|
Mbak ratna, cream Tiramissu |
Minggu siang itu menjelang sore hari, gerimis baru saja usai. Udara terasa
sejuk. Kulangkahkan kakiku menuju mall terdekat.
Sudah lama sekali aku tidak melihat “peradaban”, karena disibukan oleh
pekerjaan kantor yg seperti tiada habisnya. Bahkan sabtu kemarin pun aku
harus masuk kantor. Sungguh menyebalkan.
Karenanya siang ini, setelah puas menikmati tidur dan baru terbangun
setelah matahari lewat tengah hari, kulewatkan sore ini dengan berjalan
jalan di mall. Niatku ingin mencari film dvd di toko si enci langgananku
lalu ke toko buku, siapa tahu ada buku baru yang bagus.
Namun yang terjadi malah aku asik memilih milih baju dan celana. Merk
favoritku lagi discount! Sayang bila dilewatkan. Maka dengan antusias
kucoba bandingkan beberapa baju.
“ Hmm…bagus bagus semua, bingung nih,” pikirku.
Bolak balik kupadankan beberapa kaos dan baju. Dan tanpa kusadari,
sepasang mata tak lepas mengamatiku. Bukan, bukan tatapan penuh curiga
Satpam toko, namun sepasang mata keibuan yang menatapku. Hal ini baru
kusadari setelah beberapa saat asik mondar mandir di bagian pakaian dan
aksesoris pria mall ini. Pernah kan celingukan karena merasa ada orang
yang memperhatikan kita? Perasaan inilah yang kurasakan.
“ Aneh, kayaknya ada yang ngeliatin gue nih!” kutebarkan pandanganku ke
sekeliling.
“Ah, gak ada tuh! GR banget ya gue?” batinku dalam hati.
Dengan geli hati kulanjutkan windows shoppingku. Akhirnya kuambil baju
pilihanku dan segera berbalik untuk bergegas ke kasir, namun ..upssss!
hampir saja aku menabrak seseorang.
“Eh, aduh, ma..maaf bu” ujarku spontan.
“Oh, gak apa apa kok mas…” balasnya sambil tersenyum kecil.
“Wihhh..manisnya senyum si ibu ini, wangi pula hmmm…”
Batinku sesaat kuteringat guru bahasa inggrisku yang cantik dan jadi
favorit murid laki laki, Bu Eli, waktu di smp dulu. Kubalas senyumnya
“Permisi bu…” ujarku sembari bergegas ke kasir.
Sampai di kasir, sembari mengantri, iseng iseng kutebarkan kembali
pandanganku
“Hmm…mana ya ibu tadi?” batinku sambil celingak celinguk.
Nah, itu dia!
Kuperhatikan wanita itu beberapa saat, wah dia lebih cantik dari bu Eli
dulu. Merasa diperhatikan, tiba tiba saja ia menengok ke arahku. Segera
kualihkan pandanganku, namun sedetik kemudian mataku tak kuasa untuk
melirik kembali kearahnya.
Waduh, dia tersenyum lagi sambil memandangku.
Gugup, dengan reflek tanganku menggaruk garuk belakang leherku, sambil
mengalihkan pandanganku, pura pura cuek. Ha ha ha… gaya standarku kalau
sedang sal-ting alias salah tingkah.
“Terima kasih Mbak” ujarku tersenyum kepada Mbak kasir yang manis, setelah
membayar dan menerima kantung belanjaanku.
Kulanjutkan jalan jalan soreku ke tempat dvd langgananku. Tidak lama
disana, karena film yang kucari belum ada.
“Minggu depan deh u kesini lagi, eke pesenin dulu buat u orang” kata si
enci endut centil.
“Ok deh ci, minggu depan ya?”
“Hm..kemana lagi ya?” batinku.
“Ah, kan mo nyari buku?”ujarku dalam hati.
Segera kuberlalu ke toko buku G*** di lantai bawah. Ketika turun
eskalator, setengah gugup kubergumam “Sialan, ibu itu lagi!”.
Ya, wanita itu lagi! tengah menaiki eskalator yang berlawanan arah
denganku. Sambil senyum senyum sendiri kutenangkan diriku yang sal-ting
abis, tentu saja tanpa berani menatap kearahnya.
“Aneh, kenapa gue jadi gini?” tanyaku di hati.
Begitu sampai bawah, kualihkan mataku ke atas lagi. Eh, ibu itu turun
lagi. Dan rasanya dia melihat kearahku lagi. Bagai dikejar hansip,
kubalikkan tubuhku dan mempercepat langkah ke toko buku. Begitu tiba di
pintu masuk, tiba tiba terpikir olehku
“Ngapain gue jadi panik gini? Nyolong baju enggak, ngutil barang enggak.
Bego amat ya gue? lagian GR amat sih?”
“Kali aja si ibu itu emang mau pulang atau mau kemana gitu? Dasar!”
umpatku pada diri sendiri.
Beberapa saat kemudian aku pun tenggelam dalam bacaanku. Ketika sedang
asik menekuni bacaanku, tiba tiba sesuatu mengusik konsentrasiku.
Wangi parfum! Ya, wangi parfum siapa ini ya?.
“Hmm..seperti wangi si…” tanpa sempat berfikir jauh lagi, kudongakkan
kepalaku, dan …astaga!
Hampir copot jantungku! Si ibu manis itu telah berdiri disampingku!
Aku gugup, panik, bingung harus bagaimana.
Melihat tingkahku, dengan tenang wanita itu menyapaku ramah.
“Wah, suka baca seri chicken soup juga ya, mas?” tanyanya sambil melirik
buku bacaanku dan mencondongkan badannya ke arahku.
”Eh...eh, iya bu, eh..mbak..tante” jawabku panik.
Sial…disapa mahluk indah malah jadi bego kayak gini?
Mendengar jawabanku yang lucu, ia tertawa.
“Ih kamu lucu deh, jangan grogi gitu dong. Saya juga suka baca seri ini!”
godanya.
Mukaku merah padam menahan malu. Mas mas di sebelahku yang melihat
kejadian ini tersenyum simpul.
“Dasar bloon, diajak ngobrol cewe cantik, malah hah heh hoh aja!” begitu
mungkin ejeknya dalam hati.
“Tenang, tenang….be cool man, don’t be panic, take it easy boy…kalem
aja…everything is okey…” berbagai ungkapan untuk menenangkan diri
berhamburan di kepalaku.
Sesaat kemudian aku telah dapat menguasai diri
“Eh..iya tante. Saya memang suka baca buku buku ini” balasku coba
tersenyum ala tebar pesona.
“Aduh, jangan panggil tante ah, belum tua tua banget kan. Panggil Mbak
aja, atau nama aja juga gak apa apa”
“Oh…iya deh…tapi panggil Mbak aja ya?gak enak kalo cuma manggil nama aja”
jawabku mulai tenang.
”Nah kan enak kalo gitu. Lagi baca yang mana sih?”
“Oh yang ini…emang bagus kok. Aku dah baca”
Dengan santainya Mbak ini merapatkan badannya dan meraih buku yang sedang
kupegang.
Wah wanginya….seperti kata iklan “bikin cowo nempeeelll kayak prangko”.
Bukan hanya itu, bagaikan mendapat durian runtuh sepohon, lenganku tanpa
sengaja menempel bagian samping dadanya. Aih mak! Udah mencium wanginya
dapat yang empuk empuk pula, mimpi apa aku semalam?
“Mbak lagi nyari buku apa?” tanyaku SASA, sok asik sok akrab nih
ceritanya.
“Ah enggak, lagi liat liat aja” jawabnya sambil meraih satu buku, dan
membolak balik isinya.
Sejenak kemudian ia pun berdiri mematung disebelahku dan mulai asik
menekuni bacaannya. Sedikit kecewa karena dicuekin, aku pun coba
melanjutkan bacaanku. Tapi mana bisa!
Pikiranku sudah tak bisa berkonsentrasi ke buku lagi. Apalagi dua bola
mataku semakin ‘tak terkendalikan lagi’ mulai liar melirik kesebelah.
“Duh! Manis beneerrr”.
Meski sudah tidak ABG lagi, bentuk badannya padat berisi dan warna kulit
lengan atasnya yang putih langsat, dengan sedikit bulu bulu halus.
“Gila! Sluurpp!Glek!”
Tanpa sadar kutelan air liurku sendiri, waduh berabe nih urusannya!
Sadar diperhatikan, si Mbak menghentikan sejenak bacaannya, lalu berbisik
“Kamu tau gak? Aku dah merhatiin kamu sejak kamu masuk ke toko baju tadi
lho!” bisiknya pelan.
Setelah berkata itu ia tersenyum penuh arti lalu dengan santai melanjutkan
bacaannya kembali.
Dia santai, sedangkan aku? Kagetnya gak ketulungan.
Pikiranku kembali ke beberapa saat yg lalu. Bermacam pikiran berkecamuk
didiriku.
“Jadi perasaanku tadi bener dong? Emang ada yang diem diem merhatiin gue?”
“ Jadi senyum manis Mbak ini emang untukku dong? Jadi Mbak ini emang
ngikutin gue dari tadi dong?”
Bangga, senang, GR, campur heran karena jarang jarang mendapat anugrah
seindah ini.
“Eh, berarti Mbak ini model modelnya tante gir…” oh.. no..pikiran tabu
langsung terlintas di benakku.
“Kalo bener gimana dong?”
“Waduh gimana nih! Apa yang harus kulakukan? Gimana mastiinnya?”
“Trus kalo diajak check in gimana? Wah, kuat gak ya ngeladeninnya? Bisa
muasin dia gak ya?”
“Punyaku kan gak panjang and gede kayak di film porno vivid koleksiku?”
“Tapi, jangan jangan suaminya pejabat atau tentara? Bisa gawat!”
“Walah walah…pusinggggg aku!”
Sejenak kemudian kucoba menenangkan diri. Sudahlah, santai saja dulu.
Jangan berpikiran terlalu jauh dulu.
“Just be ur self!” batinku teringat salah satu bagian di buku andalanku,
chicken soup.
Ya, jadi diri sendiri saja dan apa adanya. Kalau memang dia
memperhatikanku sedari tadi, berarti aku punya daya tarik tersendiri buat
dia, iya ‘kan? Batinku coba membangun rasa percaya diri. Mainkan bung!
Kuputar otak untuk memulai obrolan kembali.
“Mbak, belum tau nama Mbak nih, namaku Fariz!” pancingku.
”Nah gitu dong, dari tadi lho Mbak tungguin” tolehnya sambil tersenyum,
lagi lagi, dengan manisnya.
“Aduh, si Mbak godain terus, bikin gemes” batinku.
”Ratna” sambungnya sembari mengulurkan tangannya.
Kujabat lembut tangannya. Hm, lengannya sexy sekali! Terutama lengan
atasnya. Putih mulus, berbulu halus. Tanpa sadar, sembari tetap
menggenggam tangannya, mataku tak lepas menikmati lengan mulusnya.
”Faris, halo?” ujar Mbak Ratna sambil mengibaskan jari jari kirinya di
depan mataku.
”Hah?” kutersadar malu.
”Kenapa? Suka ya liat bulu halus di lengan Mbak?” ujarnya dengan kenes.
Wah, semakin jelas sudah. Dari kata katanya yang ‘memancing’ aku semakin
yakin. Ayo, keluarkan jurus “rayuan pulau kelapa”mu faris!
“Kok Mbak Ratna tau aja?”
“Boleh kan kita liat yang indah indah? Emang keliatan banget ya aku
ngeliatinnya?” jawabku sok polos.
“Dasar!” balasnya sambil mencoba menggelitik pinggangku.
Dengan cepat kugenggam lengan atasnya yang menggairahkan. Sejenak kami
bertatapan. Tanpa sepatah katapun, kami sama sama dapat merasakan gejolak
birahi ketika mata kami saling beradu pandang. Dengan lembut mesra kuremas
lengan atasnya yang kenyal itu.
Mbak Ratna membiarkan jari jariku meremas remas lengannya. Dan pemandangan
yang menggairahkan terjadi di depan mataku, ketika kulihat Mbak Ratna
menggigit gigit bibirnya sendiri, ternyata ia menikmati pijatan jari
jariku.
Sadar bahwa kami tengah berada di tempat umum, segera kulepaskan
lengannya. Gawat kalau dilihat pak satpam, bisa digiring ke posko nanti.
Sabar Faris, wanita ini sudah berada dalam genggamanmu, hanya masalah
tempat dan waktu yang tepat saja untuk menikmatinya.
“Mbak, kita jalan jalan ke tempat lain yuk?” ajakku.
Mbak Ratna langsung mengangguk setuju. Kami pun segera keluar dari situ.
“Kita kemana Faris?”tanya Mbak Ratna sambil menggandeng lenganku.
Ya ampun, daging kenyal itu kembali menyentuh dan menggesek gesek lenganku
dengan lembut. Kutatap wajahnya, dia balas menatapku tajam, seolah berkata
“Ayo faris, Mbak gak tahan lagi sayang”
Oh tidak Mbakku cantik, tidak secepat itu. Akan kupermainkan gairah
nafsumu tanpa harus segera menidurimu.
“Gimana kalo kita ke café? Kita bisa ngobrol ngobrol sambil nikmatin HOT
coffee atau HOT coklat” ajakku, sambil menekankan kata HOT pada kalimatku.
Tampak wajahnya sedikit berubah, sedikit kecewa nampaknya, karena ternyata
aku tidak segera menuruti keinginan birahinya yang sudah memuncak.
“Café? Hmm..boleh deh, Mbak juga lagi pengen yang HOT HOT nih?” jawabnya
manja tersenyum penuh arti.
Maka kamipun naik lagi ke atas, menuju café tempatku sering berkunjung.
Tidak banyak pengunjung sore itu. Kamipun memilih duduk disudut yang sepi
dan agak tertutup dari luar. Cukup romantis pikirku, dan syukur syukur
bila sangat sepi aku bisa melancarkan ‘serangan gerilya’.
“Mbak mau pesan apa” tanyaku sambil menyodorkan menu yang tersedia.
“Apa ya? Pokoknya yang STRONG dan HOT deh!” jawabnya penuh makna.
“Hehe..mancing mancing lagi nih?”batinku.
“Oke, yang pake rum sedikit gak apa apa kan?” tukasku.
”Boleh,terserah kamu mas”.
“Mas? walah, kayak aku ini suaminya aja nih!” batinku.
Namun jelas aku pun akan senang sekali bila beristrikan wanita seayu dia.
Aku memesan dua cangkir Irish coffee with cream dan sepotong cheese
tiramisu favoritku. Sambil menunggu pesanan, kami pun menikmati suasana
sore yang hangat itu, memandangi kota dari jendela café. Di sebelah kami
sepasang remaja sedang menikmati pesanan mereka, sambil bercakap cakap.
“Kamu bisa aja milih tempatnya Mas Faris. Sering ngajak ceweknya pacaran
disini ya? Kayak mereka itu tuh?” canda Mbak Ratna menunjuk pasangan
remaja itu.
“Kok tahu lagi sih? Wah Mbak ini jago ngeramal ya?” jawabku kembali sok
polos.
“Tapi emang enak kan disini? Bisa liat pemandangan diluar, ya kan?”.
Mbak Ratna mengiyakan, namun pandangannya menerawang jauh ke luar jendela,
nampaknya ia tengah menikmati pemandangan dari tempat duduknya.
Kesempatan ini kumanfaatkan utk menikmati wajah ayunya yang makin nampak
keibuan diterpa sinar matahari sore itu yang kemerahan. Nampak pipinya
sedikit mengkilat karena polesan tipis makeup, bibirnya yang agak tebal
merekah indah. Wajahnya nampak putih bersih merona, dengan beberapa garis
lipatan di lehernya, ah...sebutir keringat nampak membasahi lehernya,
menyisakan jalur basah sampai ke dada atasnya.
Aku jadi teringat bintang sinetron yang sering memerankan wanita setengah
baya yang sering memakai kebaya. Menurutku artis tersebut sangat sexy dan
aku sering berfantasi menyetubuhinya, melumat payudaranya, walau mungkin
sudah menggantung namun pasti lembut dan impianku adalah menyemprotkan
cairan kentalku di atas payudaranya yang masih terbalut kebayanya yang
telah berantakan karena tertarik dan tersobek, mengoleskannya ke leher dan
dagunya dan akhirnya membiarkannya mengulum penisku yang masih basah oleh
cairan kentalku.
“Srek!” bunyi kursi yang bergeser membuyarkan lamunanku.
Kedua remaja itu telah pergi. Tinggal kami berdua.
Aha! It’s about time!
“Mbak Ratna…” panggilku sembari mengelus elus lengan kirinya.
Wanita ayu ini tersentak dari lamunannya, sembari melepaskan dagunya dari
tumpuan tangan kanannya.
“Ya Faris? Ih kamu ini suka banget ya bikin geli orang? geli tanganku!”
sambil menarik lengannya dari jangkauanku.
”Enggak…tadi kan Mbak bilang udah merhatiin aku sejak dari toko baju?
Emangnya kenapa sih Mbak?” tanyaku penasaran.
“Hm…kenapa ya?” sambil memainkan ujung rambutnya.
“Waktu liat kamu, Mbak seperti ngeliat lagi temen Mbak waktu sma dulu,
Mbak kira kamu anaknya?”ujarnya.
“Ah..temen apa temen tanda petik?” ledekku memainkan kedua jari tangannku
di samping kupingku.
“Ih…ya temen lah!”
“Ah masa sih?” ledekku lagi.
Mbak Ratna tersenyum malu, aih …ayu sekali dia kalo sedang tersenyum
begitu.
“Iya sih, dulu Mbak naksir berat sama dia, tapi dia malah jadian sama
temen Mbak sendiri. Ah, sedih banget kalo diinget lagi” bibirnya
merekahkan senyuman, matanya terpejam.
Sinar matahari sore semakin membuat bulu bulu halus dibawah pelipisnya
terlihat indah merona. Hmm..nikmatnya bila bisa mengecup lembut bibir
merekah itu. Lipatan dagu dan beberapa lipatan dilehernya yang basah
berkeringat, makin membuatnya memancarkan sex appeal bagiku.
“Maaf pak, pesanannya” pelayan yang datang membawa pesanan menghentikan
sementara obrolan kami.
”Nah ini dia minuman favoritku, ayo Mbak dicoba” ajakku.
Kuhirup hangatnya secangkir irish coffee. Cream susunya meninggalkan bekas
di bibir atasku. Mbak Ratna pun mencoba seteguk.
”Gimana Mbak?suka gak?” tanyaku.
”Hm..enak juga ya, rumnya itu lho, kerasa banget!langsung terasa hangat
dibadan, boleh juga pilihannya mas” jawabnya sambil menghirup lagi coffee
itu.
Sementara aku mulai menikmati cheesee tiramisu. Terasa nikmat dan lembut
dimulutku. Seingatku sudah lama juga sejak aku terakhir makan kue ini.
Tiba tiba tawa Mbak Ratna meledak
”Hi hi hi, mas!mulut kamu belepotan tuh! pelan pelan dong makannya”
ujarnya.
Jari telunjuknya mencoba membersihkan cream tiramisu di bibir atasku.
Kupegang telapak tangannya, kutatap wajahnya. Seperti mengerti jalan
pikiranku, Mbak Ratna mengoleskan jari telunjuknya yg berlumuran cream itu
ke bibir bawahku. Aku menyambutnya dengan menjilati telunjuknya.
”Enak Mbak?”bisikku.
Mbak Ratna tak menjawab, namun ekspresi wajahnya menyiratkan nafsu yang
mulai menggelora.
”Mas…” desahnya kemudian sambil menjilati bibirnya sendiri.
Kuhentikan jilatanku. Kucelupkan telunjukku kedalam lembutnya cream
tiramisu. Dengan tanggap Mbak Ratna meraih tanganku dan mengoleskan jari
telunjukku ke bibirnya. Setelah itu telunjukku dikulumnya dengan penuh
nikmat. Gerakan bibirnya seperti sedang mengulum batang kenikmatan.
Matanya terpejam, menghayalkan ‘benda lain’ sedang berada dalam
kulumannya.
Kugoda Mbak Ratna “Hayo..lagi menghayal ngemut apaan?”
Jawabannya adalah jilatan lidahnya yang semakin liar dalam mulutnya.
Kugerakkan jariku dengan perlahan keluar masuk mulutnya yang terasa
hangat.
“Suka ya Mbak?hmmm…?” bisikku lagi.
Posisi kami yang di sudut cafe yang sepi, memudahkan kami melampiaskan
hasrat tanpa takut kepergok atau diintip orang lain. Well.. tengsin juga
sih kalau ada yang memergoki, tapi gimana donk, enak sihhh.
Kami saling merapat. Kubiarkan mbak Ratna menikmati jariku. Wajahnya
semakin menggairahkan.
Terus terang, kemaluanku sudah tegang sedari tadi, malah kini semakin
menjadi, agak ngilu karena terhimpit dalam celana jeansku. Bahkan rasanya
ujung kemaluanku sudah basah deh! Ah dasar kamu Fariz! Amatiran banget!
Pusing kepalaku membayangkan jika batang kemaluanku yang berada didalam
mulutnya. Duh! gak bakal kuat deh!
“Mmm..aku boleh..mmm..boleh itu gak mbak?” gumamku gak karuan saking
gugupnya. Sejenak mbak Ratna melepaskan lumatannya. “ Boleh apa mas? gak
jelas sih ngomongnya? Tenang aja, cuma kita berdua kok disini…” bisiknya
lembut manja sambil mengedipkan matanya yang indah itu.
Tanpa menjawab, tangan kiriku dengan cepat mendarat di atas dadanya.
Lalu mulai mengelus lembut dada kenyalnya. “ Kamu nakal..” desahnya sambil
tersenyum genit.
“ Ah ..mbak kali yang nakal. hmm..?” tukasku pelan menggodanya.
Sejurus kemudian tangannya membimbing jemariku menyusuri lekukan
payudaranya. Terasa lembut dan kenyal di beberapa bagian. Ah, sungguh
indah!
Melihat aku sudah asyik dengan payudaranya, mbak Ratna memasukkan kembali
jariku kedalam mulutnya. Kali ini lumatannya terasa semakin binal. Mungkin
semakin terangsang oleh “gerakan gerilyaku” di gunung kembarnya. Sesekali
ia melenguh saat jemariku menekan dan menjepit bagian ujung putingnya.
Tak lama kemudian dibimbingnya jemariku kebawah perutnya, terus ke arah
selangkangannya. Dengan senyum penuh arti diarahkannya jemariku menuju
gundukan kenikmatannya.
Tanpa harus diminta, jemariku pun dengan cekatan mulai mencari celah untuk
memasuki daerah kewanitaanya.
Kuselipkan jari telunjuk dan tengahku ke bagian bawah celana dalamnya.
Sekilas tersibak roknya dan terlihat warna hitam celana dalamnya yang amat
kontras dengan kemulusan pahanya yang kuning langsat. Alamak!
Oo! Ternyata kewanitaanya telah basah. Becek! Sedikit lengket kurasakan
ketika semakin dalam kubenamkan jemariku, melewati bulu bulu kemaluannya
yang telah basah oleh cairan hangat.
“Mmm sayang…terus…” pintanya sembari memejamkan matanya, lalu kembali
asyik mengulum jemariku yang lain.
Seperti kucing yang tengah menikmati belaian, mbak Ratna terlihat nyaman
dan menikmati sekali permainan ini.
Jujur saja, sebenarnya aku masih gugup harus melakukan ini di tempat umum,
meskipun posisinya tersembunyi di pojokan café. Karena bisa saja setiap
saat ada pengunjung yang datang dan memilih tempat duduk di sebelah kami.
Kurasakan suhu tubuhku menghangat, sementara kepalaku mulai terasa pening.
Bukan! Bukan karena sakit, namun karena menahan hasrat birahiku yang
bergejolak melihat seorang wanita ayu yang sedang melampiaskan hasrat
sexnya melalui jari jemariku!
Ya ampun! Keningku terasa berdenyut denyut. Jantungku berdetak cepat.
Pikiranku terpecah antara rasa nikmat melakukan permainan ini, namun juga
terusik oleh rasa was was bila perbuatan kami terlihat oleh orang lain.
Belum lagi rasa ngilu di selangkangan ini, karena batang kemaluanku
menegang keras terbungkus celanaku yang terasa makin menyempit.
Semakin lama bukan hanya mulutnya yang bergerak, namun juga pinggulnya
bergerak gerak. Tak lama kemudian tubuhnya bergetar hebat. Bahkan jariku
pun digigitnya dgn keras.
”Aww..Mbak! sakit dong” sambil menarik keluar jariku dari mulutnya.
Mbak Ratna menggenggam erat telapak tanganku, terdengar desahan nikmat
ketika ia menggigit bibir bawahnya sendiri.” Ahhhh……” hanya suara itu yang
lirih terdengar dari mulutnya, lalu tubuhnya mengejang beberapa saat.
Samar terdengar suara mirip gelembung air yang meletus dari kewanitaanya.
“Pop!!”
Lalu cairan mendesir keluar dari celah kewanitaannya, menjalar hangat
sampai ke telapak tanganku.
Wow! Sebuah pemandangan yang sungguh luar biasa indah!
Akhirnya dihempaskannya tubuhnya ke belakang dan duduk terkulai lemas.
“Kenapa Mbak?” tanyaku pura pura bloon tanpa melepaskan jemariku dari
selangkangannya.
Padahal dalam hati aku berteriak “Yess! Kena lo gue kerjain!”.
Mbak Ratna menjawab singkat “Nakal!”
”Mbak ke toilet dulu ya” lalu ia bangkit dari kursinya.
Aih mak! Gila!
Perasaan lega menyelimutiku dan tanpa sadar tanganku yang masih basah oleh
cairan kewanitaannya kusapukan ke keningku.
Tak ayal cairan hangat kewanitaannya malah meleleh hangat di pipiku.
Kucicipi sedikit sebelum melap tanganku dengan tisu. Hm..rasanya khas,
agak lengket dan sedikit asin.
Hehehe…satu kosong.untuk Faris.
Ternyata Mbak Ratna meninggalkan dompetnya di atas meja. Cepat kubaca
KTPnya. Ratna Listya Ayu Maharani. Umur? Hah? 41 tahun? Jauh lebih tua
dari perkiraanku yang 35 tahunan.
Oke Mbakku sayang. Kamu tetap ayu kok dan yang pasti aku ingin sekali
menikmati tubuhmu itu Mbakyu!
Tak lama kemudian Mbak Ratna kembali.
“Kenapa Mbak?” godaku lagi sambil tersenyum dan menggenggam tangannya.
“Nakal!Nakal!Nakal!” teriaknya pelan.
Lalu berbisik ke telingaku “Mbak becek banget tadi”
Aku pun balas membisikinya “Tapi enak kann…?”
“Ah… kamu godain Mbak terus.”
Kami pun beranjak dari café itu.
Kini, tanpa sungkan lagi kupeluk pinggangnya sehingga dengan leluasa dapat
kurasakan daging kenyal di pinggangnya. Tubuh mbak Ratna memang molek dan
menggemaskan. Mbak Ratna pun tersenyum manja sambil menggelendot manja
dilenganku.
“Fariz sayang…Mbak mau lagi. Tapi jangan cuma jari kamu aja dong tapi…”
bisiknya kenes sambil melirik ke arah bawah tubuhku.
“Hmm…Mbak mau?” godaku.
“Emang kamu gak mau? Hmm..?” balasnya.
“Mau banget..” bisikku sembari meremas pinggangnya.
”Ih..nakal!”teriaknya geli.
“Kalau begitu, gimana kalau minggu depan kita janjian di café tadi?”
usulku.
“Boleh, bener ya? Minggu depan di café” jawabnya senang.
Ah, sungguh minggu sore yang menyenangkan. |
|
|
|