangannya membuka kaitan bra putih transparan yang membungkus
payudara mungilnya. Rud dengan penuh nafsu menatap bukit kembar mungil
yang kencang dan padat itu. Kaitan bra itu sudah dilepas oleh Grace tapi
belum sempat ia menarik kedua tangannya dari balik punggungnya, Rud sudah
menindih tubuh mungil Grace, menekannya ke ranjang dengan penuh nafsu.
Kedua tangan Grace menjadi terjepit di balik punggungnya. Dengan ganas Rud
menciumi payudara Grace dari balik bra transparannya, lalu dengan sekali
sentak melorotlah bra itu dari payudaranya, yang langsung disantap Rud
dengan penuh nafsunya.
Kembali Rud memompa Grace, kali ini mulutnya sibuk menggarap kedua
payudara gadis itu. Grace hanya bisa pasrah dan menggelinjang-gelinjang
karena nafsunya pun semakin membara. Setelah kira-kira setengah jam
bermain seks, Rud mencapai orgasmenya dengan menyemburkan spermanya ke
vagina Grace. Bersamaan dengan itu Grace yang nafsunya sudah di
awang-awang itu pun mencapai orgasmenya ketika dirasakannya semburan
lembut dalam vaginanya. Mereka berdua berbaring terengah-engah kelelahan.
Tak lama kemudian Rud bangkit dari ranjang, diikuti Grace. Ketika Rud
hendak keluar kamar, Grace menahannya, memintanya menunggu sebentar
sementara Grace memakai kembali pakaiannya. Berdasarkan pengalamannya
Grace tau bahwa wanita yang memakai pakaian yang merangsang lebih menarik
dan membuat penasaran daripada wanita yang belum apa-apa sudah telanjang.
Tujuannya jelas, supaya pria yang akan menggaulinya lebih “on” sehingga
diharapkan bisa lebih cepat selesai. Untuk itulah Grace memakai pakaiannya
dengan sedemikian rupa sehingga yang melihatnya bisa langsung terangsang.
Dua kancing atas kemeja dan retsleting celananya dibiarkan terbuka
sementara rambutnya dibiarkan agak acak-acakan. Rud tentu saja tidak
keberatan menunggu karena sementara proses itu Grace kembali mengulum
penisnya. Ketika Grace selesai berpakaian, Rud sudah hampir orgasme lagi
karena sepongan Grace. Setelah Rud selesai diblow job lagi, dengan lemas
ia bangkit dan beranjak ke pintu.
Tanpa sela waktu, berikutnya muncul Ali yang masuk ke kamar itu dengan
penis sudah teracung tegak. Kembali Grace diminta untuk menghisap penisnya
dulu sebagai menu pembuka alias foreplay, namun kali ini Grace tidak
merasakan jilatan vagina seperti waktu rone pertama tadi. Mungkin Ali
merasa agak jijik dan sungkan mencicipi vagina gadis itu yang sudah bekas
pakai Rud. Sebaliknya Ali yang berbaring di ranjang dan meminta Grace
melakukan gaya “woman on top”. Bagi Grace ini tentu saja menyenangkan
karena dia tau dia bisa mengontrol irama agar dirinya tidak terhanyut.
Tapi setelah 15 menit bercinta Ali tidak melihat tanda-tanda Grace akan
orgasme, ia meminta Grace untuk berganti posisi, kali ini Grace yang di
bawah. Grace hanya bisa pasrah. Benar saja, ketakutannya terbukti ketika
Ali mulai mengatur irama sedemikian rupa sehingga Grace ikut terhanyut.
Pelepasan baju dan bra dengan gaya yang erotis tak juga membuat Ali
orgasme duluan, sehingga akhirnya mereka berdua mencapai klimaks bersama.
Ali menggauli Grace selama kurang lebih 40 menit, sebelum akhirnya Grace
kembali memblow job Ali sambil memakai kembali pakaiannya.
Ron masuk ke kamar setelah Ali keluar. Tanpa banyak ba bi bu ia memberi
isyarat agar Grace menungging ke arah ranjang. Dengan agak kasar ia
memelorotkan celana Grace. Rupanya Ron ingin ngeseks dengan gaya doggy.
Penisnya yang sudah tegang dengan gampang memasuki vagina Grace yang masih
terisi sperma 2 pria sebelumnya. Sisa sperma tersebut seolah menjadi
pelumas bagi penis Ron. Tapi meski begitu karena lubang vagina Grace
memang kecil, terasa oleh Ron bahwa penisnya dijepit dengan rasa nikmat
yang amat sangat. Ia memompa Grace dengan penuh nafsu. Tangannya meraba
dan meremas-remas payudara Grace yang masih terbungkus pakaian dan bra.
Sambil terus memompa, Ron melucuti kemeja Grace dan membuka bra-nya.
Tangannya makin ganas meremas payudara Grace sambil sesekali memilin-milin
puting susunya. Tubuh Grace tersentak-sentak karena pompaan Ron, badannya
menggelepar-gelepar menahan nikmat. Ron terus memompa dan memompa, 20
menit telah berlalu hingga ketika dirasakannya ia hendak ejakulasi,
dicabutnya penisnya dari vagina Grace. Tangannya yang kekar membalikkan
badan Grace dan menyuruhnya berlutut. Ron segera menyodorkan penisnya ke
mulut Grace dan menjejalkan penis itu ke mulut mungil gadis itu. Grace
yang gelagapan terpaksa langsung menerimanya. Ia segera memaju-mundurkan
kepalanya, menggunakan mulutnya untuk mengocok penis Ron. Hanya beberapa
saat kemudian, jebollah pertahanan Ron. Penisnya menyemburkan sperma ke
mulut Grace, yang langsung menelannya. Rupanya Ron lebih suka melihat
Grace mengulum penisnya dan menelan spermanya. Sambil tersenyum puas, Ron
keluar ruangan sementara Grace buru-buru memakai kembali bra dan
kemejanya.
Lei mengambil giliran berikutnya. Lei yang sudah dalam keadaan telanjang
itu meminta Grace untuk bercinta dengan gaya duduk. Grace menaiki pangkuan
Lei sambil berusaha memasukkan penis pria itu ke vaginanya. Setelah masuk
semua, barualah ia menaikturunkan tubuhnya memompa penis Lei. Grace duduk
menghadap Lei yang mulai melucuti pakaiannya dan merenggut bra-nya. Mulut
Lei dengan rakus menghisap puting payudara Grace bergantian kiri dan
kanan. Karena Grace yang di atas, ia leluasa memainkan irama genjotannya
dengan harapan agar Lei cepat ejakulasi. Tapi harapan tinggal harapan.
Grace yang berusaha keras seerotis mungkin menggenjot penis Lei tampaknya
tidak berhasil membuat Lei cepat ejakulasi. 35 menit berlalu Lei masih
tampak tenang-tenang saja. Irama pompaan Grace mulai tidak beraturan
karena ia mulai kelelahan. Grace mulai kelabakan. Grace yang ingin segera
menyudahi ronde ini mempercepat genjotannya. Ia menaikturunkan tubuhnya
lebih cepat, sementara vaginanya makin menjepit penis Lei, direngkuhnya
kepala Lei dan erat didekap di antara kedua payudaranya. Tak lama kemudian
terdengar suara Lei menggeram, penisnya menyemburkan sperma ke dalam
vagina Grace. Grace yang merasakan semburan hangat sperma Lei
menggelinjang dan terduduk lemas di atas pangkuan Lei. Nafas mereka berdua
memburu terengah-engah. Setelah menunggu beberapa saat sampai nafasnya
teratur kembali, Grace bangkit dari pangkuan Lei, sementara Lei menuju
pintu keluar, sementara Grace buru-buru merapikan pakaiannya. [*4]
Zul yang menggantikan Lei masuk dan langsung meminta Grace untuk juga
duduk di pangkuannya. Grace yang menginginkan variasi kali ini duduk
membelakangi Zul. Dimasukkannya penis Zul sampai amblas masuk dalam-dalam
ke vaginanya. Dengan vaginanya Grace menjepit erat penis Zul dan membuat
Zul langsung”on”. Tangan-tangan kekar Zul meraba-raba payudara Grace yang
masih terbungkus pakaian yang mulai lecek. Tak sabar ia melucuti pakaian
Grace dan memelorotkan bra-nya. Di remas-remasnya payudara Grace,
dipilin-pilinnya putingnya sementara Grace sibuk menaikturunkan tubuhnya
menggenjot laki-laki kelima yang menggaulinya hari itu. Mulut Zul dengan
liar menciumi dan menyupang leher Grace. Kali ini Grace mencoba taktik
yang berbeda dengan yang diterapkannya pada Lei tadi. Ia menggenjot sambil
menggoyang-goyangkan pinggulnya erotis kiri-kanan, kiri-kanan. Tapi
rupanya stamina Zul tak kalah dengan Lei. Baru setelah dipompa selama
kira-kira setengah jam, penis Zul mengeluarkan hajatnya. Berbeda dengan
pria sebelumnya, kali ini Zul tak berlama-lama memangku Grace begitu
selesai. Ia mendorong tubuh Grace, lalu menekan pundaknya ke bawah,
diarahkannya kepala Grace menghadap selangkangannya. Grace yang memahami
maksud Zul segera mengulum penis itu, yang masih berlumuran cairan
vaginanya sendiri bercampur dengan penis Zul dan pria-pria lain yang
sebelumnya menggauli Grace. Penis itu dihisap-hisap dan “digarap” kembali
sampai Zul kembali ejakulasi meski dengan sperma yang jauh lebih sedikit.
Zul yang lemas dan nyaris tak bisa berdiri saking puasnya berjalan gontai
keluar ruangan. Rasanya seluruh isi zakarnya sudah dihisap habis oleh
Grace.
Ton adalah pria berikutnya yang masuk kamar itu sambil telanjang dengan
penis sudah mengacung tegak. Rupa-rupanya tanpa disadari oleh Grace di
kamar lain para pria itu menonton aksi Grace yang terekam secara
sembunyi-sembunyi dari tiga spy camera yang ada di kamar tersebut, satu
dipasang di dudukan lampu di atas ranjang, dua lagi masing-masing dari
sisi kamar dan saling berseberangan. Tak heran tiap pria yang masuk sedari
tadi penisnya sudah menegang, mereka menyaksikan Grace yang menjadi piala
bergilir dengan segala aksi erotisnya. Kalau tahu dirinya ditonton seperti
itu, tentu Grace takkan mau bergaya seerotis sekarang.
Ton memulai foreplay-nya dengan menciumi wajah dan leher Grace yang
jenjang. Pelan tapi pasti Grace didorong kembali ke arah ranjang.
Dimintanya Grace untuk foreplay dengan gaya 69, wajah Ton tenggelam dalam
vagina Grace yang sudah basah oleh sperma bercampur cairan vaginanya,
sementara mulut Grace menghadapi penis Ton yang langsung dikulumnya.
Dengan tanpa rasa jijik Ton melahap vagina Grace, membuat Grace merem
melek keenakan sambil mulutnya maikin giat mengemut penis Ton. Setelah
ber-sixty nine selama seperempat jam, Ton meminta Grace terlentang, dan
langsung saja Ton dengan penisnya mempenetrasi vagina Grace. Dengan
gayanya yang khas Ton menggenjot Grace dengan brutal. Penisnya seolah bor
yang mengebor vagina Grace sambil bergerak kiri-kanan dan atas-bawah,
membuat klitoris dan G-spot Grace seolah “tersapu” oleh penis itu. Grace
yang merasa keenakan menggeliat-geliat liar, tangannya merengkuh kepala
Ton agar lebih rapat ke dadanya yang sudah terpampang bebas karena
sebelumnya Ton sudah melucuti pakaian dan bra-nya. Lewat 20-an menit
barulah Ton ejakulasi, berbarengan dengan orgasme Grace yang sudah entah
ke sekian kalinya hari itu. Ton tengkurap menindih Grace beberapa saat
sambil mengatur nafasnya, sebelujm ia mencabut penisnya dari vagina Grace
dan keluar kamar itu, membiarkan Grace yang masih tergeletak
tersengal-sengal capek. [*6]
Ton digantikan oleh Jon yang memutuskan untuk ngeseks dengan gaya yang
berbeda. Ia menarik Grace yang baru selesai menata pakaian yang
dikenakannya. Jon memepetkan tubuh Grace ke dinding kamar dengan tubuhnya
yang besar, lalu memasukkan penisnya ke vagina Grace. Diangkatnya kaki
kiri Grace dan disampirkannya kaki itu ke pundaknya. Jon mulai menggenjot
Grace yang tentu saja kini kewalahan karena ia kini harus bersenggama
sambil berdiri di atas satu kaki.
Jon tak juga orgasme meski hampir 20 menit ia menggenjot Grace. Tapi ia
tahu kaki Grace mulai kram karena kelamaan berdiri dengan satu kaki, maka
Jon menurunkan kaki kiri Grace dan ganti menyampirkan kaki kanan Grace ke
pundaknya. Posisi kali ini tak berlangsung lama sebab Jon pun sudah
kebelet. Ia melenguh sambil memuncratkan sperma dari penisnya. Grace
gelagapan merasakan vaginanya kembali disemprot sperma sementara ia masih
berdiri dengan satu kaki. Ketika kakinya diturunkan dari pundak Jon, Grace
hanya bisamelorot ke bawah, tersimpuh sambil tetap bersandar ke dinding.
Posisi itu dipandang ideal oleh Jon yang langsung menyodorkan penisnya ke
wajah Grace sambil meminta Grace membersihkan dan mengulum penisnya.
Dengan jilatan-jilatan lihainya Grace menjilati penis Jon lalu mengulumnya
sampai Jon ejakulasi lagi. Sambil nyengir puas jon keluar kamar.
Belum sempat Grace merapikan pakaiannya, masuk Fay yang langsung
“menerkam” Grace dan merebahkannya ke ranjang. Grace yang belum sempat
mengambil nafas terpaksa menurut, vaginanya kembali dimasuki penis pria
berukuran besar. Fay yang sudah sangat bernafsu itu menggenjot Grace
dengan cepat. Gaya bersenggamanya yang menghunjam dan menghentak-hentak
makin membuat Grace lemas. Tanpa iba Fay melampiaskan nafsunya pada Grace.
Daerah payudara dan leher Grace sampai memerah akibat cupangan Fay yang
penuh nafsu.
Sial bagi Grace, rupanya para pria bejat itu sudah mengatur bahwa Fay-lah
yang mendapat giliran terakhir di session pertama ini. Fay punya stamina
yang luar biasa, boleh dikata menyaingi Bram. Hampir satu jam Fay
memperkosa Grace dengan berbagai gaya tapi belum ada tanda-tanda ia akan
selesai. Ketika Grace kembali ditelentangkan setelah sebelumnya dipaksa
mengikuti gaya-gaya liar Fay, Grace sudah lemas dan lelah. Yang
diinginkannya adalah bahwa ini semua cepat selesai. Ia bergidik
membayangkan masih ada 12 orang pria lain yang menunggu giliran untuk
selanjutnya mengeroyoknya.
Kira-kira satu jam lewat 15 menit barulah Fay mencapai puncaknya.
Disemburkannya sperma dari penisnya ke dalam vagina Grace. Grace hanya
bisa menggeliat-geliat lemah. Dalam hatinya ia mengutuki nasibnya yang
harus kalah dari Susanty sehingga ia harus menjadi camilan bergilir para
pria itu. Seandainya saja Grace tahu harga yang harus dibayar Susanty
untuk gengsinya itu, Grace takkan menyesal.
|
|
|
|