|
Hanya cinta sesaat |
Namaku Iwan, 23 tahun. Ceritanya aku mulai ketika aku baru saja
diterima kerja di sebuah Travel Agent di Ruko kawasan Mangga Dua
Jakarta. Terus terang, aku baru saja lulus dari kuliahku di AKPAR di
Jogja. Aku baru lulus bulan Juli 98. Terus, aku sudah berusaha
melamar kerja di Travel Agent di Jogja, tapi tidak satupun yang mau
menerimaku. Akhirnya aku berkelana ke Jakarta, aku kost di kawasan
Kemayoran bersama temanku yang sudah lebih dulu ke Jakarta dan juga
lebih dulu bekerja di Jakarta. Sampai akhirnya, bulan Desember aku
berhasil bekerja di Travel Agent, tempatku sekarang bekerja.
Nah, di hari pertamaku kerja, aku datang pagi-pagi sekali ke kantor.
Kata Bos baruku, aku harus datang jam 8.30 pagi, yaa.., aku pergi
dari rumah jam 7.00, takut kalau-kalau ada macet di jalan, paling
tidak dalam dua jam aku sampai di kantor baruku. Ternyata di luar
dugaan, aku tiba pukul 7.30. Sial, aku pikir, tahu begini, lebih
baik aku pergi jam delapan. Dan ternyata kantorku juga belum buka.
Aku nongkrong saja di depan kantorku. Tidak berapa lama, ada cewek
yang sedang membuka rolling door ruko di sebelah kantorku. Ah
daripada nongkrong sendirian, lebih bagus nongkrong berdua, pikirku.
"Hai.., baru buka kantor ya?", tanyaku berbasa-basi.
"Iya..", jawabnya ramah.
"Kantor kamu kantor apa sih", tanyaku, sebab di depan kantornya,
tidak ada satupun papan nama yang menjelaskan nama kantor itu.
"Cargo Agent", katanya sambil mendorong pintu kantornya ke samping.
Melihat dia kesulitan mendorong pintu, akupun membantu mendorongnya,
" Kamu karyawan baru di kantor sebelah ya..?", tanyanya.
"Iya.., eh kenalin, saya Iwan".
"Eryani..", jawabnya sambil tersenyum.
Sebelumnya, aku mau kasih gambaran gimana Eryani ini. Doi kulitnya
putih, matanya sipit, rambutnya panjang sebahu, pipi tembem,
tingginya sehidungku, atau kira-kira 160 cm,badannya agak berisi,
payudaranya berukuran sedang, normal. Aku suka bentuk pinggul,
pantat dan betisnya, aduhai sekali.
Pagi itu Eryani memakai Blazer Hitam dengan dalaman kaos putih dan
rok berbahan kaos selutut dengan belahan samping, menampakkan
sedikit pahanya yang putih mulus. Dan juga dia agak bungkuk
badannya, kata orang-orang sih, kalau agak bungkuk, nafsunya besar!
Dan akhirnya sambil menunggu pintu kantorku buka, akupun ngobrol
dengan Yani, dia di kantor itu bekerja sebagai accounting. Dia yang
membawa kunci pintu kantor, sebab dia tinggal di kost-kostan di
Mangga Dua juga, dan dia datang selalu jam 8.00 pagi. Eryani
orangnya baik, nikmat jadi teman ngobrol. Orangnya cepat akrab dan
terbuka. Aku jadi terasa bersemangat ngobrol dengan dia. Apalagi
orang-orang kantornya datang tidak on time, orang-orang kantornya
baru datang 15 menit kemudian, jadi aku bisa berdua dengannya. Dan
dia membuatkan teh panas untukku, apa tidak asyik tuh. Eryani
ternyata juga merantau sepertiku, dia berasal dari Pontianak. dia
juga dulu kuliah di Jogja sepertiku, dan hal inilah yang membuat
kami dapat cepat akrab.
Sampai akhirnya jam sudah menunjukkan 8.30, tapi aku belum melihat
satupun orang kantorku yang datang. Jadi aku terus ngobrol dengan
Eryani. Dari Eryani aku tahu kalau kantorku ternyata buka jam 9.00,
dan kunci kantorku selalu dibawa oleh bagian Accounting, Ani
namanya, yang juga kost di sekitar Mangga Dua. Ya sudah, aku terus
saja ngobrol. Sampai akhirnya jam 9.00 baru aku keluar dari
kantornya, sebab, selain kantorku buka jam 9.00, aku juga tidak enak
lama-lama gangguin Eryani kerja.
Hari pertama di kantor membuatku stress bukan main. Ternyata banyak
yang harus aku pelajari lagi. Siangnya, aku makan siang cepat-cepat,
dan kembali bekerja. Sorenya, aku senang sekali, akhirnya jam pulang
kantor tiba juga. Aku lewati kantor Eryani, tapi aku malas masuk
menyapanya, sebab hari itu aku sudah pusing sekali, ingin
cepat-cepat pulang dan tidur!
Besoknya, aku pergi dari rumah jam 8.00 dan sampai di kantor sekitar
jam 8.30, aku mampir dulu ke kantor Eryani, dan ternyata dia masih
sendiri, orang-orang kantornya belum ada yang datang. Akupun mulai
bercerita mengenai pengalaman hari pertama kerja. Aku curhat ke dia
kalau aku stress sekali di hari pertama. Dia memberi dorongan
kepadaku supaya aku tidak mudah menyerah, maju terus pantang mundur.
Pokoknya, dia betul-betul memberi support, sehingga aku bisa
semangat lagi bekerja, walaupun sore hari pulang kerja aku masih
saja suka pusing. Tidak terasa sudah sebulan bekerja, ketika malam
minggu, iseng-iseng aku mengajaknya jalan dan makan-makan, pertama
dia menolak. Tapi aku maju terus pantang mundur mengajaknya jalan,
dengan alasan jalan-jalan untuk menghilangkan stress dan mentraktir
dia dengan gaji pertamaku, akhirnya dia mau juga.
Hari sabtu, aku dan dia pulang kerja jam 14.00, kami langsung ke
M2M, nonton film yang jam lima sore, terus makan-makan di restoran
Pizza. Tadinya dia kelihatan kaku ketika jalan berdua denganku, tapi
lama-kelamaan, dia mulai terbiasa, dan saat kugandeng tangannya, dia
cuek. Sampai akhirnya jam setengah delapan malam, kuantar dia ke
kostnya.
Ternyata di luar sedang hujan, dan kami berlari-lari masuk ke dalam
bajaj. Saat itu di dalam bajaj, kami berdua menggigil kedinginan
basah karena hujan dan terkena angin malam yang dingin sekali.
Sampai di kostnya, aku di ajaknya masuk ke kamarnya. Tempat kost
Eryani sepi sekali, kata Eryani, kalau hari Sabtu banyak yang pergi,
ada yang pulang ke Bandung, ke Bekasi, ke Tangerang dll. Akupun
masuk ke kamarnya yang hanya 3x3 itu dengan kamar mandi di dalam.
Eryani menyuruhku tinggal dulu sampai hujan reda.
Sementara Eryani mandi, aku di kamarnya hanya menonton TV. Selesai
mandi, dia mengenakan daster selutut berwarna putih. Aku bisa
melihat bayangan badannya di dalam daster, bra dan celana dalam
putih yang dikenakannya. Melihat pemandangan indah itu, yang
sebelumnya penisku menciut karena kedinginan, tiba-tiba langsung
tegap! Aku tidak berkedip memadang Eryani, dan Eryani tahu kalau aku
memandangi tubuhnya, dia langsung mengalihkan perhatianku.
"Wan, sono dah mandi, entar masuk angin loh..".
"Trus, entar abis mandi pakai apa?", tanyaku.
"Pake kaosku saja tuh, sama celana pendekku, nih handuknya!" katanya
sambil melempar handuk ke arahku.
Jadilah aku mandi dan memakai pakaiannya. Celananya ternyata pendek
sekali, aku jadi agak risih memakainya, tapi daripada memakai celana
panjangku yang basah karena hujan, lebih baik memakai yang kering.
Selesai mandi, dia sudah menyajikan teh hangat dan kue kering.
Lumayan untuk menghangatkan badan. Kemudian aku melihat album-album
fotonya, aku godain dia melihat foto-fotonya waktu kecil yang punya
tompel di pipinya dan sekarang sudah dioperasi.
Ketika membolak-balik foto-fotonya, tiba-tiba aku baru sadar,
dasternya agak terangkat ketika dia duduk dan memperlihatkan pahanya
yang putih itu. Aduh, lagi-lagi penisku tegang dan untungnya masih
ketutupan sama album foto Eryani. Akhirnya, karena posisiku tidak
enak, album foto kuletakkan saja di lantai, kulihat celanaku sudah
menonjol gara-gara penisku yang berdiri tegang. Aku coba rileks saja
dan ngobrol apa saja dengan Eryani.
Sementara di luar hujan masih saja deras, jam sudah menunjukkan
10.30. Aku sudah merasa tidak enak sama Eryani, tapi aku stay cool
saja. Sementara Eryani sendiri kelihatan sudah mulai mengantuk,
tiba-tiba dia merebahkan kepalanya di pahaku.
Kuelus-elus rambutnya lembut, dia memejamkan matanya. "Wan, saya
sudah ngantuk nih, lu nginep saja deh disini.., Hoooahh (Eryani
menguap), temenin saya yah..", katanya sambil masih memejamkan
matanya.
"Iya deh", kataku sambil terus mengelus-elus rambutnya. Tidak
beberapa lama, mungkin karena tidak enak posisinya, dia menggerakkan
kepalanya dan tidak sengaja kena penisku (yang masih tegang), "Ee..,
eh.., adik tidur yaa.." katanya sambil tangannya mengusap penisku,
dan ini membuatku sangat terkejut setengah mati.., Kali' dia tidak
sadar, atau sedang mengigau barangkali, pikirku.
Aku belum juga mengantuk, dan Eryani terus terlelap, tidur seperti
orang mati. Lama-kelamaan, capek juga pahaku menahan kepalanya,
segera kugendong badannya (yang ternyata berat setengah mati) ke
kasur. Kutidurkan dia di kasur. Tapi, tidak sengaja, dasternya
tersikap, dan tampaklah celana dalamnya yang putih dan pahanya yang
mulus, membuatku sangat terangsang. Mau kututup pahanya, tapi
sayang, kapan lagi aku bisa melihat pemandangan begini. Ini
momentnya tepat sekali.
Kuelus pahanya, betul-betul mulus dan lembut. Kucium lembut pahanya,
mulai dari lututnya hingga ke atas mendekati selangkangannya.
Kulihat Eryani masih terlelap tidak bergeming, akupun mulai berani
merenggangkan kakinya, sehingga selangkangannya terbuka, dan kutekuk
lututnya, sehingga sekarang selangkangannya sudah betul-betul
terbuka. Kucium bagian paha sekitar selangkangannya. Kucium celana
dalamnya. Ingin aku merasakan daging di balik celana dalamnya.
Dengan hati-hati sekali, kugeser pinggir celana dalam sebelah kiri
ke arah kanan. Dan aku mulai terangsang hebat ketika kulihat daging
berbentuk bibir berwarna merah kecoklatan itu terlihat. Sambil
tanganku menahan pinggir celana dalamnya, kucium lembut vaginanya
yang berbulu lebat itu. Nyum.., nikmat sekali rasanya ketika lidahku
mulai menjilat-jilat lubang kemaluannya itu. Kujilat-jilat bibir di
kiri dan kanannya, kupakai kedua tanganku untuk membuka bibir yang
menutupi bagian dalam vaginanya itu dan kemudian mulai menjilati
clitorisnya.
Kumainkan terus lidahku di daerah sensitif vaginanya. Ternyata,
Eryani mulai merasakan kenikmatan permainanku, nafasnya mulai tak
beraturan. Terus kujilati vaginanya yang basah itu oleh air liurku.
Sampai akhirnya aku merasa ada cairan hangat keluar dari vaginanya.
Akupun berhenti menjilatnya, lagian leherku juga sakit dengan
posisiku yang tengkurap sambil menjilat vaginanya. Sambil berdiri,
kulihat penisku masih berdiri dengan gagahnya. Kupikir, kalau aku
memasukkan batangku ke vagina Eryani, pasti dia akan terbangun dan
mungkin akan mengusirku, itu sama saja dengan memperkosa, jadi
terpaksa aku keluarin di kamar mandi. Aku keluar sampai tiga kali di
kamar mandi, kalau aku bayangkan enaknya vagina Eryani dan kalau
saja aku bisa memasukkan penisku di dalam lubangnya yang hangat.
Setelah itu, peniskupun tidur kecapean, tidur di lantai yang
beralaskan karpet. Ternyata, aku tidak bisa terlelap tidur, jam 5.00
pagi aku terbangun, dan susah untuk tidur kembali. Kulihat Eryani
masih terlelap di tempat tidur. Kuhampiri dia, dan kutatap wajahnya
yang polos tanpa make up itu. Wajahnya terlihat cantik ketika tidur.
Kukecup pipinya mesra. Dia masih tetap terlelap. Kukecup bibirnya
yang agak tebal. Lembut sekali. Kuisap-isap lembut bibirnya, seperti
aku mengisap-isap sebuah permen yang kenyal. Birahiku mulai timbul
lagi. Sambil terus memainku bibirnya di bibirku, tanganku mulai
merayap ke arah payudaranya, kuremas-remas payudara yang padat namun
lembut dan kenyal itu. Gila benar nih, aku sudah terangsang sekali.
Ingin aku mengulangi perbuatanku tadi malam.
Tapi, tiba-tiba Eryani terbangun, dia mengusap-usap matanya, dan
melihatku seperti tak percaya kalau aku sekarang berada di sisinya.
Tanpa kusadari, tanganku masih berada di atas payudaranya. Belum
sempat dia berkata apa-apa, kukecup lagi bibirnya dengan lembut,
"Selamat pagi Yani", kataku. Dia masih belum sadar juga rupanya dan
mengguman tak jelas. Kukecup lagi bibirnya, dan kali ini kuisap-isap
bibir itu. Eryani sepertinya merasakan kenikmatan (antara sadar dan
tidak sadar), dia hanya diam dan menikmati.
Sambil kumainkan bibirnya dengan bibirku, aku mulai memainkan
tanganku di payudaranya, kuremas-remas lembut payudaranya yang
berukuran 32B itu. Sekali, kulepaskan kecupanku di bibirnya, dan
kuhujani pipinya dengan kecupanku, dan saat aku kembali mengulum
bibirnya, dia mulai membalas permainanku. Aku memberanikan tanganku
mengarah ke selangkangannya, dan mulai mengusap-usap selangkangan
yang hangat itu. Mula-mula aku mengusap-usap celana dalamnya, dan
setelah beberapa lama kami pelukan, mulai kuberanikan memasukkan
jariku dari sela-sela celana dalamnya dan menyentuh vaginanya yang
basah itu. Aku mainkan jari tengahku di sekitar clitorisnya. Licin
sekali rasanya vagina Eryani.
Permainan jariku membuatnya menggelinjang, pinggulnya bergerak-gerak
seirama dengan gerakan tanganku. Aku ingin melakukan lebih jauh
lagi, dan kuhentikan aktivitasku, sambil kutatap matanya, kutarik
daster yang dipakainya ke arah atas, dan dia seakan mengerti dengan
maksudku, dia menaikkan pinggulnya sehingga daster dapat dengan
mudah melewati pantatnya hingga akhirnya lepas dari tubuhnya.
Kulepas kancing BH diantara 2 cupnya. Kini, yang ada di depanku
adalah tubuh putih mulus seorang gadis yang hanya mengenakan celana
dalam dengan tatapan penuh menantang. Segera kuisap puting
payudaranya yang berwarna coklat kemerahan itu, sementara tangan
kananku kuselipkan ke dalam celana dalamnya dan kembali kumainkan
clitorisnya. Kali ini Eryani betul-betul merasakan terangsang dan
keenakan yang luar biasa, ini bisa kurasakan dari nafasnya yang
makin tidak teratur dan desahan-desahan kenikmatan. Bentuk buah dada
Eryani memang betul-betul bagus, masih kencang dan tidak terlalu
kecil.
Kemudian, setelah beberapa saat, Eryani merintih kencang, hampir
setengah berteriak dan otot-otot badannya seperti mengejang,
sepertinya dia telah orgasme.
Dan tak beberapa lama, dia menghembuskan nafas panjang, "Iwan...,
nikmat banget.., Kamu memang betul-betul..", belum selesai dia
mengucapkan kata-katanya, segera kukecup bibirnya yang seksi itu.
"Kamu mau merasakan yang lebih hebat lagi..", kataku sambil berdiri
dan mulai melepaskan pakaianku. Dan ketika celanaku kubuka, penisku
yang sejak tadi sudah mendesak di celanaku, langsung menunjuk ke
depan, besar, tegang dan siap untuk memasuki liang kewanitaannya.
Mata Eryani tidak berkedip melihat tubuhku yang bugil, dan tangannya
mengusap-usap penisku.
"Ya ampun.., besarnya..", kata Eryani dengan mata tak berkedip. Dia
kulum bibirku sambil tangannya terus mengelus-elus barangku yang
besar itu. Kemudian, dia mencium penisku.
"Yan, berani tidak kamu isep?", tanyaku menantang. Pertama, dia
jilati kepala penisku dengan lidahnya yang mungil. Kemudian, dia
mulai berani memasukkan penisku ke dalam mulutnya, walaupun hanya
kepala penisku saja, dan dia mulai mengisap maju mundur. Aku
merasakan kegelian sekaligus nikmat.
Tak beberapa lama, aku mulai bosan dengan hisapannya, aku tahu ini
pertama kalinya dia mengisap penis lelaki, dan dia belum begitu
mahir melakukannya. Kemudian, kusuruh dia tidur di tempat tidur,
dengan pantat berada di pinggir tempat tidur. Kulepas celana
dalammya yang sejak tadi belum dilepas. Dan aku mulai menjilat-jilat
vaginanya yang telah kembali menguncup itu. Kujilat cairan putih
yang telah mengental di pinggir liang surganya. dia merasakan
keenakan dan mulai mendesah keenakan. vaginanya mulai basah kembali
oleh ludahku dan kurasakan vaginanya telah membesar.
Sebelum dia kembali orgasme, dengan berdiri di atas lututku, aku
memasukkan penisku ke dalam vaginanya yang hangat. Belum ada
seperempatnya senjataku masuk, dia merasakan pedih. Kusuruh dia
memberi air ludahnya di kepala penisku, supaya penisku basah dan
mudah masuknya, kemudian kucoba memasukkan lagi, dan dia kembali
merintih sakit. Kutenangkan dia dan menyuruhnya untuk rileks, dan
aku coba kembali, kali ini aku mencoba menyoblosnya dengan cepat,
kutarik pinggulnya ke arahku dan kudorong pantatku ke depan dengan
kuat.
"Bless". Akhirnya terbenam semua, dan kulihat wajah Eryani yang
menahan sakit. Supaya dia tak lama-lama merasakan sakit, segera
kumaju-mundurkan penisku di dalam liang vaginanya. Terasa hangat dan
ketat sekali vagina Eryani ini. Lama-kelamaan, genjotan penisku
mulai lancar, dan aku sampai memejamkan mataku merasakan
keistimewaan vagina Eryani.
Kami saling mendesah dan merintih keenakan. Saking cepatnya aku
menggenjot, sampai kasur yang ditidurinya ikut bergerak hebat.
Lama-kelamaan aku tak tahan lagi, segera kutarik keluar penisku dan
mulai menembakkan isinya ke paha Eryani dan ke kasur, aku kocok
penisku sendiri dan aku merasakan sensasi yang sangat dahsyat,
seluruh tubuhku mengejang, hingga akhirnya seluruh cairan spermaku
sudah habis, tapi aku belum merasa capek.
Segera aku ke kamar mandi dan membersihkan penisku, dan aku kembali
lagi menggenjot Eryani. Kali ini, penisku bertahan lama sekali,
hingga Eryani orgasme, aku belum keluar juga. Sampai akhirnya Eryani
orgasme yang ketiga kalinya, baru aku ikut Orgasme. Setelah itu,
kami berdua tidur dengan nyenyak dengan tubuh telanjang.
Saat ini aku masih sering memikirkan kejadian itu, kok bisa-bisanya
dengan mudah aku dapat merengut kegadisan Eryani, mungkin juga
memang aku sedang lucky. Tapi, yang penting setelah saat itu aku
dapat bebas ber-making love dengan Eryani. Kami berdua suka
melakukan eksperimen, mencoba gaya-gaya baru, yang kami lihat dari
film BF berdua di kamar Eryani. Eryani mudah sekali terangsang kalau
aku sudah mengisap payudara dan vaginanya, apalagi kalau lagi sedang
menonton BF. Supaya permainan kami aman, aku dan Eryani suka membeli
persediaan kondom.
Satu hal yang aku perhatikan, Eryani semakin hebat dalam melakukan
hubungan seks, dia mulai pintar melakukan oral seks dan mulai bebas
mengeluarkan suaranya ketika dia orgasme, padahal kami melakukannya
di kamar kostnya yang hanya di batasi sebuah tembok dengan kamar
sebelahnya, dia dengan enaknya berteriak setiap kali dia mencapai
orgasme. Pokoknya, hidup serasa nikmat setiap kali aku berhubunga
dengannya, apalagi kami dalam berhubungan badan sama-sama gilanya,
hampir setiap hari, biasanya sepulang kerja aku mampir ke kostnya
dan sebelum pulang pasti dia minta "ditusuk" (itu istilah kami
berdua).
Pernah suatu saat, aku tidak masuk kerja karena ada urusan keluarga,
dan malamnya dia menelepon supaya aku besok datang jam 7.00 ke
kantor, karena dia kangen untuk ditusuk dan dia punya surprise
untukku.
Besoknya, jam 7 pagi aku datang dan dia sudah menunggu di dalam
kantornya. Rolling door kantor dibukanya sedikit, dan di dalam
kantor, begitu aku masuk, tanpa ba-bi-bu, dia langsung mengulum
bibirku, dan menyuruhku duduk, sementara dia duduk di atas meja.
Lalu dia menyuruhku menebak, kejutan apa yang dia siapkan untukku.
Tentu saja aku tidak tahu, dan aku jawab saja asal-asalan, sampai
akhirnya dia kesal sendiri, dan dibukanya rok mini yang dipakainya,
tampaklah selangkanganya yang tanpa mengenakan celana dalam dan
bersih dari rambut.
Ternyata dia mencukur habis semua bulu vaginanya. Aku tentu saja
senang melihatnya dan penisku kontan langsung berdiri sampai
celanaku terasa sesak sekali. Seperti biasa, sebelum minta ditusuk,
dia ingin vaginanya dijilat-jilat dulu olehku. Dan akupun mulai
menciumi bibir-bibir vagina yang berwarna kemerahan. Aku suka sekali
dengan bau khas vaginanya, yang membuatku ingin terus mencium
vaginanya. Kujilat-jilat bagian dalam bibirnya, dan mulai kujilat
clitorisnya. Kadang kuvariasikan dengan isapan-isapan di
clitorisnya. Tidak beberapa lama, setelah vaginanya basah, aku mulai
membuka ritsluitingku dan memasukkan penisku ke dalam vaginanya.
Kami berdua bercinta atas meja di dalam kantornya. Dia tidak cukup
sekali orgasme, dia selalu minta nambah, dan aku selalu dapat
memenuhi keinginannya itu. Aku merasa seksi sekali bercinta
dengannya di atas meja, apalagi ketika kami melakukan gaya doggy
style. Aku dan Eryani di atas meja masih dengan berpakaian lengkap.
Kemudian aku duduk di kursi, dan dia menindihku dari atas.
Pagi itu, kami sangat puas sekali, sebab selain di kamar kostnya,
making love di kantor Eryani baru kali ini kami lakukan dan tidak
ketahuan siapa-siapa. Tapi, tentu saja making love di kantor tidak
kami lakukan terlalu sering, sebab aku tidak terlalu suka pergi
pagi-pagi sekali dari rumah ke kantor.
Sampai akhirnya, akhir bulan April, kantor Eryani bangkut, karena
ada masalah keuangan dengan penanam modalnya, sehingga semua
karyawannya diberhentikan. Dan ketika Eryani sibuk mencari-cari
pekerjaan, tiba-tiba dia mendapat panggilan pekerjaan dari kokonya
di Penang.
Akhirnya tanggal 26 Mei, Eryani pergi ke Penang. Terus terang, aku
merasa sedih sekali atas kepergiannya, dan aku tahu diapun juga
merasakan demikian. Tapi apa dayaku, kalau untuk mengawininya, aku
belum cukup modal.
Jadi, tidak ada alasan bagiku untuk bisa menahannya terus di
Jakarta. Sampai saat kepergiaannya, di bandara aku memeluknya dan
memberikan ciuman selamat tinggal, sebab dia akan lama sekali
tinggal di Penang, dan mungkin tidak akan kembali lagi ke Jakarta.
Kalaupun dia balik ke Indonesia, dia akan balik ke Pontianak, tempat
ayah ibunya berada. |
|
|
|