|
Lihat istri di pijat (2) |
Berawal dari sahabatku Arman yang bercerita tentang seorang tukang pijat
yang hebat dan bisa dipanggil ke rumah, aku jadi tertarik. Apalagi ketika
ia berbicara tentang kemampuan tukang pijat itu meningkatkan gairah dan
kemampuan seks wanita dengan pijatan supernya. Arman bercerita dengan
cukup detail bagaimana tukang pijat itu yang katanya bernama Pak Daru,
kakek usia kepala tujuh melakukan pijatan super pada istrinya. Hasilnya
sungguh luar biasa. Aku jadi ingin mencobanya..
"Tapi loe harus inget, waktu dipijat sama Pak Daru istri loe harus bugil
total. Mau nggak dia?" Arman bertanya padaku.
"Hah? Dipijat bugil? Nanti istri gue diapa-apain ama dia?
"Ya enggak laah.. Loe juga ada disitu koq. Lagian Pak Daru itu udah tua
banget. Udah gitu dia juga pemijat profesional. Gue jamin ngga masalah.
Tapi istri loe harus setuju dulu."
"Nanti gue coba tanya dia deh.."
"Pokoknya sip banget deh!"
Malamnya aku bicarakan hal itu dengan Vie istriku. Aku ceritakan apa yang
kudengar dari Arman sambil memeluk tubuh mungilnya. Mulanya dia tertarik
tetapi ketika mendengar bahwa ia harus telanjang bulat mukanya langsung
merah padam.
"Malu ah.. telanjang di depan orang lain" protesnya.
"Tukang pijatnya udah tua. Lagipula menurut Arman istrinya bilang
dipijatnya enak dan tangannya sama sekali tidak menyentuh atau meraba
memek koq"
"Ih.." muka Vie semakin merah.
"Kenapa khusus cewek?"
"Nggak tau juga. Tapi coba dulu deh. Siapa tahu nanti ketagihan."
Vie mencubit perutku, tapi akhirnya mau juga dia mencoba. Besoknya
kuhubungi Arman untuk menanyakan cara menghubungi Pak Daru. Setelah itu
kucoba menghubungi Pak Daru dari nomor HP yang kudapat dari Arman.
Singkatnya Pak Daru akan datang ke rumahku esok malamnya dengan
perlengkapannya. Setelah itu kuberitahu Vie. Esok malamnya sesuai janji
Pak Daru tiba di rumahku. Perawakannya kurus hitam dan kelihatannya memang
sudah tua sekali. Apa bisa dia melakukan pijat? Aku terheran-heran sendiri
sementara Vie hanya melirikku dengan pandangan ragu. Kami menuju ke ruang
tamu dalam dan aku menyingkirkan meja tamu untuk mendapatkan tempat yang
luas. Aku sudah memastikan kalau pembantu kami Darsih sudah masuk ke
kamarnya. Sejenak basa-basi, Pak Daru langsung "To the point"
menghamparkan selimut tebal di lantai.
"Silakan Ibu berbaring tengkurap di atas sini" katanya sambil menunjuk
selimut sebagai alas.
"Maaf, tapi saya minta Ibu melepas pakaian" sambungnya lagi.
Wajah Vie merona merah. Dia kelihatan nervous karena itu aku membantunya
melepas dasternya sehingga hanya tinggal mengenakan bra dan celana dalam.
"Untuk sementara begitu saja. Silahkan, Bu" Pak Daru memotong.
Vie berbaring tengkurap diatas selimut. Pak Daru mengeluarkan dua botol
kecil obat yang menurutnya adalah obat ramuan rahasia turun temurun.
Kemudian ia membuka yang bertutup hijau dan menggosokkan minyak tersebut
pada kedua telapak tangannya. Ia mulai memijat bagian belakang hingga
samping kepala Vie dengan perlahan. Aku duduk menyaksikan. Entah kenapa
saat itu aku mulai terangsang membayangkan nantinya tubuh istriku akan
dijamah oleh kakek tua ini. Tentu saja di bawah sana penisku menegang.
Pijatan di kepala beralih ke tengkuk Vie yang mulus dan dipenuhi rambut
halus. Nampaknya Vie merasa enak dengan pijatan Pak Daru di kepala dan
tengkuknya. Ternyata kakek tua ini hebat pijatannya. Dari tengkuk
diteruskan ke bahu Vie yang terbuka dan dilanjutkan ke lengan sampai
telapak tangan. Setelah itu Pak Daru meminta agar istriku melepas tali bra
di punggungnya. Vie melepas kaitan branya sehingga bra tersebut sudah
tidak menutupi tubuh Vie dan hanya tergeletak diantara selimut dan kedua
susunya yang tergencet sehingga menyembul ke samping. Pak Daru mengolesi
punggung Vie dengan minyak dari botol pertama dan mulai mengurut serta
memijat punggung. Vie tampak menikmati pijatan ini.
"Maaf Bu, tapi selanjutnya celana dalam harus dilepas. Bagaimana kalau
suami Ibu yang melepasnya?" Pak Daru tiba-tiba berkata.
Wajah Vie memerah lagi. Aku mengikuti permintaan Pak Daru melepas celana
dalam Vie tanpa mengubah posisinya yang tengkurap. Pantat Vie yang indah
dan celah vaginanya terlihat jelas membuat penisku semakin tegang. Pak
Daru melumuri dua bongkahan pantat Vie dengan minyak dan segera memijat
dengan perlahan. Kali ini Vie mengeluarkan suara tertahan. Jelas Vie mulai
terangsang birahinya dengan pijatan Pak Daru. Apalagi ketika Pak Daru
memijat pangkal paha bagian dalam, tarikan nafas Vie berubah menjadi lebih
berat dan matanya terpejam. Pak Daru tetap memijat seperti tidak terjadi
apa-apa. Kakek tua itu memijat pantat, paha dan kemudian betis hingga
akhirnya melakukan pijat di telapak kaki.
"Ini adalah salah satu tahap penting dalam pijatan ini" Pak Daru
menjelaskan.
"Terdapat titik-titik penting di telapak kaki untuk meningkatkan gairah"
lanjutnya.
Kemudian ia mengambil botol minyak kedua bertutup merah yang dari tadi
belum pernah dipakainya. Digunakannya untuk memijat telapak kaki Vie. Kali
ini pijatannya sangat intensif dan memakan waktu cukup lama. Terkadang Vie
merintih, mungkin pijatan si kakek cukup kuat.
"Maaf Bu, untuk tahap berikutnya saya akan memijat di daerah bagian depan
tubuh. Sebaiknya Ibu duduk bersila membelakangi saya dan menghadap ke arah
Pak Saldy agar saya tidak melihat tubuh bagian depan Ibu." kata Pak Daru
setelah selesai memijat kaki istriku.
Kali ini kelihatannya Vie sudah mulai terbiasa dan kemudian ia mengambil
posisi duduk bersila membelakangi Pak Daru. Tubuh indah Vie yang telanjang
bulat berhadapan denganku. Pak Daru kembali menggosokkan minyak kedua pada
telapak tangannya. Pak Daru terlebih dahulu meminta persetujuan aku dan
Vie.
"Saya minta izin kepada Pak Saldy dan Ibu Vie untuk melakukan pijatan di
tubuh bagian depan Ibu Vie.."
"Silakan, Pak Daru" jawabku
"Silakan.." jawab Vie.
Langkah pertama Pak Daru adalah melumuri bagian sekitar vagina Vie dengan
minyak dari botol bertutup merah dan mulai melakukan pijatan di daerah itu
dari belakang. Walaupun tidak menyentuh vagina, tetapi tangannya memijat
mencakup pangkal paha, pinggul depan, termasuk daerah yang ditumbuhi bulu
kemaluan. Mulut Vie sedikit terbuka. Aku tahu Vie merasakan nikmat
disamping rasa malu. Pijatan Pak Daru pasti membuat birahinya naik ke
ubun-ubun. Beberapa kali tangannya terlihat seakan hendak menyusup ke
dalam celah vagina Vie yang membuat Vie menahan nafas tetapi kemudian
beralih. Bulu kemaluan Vie dibasahi oleh minyak pijat Pak Daru sementara
Vaginanya basah oleh cairan nafsunya.
Pak Daru melanjutkan pijatannya ke bagian perut Vie, dan memijat perut
terutama bagian pusar sehingga membuat Vie kegelian. Hanya sebentar saja,
setelah itu Pak Daru meminta Vie mengangkat tangannya.
"Maaf Bu, tapi ini adalah tahap terakhir dan saya harus memijat di bagian
ketiak dan payudara. Coba angkat kedua tangan Ibu."
Vie mengangkat tangan dan meletakkan kedua tangannya di atas kepala. Pak
Daru memulai pijatannya di daerah ketiak dari belakang.
"Ihh.. geli pak.." Vie menggelinjang.
"Ditahan Bu. "
Pak Daru mengabaikan Vie yang sedikit menggeliat menahan geli dan
melanjutkan pijatannya di ketiak Vie. Setelah itu Pak Daru mengambil
minyaknya lagi dan dituangkan ke telapak tangannya. Selanjutnya dari
belakang tangannya meraup kedua gunung susu milik Vie yang langsung
membuat Vie mendesah. Pak Daru melakukan massage lembut pada susu Vie yang
sudah tegang. Terkadang kakek itu melakukan gerakan mengusap. Jari-jari
terampil yang memijat pada kedua susunya membuat Vie sangat terangsang dan
lupa diri, mengeluarkan suara erangan nikmat.
Aku melotot melihat pemandangan luar biasa itu. Payudara istriku yang
berusia 27 tahun, mulus, kenyal, dan berlumur minyak sedang dicengkeram
dan diusap oleh tangan kasar hitam seorang kakek berusai 70-an, membuatku
sangat bernafsu. Berbeda dengan Pak Daru yang sama sekali tidak bereaksi
apa-apa, Vie merintih dan mendesah. Posisinya sudah berubah tidak lagi
duduk bersila, tetapi duduk mengangkang memperlihatkan vaginanya yang
sudah becek kepadaku sambil tangannya mencengkeram rambut.
"Ukhh.." kali ini Vie mendesah keras. Aku sangat terangsang mendengarnya.
Ingin sekali aku menggantikan Pak Daru memijat susu Vie.
Pak Daru menarik puting susu Vie dengan telunjuk dan jempolnya dengan
perlahan sehingga membuat Vie mengeluarkan suara seperti tercekik. Sampai
akhirnya Vie merintih pelan, panjang. Vaginanya banjir. Hebat sekali
pijatan si kakek ini.
"Saya rasa sudah cukup. Silakan Ibu mengenakan pakaian. Sementara itu ada
yang ingin saya bicarakan dengan Pak Saldy" Pak Daru menyudahi aksinya.
"Ya Pak?"
Pak Daru menyerahkan sebuah botol kecil berisi carian kepadaku.
"Apa ini, Pak Daru?"
"Pijatan saya itu membuat gairah seorang wanita meledak-ledak tetapi
orgasmenya akan menjadi lebih cepat. Selain itu ini adalah ramuan untuk
membuat susu wanita tetap kencang dan padat. Usapkan dengan gerakan
memeras. Saya yakin Pak Saldy bisa." bisiknya sambil tersenyum.
Setelah itu aku membayar Pak Daru dan ia pamit pulang. Vie sudah
mengenakan pakaiannya lagi.
"Eh.. buka lagi bajunya. Aku mau coba hasil pijatan Pak Daru." kataku.
Vie tidak menjawab, tetapi dari sinar matanya aku tahu saat ini dia sedang
dalam gairah yang tinggi. Mukanya merah dan nafasnya memburu. Aku segera
meraihnya dan mencium bibirnya. Ciuman yang ganas karena aku sendiri sejak
tadi menahan nafsuku melihat tubuh Vie yang sedang dipijat. Vie membalas
tak kalah bernafsu sambil melucuti pakaiannya sendiri dan langsung
melucuti pakaianku sehingga kami berdua telanjang bulat di ruang tamu.
"Senggamai aku.. aku ingin segera kontol kamu masuk ke sini" Vie meracau
sambil menunjuk vaginanya yang sudah basah kuyup sejak tadi.
"Beres sayang.. "
Aku segera memutar tubuhnya menghadap dinding dan mencoba menyetubuhinya
dari belakang. Vie segera mengambil posisi tangan bertumpu pada dinding.
Dengan perlahan-lahan penisku menerobos vaginanya yang sempit dan licin.
Adalah proses yang sangat nikmat luar biasa saat penis memasuki vagina.
Aku pejamkan mataku merasakan sensasinya sementara Vie merintih nikmat.
Sampai akhirnya seluruh penisku masuk de dalam vaginanya yang panas
berlendir dan nikmat.
"Aahh.." Vie menghela nafas, tubuhnya bergetar.
Nikmat sekali. Vaginanya yang panas itu mencengkeram penisku dengan kuat.
Jepitannya lebih hebat dari biasanya. Sementara dengan sudut mataku aku
melihat kalau ternyata pembantu kami, Darsih, sedang mengintip dari balik
dinding ruang tamu. Aku bisikkan ke telinga Vie tentang hal itu.
"Masa bodoh. Biar dia nonton kamu entotin aku." Vie balas berbisik.
"Okee.."
Aku gunakan kakiku untuk mengambil bajuku dan mengeluarkan botol pemberian
Pak Daru dengan tanganku tanpa melepas penisku yang sudah menancap. Lalu
aku tuangkan pada tanganku.
"Apa itu..?" tanya Vie heran.
"Ini minyak dari Pak Daru, bagus buat payudara kamu"
"Ya udah.. cepetan! Terserah kamu mau ngapain. Yang penting garap aku
sampai kamu puas."
Aku segera mengusapkan tanganku yang berlumur minyak itu pada kedua
susunya yang bergelantungan bebas. Lalu aku mulai mengocok vaginanya
dengan lembut. Vie menghelas nafas dengan keras. Akh.. nikmat sekali
rasanya sambil meremas daging kenyalnya. Tangan kanan di susu kanan,
tangan kiri di susu kiri. Seiring kupercepat sodokanku, kumainkan puting
susunya dan sesekali kuremas miliknya itu dengan lebih kuat. Rasanya
menjadi lebih dahsyat terutama karena kami mengetahui bahwa kami
bersanggama sambil ditonton Darsih secara sembunyi-sembunyi. Mungkin dia
mengintip sambil onani, aku tidak perduli.
"Mhh.. terus.. aah.. " Vie merintih terengah-engah. Seiring gerakan keluar
masuk penisku di vaginanya semakin intens, Vie menggeliat.
Aku lepaskan tanganku dari payudaranya, membiarkan kedua daging
menggairahkan itu bergelantung bergoyang-goyang mengikuti sodokan penisku.
Tanganku berganti menggosok-gosok vaginanya yang berlepotan cairan
nafsunya. sesekali kugesek klitorisnya sehingga Vie menjerit keenakan.
Tiba-tiba tubuh Vie menyentak dan vaginanya terasa menyempit membuat
penisku seperti diperas oleh dinding kenikmatannya. Lalu Vie melepaskan
orgasmenya disertai erangan panjang dan kemudian ia terkulai. Benar kata
Pak Daru, Vie orgasme cepat sekali. Aku terus menyodok vaginanya
mengabaikan tubuhnya yang lemas. Tak lama Vie bangkit kembali nafsunya dan
mulai merintih-rintih.
"Saldy sayaang.. aku.. ingin kamu.. entotin aku dengan kasaar.." Vie
meracau membuat aku tercengang.
"Nanti kamu kesakitan.." jawabku cepat disela kenikmatan.
"Biaar.. masa bodoh.. aku sukaa.. aa.. ahh"
"As you wish.. Istriku yang cantiik.."
Aku keluarkan sebagian besar penisku dari vaginanya, kemudian dengan satu
hentakan cepat dan kasar aku sodok ke dalam. Penisku terasa ngilu dan
nikmat.
"Eaahh.." Vie menjerit keras.
"Aah..iya..ah.. begiituu.."
Aku lakukan gerakan tadi berulang diiringi jeritan-jeritan Vie. Berisik
sekali.. mungkin tetangga mengira aku sedang menyiksa Vie. Entah apa yang
ada di pikiran Darsih yang sedang mengintip.
"Teruuss.. sayaang.. remas susuku ini.. dengan kuat.. akh! Aku.. ingin
merasakan.. tenagamu.. uuhh.."
Aku meraih susunya yang sejak tadi hanya berayun-ayun, kemudian sesuai
keinginannya aku remas dengan kuat sambil terus menyodok vaginanya dengan
kasar. Lagi-lagi Vie menjerit keras. Aku yakin ia kesakitan tapi bercampur
nikmat.
"Lebih kuaatt.. lebih kuat dari itu.." Vie setengah berteriak.
"Jangan ngaco.. sayang.."
"Ngga apa ap.. aa.. aah..!"
Vie kembali orgasme. Sudah kepalang tanggung, aku ingin mencapai puncak
secepatnya. Kukocok dengan cepat vagina Vie sampai pinggangku pegal. Vie
mendesah lemah.
"Keluarin.. yang banyak di dalam.." katanya pelan.
"Aku.. sedang subur.. biar jadi anak.."
Tak lama aku merasakan denyutan di penisku yang menandakan aku sudah
mendekati puncak. Dan akhirnya penisku menyemprotkan sperma yang sangat
banyak dan berkali-kali ke dalam rahim Vie. Kami berdua jatuh berlutut di
lantai sementara penisku masih bersarang di vaginanya.
"Anget.." Vie menggumam.
"Apanya?" tanyaku terengah-engah.
"Sperma kamu, di rahimku.."
"Emang biasanya dingin ya?"
"Yang sekarang lebih.."
Aku mengusap rambutnya, dan memeluknya dengan sayang. Sementara itu Darsih
sudah menghilang. Puas sudah dia melihat "Live show" kami. Setelah itu
kami berdua membersihkan tubuh kami, terutama Vie yang tubuhnya penuh
minyak. Tetapi setelah selesai mandi Vie kembali ganas dan "Memperkosa"
aku. Gila! Aku benar-benar KO malam itu.. kalah telak!
|
|
|
|